Suasana Sekolah Luar Biasa (SLB)  Negri A Pajajaran, Kota Bandung, Jawa Barat, sepi. Rabu (21/01/2021) siang. Namun, bukan berarti tidak ada kegiatan belajar mengajar. Siswa disabilitas sedang belaja di rung virtual lewat aplikasi konferensi TeamTalk.

Diruang kepala sekolah, Wawan memantau kegiatan belajar siswa melalui gawai cerdasnya. “Ibaratnya, aplikasi ini menjadi kelas maya untuk kegiatan belajar mengajar dimasa pandemi Covid-19,” ujarnya.

Hari itu adalah waktu terakhirnya menjadi pelaksana tugas kepala sekolah disana. Jabatan itu diembannya sejak Juli 2020, beberapa hari setelah dimutasi sebagai kepala SLB Ccendo, Kota Bndung, sehingga membuatnya merangkab jabatan.

Pembelajran daring ditengah pandemi menjadi salah satu tantangan terberat Wawan selama bergelut di dunia pendidikan di sabilitas. Ia harus memeras otak mencari metode belajar yang adaptif bagi anak didiknya.

Berbagai aplikasi pernah dicoba. Namun, hasilnya kurang optimal untuk siswa berkebutuhan khusus. Sekitar April 2020, sekolah akhirnya mendapatkan aplikasi yang cocok untuk kebutuhan siswa disablitas netra, yakni TeamTalk. “Audio di TeamTalk jernih. Ini cocok untuk siswa disabel netra yang lebih mengandalkan pendengaran,” ujar Wawan.

Singkat cerita, aplikasi itu mereka gunakan. Pihak sekolah, lanjut Wawan, menggunakan server khusus untuk dalam aplikasi ituagar tidak bercampur dengan pengguna dari negara lain. Selain itu, dibuat sejumlah folder yang dinamai sesuai dengan gedung dan ruangan di sekolah tersebut.

“Siswa tinggal mengikuti jadwal pelajaran di sekolah seperti biasa. Jadi, tidak perlu khawatir salah masuk kelas saat belajar memakai ponsel cerdas,” ucapnya.

Sembilan bulan berjalan, pembelajaran jarak jauh dengan TeamTalk berjalan lancar. Bagi Wawan, hal itu membuktikan siswa disabilitas juga dapat berdaptasi seperti siswa di sekolah umum. Sekitar 70 persen dari 78 siswa di sekolah itu telah menggunakan aplikasi TeamTalk. Sisanya terutama dengan disabilitas ganda atau multiple disabilities and visual impairment (MDVI), belajar melalui kunjungan guru ke rumah dan aplikasi WhatsApp dengan bantuan orang tua.

Beragam Peran

Ketertarikan Wawan pada dunia pendidikan luar biasa dimulai sejak SMA. Saat itu, ia kagum melihat seorang perempuan disabilitas rungu yang bekerja sebagai koki diperusahaan makanan cepat saji. Hal itu membuatnya penasaran. Ia pun memilih melanjutan kuliah di Jurusan Pendidikan Luar Biasa Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Bandung (kini Universiras Pendidikan Indonesia/UPI) pada tahun 1993.

Saat menjalani mata kuliah Ortopedagogik, ia berkunjung ke sejumlah SLB. Di sana ia bertemu dengan beragam, seperti diabel rungu wicara, netra, daksa, dan grahtia. Karena keterbatasan fisiknya, mereka sering mendapatkan stigma. Kemampuan mereka dibawah anak-anak lainnya. Wawan tergerak untuk membuktikan stigma itu salah.

“Setiap anak punya bakat tersendri tidak terkecuali anak berkebutuhan khusus. Hanya cara mengali bakat itu mungkin tidak selalu sama,” ujarnya.

Setelah lulus kuliah pada 1999, ia menjalani beragam peran mengedukasi anak berkebutuhan khusus. Kiprahnya diawali menjadi fasilitastor stimulasi sensor motorik anak. Metodenya melalui berbagai terapi sesorik. Anak disabilitas terlebih dulu diajak bermain untuk membuat mereka nyaman.

Pada 2003, dia bersama beberapa rekannya merintis SLB Pelita Hafizh di Kota Bandung . sekolah ini berdri berkat dukungan orangtua dari anak disabilitas yang pernah ia terapi sebelumnya. Ia tetap ditugaskan menjadi guru di SLB Pelita Hafizh meski lima tahun berselang diterima menjadi PNS Dinas Pendidikan JaBar. “Tugasnya menjalakan pendidikan inklusi dan mengadvokasi anak berkebutuhan khusus di sekolah umum. Kami membagi metode pembelajaran kepada guru untuk mengajar siswa dengan keterbatasan fisik.”

Pada 2013, ia ditugaskan sebagai guru SLB A Pajajaran dan diangkat menjadi kepala sekolah defintif pada 2018-2020. Perjalanan mengajar yang panjang justru menyisakan kegelisahan. Pasalnya, kebutuhan pendidikan dan pelatihan anak disabilitas semakin kompleks. Siswa dengan disabilitas ganda misalnya, membutuhkan pendekatan edukasi yang berbeda.

“Saat itu, ada anak dengan disabilitas netra sekaligus keterbelakangan mental. Untuk berjalan 300 meter dari asrama menuju kelas harus didampingi siswa lainnya. Dikelas pun tidak banyak bergerak,” katanya.

Wawan menyiapkan program latihan khusus untuk siswa tersebut. Caranya berjalan sambil mengenali tanda-tanda permanen dari asrama menuju kelas, ruang guru, ruang musik, dan tempat ibadah. ”Menyusuri dinding atau berpatokan pada handrail. Setelah berlatihintens selama dua tahun, siswa tersebut bisa berpindah-pindah secara mandiri,” ujarnya.

Wawan tidak ingin SLB sekedar menjadi formalitad bagi anak disabilitas untuk mengenyam pendidikan. Ia berupaya agar mereka juga mempunyai kesempatansama melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

Oleh sebab itu, pada 2017, ia menyurati sejumlah perguruan tinggi negeri di Bandung untuk beraudiensi. Tujuannya agar sistem seleksi clon mahasiswa mengakomodasi siswa berkebutuhan khusus. Permohonannya ditanggapi antara lain oleh UPI. Hasilnya, pada tahun 2018, ada tujuh alumnus SLBN A Pajajaran di terima di UPI. “Hal ini membuktikan siswa berkebutuhan khusus mampu bersaing dengan lulusan dari sekolah umum. Jadi jangan meremehkan mereka,” ujarnya.

Sumber: Kompas, 4 Februari 2021