{"id":11609,"date":"2018-01-23T14:40:38","date_gmt":"2018-01-23T07:40:38","guid":{"rendered":"https:\/\/library.uc.ac.id\/?p=11609"},"modified":"2025-05-01T12:37:12","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:12","slug":"badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/","title":{"rendered":"Badriyah Fayumi_Memanggungkan Suara Perempuan. Kompas 22 Juni 2017. Hal 16"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-extra_large wp-image-11610\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16.-1500x1231.jpg\" alt=\"\" width=\"1500\" height=\"1231\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16.-1500x1231.jpg 1500w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16.-300x246.jpg 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16.-768x630.jpg 768w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16.-1030x845.jpg 1030w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16.-705x579.jpg 705w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16.-450x369.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 1500px) 100vw, 1500px\" \/><\/p>\n<p><strong>Selama ini masih banyak kalangan yang menempatkan istri melulu sebagai pengurus rumah tangga. Persepsi itu bahkan dianggap sebagian dari ajaran agama. Badriyah Fahyumi (45) berjuang mendobrak pandangan itu dan mengajak perempuan lebih berdaya, produktif dan bersuara.<\/strong><\/p>\n<p><strong>Oleh Abdullah Fikri Ashri<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Badriyah adalah pengasuh pondok pesantren Mahasina, Kota Bekasi, Jawa Barat. Ia banyak menghabiskan waktu bersama santrinya. Kami berbincang dipesantren yang berimpitan dengan rumahnya. Senin (5\/6) siang itu. Ia membimbing para santri untuk mengkaji kitab kuning, referensi klasik islam. Salah satu topic pembahasannya ialah hubungan laki-laki dan perempuan dalam islam.<\/p>\n<p>Badriyah menentang pandangan bahwa perempuan mesti melulu menangani urusan domestic rumah tangga. Alumnus Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini menuturkan tidak satupun ada ayat hadis yang terang menyebutkan keharusan itu. Nabi Muhammad diceritakan membantu pekerjaan rumah tangga jika ia dirumah.<\/p>\n<p>Untuk penelitian skripsi, Badriyah membelah hadis riwayat Aisyah yang menceritakan tentang nabi itu. Hasil kajian tersebut berhasil mematahkan anggapan-anggapan sebagaian orang bahwa perempuan pantang keluar dari wilayah domestic. Perempuan hanya subordinat dengan beragam kewajibannya, bahkan seolah neraka dan surge istri ditentukan suaminya.<\/p>\n<p>Setidaknya pemahaman\u00a0 macam itu yang dikunyah Badriyah saat duduk dibangku tsanawiyah di Pati yang didirikan ayahnya KH Ahmad Fahyumi. Setiap hari ia membaca kitab kuning yang diajarkan langsung oleh ibunya, Hj Yuhanidz Fahyumi.<\/p>\n<p>Pandangan tentang relasi laki-laki dan perempuan antara lain termuad dalam kitab <em>Aqud al-Lujjayyin.<\/em> Membaca kitab ini pikiran Badriyah berkecamuk. Apakah derajat laki-laki dan perempuan berbeda dihadapan Allah? Rasanya kok enak sekali menjadi anak laki-laki. Ia penasaran untuk mengkaji lebih dalam.<\/p>\n<p>Keinginan dia itu terwujud saat ia diterima kuliah di Jururasan Tafsir Hadis IAIN sekarang Universitas Islam Negri (UIN)-Syarif Hidayahtullah, Jakarta awal 1990-an. Selain kuliah ia juga banyak berdiskusi, membaca, dan berkegiatan sosial. Ia menjadi Wakil Ketua Ikatan Mahasiswa Tasfir Hadis dikampus serta Ketua Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdatul Ulama 1993-1996.<\/p>\n<p>Badriyah bergabung dalam forum Kajian Kitab Kuning yang didirikan dan diketuai oleh Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid. Forum itu menupas kritis dalil dan tafsiran dalam kitab <em>Aqud al-Lujjayyin.<\/em><\/p>\n<p>Badriyah menjembatani Sinta dengan ahli hadis orang Indonesia, Lutfi Fathullah, hingga akhirnya menghasilkan buku <em>Kembang Setaman Perkawinan (2005), <\/em>analisis kritis terhadap kitab tersebut. ia juga turut menulis 15 buku, antara lain <em>Halaqah Islam: Mengaji perempuan, HAM, dan Demokrasi (2004) dan Dari Harta Gono-gini hingga ijin poligami (2015) <\/em>yang merupakan persembahan Badriyah sebagai redaktur ahli di <em>Majalah Noor<\/em>. Diluar itu ada lebih dari 100 karya tulisannya yang terpublikasikan di majalah dan jurnal.<\/p>\n<p>Tak sekedar menulis Badriyah juga beraksi nyata dalam kehidupan sehari-hari terutama dipesantren, masjid, lembaga sosial, bahkan pemerintahan. Pada 2004-2009 misalnya ia menjadi anggota DPR Komisi VIII dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mengurus isu agama dan pemberdayaan perempuan.<\/p>\n<p>\u201cSaya sadar dengan memilih jalan ini untuk memastikan kebijakan undang-undang dan anggaran tidak merugikan masyarakat khususnya perempuan\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Seusai menjadi legislator ia dipercaya semagai komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) pada 2010 dan dua tahun kemudian menjadi ketuanya. Bersama\u00a0 KPAI \u00a0ia turun ke sekolah-sekolah dan masyarakat untuk memastikan hak-hak anak terlindungi.<\/p>\n<p>Badriyah juga aktif di PBNU dan menjadi ketua Alimat Indonesia sejak 2015, sebuah konsorsium gerakan untuk kesetaraan dan keadilan bagi keluarga.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Perempuan Ulama<\/strong><\/p>\n<p>Sekitar 15 tahun ia bersama perempuan aktivis disejumlah organisasi keluar masuk pesantren untuk meneguhkan kiprah perempuan ulama. Mereka mengader perempuan ulama.<\/p>\n<p>Istilah perempuan ulama ini masih asing. Selama ini istilah ulama lekat dengan laki-laki. Padahal menerut Badriyah peran keulamaan perempuan sudah tumbuh sejak masa Nabi Muhammad SAW. Aisyah RA misalnya menjadi salah satu periwayat hadis terbanyak.<\/p>\n<p>Sayangnya setelah abad ke-2 Hijrah (Abad Ke-8 Masehi) sampai 14 Masehi peran perempuan dalam penyampaian ilmu dan hadis menurun drastis. \u201cAda pandangan merendahkan perempuan dari penguasa, termasuk ulama laki-laki. Ada budaya patriarki berabad-abad\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Sejarah didekonstruksi dengan menyembunyikan peran keulamaan perempuan. Padahal peran nyai (sebutan istri kiyai) dipesantren berjasa mendidik satri. Bahkan Cut Nyak Dien di Aceh terjun langsung mimpin pasukan untuk melawan penjajah.<\/p>\n<p>Para perempuan ulama berperan penting dalam masyarakat. \u201cSelama ini mereka menjadi pendidik dipesantren atau ke organisasi masyarakat. Namun tantangan tidak mudah. Ada cara pandangan hitam-putih fundamentalisme. Perempuan ulama harus bersuara\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kupi<\/strong><\/p>\n<p>Badriyah bersama aktivis lain seperti Neng Dara Affifah dan Faqihuddin AK, merancang Kongres Ulama \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 Perempuan Indonesia (KUPI). Sejak 2015, mereka menggelar workshop ke sejumlah kota, seperti Makassar, Yogyakarta, Padang. Ia menjadi ketua tim pengarah kongres.<\/p>\n<p>Namun keraguan justru datang dari perempuan ulama. \u201cKami meyakinkan mereka bahwa ini kerja kolektif. Kita tidak bisa soal diri kita, tetapi entitas perempuan ulama perlu dikuatkan perannya ditengah masyarakat\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Ada pula yang memandang KUPI sebagai ancaman atas ulama laki-laki bahkan menjadi gerakan politik. \u201cKUPI bukan ingin menandingi ulama laki-laki atau membuat partai politik. Justru kami ingin menguatkan keislaman Indonesia\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Dukungan untuk KUPI kemudian bermunculan. Dari kuota 500 orang sebanyak 1200 lebih pendaftar. Kongres yang berlangsung yang di Pondok Pesantren Kebon Jambu Cirebon yang dipimpin Nyai Masriyah ini akhirnya dikuti 700 perempuan ulama, perempuan aktivis, termasuk 35 peserta asal 15 negara. Kementrian Agama dan IAIN Syekh Nurjati Cirebon turut membantu. \u201cPak Jusuf Kalla juga menyumbang\u201d ucap Badriyah tersenyum.<\/p>\n<p>KUPI menjadi konsolidasi membangun jejaring ulama perempuan melawan radikalisme. Kongres juga bersepakat bahwa mencegah pernikahan dini diusia anak adalah kewajiban kerusakan lingkungan harus dicegah, dan membantu serta mencegah perempuan\u00a0 sebagai korban kekerasan seksual. Adapula berbagai rekomendasi untuk pemerintah penegak hukum dan hingga masyarakat.<\/p>\n<p>Mentri Agama Lukman Hakim Saifudin yang hadir di kongres mengatakan KUPI meningkatkan harkat perempuan serta diperadaban Indonesia dan didunia. Namun sejatinya kongres tersebut perlu diikuti langkah-langkah lanjutan untuk memperkuat peran perempuan.<\/p>\n<p>\u201cini kerja-kerja peradaban, tidak bisa dalam waktu singkat\u201d kata Badriyah<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Badriyah Fahyumi<\/p>\n<p>Lahir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Pati, 5 Agustus 1971<\/p>\n<p>Suami \u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : KH Abu Bakar R<\/p>\n<p>Anak\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : -Faransa Ahmad Hawari<\/p>\n<p>-Ainsyams Rafid<\/p>\n<p>Kegiatan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Pengasuh Pondok Pesantren Mahasina Bekasi<\/p>\n<p>Pengalaman\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :-Ketua KPAI (2012-2014)<\/p>\n<p>-Anggota DPR (2004-2009)<\/p>\n<p>-Ketua Tim Pengarah KUPI 2017<\/p>\n<p>-Ketua Alimat Indonesia<\/p>\n<p>Pendidikan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :-S1 IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta<\/p>\n<p>-S1 Universitas Al-Azhar Kairo Mesir<\/p>\n<p>-S2 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta<\/p>\n<p>Penghargaan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :-Anugrah Apresiasi Pendidikan Islam untuk Pesantren Peduli Perempuan dan Anak oleh Kementrian Agama (2013)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber : Kompas, 22 Juni 2017. Hal 16<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Selama ini masih banyak kalangan yang menempatkan istri melulu sebagai pengurus rumah tangga. Persepsi itu bahkan dianggap sebagian dari ajaran agama. Badriyah Fahyumi (45) berjuang mendobrak pandangan itu dan mengajak perempuan lebih berdaya, produktif dan bersuara. Oleh Abdullah Fikri Ashri \u00a0 Badriyah adalah pengasuh pondok pesantren Mahasina, Kota Bekasi, Jawa Barat. Ia banyak menghabiskan waktu&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11611,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-11609","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Badriyah Fayumi_Memanggungkan Suara Perempuan. Kompas 22 Juni 2017. Hal 16 - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Badriyah Fayumi_Memanggungkan Suara Perempuan. Kompas 22 Juni 2017. Hal 16 - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Selama ini masih banyak kalangan yang menempatkan istri melulu sebagai pengurus rumah tangga. Persepsi itu bahkan dianggap sebagian dari ajaran agama. Badriyah Fahyumi (45) berjuang mendobrak pandangan itu dan mengajak perempuan lebih berdaya, produktif dan bersuara. Oleh Abdullah Fikri Ashri \u00a0 Badriyah adalah pengasuh pondok pesantren Mahasina, Kota Bekasi, Jawa Barat. Ia banyak menghabiskan waktu...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-01-23T07:40:38+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16-F.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1813\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1017\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Badriyah Fayumi_Memanggungkan Suara Perempuan. Kompas 22 Juni 2017. Hal 16\",\"datePublished\":\"2018-01-23T07:40:38+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:12+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\\\/\"},\"wordCount\":961,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16-F.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\\\/\",\"name\":\"Badriyah Fayumi_Memanggungkan Suara Perempuan. Kompas 22 Juni 2017. Hal 16 - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16-F.jpg\",\"datePublished\":\"2018-01-23T07:40:38+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:12+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16-F.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16-F.jpg\",\"width\":1813,\"height\":1017},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Badriyah Fayumi_Memanggungkan Suara Perempuan. Kompas 22 Juni 2017. Hal 16\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Badriyah Fayumi_Memanggungkan Suara Perempuan. Kompas 22 Juni 2017. Hal 16 - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Badriyah Fayumi_Memanggungkan Suara Perempuan. Kompas 22 Juni 2017. Hal 16 - Library","og_description":"Selama ini masih banyak kalangan yang menempatkan istri melulu sebagai pengurus rumah tangga. Persepsi itu bahkan dianggap sebagian dari ajaran agama. Badriyah Fahyumi (45) berjuang mendobrak pandangan itu dan mengajak perempuan lebih berdaya, produktif dan bersuara. Oleh Abdullah Fikri Ashri \u00a0 Badriyah adalah pengasuh pondok pesantren Mahasina, Kota Bekasi, Jawa Barat. Ia banyak menghabiskan waktu...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2018-01-23T07:40:38+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:12+00:00","og_image":[{"width":1813,"height":1017,"url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16-F.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Badriyah Fayumi_Memanggungkan Suara Perempuan. Kompas 22 Juni 2017. Hal 16","datePublished":"2018-01-23T07:40:38+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:12+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/"},"wordCount":961,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16-F.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/","name":"Badriyah Fayumi_Memanggungkan Suara Perempuan. Kompas 22 Juni 2017. Hal 16 - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16-F.jpg","datePublished":"2018-01-23T07:40:38+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:12+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/#primaryimage","url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16-F.jpg","contentUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Badriyah-Fayumi_Memanggungkan-Suara-Perempuan.-Kompas-22-Juni-2017.-Hal-16-F.jpg","width":1813,"height":1017},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/badriyah-fayumi_memanggungkan-suara-perempuan-kompas-22-juni-2017-hal-16\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Badriyah Fayumi_Memanggungkan Suara Perempuan. Kompas 22 Juni 2017. Hal 16"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11609","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11609"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11609\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13231,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11609\/revisions\/13231"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11611"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11609"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11609"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11609"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}