{"id":11709,"date":"2018-01-24T09:42:51","date_gmt":"2018-01-24T02:42:51","guid":{"rendered":"https:\/\/library.uc.ac.id\/?p=11709"},"modified":"2025-05-01T12:37:11","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:11","slug":"lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/","title":{"rendered":"Lukmanuel Hakim_Mengubah Kerujuk, Mendorong Ekowisa. Kompas. 9 November 2017. Hal. 16"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-extra_large wp-image-11710\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/5a67ef62c000b-5a67ef62c0025Lukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16.jpg-1500x1076.jpg\" alt=\"\" width=\"1500\" height=\"1076\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/5a67ef62c000b-5a67ef62c0025Lukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16.jpg-1500x1076.jpg 1500w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/5a67ef62c000b-5a67ef62c0025Lukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16.jpg-300x215.jpg 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/5a67ef62c000b-5a67ef62c0025Lukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16.jpg-768x551.jpg 768w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/5a67ef62c000b-5a67ef62c0025Lukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16.jpg-1030x739.jpg 1030w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/5a67ef62c000b-5a67ef62c0025Lukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16.jpg-705x506.jpg 705w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/5a67ef62c000b-5a67ef62c0025Lukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16.jpg-450x323.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 1500px) 100vw, 1500px\" \/><\/p>\n<p>Tanah longsor dan banjir yang selalu \u201cmengintip\u201d Dusun Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, tiap tahum, membuat Lukmanul Hakim (29) prihatin. Ia kemudian memelopori dan mengajak generasi muda dan warga desanya untuk menjadikan dusun itu obyek wisata berbasis lingkunan. Ajakannya berbuah manis meski pada awalnya tidak sedikit warga yang menolak gagasannya.<\/p>\n<p>OLEH KHAERUL ANWAR<\/p>\n<p>Memberikan pemahaman kepada masyarakat sangat sulit, terlebih lagi kesan masyarakat soal pariwisata kurang baik. Akan tetapi, berkat kerja kesar kami bersama rekan-rekan, masyarakat mendukung kami,\u201d uajar Lukman.<\/p>\n<p>Niat menjadikan dusun seluas 2 kilometer persegi itu sebagai obyek wisata berbasis lingkungan karena Lukman melihat realitas sosial masyarakat. Dari jumlah penduduk dusun 1.553 jiwa (456 kepala keluarga), 90 persen penduduk hidup dari hasil kebun dan menebang kayu hutan. Untuk mendapatkan kayu tebangan, warga harus menempuh perjalanan jauh masuk ke kawasan hutan, pulang-pergi, selama 1 hari.<\/p>\n<p>Tak jarang para peramo meninggal di perjalanan karena terpeleset atau tertindih kayu yang dipikulnya. Untuk mendapatkan kayu tebangan, para peramo main kucing-kucingan dengan para polisi hutan.\u00a0 Padahal hasil dari satu balok kayu seharga Rp 60.000 tidak sebanding dengan risiko yang dihadapi di lapangan. Perambahan kayu hutan yang dilakukan terus-menerus akan berdampak pada degradasi kawasan hutan yang kemudian dirasakan masyarakat.<\/p>\n<p>Dua puluh tahun silam, jika turun hujan, air di Daerah Aliran Sungai Kerujuk baru bisa surut seminggu kemudian. Puncaknya pada 2002 terjadi banjir tiga rumah warga dan beberapa ternak hanyut. \u201cKini, begitu hujan turun, air di sungai itu surut dalam hitungan jam,\u201d kata Lukman.<\/p>\n<p>Musibah banjir itu mendorong Lukman untuk memutar otak bagaiman dusunnya gar terbebas ari banjir. Namun, dia tidak mempunyai keberanian untuk mrngutarakan gagasannya kepada masyarakat. Tahun 2014, instansi pemerintah memberikan bantuan untuk pembangunan kolam dan bibit ikan nila dan bawal untuk usaha pemancingan meski usaha pemeliharaan ikan ini gagal.<\/p>\n<p>Kegagalan ini menjadi \u201c pintu masuk\u201d bagi lukman untuk mewujudakn idenya. Kebetulan tahun 2014, ada program pemberdayaan yang dilakukan lembaga sosial masyarakat.\u00a0 Kegiatannya antara lain menggali dan memetakan potensi sumber daya alam yang bisa mendatangkan nilai ekonomi, tetapi tetap menjaga lingkungan lestari.<\/p>\n<p>Pilihannya jatuh pada menyediakan fasilitas rekreasi ekowisat. Tujuannya masyarakat bisa menikmati hasil dari aktivitas ekowisata tersebut, terlebih lagi dusun yang terletak di pinggir hutan itu terdapat aneka tanaman perkebunan, seperti durian, manggis, aren, mangga, arum manis, dan 12 jenis bambu.<\/p>\n<p>Ada juga tanaman yang kini jarang ditemukan: buah juwet, bune, kepundung, ceruring, dan buah singgapur, serta sebek (umbi-umbian). Beberapa air terjun (<em>tiu<\/em>) di kawasan itu , seperti Tiu Pane, Tiu Loang Bukal, dan Tiu Kelambu, bisa dijadikan paket wisata alam, <em>trekking<\/em> atau <em>hiking<\/em>.<\/p>\n<p>Gagasan untuk menggerakkan ekowisata itu pun disampaikan kepada masyarakat dengan berbagai cara. \u201cKami hampir putus asa untuk meyakinkan masyarakat, pariwisata yang mau dikembangkan bukan yang dikesankan selama ini,\u201d kata Lukman. Dia pun mengajak teman-temannya memberi bukti kepada masyarakat dari yang mereka kerjakan.<\/p>\n<p>Urunan<\/p>\n<p>Beruntung ada 6 warga pemilik 3 hektar tanah sawah dan kebun yang bersedia menjadikan lahannya \u201cdisulap\u201d menjadi lokasi rekereasi out bond. Di atas lahan tersebut di bangun, seperti arena kolam, lumpur dan berbagai permainan tradisional, termasuk spot-spot pengunjung untuk berswafoto.<\/p>\n<p>Material pembangungan fasilitas rekreasi itu memanfaatkan sumber daya alam setempat, seperti kayu, bambu, dan ranting yang selama ini terbuat percuma. Mereka juga membentuk kelompok sadar wisata (Pokdarwis) Kerujuk Lestari. Sejumlah warga pun memberi sumbangan. Mereka bergotong royong membangun jalan setapak sepanjang sekitar 100 meter dari pusat dusun ke obyek wisata. Jalan\u00a0 setapak itu terwujud setelah beberapa pemilik swah dan kebun memberikan izin tanahnya untuk dibuka akses jalan dari-ke lokasi obyek wisata.<\/p>\n<p>Tahun 2015, obyek wisata ini diluncurkan, dan belakangan obyek wisata itu ramai dikunjungi wistawan lokal, Nusantara, dan mancanegara. \u201cDalam satu minggu, rata-rata pengunjung 150-200 orang, umumnya wiswatawan lokal lombok dan luar daerah,\u201d kata Lukman<\/p>\n<p>Warga pun menikmati hasil dari berkembangnya wisata alam di desanya. Menurut Sekretaris Pokdarwis Jon, mereka membuat ketentuan, dari pemasukan tiket wisata itu, semua pihak terkait termasuk yatim piatu mendapat bagiam. \u201cKalau sedang ramau pengunjung, para pemilik lahan bisa mendapat Rp 1 juta per orang\u00a0 sehari,\u201d ujar Lukman.<\/p>\n<p>Guna menjaga kelstarian lingkungan, ada aturan atau <em>awiq-awiq<\/em> yang harus dipatuhi warga. Aturan itu antara lain, tidak boleh memancing ikan menggunakan setrum atau potasium, tidak boleh membuang sampah di sungai, tidak boleh menebang pohon. Sanksi bagi pelanggarnya akan dikenai denda. Misalnya, pelanggar ketentuan memancing dikenai denda hingga Rp 10 juta, dan mengganti seekor ikan hasil pancingan dengan 10 ekor ikan.<\/p>\n<p>Kini, di Dusun Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, itu bukan hanya pariwisata yang berkembang. Para perambah hutan punya pengalaman menjelajah hutan berganti profesi sebagai pemandu wisata. Mereka bisa mengantar pengunjung yang ingin menyaksikan air terjun di kawasan hutan dusun yang masuk ke kawasan Hutan Pusuk, Lombok Barat.<\/p>\n<p>\u201cBagaimana mengubah pola pikir warga terhadap alam, dan mendapat manfaat ekonomi dari alam, itulah yang membuat saya harus pulang,\u201d ujar Lukman.<\/p>\n<p>Dalam kepercayaan masyarakat, Dusun Kerujuk memiliki magdet bagi warganya untuk pulang setelah merantau ke berbagai tempat. Kerujuk adalah kepiting air tawar yang muncul jutaan ekor dalam siklus 3 tahunan-5 tahun di dusun itu. Versi lain menyebutkan kerujuk berasal dari bahasa Arab yang berarti kembali, \u201cMungkin arti kerujuk yang membuat saya pulang, hehe,\u201d ucap Lukman, menambahkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Lukmanul Hakim<\/p>\n<p>Lahir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : di Dusun kerujuk, 25 januari 1988<\/p>\n<p>Istri\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Nurazima<\/p>\n<p>Orangtua\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : H. Ahmad-Salkiah<\/p>\n<p>Pekerjaan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Mataram<\/p>\n<p>Pendidikan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 :<\/p>\n<ul>\n<li>SDN 8 Pemenang Barat (2000)<\/li>\n<li>Madrasah Sanawiyah Menggala, Desa Pemenang Barat (2003)<\/li>\n<li>Madrasah Aliyah Al Hakim, Sesela, Gunungsari, Lombok Barat (2006)<\/li>\n<li>Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Mataran (2011)<\/li>\n<li>S-2 Fakultas MIPA jurusan Biologi UIN Semarang (2015)<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber : Kompas. 9 November 2017. Hal 16<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tanah longsor dan banjir yang selalu \u201cmengintip\u201d Dusun Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, tiap tahum, membuat Lukmanul Hakim (29) prihatin. Ia kemudian memelopori dan mengajak generasi muda dan warga desanya untuk menjadikan dusun itu obyek wisata berbasis lingkunan. Ajakannya berbuah manis meski pada awalnya tidak sedikit warga yang menolak gagasannya. OLEH&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11711,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-11709","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Lukmanuel Hakim_Mengubah Kerujuk, Mendorong Ekowisa. Kompas. 9 November 2017. Hal. 16 - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Lukmanuel Hakim_Mengubah Kerujuk, Mendorong Ekowisa. Kompas. 9 November 2017. Hal. 16 - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Tanah longsor dan banjir yang selalu \u201cmengintip\u201d Dusun Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, tiap tahum, membuat Lukmanul Hakim (29) prihatin. Ia kemudian memelopori dan mengajak generasi muda dan warga desanya untuk menjadikan dusun itu obyek wisata berbasis lingkunan. Ajakannya berbuah manis meski pada awalnya tidak sedikit warga yang menolak gagasannya. OLEH...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-01-24T02:42:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/5a67f12c3098d-5a67f12c3099dLukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16-F.jpg.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1561\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"2061\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Lukmanuel Hakim_Mengubah Kerujuk, Mendorong Ekowisa. Kompas. 9 November 2017. Hal. 16\",\"datePublished\":\"2018-01-24T02:42:51+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\\\/\"},\"wordCount\":884,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/5a67f12c3098d-5a67f12c3099dLukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16-F.jpg.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\\\/\",\"name\":\"Lukmanuel Hakim_Mengubah Kerujuk, Mendorong Ekowisa. Kompas. 9 November 2017. Hal. 16 - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/5a67f12c3098d-5a67f12c3099dLukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16-F.jpg.jpg\",\"datePublished\":\"2018-01-24T02:42:51+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:11+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/5a67f12c3098d-5a67f12c3099dLukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16-F.jpg.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/5a67f12c3098d-5a67f12c3099dLukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16-F.jpg.jpg\",\"width\":1561,\"height\":2061},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Lukmanuel Hakim_Mengubah Kerujuk, Mendorong Ekowisa. Kompas. 9 November 2017. Hal. 16\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Lukmanuel Hakim_Mengubah Kerujuk, Mendorong Ekowisa. Kompas. 9 November 2017. Hal. 16 - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Lukmanuel Hakim_Mengubah Kerujuk, Mendorong Ekowisa. Kompas. 9 November 2017. Hal. 16 - Library","og_description":"Tanah longsor dan banjir yang selalu \u201cmengintip\u201d Dusun Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat, tiap tahum, membuat Lukmanul Hakim (29) prihatin. Ia kemudian memelopori dan mengajak generasi muda dan warga desanya untuk menjadikan dusun itu obyek wisata berbasis lingkunan. Ajakannya berbuah manis meski pada awalnya tidak sedikit warga yang menolak gagasannya. OLEH...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2018-01-24T02:42:51+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:11+00:00","og_image":[{"width":1561,"height":2061,"url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/5a67f12c3098d-5a67f12c3099dLukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16-F.jpg.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Lukmanuel Hakim_Mengubah Kerujuk, Mendorong Ekowisa. Kompas. 9 November 2017. Hal. 16","datePublished":"2018-01-24T02:42:51+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/"},"wordCount":884,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/5a67f12c3098d-5a67f12c3099dLukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16-F.jpg.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/","name":"Lukmanuel Hakim_Mengubah Kerujuk, Mendorong Ekowisa. Kompas. 9 November 2017. Hal. 16 - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/5a67f12c3098d-5a67f12c3099dLukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16-F.jpg.jpg","datePublished":"2018-01-24T02:42:51+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:11+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/#primaryimage","url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/5a67f12c3098d-5a67f12c3099dLukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16-F.jpg.jpg","contentUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/5a67f12c3098d-5a67f12c3099dLukmanuel-Hakim_Mengubah-Kerujuk-Mendorong-Ekowisa.-Kompas.-9-November-2017.-Hal.-16-F.jpg.jpg","width":1561,"height":2061},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukmanuel-hakim_mengubah-kerujuk-mendorong-ekowisa-kompas-9-november-2017-hal-16\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Lukmanuel Hakim_Mengubah Kerujuk, Mendorong Ekowisa. Kompas. 9 November 2017. Hal. 16"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11709","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11709"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11709\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17508,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11709\/revisions\/17508"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11711"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11709"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11709"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11709"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}