{"id":12093,"date":"2018-01-31T11:37:25","date_gmt":"2018-01-31T04:37:25","guid":{"rendered":"https:\/\/library.uc.ac.id\/?p=12093"},"modified":"2025-05-01T12:33:14","modified_gmt":"2025-05-01T05:33:14","slug":"mengucap-dan-memberi-maaf","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/mengucap-dan-memberi-maaf\/","title":{"rendered":"Mengucap dan Memberi Maaf"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-extra_large wp-image-12094\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Mengucap-dan-Memberi-Maaf.Kompas.20-Januari-2018.Hal_.24-001-1053x1500.jpg\" alt=\"\" width=\"1053\" height=\"1500\" \/><\/p>\n<p>Meminta maaf dan memaafkan bukanlah perilaku yang mudah bagi sebagian orang karena pada saat seseorang meminta maaf kepada orang lain, dia menempatkan dirinya di bawah orang yang diajak berbicara dan merasa harga dirinya turun.<\/p>\n<p><em><strong><u>Sawitri Surpadi Sadarjoen<\/u><\/strong><\/em><\/p>\n<p>Situasi tersebut membuat seseorang menjadi peka terhadap proses permintaan maaf dan memberi maaf sehingga membuat sementara orang cenderung mengambil keputusan untuk lebih bersikap diam disertai penolakan untuk mengungkap rasa maaf.<\/p>\n<p>Anak-anak yang benar-benar dipermalukan, disalahkan, dan dikritik pada saat berada dalam masa perkembangannya bisa saja memiliki sikap yang sulit memberi maaf. Begitu pula halnya pada orang dewasa walaupun mereka berasa salam situasi seyogianya perlu meminta maaf. Karena itu, jika mereka menemukan kesulitan untuk memaafkan atau meminta maaf, merupakan salah satu aspek yang menuntut kesediaan menerapkan pola interaksi baru dengan lingkungan tempat dia berada, baik lingkungan formal maupun tidak formal, antara suami dan istri, ayah dan anak, dan seterusnya.<\/p>\n<p>Sebagai konselor, saya pernah menemukan seorang pria yang secara serius mengalami alergi terhadap perilaku memaafkan. Orang itu menceritakan masa lalunya sebagai berikut: \u201cOrangtua saya selalu menuntut saya memaafkan perilaku adik saya. Mereka selalu berpendapat bahwa segala hal yang terjadi adalah kesalahan saya dan biasanya lingkungan keluarga saya, terutama orangtua saya, mengatakan kepada saya, \u201cKau harus memaafkan adikmu saat ini juga!\u201d. Terus terang apa yang saya ungkapkan kepada adik saya bukan merupakan ungkapan maaf sesungguhnya, tetapi saya menyampaikannya sengan seolah-olah memang memaafkan adik saya. Saya berpendapat, saya menemukan seluruh proses yang terjadi pada saat tersebut sangat memalukan.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian lanjutnya, \u201cSebagai orang dewasa, saya tidak akan pernah mengucapkan kata maaf. Apabila orang ain merasa bahwa saya seharusnya meminta maaf, saya akan menolak dengan cara berdiam diri atau secara otomatis menghayati rasa geram di dada.\u201d<\/p>\n<p>Terdapat contoh lain yang saya temukan dalam praktik konseling. Nn (perempuan, 30) menceritakan kepada saya bahwa dia merasa seharusnya dia tidak menggunakan alasan harus presentasi makalah di satu sesi konfrensi ilmiah tertentu pada hari perkawinan adiknya. Jadi, ia tidak bisa hadir pada pesta pernikahan adiknya.<\/p>\n<p>Alasan tersebut diungkapkan dengan tambahan alasan bahwa konferensi ilmiah tersebut sudah terjadwal lama sebelum adiknya mengumumkan hari pernikahannya. Namun, pada saat hari-H pernikahan tersebut, Nn ternyata merasa betul-betul menyesali akan pilihannya untuk lebih mementingkan presentasi dalam konferensi ilmiah tersebut. Nn merasa bahwa kebersamaan dalam keluarga dalam acara pernikahan adiknya tersebut adalah waktu yang sangat penting. Tentu saja, saat itu, dia benar-benar merasa menyesal karena dia tidak berkehendak untuk mencoba menganalisis situasi yang dihadapi secara lebih terbuka, maka akhirnya dia memutuskan meminta maaf kepada adiknya atas ketidakhadirannya.<\/p>\n<p>Beberapa tahun kemudian, saat kesadaran akan kesalahannya di atas muncul dalam benaknya, Nn secara spontan mengirimkan surat elektronik (surel) kepada adiknya dengan mengatakan, \u201cSaya benar-benar belum pernah memberitahukan kepadamu bagaimana saya merasa tidak nyaman dalam diri saya karena tidak menghadiri pernikahanmu. Terus terang pada saat hari-H saya presentasi <em>paper<\/em>, saya merasakan seperti \u2018Wow, <em>ngapain<\/em> saya disini?\u2019 Saya tidak pernah bisa menjelaskan atau memaafkan diri saya karena telah mengambil keputusan yang bodoh tersebut.\u201d<\/p>\n<p>Serentak pada saat tidak terlampau lama, adiknya membalas surel Nn dengan kalimat pendek: \u201cYa, kamu memang benar-benar kurang ajar.\u201d<\/p>\n<p>Kemudian, mereka tidak pernah mendiskusikannya lagi secara lanjut. Namun, ternyata sikap dan keputusan untuk mengirim surel tersebut kepada adiknya membuat perasaan Nn menjadi lebih nyaman. Menurut Nn, terasa bahwa ada sesuatu hal kecil yang membuat rasa bersalah oleh ketidakhadiran dalam pernikahan adiknya itu hilang.<\/p>\n<p>Ketahuilah bahwa orang yang mau meminta maaf dengan mudah justru memperkuat dirinya sendiri dengan mengatakan ungkapan berikut ini: \u201cSaya salah, saya minta maaf, saya benar-benar minta maaf.\u201d Upaya memaafkan dan meminta maaf ternyata berakibat positif, yaitu akan menghasilkan perasaan lebih nyaman.<\/p>\n<p>Ketahuilah bahwa orang-orang yang sulit meminta maaf ternyata memiliki pengalaman berbeda dan <em>belief<\/em> <em>system<\/em> berbeda pula. Bagi mereka, pemberian maaf selalu dikaitkan dengan perasaan sebagai seseorang yang lebih buruk, lebih lemah, dan relasi yang mereka jalin menempatkan diri mereka sebagai orang yang bergantung dan kehilangan kekuatan serta kehilangan kemampuan untuk mengendalikan lingkungan.<\/p>\n<p>Kembali pada kasus Nn, upaya mengirim surel membuat dirinya mampu mengoreksi sistem kepercayaan yang lalu karena \u201ckembali pada isu masa lalu menjadi sesuatu yang lebih buruk\u201d yang mungkin justru melindungi dia dari keterancaman yang membuat perasaannya tidak nyaman pada masa lalu karena setelah mengirim surel yang mengandung arti permintaan maaf kepada adiknya, karena tidak menghadiri pernikahan adiknya, justru membuat dirinya bebas dari rasa tidak nyaman yang berlarut ia derita.<\/p>\n<p><strong>Bagian Kesalahan<\/strong><\/p>\n<p>Saya hanya akan meminta maaf untuk hal-hal yang memang benar-benar bagian dari kesalahan saya.<\/p>\n<p>\u201cSaya minta maaf atas sebagian dari pertengkaran kita,\u201d demikian saya sampaikan kepada A, suami saya.<\/p>\n<p>Ketika saya berkunjung ke kantor suami saya untuk memperbaiki sesuatu, terjadilah perbincangan yang tidak menyenangkan diri kami. Peristiwa itu ternyata membuat A tidak mau bertegur sapa dengan saya sampai saya datang meminta maaf kepadanya. \u201cKira-kira apa sih yang menjadi bagianmu dalam pertengkarang itu?\u201d tanya A kepada saya.<\/p>\n<p>\u201cPaling 40 persen bagian saya,\u201d jawab saya.<\/p>\n<p>Memang benar saya membicarakannya kepada A bahwa dia terlampau reaktif, melebihi proporsi yang sewajarnya. Saya mengambil kesimpulan bahwa reaksinya benar-benar lebih buruk daripada sikap kasar saya kepadanya.<\/p>\n<p>A mengatakan bahwa \u201cmemang cara bicara sekasar itu dalam relasi perkawinan kita adalah kurang tepat bagi kita sehingga kita bersilat lidah. Reaksi kita yang sama-sama tidak proporsional terjadi berkelanjutan tanpa ujung pangkal sehingga terkesan seperti dua orang bodoh bertengkar\u201d.<\/p>\n<p>Untungnya, scenario seperti itu hanya sekali terjadi karena biasanya kita akan langsung memotong pembicaraan yang tidak produktif. Kita akan mengatakan bahwa \u201cStop! Berhenti sampai di sini\u201d.<\/p>\n<p>Saya biasanya akan meminta maaf kepada A dan A pun dengan segera memaafkan saya. Setelah pertengkaran yang awalnya terjadi di kantornya selesai dengan baik, kita bersepakat, apabila salah satu dari kita meradang emosinya, yang lainnya akan mendorong percakapan dengan cara menurunkan penyertaan kadar emosi kita masing-masing.<\/p>\n<p>Mengapa saya harus meminta maaf untuk keseluruhan masalah, padahal dia yang memulai pertengkaran yang terjadi?<\/p>\n<p>Mengacu pada pengalaman pribadi saya dengan suami, saya pastikan bahwa saya akan mendapat kesulitan meminta maaf kepadanya apabila dalam masalah tersebut sayalah yang dituduh atau dipojokan sebagai orang yang memiliki kontribusi paling besar terhadap kesulitan yang kita hadapi.<\/p>\n<p>Untuk hal itu, salah satu klien saya menyatakan hal berikut: \u201cJika istri saya mengkritik, saya tidak mau memaafkannya karena saya merasa seperti dibenturkannya kepala saya ke tembok. Tentu saja, apabila saya memaafkannya, berarti sayalah yang menjadi penyebab utama timbulnya kesulitan yang kita hadapi. Rasanya hal itu sama sekali tidak adil. Apalagi dengan memaafkannya, harga diri saya pasti menurun. Saya pastikan kondisi ini membuat saya terhambat menyatakan kontribusi saya yang sebenarnya pada kesulitan yang kita hadapi.<\/p>\n<p>Kesimpulan: dari sekian uraian contoh konkret \u201cmemberi maaf dan meminta maaf\u201d, kita akhirnya dapat memahami hakikat makna dari kata kerja tersebut. Ternyata maknanya tidak luput dari pengaruh masa lalu dan <em>belief system<\/em> (sistem keyakinan) yang dianut seseorang. Berdasarkan pada pemahaman ini, kita akan mendapat acuan bagi pengertian tentangmengapa orang sulit mengucapkan kata maaf dan memberi maaf kepada orang lain.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber: Kompas, 20 Januari 2018<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meminta maaf dan memaafkan bukanlah perilaku yang mudah bagi sebagian orang karena pada saat seseorang meminta maaf kepada orang lain, dia menempatkan dirinya di bawah orang yang diajak berbicara dan merasa harga dirinya turun. Sawitri Surpadi Sadarjoen Situasi tersebut membuat seseorang menjadi peka terhadap proses permintaan maaf dan memberi maaf sehingga membuat sementara orang cenderung&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":12094,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-12093","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Mengucap dan Memberi Maaf - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengucap dan Memberi Maaf - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Meminta maaf dan memaafkan bukanlah perilaku yang mudah bagi sebagian orang karena pada saat seseorang meminta maaf kepada orang lain, dia menempatkan dirinya di bawah orang yang diajak berbicara dan merasa harga dirinya turun. Sawitri Surpadi Sadarjoen Situasi tersebut membuat seseorang menjadi peka terhadap proses permintaan maaf dan memberi maaf sehingga membuat sementara orang cenderung...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-01-31T04:37:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:33:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Mengucap-dan-Memberi-Maaf.Kompas.20-Januari-2018.Hal_.24-001-e1517373387601.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1308\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1212\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mengucap-dan-memberi-maaf\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mengucap-dan-memberi-maaf\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Mengucap dan Memberi Maaf\",\"datePublished\":\"2018-01-31T04:37:25+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:33:14+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mengucap-dan-memberi-maaf\\\/\"},\"wordCount\":1121,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mengucap-dan-memberi-maaf\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Mengucap-dan-Memberi-Maaf.Kompas.20-Januari-2018.Hal_.24-001-e1517373387601.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mengucap-dan-memberi-maaf\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mengucap-dan-memberi-maaf\\\/\",\"name\":\"Mengucap dan Memberi Maaf - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mengucap-dan-memberi-maaf\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mengucap-dan-memberi-maaf\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Mengucap-dan-Memberi-Maaf.Kompas.20-Januari-2018.Hal_.24-001-e1517373387601.jpg\",\"datePublished\":\"2018-01-31T04:37:25+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:33:14+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mengucap-dan-memberi-maaf\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mengucap-dan-memberi-maaf\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mengucap-dan-memberi-maaf\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Mengucap-dan-Memberi-Maaf.Kompas.20-Januari-2018.Hal_.24-001-e1517373387601.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Mengucap-dan-Memberi-Maaf.Kompas.20-Januari-2018.Hal_.24-001-e1517373387601.jpg\",\"width\":1308,\"height\":1212},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mengucap-dan-memberi-maaf\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengucap dan Memberi Maaf\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengucap dan Memberi Maaf - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mengucap dan Memberi Maaf - Library","og_description":"Meminta maaf dan memaafkan bukanlah perilaku yang mudah bagi sebagian orang karena pada saat seseorang meminta maaf kepada orang lain, dia menempatkan dirinya di bawah orang yang diajak berbicara dan merasa harga dirinya turun. Sawitri Surpadi Sadarjoen Situasi tersebut membuat seseorang menjadi peka terhadap proses permintaan maaf dan memberi maaf sehingga membuat sementara orang cenderung...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2018-01-31T04:37:25+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:33:14+00:00","og_image":[{"width":1308,"height":1212,"url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Mengucap-dan-Memberi-Maaf.Kompas.20-Januari-2018.Hal_.24-001-e1517373387601.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Mengucap dan Memberi Maaf","datePublished":"2018-01-31T04:37:25+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:33:14+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/"},"wordCount":1121,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Mengucap-dan-Memberi-Maaf.Kompas.20-Januari-2018.Hal_.24-001-e1517373387601.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/","name":"Mengucap dan Memberi Maaf - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Mengucap-dan-Memberi-Maaf.Kompas.20-Januari-2018.Hal_.24-001-e1517373387601.jpg","datePublished":"2018-01-31T04:37:25+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:33:14+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/#primaryimage","url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Mengucap-dan-Memberi-Maaf.Kompas.20-Januari-2018.Hal_.24-001-e1517373387601.jpg","contentUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Mengucap-dan-Memberi-Maaf.Kompas.20-Januari-2018.Hal_.24-001-e1517373387601.jpg","width":1308,"height":1212},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mengucap-dan-memberi-maaf\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengucap dan Memberi Maaf"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12093","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=12093"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12093\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15104,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/12093\/revisions\/15104"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/12094"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=12093"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=12093"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=12093"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}