{"id":13056,"date":"2018-02-23T15:01:07","date_gmt":"2018-02-23T08:01:07","guid":{"rendered":"https:\/\/library.uc.ac.id\/?p=13056"},"modified":"2025-05-01T12:52:03","modified_gmt":"2025-05-01T05:52:03","slug":"syak-wasangka-yang-menarik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/syak-wasangka-yang-menarik\/","title":{"rendered":"Syak Wasangka yang Menarik"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-extra_large wp-image-13060\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/02\/Syak-Wasangka-yang-Mengusik.Kompas.15-Februari-2018.-Hal.13-001-1500x1270.jpg\" alt=\"\" width=\"1500\" height=\"1270\" \/><\/p>\n<p><strong>Prasangka adalah buah dari ketidaktahuan. Prasangka juga membuat pikiran tidak terbuka. Namun, prasangka itulah yang kini banyak memandi kita dalam bersikap. Membuahkan ketidakmampuan menenggang rasa hingga memunculkan intoleransi dan rasialisme yang menggangu harmoni kehidupan.<\/strong><\/p>\n<p>Beberapa bulan terakhir yang menunjukan kekurangmampuan masyarakat menenggang perbedaan bermunculan di sejumlah daerah. Sikap-sikap intoleransi itu makin terbuka dan percaya diri ditunjukkan.<\/p>\n<p>Hanya gara-gara dugaan berbeda agama, orang menolak duduk bersandingan di bus. Ada pula tukang ojek daring yang membatalkan pesanan karena mengira penumpangnya dari etnis tertentu. Bahkan, ada toko kue yang menolak melayani permintaan khusus pembeli dari agama tertentu.<\/p>\n<p>Di tempat lain, warga menolak bakti sosial dan pemberian bantuan yang dilakukan kelompok agama tertentu. Ada juga yang menentang simbol agama di rumah tokoh agama yang berbeda. Penolakan itu muncul karena khawatir tindakan itu sebagai bentuk propaganda agama tertentu.<\/p>\n<p>Namun, sikap yang menunjukkan intoleransi itu tidak hanya terjadi di Indonesia. Beberapa tahun terakhir, di sejumlah toko atau restoran di Amerika Serikat memasang keterangan yang intinya berhak menolak melayani pembelian tertentu. Penolakan itu umumnya karena persoalan perbedaan ras.<\/p>\n<p>Meski ketidakmampuan menenggang perbedaan ras, etnis, dan agama itu terjadi dimana-mana, tetapi tindakan itu bukan bawaaan lahir manusia.<\/p>\n<p>\u201cLingkungan sekitar yang menciptakan intoleransi,\u201d kata Kepala Pusat Neurosains Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka Jakarta Rizki Edmi Edison di Jakarta, Rabu (14\/2).<\/p>\n<p>Meski semua fenomena itu didasari prasangka, Guru Besar Psikologi Sosial Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Faturochman menilai pemicu intoleransi di Indonesia dan di AS berbeda. Prasangka di AS lebih banyak didorong perebutan sumber daya, sedangkan di Indonesia lebih dipicu iso politik dan rekayasa perebutan kekuasaan yang menonjolkan politik identitas.<\/p>\n<p>\u201cDasar manusia Indonesia itu suka harmoni,\u201d katanya.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>Politik identitas<\/strong><\/p>\n<p>Meski demikian, perbedaan dan ketidaksukaan atas perbedaan tetap ada. Namun, masyarakat dalam menyikapi perbedaan itu diyakini sengaja dibuat dan dimanfaatkan oknum tertentu demi kepentingan politiknya.<\/p>\n<p>Upaya itu dilakukan dengan memanfaatkan media sosial dan media massa yang kurang bertanggung jawab hingga perbedaan makin jelas dipertontonkan dan tajam dipertentangkan. Untuk memperkuat perbedaan, isu kesejahteraan dan ekonomi diembuskan hingga tumpang-tindih dengan isu agama dan etnis. Sementara untuk melanggengkan perbedaan, diciptakanlah ilusi dan halusinasi tentang musuh bernama hingga membentuk ketakutan dalam diri atas perbedaan yang terjadi.<\/p>\n<p>Melimpahnya informasi yang memperlihatkan perbedaan itu berbenturan dengan bias kognitif dalam pikiran manusia. Bias itu membuat manusia kurang mempu berpikir rasional karena hanya mau menerima informasi sesuai yang diinginkan atau sesuai kelompoknya saja.<\/p>\n<p>Bias kognitif itu membuat emosi yang dikendalikan sistem limbik di otak belakang mendominasi. \u201cJika sistem limbik dominan, seseorang akan mudah marah, sedih atau berlaku tak rasional lain,\u201d kata Edmi.<\/p>\n<p>Di sisi lain, otak manusia memiliki keterbatasan untuk mencerna semua informasi yang ada. Informasi di media sosial yang umumnya berupa teks atau video yang diberi teks membuat otak kiri manusia lebih dominan bekerja.<\/p>\n<p>Tarkait fungsi bahasa, otak kiri memproses bahasa verbal berupa teks dan otak kanan mengolah bahasa nonverbal, seperti intonasi, mimik wajah, dan gerak tubuh. Karena informasi di media sosial umumnya hanya berupa teks, mereka yang membacanya akan sulit memahami konteks.<\/p>\n<p>\u201cItulah yang membuat sebutan nama bintang untuk menyebut seseorang dalam pesan teks sering memunculkan kemarahan, tetapi bisa memicu tawa jika bertemu langsung,\u201d katanya.<\/p>\n<p><strong>Belum Matang<\/strong><\/p>\n<p>Selain faktor perebutan sumber daya, kepentingan politik, dan masalah berpikir, sikap intoleransi yang ditunjukkan sebagian masyarakat dinilai Faturochman juga digerakkan oleh kepribadian otoritarian (<em>authoritarian personality<\/em>) yang dimiliki setiap orang. Kepribadian ini mendorong perilaku manusia untuk memperlakukan orang lain sesuai kemauannya, termasuk yang memiliki identitas berbeda.<\/p>\n<p>Kepribadian otoritarian itu dibentuk oleh kematangan berpikir dan pengalaman hidup. Persoalannya, saat ini banyak orang ingin berlaku instan dalam melakukan apa pun, termasuk dalam memperajari sesuatu, hingga pemahaman dan kematangan pikirnya tak terbentuk.<\/p>\n<p>\u201cPematangan diri untuk menjadi individu yang bijak diperoleh melalui pengalaman yang tekstual,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Perbedaan yang dipertontonkan terbuka dan terus menerus itu, memunculkan banyak masalah dan pertentangan dalam diri seseorang. Saat menghadapi kondisi seperti itu, manusia hanya punya dua pilihan, melawan (<em>fight) <\/em>atau menghindar (<em>flight<\/em>).<\/p>\n<p>Tindakan melawan itulah akhirnya memunculkan berbagai sikap intoleransi. Tak hanya sikap, informasi yang makin memperkukuh intoleransi pun makin banyak diproduksi. Sementara mereka yang menghindar, lebih karena tak ingin menimbulkan masalah baru, mencegah potensi persekusi, hingga demi menjaga harmoni.<\/p>\n<p>\u201cMeski yang banyak diam itu adalah kelompok yang lebih besar, masalahnya informasi tidak benar dan intoleransi yang tidak dilawan akan dianggap sebagai kebenaran,\u201d ujar Edmi.<\/p>\n<p>Karena itu, kelompok mayoritas pendukung toleransi yang cenderung diam harus aktif bersuara. Maraknya informasi intoleransi harus dilawan dengan informasi toleransi yang lebih banyak. Hanya dengan itu lingkungan positif diciptakan yang bukan hanya bermanfaat untuk diri, tetapi juga orang sekitar.<\/p>\n<p>\u201cToleransi tidak hanya didorong oleh sikap individu semata, tetapi juga bisa diciptakan dari lingkungan,\u201d kata Faturochman.<\/p>\n<p>Namun, dia menyarankan untuk tidak membesarkan sikap intoleran yang muncul di masyarakat itu. Jika riak-riak kecil itu makin besar justru akan membuat oknum yang sengaja ingin menimbulkan perpecahan senang karena tercapai tujuannya. Energi yang ada seharusnya lebih difokuskan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan sikap intoleransi tersebut.<\/p>\n<p>Ketidakmampuan berpikir rasional dan terbuka bisa diatasi dengan memperkuat sistem pendidikan yang tak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga etika dan budi pekerti. Pengajarannya pun tak bisa lagi dengan metode menghafal atau dogma, tetapi dengan menalar. Sedangkan persoalan ekonomi dan kesejahteraan perlu segera diatasi dengan pemerataan pembangunan, mempersempit kesenjangan, penyediaan lapangan kerja, hingga pengendalian harga.<\/p>\n<p>\u201cKuncinya adalah menciptakan kondisi politik yang kondusif dan elite politik yang bernar-benar memikirkan rakyatnya,\u201d katanya. Selama ini, mereka justru mempertajam perbedaan yang ada demi meraih dukungan suara semata dengan mengabaikan perpecahan di masyarakat. (M ZAID WAHYUDI)<\/p>\n<p>Penulis : M Zaid Wahyudi<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber:\u00a0Kompas.15-Februari-2018.-Hal.13<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Prasangka adalah buah dari ketidaktahuan. Prasangka juga membuat pikiran tidak terbuka. Namun, prasangka itulah yang kini banyak memandi kita dalam bersikap. Membuahkan ketidakmampuan menenggang rasa hingga memunculkan intoleransi dan rasialisme yang menggangu harmoni kehidupan. Beberapa bulan terakhir yang menunjukan kekurangmampuan masyarakat menenggang perbedaan bermunculan di sejumlah daerah. Sikap-sikap intoleransi itu makin terbuka dan percaya diri&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13060,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-13056","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Syak Wasangka yang Menarik - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Syak Wasangka yang Menarik - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Prasangka adalah buah dari ketidaktahuan. Prasangka juga membuat pikiran tidak terbuka. Namun, prasangka itulah yang kini banyak memandi kita dalam bersikap. Membuahkan ketidakmampuan menenggang rasa hingga memunculkan intoleransi dan rasialisme yang menggangu harmoni kehidupan. Beberapa bulan terakhir yang menunjukan kekurangmampuan masyarakat menenggang perbedaan bermunculan di sejumlah daerah. Sikap-sikap intoleransi itu makin terbuka dan percaya diri...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-02-23T08:01:07+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:52:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/02\/Syak-Wasangka-yang-Mengusik.Kompas.15-Februari-2018.-Hal.13-001-e1519373048373.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1161\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1296\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/syak-wasangka-yang-menarik\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/syak-wasangka-yang-menarik\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Syak Wasangka yang Menarik\",\"datePublished\":\"2018-02-23T08:01:07+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:52:03+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/syak-wasangka-yang-menarik\\\/\"},\"wordCount\":895,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/syak-wasangka-yang-menarik\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/02\\\/Syak-Wasangka-yang-Mengusik.Kompas.15-Februari-2018.-Hal.13-001-e1519373048373.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/syak-wasangka-yang-menarik\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/syak-wasangka-yang-menarik\\\/\",\"name\":\"Syak Wasangka yang Menarik - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/syak-wasangka-yang-menarik\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/syak-wasangka-yang-menarik\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/02\\\/Syak-Wasangka-yang-Mengusik.Kompas.15-Februari-2018.-Hal.13-001-e1519373048373.jpg\",\"datePublished\":\"2018-02-23T08:01:07+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:52:03+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/syak-wasangka-yang-menarik\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/syak-wasangka-yang-menarik\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/syak-wasangka-yang-menarik\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/02\\\/Syak-Wasangka-yang-Mengusik.Kompas.15-Februari-2018.-Hal.13-001-e1519373048373.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/02\\\/Syak-Wasangka-yang-Mengusik.Kompas.15-Februari-2018.-Hal.13-001-e1519373048373.jpg\",\"width\":1161,\"height\":1296},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/syak-wasangka-yang-menarik\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Syak Wasangka yang Menarik\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Syak Wasangka yang Menarik - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Syak Wasangka yang Menarik - Library","og_description":"Prasangka adalah buah dari ketidaktahuan. Prasangka juga membuat pikiran tidak terbuka. Namun, prasangka itulah yang kini banyak memandi kita dalam bersikap. Membuahkan ketidakmampuan menenggang rasa hingga memunculkan intoleransi dan rasialisme yang menggangu harmoni kehidupan. Beberapa bulan terakhir yang menunjukan kekurangmampuan masyarakat menenggang perbedaan bermunculan di sejumlah daerah. Sikap-sikap intoleransi itu makin terbuka dan percaya diri...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2018-02-23T08:01:07+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:52:03+00:00","og_image":[{"width":1161,"height":1296,"url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/02\/Syak-Wasangka-yang-Mengusik.Kompas.15-Februari-2018.-Hal.13-001-e1519373048373.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Syak Wasangka yang Menarik","datePublished":"2018-02-23T08:01:07+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:52:03+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/"},"wordCount":895,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/02\/Syak-Wasangka-yang-Mengusik.Kompas.15-Februari-2018.-Hal.13-001-e1519373048373.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/","name":"Syak Wasangka yang Menarik - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/02\/Syak-Wasangka-yang-Mengusik.Kompas.15-Februari-2018.-Hal.13-001-e1519373048373.jpg","datePublished":"2018-02-23T08:01:07+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:52:03+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/#primaryimage","url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/02\/Syak-Wasangka-yang-Mengusik.Kompas.15-Februari-2018.-Hal.13-001-e1519373048373.jpg","contentUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/02\/Syak-Wasangka-yang-Mengusik.Kompas.15-Februari-2018.-Hal.13-001-e1519373048373.jpg","width":1161,"height":1296},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/syak-wasangka-yang-menarik\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Syak Wasangka yang Menarik"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13056","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13056"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13056\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15379,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13056\/revisions\/15379"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13060"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13056"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13056"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13056"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}