{"id":1631,"date":"2015-12-02T15:43:58","date_gmt":"2015-12-02T08:43:58","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=1631"},"modified":"2025-05-01T12:22:42","modified_gmt":"2025-05-01T05:22:42","slug":"anggap-pasien-sebagai-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/anggap-pasien-sebagai-guru\/","title":{"rendered":"Anggap Pasien sebagai Guru"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2015\/12\/Anggap-Pasien-sebagai-Guru.-Jawa-Pos.-29-November-2015.Hal_.38.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-1632 \" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2015\/12\/Anggap-Pasien-sebagai-Guru.-Jawa-Pos.-29-November-2015.Hal_.38-e1449045789135.jpg\" alt=\"Anggap Pasien sebagai Guru. Jawa Pos. 29 November 2015.Hal.38\" width=\"943\" height=\"1026\" \/><\/a><\/p>\n<p>Di mata Agus Harianto, dokter spesialis anak merupakan profesi yang spesial. Sebab, tugas utamanya adalah menjaga tumbuh kembang calon penerus bangsa.<\/p>\n<p>PUKULAN berat dirasakan Agus Harianto pada ujian masuk perguruan tinggi 1969. Dia gagal lolos ke jurusan yang dibidiknya. Analisisnya, dia terlalu menyepelekan hingga tidak belajar untuk ujian itu. Pada saat yang sama, teman-teman seangkatannya diterima masuk di berbagai perguruan tinggi favorit. Antara lain, Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Airlangga (Unair) dan lain-lain. \u201cMulai saat itu, saya rajin belajar,\u201d ujar dr Agus Harianto SpA (K).<\/p>\n<p>Dua tahun kemudian, pada 1971, dia diterima di Fakultas Kedokteran (FK) Unair, fakultas yang didambakannya sejak di bangku SMP. Menurut anak pertama dari tiga bersaudara tersebut, berkat doa ibunya, dirinya diterima di FK. Agus muda terus belajar. Bahkan, hari liburnya diisi dengan belajar di lorong-lorong fakultas. \u201cYang lainnya main ke mana, saya ke kampus untuk belajar,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Mengenakan jas putih, menurut dia, bukanlah hal yang mudah. Setelah tujuh tahun menempuh kuliah, dia harus menjalani inpres. Proses itu merupakan bentuk pengabdian bagi dokter yang baru lulus. Ada tiga daerah yang menjadi tujuan. Antara lain, di Pulau Jawa dengan waktu pengabdian lima tahun, di luar Pulau Jawa di tempat yang tidak rawan selama tiga tahun, atau di pulau-pulau yang terluar dan terpencil dengan pengabdian dua tahun.<\/p>\n<p>Dia pun memilih pergi ke Sumba, Nusa Tenggara Timur. \u201cDaerah tersebut merupakan daerah yang rawan malaria dan pokoknya terpencil. Jadi, saya hanya dua tahun mengabdi,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sebelum berangkat, dia telah mempelajari kondisi sosiobudaya di tempatnya mengabdi. Dia yakin tidak akan berhasil jika hanya membawa kemampuan medis. \u201cAgar siap, dokter yang akan mengabdi ke wilayah itu seharusnya belajar dulu. Biar jadi buku saku selama menjalankan tugas,\u201d saran pria kelahiran Madiun tersebut.<\/p>\n<p>Trik yang diterapkannya sebelum mengabdi di daerah terpencil ternyata tepat. Hubungan baik dengan masyarakat bahkan bupati Sumba saat itu pun terjalin. Agus mampu menerapkan program dengan baik berkat kedekatannya dengan masyarakat. Dia mengusung progam sanitasi sehat. Tema yang dibidik adalah pembuatan jamban serta pembasmian lalat dan kecoa. \u201cProgam tersebut saya buat kontes. Yang rumahnya sudah mematuhi itu, di kartu berobat, saya kasih tanda. Mereka dapat antrean khusus,\u201d jelasnya. Dia pun mendapat penghargaan dari menteri kesehatan pada 1981. Dokter puskesmas teladan disabetnya.<\/p>\n<p>Namun Tuhan berkehendak agar dia kembali ke Surabaya. Istrinya yang tengah mengandung tiga bulan terserang malaria. Janinnya harus dikuret. Kondisinya makin memburuk. Saat itu fasilitas medis di daerah tempatnya bekerja belum maju. Untungnya, dia mengenal bupati Sumba dengan baik. \u201cBupati yang menyewakan saya pesawat khusus untuk kembali ke Surabaya. Itu pun di bandara sudah ada ambulans yang menjemput,\u201d ceritanya.<\/p>\n<p>Kepulangannya ke Surabaya ternyata menuai hikmah. Formulir pendaftaran spesialis yang dikirim ke FK Unair hilang. \u201cKalau saya tidak pulang mungkin tidak tahu bahwa formulirnya hilang. Saya mengurus kembali dan akhirnya bisa melanjutkan spesialis,\u201d ungkapnya. Pilihannya tentu dokter spesialis anak yang didambanya sejak muda.<\/p>\n<p>Agus menyatakan, semua lancar saat menempuh spesialis anak. Dia menempuh pendidikan spesialis tanpa biaya karena menjadi dokter puskesmas teladan yang diberikan oleh menteri kesehatan. Pria yang tinggal di Mulyorejo itu lulus setelah tiga tahun. Pada 1990 dia mulai membantu mengerjakan kasus kembar siam. Namun, kala itu dia hanya sebagai juru bicara.<\/p>\n<p>Dia baru benar-benar menjalankan program kasus kembar siam pada 2009. Dia membuat program dan menyusun kembali <em>standart operating procedure<\/em> (SOP). Kembar siam Rohman-Rohim berada dalam wewenangnya. \u201cPasien itu sebagai guru saya,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Ada pantangan selama Agus berpraktik. Dia tidak mau memprediksi kondisi pasien. Berdasar pengalamannya, dia pernah memprediksi bahwa pasien yang ditanganinya akan membaik, tetapi hasilnya sebaliknya. Bahkan, yang dikiranya tidak akan bertahan malah <em>survive<\/em>. \u201cKetika ditanya orang tua, saya biasanya menjawab, kami akan berusaha namun berdoa saja semoga Tuhan memberikan kesembuhan. Saya tidak mau lagi mendahului Tuhan,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Ketika ditanya soal pengalamannya yang paling membuat dia khawatir, Agus mengungkapkan saat menangani kembar lima pasangan Hari Saputra dan Nia Rachmawati. Kasus tersebut juga merupakan kasus tersulit yang pernah ditanganinya. \u201cIni mempertaruhkan nama baik tim neonatoligi dan RSUD dr Soetomo,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Apalagi kembar lima mendapat sorotan dari berbagai pihak. \u201cJadi, dokter itu jangan sambil jadi pedagang,\u201d sarannya. Hal itu juga yang menjadi prinsip Agus. Dia mengaku tidak pernah memperhitungkan pasien mampu membayar atau tidak. \u201cKerjakan dulu. Jangan dihitung untung rugi,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Selalu Pantau Refleks Tumbuh Kembang<\/p>\n<p>ADA yang beda dari cara dr Agus menangani pasien. Pria 65 tahun itu memberikan layanan imunisasi pada hari khusus. Dia hanya melayani imunisasi pada Minggu saja. Alasannya, dia tidak ingin mereka yang datang karena sakit bercampur dengan yang imunisasi. \u201cSaya tidak ingin yang sehat dan akan imunisasi malah tertular yang sakit,\u201d katanya. \u201cUntuk mereka yang sakit, saya menuliskan resep sesuai sakitnya,\u201d lanjutnya.<\/p>\n<p>Dia menjelaskan, ketika si anak sakit batuk, pilek, dan panas, dirinya akan meresepkan tiga obat. Tujuannya, ketika salah satu sakit anak sembuh, obat bisa dihentikan. \u201cJadi, orang tua pasti pulang dengan membawa obat sebanyak yang anaknya sakit,\u201d imbuhnya.<\/p>\n<p>Pada mereka yang sakit lumayan parah, Agus pasti memberikan surat pengantar. Dia beralasan jika sewaktu-waktu si anak harus dirujuk ke rumah sakit, orang tua sudah memiliki surat pengantar. Dia tidak ingin mempersulit pasien.<\/p>\n<p>Agus juga mempunyai ciri khas untuk memeriksa pasien yang masih bayi. Dia selalu memantau refleks tumbuh kembang pasiennya. Mungkin bagi sebagian bunda, cara yang digunakan Agus cukup membuat khawatir. Bayi yang masih hitungan hari dites refleks dengan cara seperti didudukkan. Tangan Agus menopang punggung dan leher bayi. \u201cIni dilakukan untuk mengetahui motorik halus bayi,\u201d kata Agus sambil menunjukkannya kepada <em>Jawa Pos<\/em>.<\/p>\n<p>Kecintaan Agus pada profesinya dan RSUD dr Soetomo begitu dalam. Bahkan, ketika sudah pensiun pun, dia bertekad untuk terus berpraktik di rumah sakit yang menjadi rujukan nasional itu. Agus juga telah mendapat restu dari gubernur Jawa Timur untuk tetap berpraktik di RSUD dr Soetomo. \u201cSaya bangga dengan profesi saya dan ingin berada di sini terus,\u201d ucapnya.<\/p>\n<p>UC Lib-Collect<\/p>\n<p>Jawa Pos. 29 November 2015<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Di mata Agus Harianto, dokter spesialis anak merupakan profesi yang spesial. Sebab, tugas utamanya adalah menjaga tumbuh kembang calon penerus bangsa. PUKULAN berat dirasakan Agus Harianto pada ujian masuk perguruan tinggi 1969. Dia gagal lolos ke jurusan yang dibidiknya. Analisisnya, dia terlalu menyepelekan hingga tidak belajar untuk ujian itu. Pada saat yang sama, teman-teman seangkatannya&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4627,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[202,201,203],"class_list":["post-1631","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anggap-pasien-sebagai-guru","tag-dokter-spesialis","tag-keshatan-kesehatan"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Anggap Pasien sebagai Guru - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Anggap Pasien sebagai Guru - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Di mata Agus Harianto, dokter spesialis anak merupakan profesi yang spesial. Sebab, tugas utamanya adalah menjaga tumbuh kembang calon penerus bangsa. PUKULAN berat dirasakan Agus Harianto pada ujian masuk perguruan tinggi 1969. Dia gagal lolos ke jurusan yang dibidiknya. Analisisnya, dia terlalu menyepelekan hingga tidak belajar untuk ujian itu. Pada saat yang sama, teman-teman seangkatannya...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-12-02T08:43:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:22:42+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/Anggap-Pasien-sebagai-Guru.-Jawa-Pos.-29-November-2015.Hal_.381.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1042\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1256\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/anggap-pasien-sebagai-guru\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/anggap-pasien-sebagai-guru\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Anggap Pasien sebagai Guru\",\"datePublished\":\"2015-12-02T08:43:58+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:22:42+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/anggap-pasien-sebagai-guru\\\/\"},\"wordCount\":945,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/anggap-pasien-sebagai-guru\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/12\\\/Anggap-Pasien-sebagai-Guru.-Jawa-Pos.-29-November-2015.Hal_.381.jpg\",\"keywords\":[\"anggap pasien sebagai guru\",\"dokter spesialis\",\"keshatan kesehatan\"],\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/anggap-pasien-sebagai-guru\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/anggap-pasien-sebagai-guru\\\/\",\"name\":\"Anggap Pasien sebagai Guru - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/anggap-pasien-sebagai-guru\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/anggap-pasien-sebagai-guru\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/12\\\/Anggap-Pasien-sebagai-Guru.-Jawa-Pos.-29-November-2015.Hal_.381.jpg\",\"datePublished\":\"2015-12-02T08:43:58+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:22:42+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/anggap-pasien-sebagai-guru\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/anggap-pasien-sebagai-guru\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/anggap-pasien-sebagai-guru\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/12\\\/Anggap-Pasien-sebagai-Guru.-Jawa-Pos.-29-November-2015.Hal_.381.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/12\\\/Anggap-Pasien-sebagai-Guru.-Jawa-Pos.-29-November-2015.Hal_.381.jpg\",\"width\":1042,\"height\":1256},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/anggap-pasien-sebagai-guru\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Anggap Pasien sebagai Guru\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Anggap Pasien sebagai Guru - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Anggap Pasien sebagai Guru - Library","og_description":"Di mata Agus Harianto, dokter spesialis anak merupakan profesi yang spesial. Sebab, tugas utamanya adalah menjaga tumbuh kembang calon penerus bangsa. PUKULAN berat dirasakan Agus Harianto pada ujian masuk perguruan tinggi 1969. Dia gagal lolos ke jurusan yang dibidiknya. Analisisnya, dia terlalu menyepelekan hingga tidak belajar untuk ujian itu. Pada saat yang sama, teman-teman seangkatannya...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2015-12-02T08:43:58+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:22:42+00:00","og_image":[{"width":1042,"height":1256,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/Anggap-Pasien-sebagai-Guru.-Jawa-Pos.-29-November-2015.Hal_.381.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Anggap Pasien sebagai Guru","datePublished":"2015-12-02T08:43:58+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:22:42+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/"},"wordCount":945,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/Anggap-Pasien-sebagai-Guru.-Jawa-Pos.-29-November-2015.Hal_.381.jpg","keywords":["anggap pasien sebagai guru","dokter spesialis","keshatan kesehatan"],"articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/","name":"Anggap Pasien sebagai Guru - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/Anggap-Pasien-sebagai-Guru.-Jawa-Pos.-29-November-2015.Hal_.381.jpg","datePublished":"2015-12-02T08:43:58+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:22:42+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/Anggap-Pasien-sebagai-Guru.-Jawa-Pos.-29-November-2015.Hal_.381.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/12\/Anggap-Pasien-sebagai-Guru.-Jawa-Pos.-29-November-2015.Hal_.381.jpg","width":1042,"height":1256},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/anggap-pasien-sebagai-guru\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Anggap Pasien sebagai Guru"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1631","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1631"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1631\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6161,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1631\/revisions\/6161"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4627"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1631"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1631"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1631"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}