{"id":22552,"date":"2021-01-20T11:02:36","date_gmt":"2021-01-20T04:02:36","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?p=22552"},"modified":"2021-01-26T11:50:23","modified_gmt":"2021-01-26T04:50:23","slug":"bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/","title":{"rendered":"Bagaimana Kabar Toleransi di tahun 2021?"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-22569 aligncenter\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400.jpg\" alt=\"\" width=\"626\" height=\"403\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400.jpg 626w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400-300x193.jpg 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 626px) 100vw, 626px\" \/><\/p>\n<p>Pada tahun 2020 lalu, internet sempat diramaikan dengan tagar blacklivesmatter. Gelombang protes ini berawal dari munculnya video kekerasan kepada seorang warga kulit hitam di AS bernama George Floyd oleh beberapa oknum polisi. Dalam video tersebut, seorang polisi terlihat menindih leher George Floyd yang tertelungkup di aspal dan beberapa kali berteriak \u201caku tak bisa bernapas\u201d, memanggil-manggil ibunya dan mengatakan \u201ctolong, tolong\u201d sampai akhirnya tak bergerak lagi dan meninggal. Peristiwa ini diketahui berlangsung selama hampir 9 menit dan terekam oleh beberapa video amatir beberapa orang yang menyaksikan kejadian tersebut dan <em>security camera. <\/em>Kekerasan ini melibatkan empat orang oknum polisi yang kemudian diketahui bernama Derek Chauvin, Thomas Lane, Alexander Kueng, Tou Thao. Peristiwa yang berujung pada kematian Floyd ini diawali oleh laporan pegawai sebuah toko Cup Foods yang mencurigai Floyd menggunakan uang palsu saat melakukan transaksi pembelian. Video tersebut tersebar di internet dan langsung menuai aksi protes dari seluruh orang di dunia. Selang beberapa hari, orang-orang dari berbagai kota di Amerika turun ke jalan memprotes aksi rasis yang berujung pada hilangnya nyawa ini. Gelombang protes besar-besaran ini membuat empat orang polisi yang terlibat dalam kasus George Floyd ditangkap dan akhirnya dipecat. Namun proses hukum yang berjalan ini, tidak meredakan demonstrasi besar-besaran. Demonstran kemudian tidak hanya menuntut keadilan untuk George Floyd tetapi juga beberapa tuntutan lainnya, dikutip dari m4bl.org, terdapat 6 tuntutan lain seperti 1. Mengakhiri perang terhadap orang kulit hitam 2. <em>Reparation<\/em> 3. <em>Invest-Divest<\/em> 4. Keadilan ekonomi 5. Kontrol komunitas 6. Kekuatan politik, yang kemudian diperinci lagi menjadi beberapa hal seperti pengurangan pendanaan untuk polisi dan penyelesaian kasus-kasus kematian warga kulit hitam lainnya. Data dari mappingpoliceviolence.org menunjukkan bahwa warga kulit hitam tiga kali lebih mungkin meninggal karena kebrutalan polisi dibanding warga kulit putih. Kebrutalan polisi AS terhadap warga kulit hitam beriringan dengan diskriminasi rasial yang sudah sistemik. AS sudah lama meninggalkan era segregasi dan perbudakan, tetapi rasisme terhadap warga kulit hitam tetap ada dalam bentuk yang berbeda dan hidup dalam sekat bermasyarakat warga AS.<\/p>\n<p>Buku berjudul \u201cThe Logic of Life\u201d (Call No.339 HAR l) karya Tim Harford menjelaskan bagaimana banyak hal yang dirasa irasional sebenarnya rasional dan logis, tidak terkecuali rasisme. Dalam buku ini terdapat satu bab yang menjelaskan bahwa beberapa perilaku rasis dapat dijelaskan secara logis, bagaimana seseorang terkadang secara tidak sadar memiliki asumsi &amp; prasangka yang kemudian membentuk keputusan-keputusan yang merugikan ras tertentu. Menurutnya terdapat dua jenis diskriminasi, Harford memberikan contoh dari sudut pandang ekonomi yang dalam hal ini perekrutan kerja, diskriminasi tersebut yaitu diskriminasi &#8220;berdasarkan selera&#8221; atau fanatisme, yaitu ketika pemberi kerja menolak memberikan pekerjaan pada orang kulit hitam karena tidak menyukai orang-orang kulit hitam dan yang kedua adalah diskriminasi statistik atau rasisme rasional yang mana pemberi pekerjaan menggunakan kinerja rata-rata dari kelompok rasial pelamar sebagai bagian informasi untuk memutuskan apakah akan melamar pekerja tersebut atau tidak. Penulis juga mencantumkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Marrianne Bertrand dan Sendhil Mullainathan, mereka membuat 5000 CV (Curriculum Vitae), beberapa dari CV tersebut digolongkan berdasarkan kualitasnya yaitu CV berkualitas tinggi, CV berkualitas sedang dan CV berkualitas rendah, kemudian, secara acak peneliti memberikan nama-nama orang kulit hitam seperti Tyrone Jones dan nama2 orang kulit putih seperti Brendan Baker. Peneliti mengirimkan CV ini ke lebih dari 1000 perusahaan, dua CV dengan nama kulit hitam: satu berkualitas baik dan satu sedang, dan dua CV dengan nama kulit putih, dengan format yang sama. Dan hasilnya CV dengan nama orang kulit putih menerima undangan wawancara 50 persen lebih banyak. Hal ini dapat terjadi bisa karena diskriminisi fanatis yang berarti <em>employer<\/em> (pemberi kerja) tidak suka dan tidak ingin orang kulit hitam bekerja di tempat mereka atau yang kedua, rasisme rasional yang berarti <em>employer<\/em> menggunakan kinerja rata-rata kelompok kulit hitam dan bukan murni dari kualitas CV pelamar. Jika hal ini terjadi secara terus menerus dan terjadi di semua kota maka dapat dikatakan keputusan orang kulit hitam untuk tidak melanjutkan pendidikan yang tinggi adalah hal yang rasional karena tidak peduli seberapa baik CV mereka, mereka tidak akan menerima panggilan kerja karena employer hanya menilai dari rata-rata kinerja kelompok ras saja dan bukan keberhasilan pribadi mereka. Hal ini dapat memperlebar kesenjangan antar ras, misalnya saja selama pandemi COVID-19 terjadi, dikutip dari Tirto.id, the Economic Policy Institute\u00a0(EPI), melakukan riset yang hasilnya menyebutkan selama wabah corona terjadi, rata-rata pengangguran di komunitas kulit hitam mencapai 16,8 persen dan kulit putih 14,2 persen.<\/p>\n<p>Perilaku rasis ini bisa merugikan untuk kedua pihak, baik dari pihak <em>employer<\/em> maupun warga kulit hitam, dari sudut pandang <em>employer<\/em>, <em>employer<\/em> akan kehilangan calon pekerja yang lebih baik dan handal, yang membuat mereka kalah bersaing dengan perusahaan lain yang tidak rasis. Sedangkan untuk calon pelamar kerja jelas hal tersebut akan berdampak besar pada ekonomi mereka. Sementara perusahaan akan terdampak dalam jangka waktu yang cukup lama, untuk orang kulit hitam dampak ekonomi akan terasa secara langsung. Buku ini mengutip penelitian Glaeser &amp; Vigdor yang menyatakan bahwa kejatuhan segregasi (pemisahan orang kulit hitam &amp; putih) terjadi lebih awal dikota-kota besar yang permintaan ekonominya baik dimana perusahaan-perusahaan menjadi semakin dinamis. Tapi hal ini sulit berubah dalam hal pelayanan publik, karena meskipun perilaku rasis tetap ada dalam tubuh pemerintahan, pelayanan publik tidak akan mengalami kebangkrutan. Tim Harford bukan hanya seorang jurnalis tetapi juga seorang ekonom, maka dalam bab Rasisme Rasional ini banyak penelitian yang berkutat di bidang ekonomi tapi dengan logika yang sama hal ini bisa dilihat pada konsep lain, misalnya secara statistik orang kulit hitam merupakan kelompok minoritas yaitu sebanyak 13% dari total penduduk dan memiliki modal sosial yang rendah seperti terbatasnya akses ekonomi dan pendidikan dan lingkungan yang tidak suportif terhadap keberhasilan sebayanya (dalam buku Harford, orang kulit hitam yang berhasil dianggap berperilaku seperti orang kulit putih <em>(acting white)<\/em> dikucilkan) yang akhirnya membuat mereka sering turut andil dalam kegiatan ilegal, sehingga mereka dianggap sering melakukan kejahatan dan berbahaya, hal ini membuat petugas kepolisian lebih sering mengawasi area tempat tinggal orang kulit hitam, maka lebih banyak orang kulit hitam yang ditangkap polisi dan masuk penjara karena hal-hal sepele, semakin tinggi lagi asumsi bahwa orang kulit hitam berbahaya. Teori ini semakin mendukung gerakan Black Lives Matter, karena hampir tidak ada cara lain selain demo menuntut Negara untuk memperbaiki sistem, mulai dari tata aturan non diskriminatif, ekonomi hingga pendidikan untuk memberi peluang yang sama untuk orang kulit hitam.<\/p>\n<p>Kita bisa membantu gerakan ini dengan menyebarkan kesadaran tentang isu rasial, mengisi petisi, melakukan donasi dan mempelajari sejarah yang ada. Sebagai orang awam kita dapat mempelajari sejarah kulit hitam yang terjadi dengan menonton film. Berikut beberapa film yang bisa ditonton<\/p>\n<ol>\n<li>The Help (2011)<\/li>\n<\/ol>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-22555 alignleft\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/pfilm1284-the-help_788ab0de-film-movie-posters-cinema-kanvas-tablo-canvas-1000x1000-1.jpg\" alt=\"\" width=\"170\" height=\"248\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/pfilm1284-the-help_788ab0de-film-movie-posters-cinema-kanvas-tablo-canvas-1000x1000-1.jpg 685w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/pfilm1284-the-help_788ab0de-film-movie-posters-cinema-kanvas-tablo-canvas-1000x1000-1-206x300.jpg 206w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/pfilm1284-the-help_788ab0de-film-movie-posters-cinema-kanvas-tablo-canvas-1000x1000-1-483x705.jpg 483w\" sizes=\"auto, (max-width: 170px) 100vw, 170px\" \/>Merupakan film hasil adapatasi dari buku fiksi dengan judul yang sama yang ditulis oleh Kathryn Stockett yang menceritakan tentang perempuan kulit putih muda bernama Euginia \u201cSkeeter\u201d Phelan (Emma Stone) \u00a0dan hubungannya dengan dua pekerja rumah tangga kulit hitam bernama Aibileen Clark (Viola Davis) dan Minny Jackson (Octavia Spencer). Berlatar belakang Pergerakan Hak Warga Sipil (Civil Rights Movement) di tahun 1963 di Missisipi, Skeeter yang sedang berusaha menjadi jurnalis dan penulis, memutuskan untuk menulis buku tentang kisah hidup pekerja rumah tangga kulit hitam yang harus menghadapi perilaku rasis oleh keluarga kulit putih tempat mereka bekerja. Misalnya ketika Hilly (Bryce Dallas Howard) memecat Minny karena Minny terpaksa menggunakan toilet tamu saat badai (Minny tidak menggunakan toilet khusus kulit hitam). Film yang mendapatkan penghargaan Aktris Pendukung Terbaik oleh Academy Awards ini memperlihatkan bahwa rasisme adalah perilaku yang diajarkan, karena anak asuh yang berkulit putih memiliki hubungan yang dekat dengan pekerja rumah tangga yang berkulit hitam, perilaku rasis di masa itu juga banyak dilakukan karena adanya tekanan sosial.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Hidden Figures (2016)<\/li>\n<\/ol>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-22556 alignleft\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/hidden-figure.jpg\" alt=\"\" width=\"172\" height=\"199\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/hidden-figure.jpg 297w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/hidden-figure-260x300.jpg 260w\" sizes=\"auto, (max-width: 172px) 100vw, 172px\" \/>Film ini menceritakan tentang kehidupan tiga perempuan kulit hitam bernama Katherine G. Johnson (Taraji P. Henson), Dorothy Vaughan (Octavia Spencer), Mary Jackson (Janelle Monae). Mereka adalah matematikawan yang bekerja untuk NASA dan berperan penting selama tahun-tahun awal program ruang angkasa. Berlatar tahun 1950-an dan 1960-an dimana \u00a0pekerjaan ini didominasi oleh laki-laki dan segregasi masih terjadi seperti pemisahan sekolah, pemisahan toilet untuk kulit hitam dan putih, bahkan pemisahan alat makan &amp; minum, film ini menggambarkan perjuangan yang harus dilakukan oleh warga kulit hitam saat itu untuk dapat bertahan dan diterima rekan kulit putihnya. Film yang disutradarai oleh Theodore Melfi ini ditutup dengan keberhasilan peluncuran roket berkat penghitungan Katherine. Hidden Figures yang merupakan hasil adaptasi buku dengan judul yang sama yang ditulis oleh Margot Lee Shetterly menunjukkan bagaimana orang kulit hitam dapat berhasil jika diberi kesempatan yang sama.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>12 Years Slave (2013) non fiksi<\/li>\n<\/ol>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-22558 alignleft\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/12_Years_a_Slave_film_poster.jpg\" alt=\"\" width=\"220\" height=\"326\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/12_Years_a_Slave_film_poster.jpg 220w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/12_Years_a_Slave_film_poster-202x300.jpg 202w\" sizes=\"auto, (max-width: 220px) 100vw, 220px\" \/>Film ini berlatar tahun\u00a0<a href=\"tel:1841\">1841<\/a>\u00a0sebelum perang saudara terjadi di Amerika. Menceritakan tentang Solomon Northop (Chiwetel Ejiofor), seorang warga kulit hitam merdeka yg diculik lalu kemudian dijual untuk perbudakan di Lousiana, Amerika. Solomon Northop menjadi budak selama 12 tahun sebagai budak pertanian kapas, perjalanannya sebagai budak semakin sulit ketika Platt (nama budak Northop) menjadi properti Edwin Epps (Michael Fassbender) yang meyakini bahwa perbudakan adalah budaya Amerika bagian selatan\u00a0 yang diperbolehkan Tuhan dan perlu dipertahankan. Platt dan rekan-rekannya dipekerjakan siang malam dengan kebersihan yang minim, diperlakukan tidak manusiawi, dicambuk, disiksa, bahkan diperkosa. Platt beberapa kali mencoba untuk membebaskan diri namun gagal sampai akhirnya ia bertemu Bass (Brad Pitt) yang membantu mengirimkan suratnya kepada rekannya di Utara. Film ini berakhir ketika Platt dijemput pihak berwajib dan dibawa kembali ke keluarganya dan kembali manusia merdeka. Kisah ini merupakan\u00a0 kisah nyata dari memoar Northop yang disunting oleh Sue Eakin dan Joseph Logsdon pada tahun 1968 yang kemudian diangkat ke layar lebar dan disutradarai oleh Steve Mcqueen. Ada banyak <em>scene<\/em> dalam film ini yang dirasa sangat <em>disturbing,<\/em> menunjukkan betapa kejamnya era perbudakan. Film ini mendapatkan tiga penghargaan di Academy Awards yaitu Film Terbaik, Aktris Pendukung Terbaik, dan Skenario Adaptasi Terbaik.<\/p>\n<p>Dari sejarah kita dapat melihat bahwa era perbudakan dan era segregasi berhasil dihentikan karena ada orang-orang yang berbagi nilai-nilai yang sama kemudian memperjuangkan hal tersebut. Pun di tahun 2021 ini, kita sedang menghadapi bentuk baru musuh masa lampau, perlu dukungan dari banyak orang yang percaya bahwa perilaku rasis, dari sisi manapun tidak dibenarkan. Terlebih di masa pandemi ini, ketika seluruh dunia terdampak secara kesehatan, ekonomi maupun sosial, kita perlu bahu-membahu menguatkan sesama terlebih membantu mereka yang termarjinalkan. Mari introspeksi diri sendiri apakah kita sudah memiliki sikap toleransi terhadap perbedaan? It takes all of us, to stand on the right side of history.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-22553 aligncenter\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/suster-membantu-menyebrang.jpg\" alt=\"\" width=\"780\" height=\"390\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/suster-membantu-menyebrang.jpg 780w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/suster-membantu-menyebrang-300x150.jpg 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/suster-membantu-menyebrang-768x384.jpg 768w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/suster-membantu-menyebrang-705x353.jpg 705w\" sizes=\"auto, (max-width: 780px) 100vw, 780px\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada tahun 2020 lalu, internet sempat diramaikan dengan tagar blacklivesmatter. Gelombang protes ini berawal dari munculnya video kekerasan kepada seorang warga kulit hitam di AS bernama George Floyd oleh beberapa oknum polisi. Dalam video tersebut, seorang polisi terlihat menindih leher George Floyd yang tertelungkup di aspal dan beberapa kali berteriak \u201caku tak bisa bernapas\u201d, memanggil-manggil&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[100],"tags":[],"class_list":["post-22552","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-library-info"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Bagaimana Kabar Toleransi di tahun 2021? - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bagaimana Kabar Toleransi di tahun 2021? - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pada tahun 2020 lalu, internet sempat diramaikan dengan tagar blacklivesmatter. Gelombang protes ini berawal dari munculnya video kekerasan kepada seorang warga kulit hitam di AS bernama George Floyd oleh beberapa oknum polisi. Dalam video tersebut, seorang polisi terlihat menindih leher George Floyd yang tertelungkup di aspal dan beberapa kali berteriak \u201caku tak bisa bernapas\u201d, memanggil-manggil...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-01-20T04:02:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2021-01-26T04:50:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"626\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"403\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"8 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Bagaimana Kabar Toleransi di tahun 2021?\",\"datePublished\":\"2021-01-20T04:02:36+00:00\",\"dateModified\":\"2021-01-26T04:50:23+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\\\/\"},\"wordCount\":1655,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2021\\\/01\\\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400.jpg\",\"articleSection\":[\"Library Info\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\\\/\",\"name\":\"Bagaimana Kabar Toleransi di tahun 2021? - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2021\\\/01\\\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400.jpg\",\"datePublished\":\"2021-01-20T04:02:36+00:00\",\"dateModified\":\"2021-01-26T04:50:23+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2021\\\/01\\\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2021\\\/01\\\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400.jpg\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bagaimana Kabar Toleransi di tahun 2021?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bagaimana Kabar Toleransi di tahun 2021? - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Bagaimana Kabar Toleransi di tahun 2021? - Library","og_description":"Pada tahun 2020 lalu, internet sempat diramaikan dengan tagar blacklivesmatter. Gelombang protes ini berawal dari munculnya video kekerasan kepada seorang warga kulit hitam di AS bernama George Floyd oleh beberapa oknum polisi. Dalam video tersebut, seorang polisi terlihat menindih leher George Floyd yang tertelungkup di aspal dan beberapa kali berteriak \u201caku tak bisa bernapas\u201d, memanggil-manggil...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2021-01-20T04:02:36+00:00","article_modified_time":"2021-01-26T04:50:23+00:00","og_image":[{"width":626,"height":403,"url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"8 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Bagaimana Kabar Toleransi di tahun 2021?","datePublished":"2021-01-20T04:02:36+00:00","dateModified":"2021-01-26T04:50:23+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/"},"wordCount":1655,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400.jpg","articleSection":["Library Info"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/","name":"Bagaimana Kabar Toleransi di tahun 2021? - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400.jpg","datePublished":"2021-01-20T04:02:36+00:00","dateModified":"2021-01-26T04:50:23+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/#primaryimage","url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400.jpg","contentUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/01\/top-view-multiracial-stacking-hands-international-friendship-concept-with-multiethnic-people_101731-400.jpg"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/bagaimana-kabar-toleransi-di-tahun-2021\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bagaimana Kabar Toleransi di tahun 2021?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22552","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=22552"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22552\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":22831,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/22552\/revisions\/22831"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=22552"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=22552"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=22552"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}