{"id":3312,"date":"2017-02-09T08:56:41","date_gmt":"2017-02-09T01:56:41","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=3312"},"modified":"2025-05-01T12:37:22","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:22","slug":"kreator-wayang-landung-dari-panjalu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/","title":{"rendered":"Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-3313\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-16.jpg\" alt=\"Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu. Kompas. 25 Januari 2016. Hal 16\" width=\"976\" height=\"833\" srcset=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-16.jpg 3507w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-16-300x256.jpg 300w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-16-1030x878.jpg 1030w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-16-1500x1279.jpg 1500w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-16-705x601.jpg 705w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-16-450x384.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 976px) 100vw, 976px\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>Pandu Radea<\/strong><\/p>\n<p>Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memiliki \u201ckamonesan\u201d atau ikon seni rakyat, yakni wayang landung, berupa wayang raksasa sejenis onde-ondel Sunda atau \u201cbadawang\u201d. Walaupun merupakan pproyeksi dari wayang golek Sunda, wayang setinggi 3 meter-4 meter dengan berat sekitar 20 kiloram ini tidak dimainkan di panggung, tetapi digelar di jalanan dalam bentuk \u201chelaran\u201d.<\/p>\n<p><strong>Oleh Dedi Muhtadi<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>\u201cHasil karya seniman Panjalu ini mendapat apresiasi saat wayang landung tampil di Jembrana, Bali tahun 2007,\u201d ujar Dedi Koesmana, Kepala Seksi Kebudayaan pada Dinas Pendidikan Kabupaten Ciamis, di Panjalu. Panjalu adalah nama desa dan kecamatan, 40 kilometer utara Ciamis, tempat asal kreatorny, dalang Pandu Radea (43). \u201cIde awalnya golek diperbesar dan diarak di jalan seperti <em>badawang <\/em>mungkin lebih menarik,\u201d tutur Pandu.<\/p>\n<p>Pandu juga terinspirasi seni tradisi <em>bebegig <\/em>Panjalu, yakni patung orang-orangan untuk menakuti-menakuti burung hama padi di sawah. Menurut cerita rakyat yang dibukukan. Djadja Sukardja (2001), Panjalu adalah bekas Kerajaan Sunda yang diperintahkan saecara turun-temurun oleh raja keturunan raja Galuh sekitar abad ke-8 Masehi (menurut catatan kebudayaan abad ke-15).<\/p>\n<p>Masyarakat di desa itu menyimpan berbagai cerita dan peinggalan leluhur yang dipertahanka hingga kini. Salah satunya ritual adat upacara <em>Nyangku, <\/em>yakni membersihkan benda-benda peninggalan raja-raja Panjalu setiap bulan Maulud (Rabiulawal Hijriah). Tradisi <em>Nyangku <\/em>merupakan upaya pelestarian kearifan lokal, salah satunya menjaga air Situ Lengkong, danau seluas 67 hektar yang diyakini bekas keraton Kerajaan Panjalu.<\/p>\n<p>Dari kearifan itulah, Pandu membuat wayang menggunakan bahan alami yang sudah tidak terpakai, seperti kayu kering di kebun rakyat, daun pisang kering (<em>kararas<\/em>) yang menjadi ciri khas dan dilengkapi janur (daun kelapa), dan aneka bunga. Hiasan janur yang berwarna putih\/kuning digunakan untuk karakter wayang berwatak baik, sedangkan janur warna gelap digunakan untuk karakter sebaliknya.<\/p>\n<p>Wayang setinggi 3 meter-4 meter ini mirip bonek besar <em>badawang, <\/em>tetapi wajahnya seperti wayang dan bisa dimainkan dalang seperti halnya wayang golek. Ada tiga jenis wayang landung, yakni untuk seni <em>helaran, <\/em>seni <em>jugalan <\/em>atau <em>jogol, <\/em>yakni cerita peperangan atau perkelahian, dan untuk cerita seperti wayang kecil. Dalam cerita itu bisa berlangsung dialog atau <em>ngobrol <\/em>lawakan antara wayang kecil dan wayang besar. Digelar di jalanan dengan musik pengiring yang fleksibel.<\/p>\n<p><strong>Heleran<\/strong><\/p>\n<p>Selama ini, seni <em>helaran <\/em>yang ada di Jawa Barat terkesan monoton. Seni itu juga cenderung pasif karena penonton hanya menyaksikan arak-arakan, kecuali seni tradisi <em>sisingan, <\/em>di mana penonton bisa ikut menari berkeliling mengikuti <em>sisingaan <\/em>itu berarak. \u201cPada wayang landung, penonton bisa berinteraksi dan mencoba mengusung wayang karena bisa dikompetisikan. Waktu gelar di Bandung, ada orang Jepang yang mencoba, tetatpi dia kealahan,\u201d kata Pandu.<\/p>\n<p>Untuk memainkan tiap wayang raksasa Ciamis ini, masing-masing butuh satu orang yang bertugas memikul. Ia masuk ke dalam tubuh wayang, lalu bergerak-gerak mengikuti alunan musik dan cerita. Landung dalam bahasa Sunda adalah tinggi semampai dan dulu disebut <em>jalugjug, <\/em>yakni seni tradisi rakyat Ciamis. Wayang-wayang itu diarak berkeliling diikuti riang gembira warga. Di sebuah lapang, wayang-wayang itu akan berlaga. Pada\u00a0 atraksi <em>jugalan, <\/em>wayang itu mengadu kesaktian.<\/p>\n<p>Semakin cepat iringan musik, disertai riuhnya teriakan, semakin seru pula perkelahian wayang sampai salah satunya hancur. \u201cKalau sudah terjatuh telentang, biasanya pengusung tidak bisa bangun karena berat, ia pun kalah. Kalau jatuhnya telungkup, dengan mudah ia banun lagi karena kedua tangannya berfungsi,\u201d ujar Radea.<\/p>\n<p>Seni ini mulai diperkenalkan tahun 2003 dalam perlahatan Internasional Kite Festival di pantai wisata Pangandaran. Tahun 2007, wayang landung tampil dalan festival seni di Jembrana, Bali. Pada Kemilau Nusantara di Bandung 2012, wayang landung juara dua setelah dalang Pandu menampilkan ceritera <em>Babad Alas Amer, <\/em>yakni kesatria Pandawa melawan pasukan pimpinan Durga.<\/p>\n<p>Di setiap pergelaran, Dalang Pandu biasanya membawa gunungan wayang landung, berputar mengelilingi tempat pertunjukan dan berdoa. Gunungannya berupa tongkat dari <em>sintung <\/em>kelapa kering yang dirangkai dengan tanaman kering lainnya seperti rambut jagung. Asap kemenyan terus mengepul untuk memberikan warna dan aroma tradisi. Berikutnya, wayang masuk ke dalam arena, mereka pun saling beradu.<\/p>\n<p><strong>Filosofi wayang golek<\/strong><\/p>\n<p>Dalang harus bisa menguasi emosi pemain wayang yang terkadang lepas kontrol saat bergerak dan berkelahi. Berdoa kepada Yang Mahakuasa disertai mencakra tanah merupakan ritual yang harus dikerjakan sebelum pementasan. Tujuannya agar jalannya pertunjukan lancar. Pada wayang ini, Pandu tetap menyelipkan filofi wayang golek, tetapi lewat sentuhan lain. Kini, ia masih menyimpan obsesi untuk menyajikan pertunjukan wayang landung lewat cerita utuh. Diantaranya dengan menyiapkan semua karakter wayang yang dibutuhkan.<\/p>\n<p>Jumlah pemain wayang landung sendiri dapat mencapai puluhan orang. Oleh karena itu, seni ini terbuka untuk menjadi alternatif pergelaran kolosal yang melibatkan banyak pihak. \u201cLima puluh orang pernah dilibatkannya dalam salah satu pertunjukan. Ini sesuai ide awal penciptaannya, yakni melibatkan banyak seniman,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Paa saat proses kreatifnya, Pandu dibantu seniman Sunda, Eras Rosadi, untuk musik gendingnya. Adapun tata tarinya dibantu Wawan Munding. Arsiteknya oleh seniman <em>bebeging <\/em>Aan Panjalu dan penata artistiknya Mang Ganda, seniman siluet dari Panjalu juga. \u201cIni proyek seni bersama dengan melibatkan semua seniman dari berbagai ganre di Ciamis,\u201d ungkap Pandu. Kaena itu pula, daerah lain yang ingin mengembangkan wayang landung akan disambut baik. Menurut dia, semakin luas wilayah pengembangannya, semakin besar pula kemungkinan kesenian ini menjadi tradisi, khususnya di Jawa Barat. Atraksi seni akan menjadi tradisi apabila sudah dipertahankan masyarakat lebih dari 100 tahun.<\/p>\n<p>\u201cKami hanya titip bahwa <em>titipmangsa <\/em>wayang landung sebagai kesenian khas Panjalu Ciamis sesuai hak ciptanya,\u201d tambah kreator seni yang pernah mengenalkan wayang ajen di Spanyol, Perancis, dan Korea Selatan dalam misi kesenian wayang untuk dunia ini.<\/p>\n<p><strong>Pandu Radea<\/strong><\/p>\n<p>Lahir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Panjalu, Ciamis, 25 Mei 2973<\/p>\n<p>Pendidikan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : SD Kawali, Ciamis (1987), SMP Kawali (1990), SMAN Kawali (1993),<\/p>\n<p>STSI Bandung<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pekerjaan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Dalang dan pekerjaan seni<\/p>\n<p>Istri\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Nining Sukaesih (42)<\/p>\n<p>Anak\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Aria P (15) dan Pribasidar S (11)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Sumber: <\/strong>Kompas, Senin, 25 Januari 2016<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pandu Radea Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memiliki \u201ckamonesan\u201d atau ikon seni rakyat, yakni wayang landung, berupa wayang raksasa sejenis onde-ondel Sunda atau \u201cbadawang\u201d. Walaupun merupakan pproyeksi dari wayang golek Sunda, wayang setinggi 3 meter-4 meter dengan berat sekitar 20 kiloram ini tidak dimainkan di panggung, tetapi digelar di jalanan dalam bentuk \u201chelaran\u201d. Oleh Dedi Muhtadi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4369,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-3312","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pandu Radea Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memiliki \u201ckamonesan\u201d atau ikon seni rakyat, yakni wayang landung, berupa wayang raksasa sejenis onde-ondel Sunda atau \u201cbadawang\u201d. Walaupun merupakan pproyeksi dari wayang golek Sunda, wayang setinggi 3 meter-4 meter dengan berat sekitar 20 kiloram ini tidak dimainkan di panggung, tetapi digelar di jalanan dalam bentuk \u201chelaran\u201d. Oleh Dedi Muhtadi...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-02-09T01:56:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-161.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1265\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"2221\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu\",\"datePublished\":\"2017-02-09T01:56:41+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:22+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\\\/\"},\"wordCount\":893,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-161.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\\\/\",\"name\":\"Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-161.jpg\",\"datePublished\":\"2017-02-09T01:56:41+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:22+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-161.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-161.jpg\",\"width\":1265,\"height\":2221},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu - Library","og_description":"Pandu Radea Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, memiliki \u201ckamonesan\u201d atau ikon seni rakyat, yakni wayang landung, berupa wayang raksasa sejenis onde-ondel Sunda atau \u201cbadawang\u201d. Walaupun merupakan pproyeksi dari wayang golek Sunda, wayang setinggi 3 meter-4 meter dengan berat sekitar 20 kiloram ini tidak dimainkan di panggung, tetapi digelar di jalanan dalam bentuk \u201chelaran\u201d. Oleh Dedi Muhtadi...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-02-09T01:56:41+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:22+00:00","og_image":[{"width":1265,"height":2221,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-161.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu","datePublished":"2017-02-09T01:56:41+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:22+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/"},"wordCount":893,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-161.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/","name":"Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-161.jpg","datePublished":"2017-02-09T01:56:41+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:22+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-161.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Pandu-Radea-Kreator-Wayang-Landung-dari-Panjalu.-Kompas.-25-Januari-2016.-Hal-161.jpg","width":1265,"height":2221},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kreator-wayang-landung-dari-panjalu\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Pandu Radea Kreator Wayang Landung dari Panjalu"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3312","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3312"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3312\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8165,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3312\/revisions\/8165"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4369"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3312"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3312"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3312"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}