{"id":3376,"date":"2017-02-16T16:01:13","date_gmt":"2017-02-16T09:01:13","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=3376"},"modified":"2025-05-01T12:37:20","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:20","slug":"sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/","title":{"rendered":"Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-3377\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-16.jpg\" alt=\"Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata. Kompas. 5 Maret 2016. Hal 16\" width=\"954\" height=\"830\" srcset=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-16.jpg 3507w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-16-300x261.jpg 300w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-16-1030x897.jpg 1030w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-16-1500x1306.jpg 1500w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-16-705x614.jpg 705w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-16-450x392.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 954px) 100vw, 954px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Kelompk teater tari Sahita memosisikan diri sebagai semacam punakawan. Mereka mengingatkan orang dengan cara menghibur. Dengan gaya kerakyatan, Sahita leluasa masuk ke pasar, kantong kesenian, sampai hotel berbintang, Sahita akan tampil si Bentara Budaya Jakarta, selasa (8\/3) dalam \u201curan-uran Mapag Grahanam\u201d, dendang ria songsong gerhana.<\/p>\n<p>OLEH FRANS SARTONO<\/p>\n<p>\u201cono tangis kelayung-layung Tangise wong kang wedi mati Gendongono, kuncenono Yen wis mati mongso wurungo ..\u201d<\/p>\n<p>Terjemahan bebas dari tembang jawa tersebut kira-kira seperti ini : ada tangis meratap, merintih, tangisan orang takut akan kematian. Dikafani atau disimpan serapat apa pun, kematian tetap akan datang menjemput.<\/p>\n<p>Tembang itu dilantunkan Sahita dalam pentas \u201cSrimpi Ketawang Lima Ganep\u201d\/ salah satu karya Sahita yang kerap dipentaskan sejak awal tahun 2000-an. Tembang tersebut merupakan sikap hidup mbah kawit, tokoh dalam lakon \u201cTuk\u201d karya Bambang Widoyo SP (alm) dari Teater Gapit, solo, yang diangkat Sahita dalam srimpi tersebut.<\/p>\n<p>Bagi mbah Kawit, hidup akan berujung pada kematian, dan oleh karena itu tidak harus diratapi. Seperti itu pula tampaknya sikap berkesenian Sahita, kelompok teater tari yang dibentuk tahun 2001 di Solo, jawa Tengah, Sahita yang artinya kebersamaan terdiri dari Wahyu Widayati (Inok), Sri Setyoasih, Atik Sulistyaning Kenconosari, dan Sri Lestari (Cempuk).<\/p>\n<p>\u201ckami numpang konsep hidup Mbah Kawit yang sederhana. Sama-sama menunggu waktu, kenapa tidak gayub rumpung. Menyanyi, menari, berbuat kebaikan. Berbagi apa yang kita punya, pikiran, tenaga, kesetiaan&#8230;\u201d kata Wahyu Widayati.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>\u201cngene wae\u201d \u2013 Begini saja<\/p>\n<p>Diranah seni pertunjukan Sahita mengambil konsep semacam punakawan, rakyat jelata yang polos, yang ikut urun rembuk dengan bahasa rakyat. \u201c dalam wayang sekotak itu kan ada punakawan. Sahita itu di situ, kami manusia biasa sebagai pelengkap,\u201d ujar awak Sahita.<\/p>\n<p>Sebagai orang biasa, Sahita tampil dengan segala kejelataanya. Dalam \u201csrimpi Srimpet\u201d, misalnya, mereka menafsir dan men-\u201ctransformasi\u201d kan bagian keplok Alok ke dalam bentuk yang lebih Verbal. Dalam tarian srimpi pakem, bagian keplok Alok berupa perang dengan cundrik (keris kecil) atau pistol. Perang dibaqakan dengan subtil, halus. Akam tetapi, Sahita mengalihbentukan secara verbal, teatrikal. Ada raungan binatang seperti gagak, serigala, dan binatang liar lain.<\/p>\n<p>Pengalihan bentuk tersebut ada alasan kontekstualnya, yaitu situasi sosial politik saat karya tersebut dipentaskan. Ada rivalitas diranah politik. \u201cwaktu itu sedang ramai dinegeri ini. Yang menjadi panutan malah banyak omong dan saling \u201cmengigit\u201d, ujar Sri Lestari.<\/p>\n<p>Secara fisik Sahita pun mengambil posisi seperti Mbah Kawit. Di panggung mereka tampak seperti nenek-nenek. Gerak tari mereka didistorsikan mendekati gerakan perempuan usia 70-an tahun. Begitu pula dalam tata gerak.<\/p>\n<p>\u201cDari sisi estetika jelek sekali karena memang tidak ada srimpi yang mekongkong, haha&#8230;\u201d kata Wahyu Widayati. Mekongkong adalah posisi kaki yang terbuka lebar. Dalam estetika tari jawa, gerak atau posisi semacam itu \u201clabu\u201d. Tapi begitulah Sahita yang secara sadar memilih jalur kerakyatan.<\/p>\n<p>Pilihan itu merupakan \u201cwarisan\u201d dari kelompok teater yang mereka ikuti, yaitu Teater Gapit yang dibentuk Bambang Widoyo SP. Sepeninggal Bambang pada tahun 1997. Sahita seperti \u201ckehilangan\u201d panggung yang selama ini sudah sangat dekat dengan kehidupan mereka.<\/p>\n<p>Momentum untuk berkarya datang ketika pada tahun 2001 di Solo digelar pasamuan dalam forum tersebut dengan karya \u201csrimpi Srimpet\u201d pada 22 juni 2001.<\/p>\n<p>Kami memanfaatkan dan memaksimalkan keminimalan kami menyanyi, menari. Biasanya Cuma sedikit \u2013 sedikit. Itu yang kami kumpulkan dan jadi kelebihan kami, haha&#8230;,\u201d kata Wahyu Widayati.<\/p>\n<p>Mereka sebenarnya mempunyai basis tari yang kuat. Kecuali Sri Lestari, awak Sahita lainnya adalah lulusan Jurusan Tari Institusi Seni Indonesia(ISI) Surakarta. Sri Setyoasih bahkan pernah menjadi penari bedaya dikeratin Surakarta. Ada kaidah tari yang masih mereka pegang, misalnya struktur garapan srimpi. Akan tetapi, ada hal-hal teknis tari yang mereka \u201clanggar\u201d dan mungkin tidak sesuai dengan ketentuan baku. Mereka menyebutnya sebagai gaya \u201cngene wae\u201d atau begini saja-hampir setara dengan semau gue.<\/p>\n<p>Penampilan Sahita dengan gaya ngene wae itu kerap mendatangkan komentar bernada protes. Ada yang menganggap mereka merusak pakem, tidak taat \u201ckonbensi\u201d yang berlaku di ranah tari. \u201c tapi di satu sisi banyak penonton yang mendukung.\u201d<\/p>\n<p>Gerhana Matahari<\/p>\n<p>Nyatanya Sahita bisa tampil di segala medan. Mereka tampil di pasar-pasar tradisional, kantong-kantong kesenian seperti di Bentara budaya, sampai hotel berbintang. Mereka tampil di acara makan malam, acara ulang tahun, dan acara kumpul karyawan perusahaan. Mereka bahkan menjadi pemecah tawa dibagian intermezo pentas drama tari Matah Ati di Singapura, Kuala Lumpur, Jakarta, dan solo.<\/p>\n<p>Saat menerima \u201chujatan\u201d itu, Sahita sempat keder dan mecari penguatan pada tokoh-tokoh kesenian. Dari seniman panggung, skenografer Rudjito atau Mbah Djito (alm), mereka mendapat \u201crestu\u201d . Dikatakan Mbah Djito, memang ada srimpi keraton, yaitu srimpinya kawula yang dipersembahkan kepada raja. \u201ctapi kami bukan orang keraton. \u2018itu srimpinya rakyat pada yang diatas,\u2019\u201d kata Sahita mengutip ucapan Mbah Djito.<\/p>\n<p>Begitu juga dari musisi wayan sadra(alm), Sahita mendapat masukan tentang musik mereka yang kadang kurang taat dalam hitungan gerak. \u201citu sudah menjadi musikmu,\u201d kata sadra seperti dikutip Sahita.<\/p>\n<p>Dengan gaya jelatanya itu, Sahita akan tampil di Bentara Budaya Jakarta, jalan Palmerah Selatan 17, pada selasa, 8 maret 2016. Mereka akan tampil dalam perheltan \u201curan-uran Maoag Grahanan\u201d yang kira-kira artinya dendang ria menyongsong gerhana matahari. Acara tersebut merupakan bagian dari cara menyambut datangnya gerhana matahari total yang juga digelar Bentara Budaya di Yogyakarta, Solo.<\/p>\n<p>Sebuah respon kerakyatan dengan bahasa kesenian terhadap fenomena alam yang terjadi setiap tahun. Sahita menyambut gerhana dengan sukacita dan tari, nyanyi, canda kerakyatan. Pada gerhana matahari total1983, awak gerhana menjadi \u201ckorban\u201d dari cara pemberian pemahaman yang keliru tentang fenomena alam tersebut. \u201ckami tidak boleh keluar rumah. Kami bersembunyi di bawah tempat tidur.\u201d Kata Sri Lestari.<\/p>\n<p>Sahita melihat peristiwa gerhana sebagai anugerah. Masih dengan cara merakyat, mereka menggunakan tembang, tetabuhan lesung yang mengungkapkan rasa sukacita, bukan rasa takut yang pernah mereka alami di masa lalu.<\/p>\n<p>Dalam kehidupan di kampung-kampung dan pedesaan dijawa, dulu gerhana disambut dengan tetabuhan lesung. Semangat optimisme dan sukacita menyongsong menyatunya Matahari, Bulan, dan Bumi dalam satu titik itu dimaknai Sahita sebagai momentum optimisme, menyongsong terang kehidupan.<\/p>\n<p><strong>Sumber<\/strong> : Kompas, sabtu, 5 maret 2016<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kelompk teater tari Sahita memosisikan diri sebagai semacam punakawan. Mereka mengingatkan orang dengan cara menghibur. Dengan gaya kerakyatan, Sahita leluasa masuk ke pasar, kantong kesenian, sampai hotel berbintang, Sahita akan tampil si Bentara Budaya Jakarta, selasa (8\/3) dalam \u201curan-uran Mapag Grahanam\u201d, dendang ria songsong gerhana. OLEH FRANS SARTONO \u201cono tangis kelayung-layung Tangise wong kang wedi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4330,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-3376","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kelompk teater tari Sahita memosisikan diri sebagai semacam punakawan. Mereka mengingatkan orang dengan cara menghibur. Dengan gaya kerakyatan, Sahita leluasa masuk ke pasar, kantong kesenian, sampai hotel berbintang, Sahita akan tampil si Bentara Budaya Jakarta, selasa (8\/3) dalam \u201curan-uran Mapag Grahanam\u201d, dendang ria songsong gerhana. OLEH FRANS SARTONO \u201cono tangis kelayung-layung Tangise wong kang wedi...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-02-16T09:01:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:20+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-161.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1554\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"781\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata\",\"datePublished\":\"2017-02-16T09:01:13+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:20+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\\\/\"},\"wordCount\":939,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-161.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\\\/\",\"name\":\"Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-161.jpg\",\"datePublished\":\"2017-02-16T09:01:13+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:20+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-161.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-161.jpg\",\"width\":1554,\"height\":781},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata - Library","og_description":"Kelompk teater tari Sahita memosisikan diri sebagai semacam punakawan. Mereka mengingatkan orang dengan cara menghibur. Dengan gaya kerakyatan, Sahita leluasa masuk ke pasar, kantong kesenian, sampai hotel berbintang, Sahita akan tampil si Bentara Budaya Jakarta, selasa (8\/3) dalam \u201curan-uran Mapag Grahanam\u201d, dendang ria songsong gerhana. OLEH FRANS SARTONO \u201cono tangis kelayung-layung Tangise wong kang wedi...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-02-16T09:01:13+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:20+00:00","og_image":[{"width":1554,"height":781,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-161.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata","datePublished":"2017-02-16T09:01:13+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:20+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/"},"wordCount":939,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-161.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/","name":"Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-161.jpg","datePublished":"2017-02-16T09:01:13+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:20+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-161.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Sahita-Songsong-Gerhana-dengan-Budaya-Jelata.-Kompas.-5-Maret-2016.-Hal-161.jpg","width":1554,"height":781},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/sahita-songsong-gerhana-dengan-budaya-jelata\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Sahita Songsong Gerhana dengan Budaya Jelata"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3376","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3376"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3376\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9124,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3376\/revisions\/9124"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4330"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3376"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3376"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3376"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}