{"id":5286,"date":"2017-03-22T11:17:14","date_gmt":"2017-03-22T04:17:14","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=5286"},"modified":"2025-05-01T12:37:19","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:19","slug":"dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/","title":{"rendered":"Dominggus He Mengukir dalam Keterbatasan"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.161.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-5657\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.161.jpg\" alt=\"Dominggus He_Mengukir dalam Keterbatasan.Kompas.6 maret 2017.Hal.16\" width=\"2286\" height=\"1556\" srcset=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.161.jpg 2286w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.161-300x204.jpg 300w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.161-1030x701.jpg 1030w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.161-1500x1021.jpg 1500w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.161-705x480.jpg 705w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.161-450x306.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 2286px) 100vw, 2286px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Keterbatasan penglihatan mata tak menghalangi kreasi Dominggus He, perajin asal di kelurahan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia mengembangkan cendera mata dari kayu cendana sejak tahun 1992 dan terus bertahan hingga kini. Bisnis itu mneghidupi sejumlah karyawan dan produknya menyebar ke sejumlah daerah di Indonesia.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>OLEH KORNELIS KEWA AMA<\/p>\n<p>Dua alat mesin meraung-raung dari gubuk reyot berukuran 3 meter x 3 meter di tengah permukiman padat di Kelurahan Oebobo, Kota Kupang, selasa (14\/2). Dibelakang rumah gubuk itu terdapat 12 potongan batang kayu cendana yang baru dibeli dari Timor Tengah Selatan atau diantar sendiri warga ke situ. Sebagian batangan kayu cendana itu sudah tua, tetapi sabagian lagi tampak masih mudah.<\/p>\n<p>Lima karyawan He_begitu ia akrab disapa_tengah sibuk bekerja. Tiga pria berada di dalam ruangan pemotongan dan pengeboran. Dua perempuan di rumah induk sedang memilih biji tasbih, Rosario, menghaluskan tongkat komando, dan asbak rokok. Semuanya berbahan baku kayu cendana.<\/p>\n<p>\u201cHaraga kayu cendana bervariasi, dari Rp 100.000 sampai Rp 1,5 juta per kilogram. Harga tersebut tergantung dari kualitas cendana. Terkadang cendana berkualitas baik dimanfaatkan untuk pelapis cendana yang kurang berkualitas untuk jenis cendera mata tertentu,\u201d kata He.<\/p>\n<p>Metode penempelan bisa mempertahankan harum cendana, yakni sampai dua tahun. Itu jauh lebih lama dibandingkan dengan cara semprot minyak cendana pada kayu ukiran, yang baunya hanya bertahan satu pecan. Cendana asli dan berkualitas akan tetap harum sepanjang kayu itu masih ada.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Sejak 1992<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Usaha pengelolaan batang kayu cendana dimulai he sejak 1992. Sampai dengan 2009, ia tidak kesulitan mendapatkan bahan baku cendana. Setiap bulan, ia bias mendapatkan 5-10 meter kubik kayu.<\/p>\n<p>Produksi tasbih, Rosario, tongkat komando, dan asbak rokok pun cukup tinggi. Rata-rata produksi tasbih bias mencapai 3.500 untai per bulan, Rosario 2.500 untai per bulan, askabk rokok 1.000 buah, dan tongkat komando 100 batang per bulan. Jumlah itu bias bertambah saat pesanan meningkat. Ia mempekerjakan 40 orang dengan upah saat itu Rp 500.000 sampai 1,5 juta per bulan.<\/p>\n<p>Tasbih dikirim ke Surabaya, Jakarta, Sidoarjo, Malang, dan bandung. Rosario dikirim ke Manado, DI Yogyakarta, Jayapura, Merauke, Medan, Ende, Larantuka, maumere, dan Tambolaka. Harga jualnya bervariasi tergantung dari kualitas bahan baku kayu cendana.<\/p>\n<p>Dari hasil usaha itu, pria tiga cucu ini membangun rumah, membiayai pendidikan dua anaknya sampai lulus perguruan tinggi, dan membeli tiga mesin pemotong dan pengebor baru. Total mesin saat itu 10 unit, tetapi kini hanya sisa dua unit, yakni satu unit untuk mengebor dan satu unit untuk memotong.<\/p>\n<p>Tahun 2010, usaha He perlahan mulai surut karena kesulitan bahan baku cendana. Sumber kayu cendana di peroleh dari Timor Tengan Selatan. Namun, akhir-akhir ini masyarakat didaerah\u00a0 itu juga menjual ke Timor laste yang juga punya usaha pabrik minyak cendana. Lagi pula di Timor leste harga cendana cukup tinggi.<\/p>\n<p>Sebelum ia mempekerjakan 45 orang, kini hanya mempekerjakan lima karyawan dengan upah Rp 700.000 sampai Rp 1,5 juta per bulan. Ia mengaku malu menggaji karyawan dengan upah Rp 700.000 per bulan, tetapi pencari kerja sendiri yang menawarkan diri bekerja dengan upah seperti itu.<\/p>\n<p>Mendapatkan tiga batang kayu cendana per bulan sudah bagus. Kayu cendana berkualitas sangat sulit diperoleh saat ini. Selain akibat sebagian kayu cendana di kirim ke Timor-Leste, produksi bahan baku itu juga terus mneurun akibat penebangan liar. Budidaya cendana pun makin terbatas.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Budidaya cendana<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>He melibatkan putra pertamanya, Rustam He (33), untuk membudidayakan cendana di Kota Kupang dan Kabupaten Kupang. Pohon itu masih berusia dua tahun sampai tiga tahun. Usaha inintidak mudah, terutama untuk mengurus\u00a0 anakan dan pertumbuhan tanaman cendana sampai tua dan siap dipanen.<\/p>\n<p>\u201c Usia cendana yang bias dipanen pada umur 20-30 tahun. Pada usia ini, cendana sudah mengeluarkan bau yang harum menyengat. Nqmn cendana yang saya peroleh kebnayakan usia di bawah 15 tahun sehingga tidak mengeluarkanhaum wangi yang menyengat. Orang mengejar unag, tetapi merusak citra cendana NTT sendiri,\u201d kata He yang matanya cacat setelah mengalamim panas tinggi pada usia delapan bulan.<\/p>\n<p>Pada 1992, ketika mulai merintis kerajinan cendera mata berbahan baku cendana, he sebenarnya sudah berupaya membudidayakan pohon itu. Namun, upayanya baru serius tiga tahun terakhir.<\/p>\n<p>He mengaku sangat kesulitan modal sekarang ini. Sejak usaha itu berdiri sampai sekarang, ia baru mendapat bantuan Rp 30 jutadari pemerintah propinsi Nusa Tenggara Timur, tepatnya pada 2015.pemerintah Kota Kupang belum membantu meski Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Kupang berulang kali mnegambil data dan berjanji bakal memberikan sokongan.<\/p>\n<p>Meski demikian, He tetap berkomitmen untuk terus mempertahankan NTT sebagai penghasil kayu cendana dan cendera mata dari cendana. Kerajinan itu telah menjadi salah satu daya Tarik daerah tersebut. Hingga kini, sebagian turis asing dan tamu dari luar mampir ke kediaman He untuk berbelanja cendera mata karyanya.<\/p>\n<p>\u201cSemestinya saya bisa menyediakan gelang, cincin, dan rantai dari kayu cendana di sini. Namun, karena keterbatasan bahan\u00a0 baku dan keterbatasan fisik, saya hanya bisa menawarkanjenis cendera mata yang sudah biasa saya kerjakan. Saya tidak melihat, tetapi bunyi desingan mesin saya hafal, hasil dari pekerjaan itu. Apalagi kalau saya raba dan merasakan hasilnya. Saya lebih paham,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sebelum menggeluti kerajinan cendana, he mengikuti pelatihan membuat sapu ijuk, kemuning, kursi plastic, kaset, memijat, dan belajar huruf braille dari Dinas Sosiaol NTT. Itu ia lakoni antara tahun 1978 dan 1981. Tahun 1982, ia masuk SMP Kristen Kupang lalu melanjutkan pendidikan SPG Kristen tahun 1986.<\/p>\n<p>\u201cSaat menjadi siswa SMP di sekolah normal, saya mengajar di SLB ( sekolah luar biasa ) Yayasan Asuhan Kasih Kupang, 1982-1992 khusus huruf braille. Matematika, bahasa Indonesia, dan Ilmu Pengetahuan Sosial diajar guru normal,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Bagaimana He bisa terampil mengelolah kerajinan bahan baku cendana ? kemampuan itu diperoleh secara otodidak, terutama sejak awal 1992. Semuala ia coba membuat secara manual dengan cara menggerindo potongan kayu menjadi biji-biji tasbig dan Rosario. Pekerjaan itu sangat sulit. Dalam satu bulan, ia hanya menghasilkan satu untai tasbih dan dua untai Rosario. Hasil karyanya mendapat dukungan besar dari masyarakat sekitar.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Dominggus he<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Lahir : Kupang, 6 desember 1957<\/li>\n<li>Pendidikan terakhir : SPG Kristen,Kupang, 1986<\/li>\n<li>Istri : Ariance He Imo<\/li>\n<li>Anak :<\/li>\n<li>Rustam He (33)<\/li>\n<li>Desy He (31)<\/li>\n<li>Jabatan : Direktur Yayasan \u201cLe hari\u201d<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber: Kompas. 6 Maret 2017.Hal.16<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Keterbatasan penglihatan mata tak menghalangi kreasi Dominggus He, perajin asal di kelurahan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia mengembangkan cendera mata dari kayu cendana sejak tahun 1992 dan terus bertahan hingga kini. Bisnis itu mneghidupi sejumlah karyawan dan produknya menyebar ke sejumlah daerah di Indonesia. &nbsp; OLEH KORNELIS KEWA AMA Dua alat mesin meraung-raung&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8138,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-5286","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dominggus He Mengukir dalam Keterbatasan - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dominggus He Mengukir dalam Keterbatasan - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Keterbatasan penglihatan mata tak menghalangi kreasi Dominggus He, perajin asal di kelurahan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia mengembangkan cendera mata dari kayu cendana sejak tahun 1992 dan terus bertahan hingga kini. Bisnis itu mneghidupi sejumlah karyawan dan produknya menyebar ke sejumlah daerah di Indonesia. &nbsp; OLEH KORNELIS KEWA AMA Dua alat mesin meraung-raung...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-03-22T04:17:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.16-e14901562049101.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"304\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"400\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Dominggus He Mengukir dalam Keterbatasan\",\"datePublished\":\"2017-03-22T04:17:14+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:19+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\\\/\"},\"wordCount\":949,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.16-e14901562049101.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\\\/\",\"name\":\"Dominggus He Mengukir dalam Keterbatasan - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.16-e14901562049101.jpg\",\"datePublished\":\"2017-03-22T04:17:14+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:19+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.16-e14901562049101.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.16-e14901562049101.jpg\",\"width\":304,\"height\":400},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dominggus He Mengukir dalam Keterbatasan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dominggus He Mengukir dalam Keterbatasan - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Dominggus He Mengukir dalam Keterbatasan - Library","og_description":"Keterbatasan penglihatan mata tak menghalangi kreasi Dominggus He, perajin asal di kelurahan Oebobo, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Ia mengembangkan cendera mata dari kayu cendana sejak tahun 1992 dan terus bertahan hingga kini. Bisnis itu mneghidupi sejumlah karyawan dan produknya menyebar ke sejumlah daerah di Indonesia. &nbsp; OLEH KORNELIS KEWA AMA Dua alat mesin meraung-raung...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-03-22T04:17:14+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:19+00:00","og_image":[{"width":304,"height":400,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.16-e14901562049101.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Dominggus He Mengukir dalam Keterbatasan","datePublished":"2017-03-22T04:17:14+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:19+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/"},"wordCount":949,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.16-e14901562049101.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/","name":"Dominggus He Mengukir dalam Keterbatasan - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.16-e14901562049101.jpg","datePublished":"2017-03-22T04:17:14+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:19+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.16-e14901562049101.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Dominggus-He_Mengukir-dalam-Keterbatasan.Kompas.6-maret-2017.Hal_.16-e14901562049101.jpg","width":304,"height":400},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dominggus-he-mengukir-dalam-keterbatasan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dominggus He Mengukir dalam Keterbatasan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5286","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5286"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5286\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5989,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5286\/revisions\/5989"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8138"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5286"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5286"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5286"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}