{"id":6762,"date":"2017-05-12T10:39:05","date_gmt":"2017-05-12T03:39:05","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=6762"},"modified":"2025-05-01T12:37:18","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:18","slug":"ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/","title":{"rendered":"Ninie Susanti Tedjowasono Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/05\/Ninie-Susanti-Tedjowasono_Membaca-Prasasti-Mengenal-Nusantara.-Kompas.-12-Januari-2017.Hal_.16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-6763\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/05\/Ninie-Susanti-Tedjowasono_Membaca-Prasasti-Mengenal-Nusantara.-Kompas.-12-Januari-2017.Hal_.16.jpg\" alt=\"Ninie Susanti Tedjowasono_Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara. Kompas. 12 Januari 2017.Hal.16\" width=\"967\" height=\"747\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>Indonesia memiliki kekayaan sejarah yang termaktub dalam banyak prasasti. Namun, masih sedikit epigraf alias orang yang ahli membaca prasasti. Salah satunya adalah Ninie Susanti mendorong lahirnya generasi epigraf baru.<\/strong><\/p>\n<p><strong>OLEH IDA SETYORINI<\/strong><\/p>\n<p>Ninie Susanti Tedjowasono (59) adalah pengajar epigraf di Fakultas ilmu pengetahunan Budaya Universitas Indonesia (FIBUI). Setiap tahun, ia mengentaskan epigraf baru. Itu pun, setiap angkatan, jumlahnya tidak lebih dari enam orang.<\/p>\n<p>\u201cUntuk menjadi epigraf, syaratnya mudah. Asal tekun dan punya rasa ingin tahu yang besar saja karena kemampuan lain, seperti bahasa, dapat dipelajari,\u201d kata Ninie- sapaan akrab perempuan itu \u2013 di FIB UI, Depok, Jawa barat, Jumat (6\/1). Prasasti di indonesia tertulis dalam berbagai huruf dan bahasa.<\/p>\n<p>Ada huruf pallawa, Dewanagari, Jawa Kuna, Arab, dan pegon. Bahasa yang digunakan antara lain melayu Kuna, Bali Kuna, Jawa Kuna, Sunda Kuna, Sanskerta, dan Arab.<\/p>\n<p>Ninie belum terlalu terpikat dengan epigrafi ketika masuk Jurusan Arkeologi Fakultas Sastra UI. Saat menyusum skripsi, \u201cStruktur Birokrasi Zaman Balitung: Data Prasasti\u201d, untuk menyelesaikan studi tahun 1981, ia kian tertarik menekuni epigrafi dengan bimbingan pakar epigrafi ternama, M Boechari.<\/p>\n<p>\u201cBegitu Banyak data dan informasi dari prasasti. Kita tidak hanya tahu tentang penanggalan atau anama raja yang berkuasa, tetapi juga kehidupan sehari-hari yang relevan pada masa sekarang, yang orang lain tak tahu,\u201d ujar Ninie.<\/p>\n<p><strong>Soal pajak<\/strong><\/p>\n<p>Sejumlah prasasti mencatat soal pajak. Pada masa lalu sudah berlaku berbagai jenis pajak, mulai dari pajak ayam, bebek, padi, tanah, ububan (tungku pandai besi), sampai jembatan juga pajak untuk orang asing. Bahkan ada pajak hasil bumi pajak penjualan, serta pajak profesi. Semua itu dikenal sebagai drawya haji, milik raja. Pajak adalah sumber penghasilan kerajaan.<\/p>\n<p>\u201cUntuk pajak ayam dan bebek, batas tak kena pajak adalah sekandang. Lebih dari itu wajib bayar pajak. Tapi berapa persis jumlah ayam dan bebek itu tidak diketahui,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Prasasti juga merekan perilaku curang petugas, termasuk pemungut pajak. Salah satunya, mereka menggunakan ukuran berbeda untuk\u00a0 menetapkan pajak tanah. Si petugas pakai ukuran satuan tampah yang lebih kecil sehingga pemilik tanah membayar pajak yang lebih besar. Pemilik tanah protes dan kasus tersebut diteliti ulang oleh tim independen yang kemudian memutuskan menerapkan ukuran satuan tampah yang benar. Jumlah pajak yang harus di bayar pun berkurang.<\/p>\n<p>\u201cSebagian besar prasasti di indonesia berisi penetapan sima, yakni daerah bebas pajak. Ini bukti, pada zaman dahulu pun rakyat keberatan bayar pajak,\u201d ungkap Ninie.<\/p>\n<p>Prasasti juga mencatat silsilah, jenis makanan dan minuman, nama tempat, beragam profesi, dan aktivitas perekonomian. Ada juga soal pelaksanaan sistem hukum, stratifikasi sosial, administrasi dan birokrasi kerajaan, pembagian kerja, keagamaan, seni, adat istiadat, bahkan batas wilayah, termasuk batas wilayah negara ini.<\/p>\n<p>\u201cItu sebabnya, saya senang membaca prasasti. Prasasti adalah sumber sejarah primer, bukti otentik dari masa lalu yang berguna pada masa sekarang,\u201d ucapnya penuh semangat.<\/p>\n<p>Ninie menyebut bukti tentang batik yang tercantum dalam prasasti dari zaman Raja Balitung pada abad IX. \u201cPrasasti juga menyebut wdihan dan kain sebagai hadiah dalam upacara penetapan sima, \u201c ucapnya. Sebagai contoh, wdihan diapakai golongan tertentu, termasuk raja. Wdihan untuk raja antara lain ganjar haji, ganjar patra sisi, dan bwat pinilai. Wdihan untuk pejebat tinggi seperti tapis cadar bwat kling putih, dan alapnya salari kuning, Sementara wdihan untuk pejabat rendahan seperti siwakidang, hamarawu, dan takurang.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Hafal kata kuno<\/strong><\/p>\n<p>Terbiasa membaca prasasti membuat Ninie hafal berbagai kata kuno, yang sebagian besar tak dikenal lagi di daerah asal prasasti. Namun, kata itu justru masih digunakan di daerah yang pernah berada di bawah kekuasaan kerajaan yang dulu menguasai daerah tersebut.<\/p>\n<p>Ketika melakukan penelitian di Banjarmasin, Ninie terkejut mendengar penduduk menyebut hantlu untuk telur. \u201cKata hantlu sering muncul dalam banyak prasasti, terutama prasasti upcara sima. Di Jawa, kata hantlu sering muncul dalam banyak prasasti, terutama prasasti upcara sima. Di Jawa kata hantlu tidak dikenal lagi. Tetapi di daerah bekas Kesultanan Banjar, kata itu masih dipakai menjadi hantalu. Kesultanan Banjar dulu wakil Kesultanan Demak di Kalimantan,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Walau sebagian besar prasasti berisi penetapan sima dan memiliki struktur serta isi hampir sama, selalu ada hal unik terselip, seperti jenis huruf yang dipakai. Pada masa raja Airlangga berkuasa, misalnya, semua prasastinya memiliki huruf indah.<\/p>\n<p>\u201cPenulis prasasti disebut citralekha, yang harus pandai dan perpendidikan. Airlangga suka keindahan sehingga huruf-huruf prasastinya bagus,\u201d kata Ninie<\/p>\n<p>Tradisi menulis tumbuh di lingkungan pelajar di istana atau di mandala (Keguruan), yakni tempat kediaman komunitas sisya (siswa) yang ingin belajar pendidikan keagamaan. \u201cKebiasaan ini berlanjut hingga sekarang kita mengenal pesantren yang tidak dikenal di Timurt Tengah,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Bukan berati para siswa selalu mematuhi guru. Ada saja di antara mereka yang menyemple dengan menulis semaunya sendiri. Padahal, prasasti biasanya merupakan maklumat yang ditulis tegas dan ringkas.<\/p>\n<p>\u201cSama seperti sekarang, anak muda senang menulis apa saja, termasuk kegalauannya. Dulu pun demikian. Prasasti Tempuran, yang berangka tahun 1388 Saka, berisi catatan seorang pemuda yang ingin berbuat 100 kebaikan kepada gadis baik hati yang dilihatnya saat perayaan. Prasasti nyeleneh yang berisi ungkapan perasaan, he-he-he,\u201d ujar Ninie geli.<\/p>\n<p>Kebiasaan menulis singkatan seperti sekarang melalui pesan pendek WhatsApp, atau surat elektronik juga lazim pada masa lalu. Mereka\u00a0 senang menyingkat kata, seperti nama hari siklus tujuh, yakni raditya\/aditya (Minggu), soma (Senin), anggara (Selasa), budha (Rabu), wrhaspasti (Kamis), sukra (Jumat), dan sanaicara (Sabtu), ditulis dengan ra\/a, so, ang, bu, wr, su, sa. Siklus lima hari juga\u00a0 disingkat, yakni pahing (pa), pon (po), wagai\/wage (wa), kaliwan yang kini dikenal sebagai kliwon (ka), dan umanis\/ manis atau legi (u\/ma)<\/p>\n<p>Setiap semester ganjil, Ninie mengajak para mahasiswa ke Museum nasional untuk membuat akblats atau salinan prasasti dari kertas. Caranya kertas ditempel dan ditekan pada beberapa lapis prasasti batu sehingga kertas mengisi torehan huruf. Setelah kering kertas baru dilepas dari prasasti. Umumnya cara ini memakai kertas singkong.<\/p>\n<p>Para mahasiswa pun ujian dengan membaca prasasti di museum, \u201cMereka boleh pilih prasasti yang diinginkan, pasti semua tidak bisa mencontek,\u201d katanya tertawa<\/p>\n<p>Indonesia punya bermacam warisan prasasti. Namun, karena jumlah epigrafi terbatas, banyak prasasti belum terbaca atau diurai informasinya untuk berbagai kepentingan. Dengan ilmu epigrafi, kita bisa mempelajari prasasti sehingga lebih mengenal nusantara dan meneguhkan kediran kita sebagai bangsa dengan beragam budaya.<\/p>\n<p>\u201cEpigrafi berfungsi untuk mempelajari diri sendiri, dalam hal ini indonesia. Jangan sampai kita belajar dari orang lain tentang diri sendiri,\u201d katanya tegas.<\/p>\n<p><strong>Sumber:<\/strong>\u00a0<em>Kompas. 12 Januari 2017 .Hal.16<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Indonesia memiliki kekayaan sejarah yang termaktub dalam banyak prasasti. Namun, masih sedikit epigraf alias orang yang ahli membaca prasasti. Salah satunya adalah Ninie Susanti mendorong lahirnya generasi epigraf baru. OLEH IDA SETYORINI Ninie Susanti Tedjowasono (59) adalah pengajar epigraf di Fakultas ilmu pengetahunan Budaya Universitas Indonesia (FIBUI). Setiap tahun, ia mengentaskan epigraf baru. Itu pun,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7877,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-6762","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Ninie Susanti Tedjowasono Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Ninie Susanti Tedjowasono Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Indonesia memiliki kekayaan sejarah yang termaktub dalam banyak prasasti. Namun, masih sedikit epigraf alias orang yang ahli membaca prasasti. Salah satunya adalah Ninie Susanti mendorong lahirnya generasi epigraf baru. OLEH IDA SETYORINI Ninie Susanti Tedjowasono (59) adalah pengajar epigraf di Fakultas ilmu pengetahunan Budaya Universitas Indonesia (FIBUI). Setiap tahun, ia mengentaskan epigraf baru. Itu pun,...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-05-12T03:39:05+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:18+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/admin-ajax-5.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"400\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"263\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Ninie Susanti Tedjowasono Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara\",\"datePublished\":\"2017-05-12T03:39:05+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:18+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\\\/\"},\"wordCount\":1008,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/05\\\/admin-ajax-5.png\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\\\/\",\"name\":\"Ninie Susanti Tedjowasono Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/05\\\/admin-ajax-5.png\",\"datePublished\":\"2017-05-12T03:39:05+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:18+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/05\\\/admin-ajax-5.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/05\\\/admin-ajax-5.png\",\"width\":400,\"height\":263},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Ninie Susanti Tedjowasono Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Ninie Susanti Tedjowasono Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Ninie Susanti Tedjowasono Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara - Library","og_description":"Indonesia memiliki kekayaan sejarah yang termaktub dalam banyak prasasti. Namun, masih sedikit epigraf alias orang yang ahli membaca prasasti. Salah satunya adalah Ninie Susanti mendorong lahirnya generasi epigraf baru. OLEH IDA SETYORINI Ninie Susanti Tedjowasono (59) adalah pengajar epigraf di Fakultas ilmu pengetahunan Budaya Universitas Indonesia (FIBUI). Setiap tahun, ia mengentaskan epigraf baru. Itu pun,...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-05-12T03:39:05+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:18+00:00","og_image":[{"width":400,"height":263,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/admin-ajax-5.png","type":"image\/png"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Ninie Susanti Tedjowasono Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara","datePublished":"2017-05-12T03:39:05+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:18+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/"},"wordCount":1008,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/admin-ajax-5.png","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/","name":"Ninie Susanti Tedjowasono Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/admin-ajax-5.png","datePublished":"2017-05-12T03:39:05+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:18+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/admin-ajax-5.png","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/admin-ajax-5.png","width":400,"height":263},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/ninie-susanti-tedjowasono-membaca-prasasti-mengenal-nusantara\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Ninie Susanti Tedjowasono Membaca Prasasti, Mengenal Nusantara"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6762","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6762"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6762\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6903,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6762\/revisions\/6903"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7877"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6762"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6762"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6762"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}