{"id":6807,"date":"2017-05-16T10:57:54","date_gmt":"2017-05-16T03:57:54","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=6807"},"modified":"2025-05-01T12:37:18","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:18","slug":"handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/","title":{"rendered":"Handi Setyanto Pr Perjumpaan Melalui Wayang Wahyu"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/05\/Handi-Setyanto-Pr-Perjumpaan-Melalui-Wayang-Wahyu.-Kompas.-28-Desember-2015.-Hal-16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-6808\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/05\/Handi-Setyanto-Pr-Perjumpaan-Melalui-Wayang-Wahyu.-Kompas.-28-Desember-2015.-Hal-16.jpg\" alt=\"Handi Setyanto Pr Perjumpaan Melalui Wayang Wahyu. Kompas. 28 Desember 2015. Hal 16\" width=\"1150\" height=\"979\" \/><\/a><\/p>\n<p>Wayang menjadi wahana bekerja sekaligus belajar bagi Agustinus Handi Setyanto Pr (35). Khazanah budaya Jawa itu menjadi sarana pastor di Paroki Purwokerto, Jawa Tengah, tersebut untuk mendekati umat, sekaligus mengenali dirinya sendiri melalui perjumpaan dengan manusia lain yang berbeda keyakinan.<\/p>\n<p><strong>OLEH RINI KUSTIASIH\/IRENE SARWINDANINGRUM <\/strong><\/p>\n<p>Begitu asyiknya ia tenggelam dalam wayang, sampai-sampai Handi harus mencari-mencari waktu untuk studinya. Ia menyambut kami didepan pintu Seminari Tinggi Santo Paulus di Kentungan, Kabupaten Sleman, di Yogyakarta, Rabu (16\/12) pagi. Pastor muda itu berdiri sangat tenang dalam balutan kaos hitamnya yang bertuliskan \u201cJesus Paints A Smile on Me\u201d Senyumnya mengembang.<\/p>\n<p>\u201cSudah setahun saya disini. Saya sedang kuliah lagi emngambil jurusan Performing Art Studies di universitas Gajah Mada. Ini semua berkat dorongan Uskup saya di Purwokerto yang selama ini melihat saya aktif menjadi dalang wayang wahyu,\u201d kata Handi yang sejak 2008 menekuni wayang wahyu salah satu genre wayang yang dipakai untuk menyampaikan kisah-kisah injil kepada umat Katolik. Kamarnya di seminari tinggi itu pun lebih mirip bengkel kerja seorang seniman sebab kuas, cat, dan belasan lembar wayang kulit berserakan di meja kerjanya. Tempatnya bekerja dengan tempat tidur dikamar tersebut hanya dibatasi lemari baju. Dikamar itulah, Handi diwaktu senggangnya mewarnai wayang wahyu.<\/p>\n<p>\u201cSampai dengan akhir tahun ini, saya tidak menerima tanggapan. Sebab, saya saya harus menyelesaikan tesis. Jika ada waktu, saya lebih memeilih untuk mewarnai wayang-wayang ini\u201d ujarnya.\u00a0 Wayang wahyu berbeda dengan wayang kulit pada umumnya karena tokoh dan sosok wayang wahyu mengikuti kisah Injil. Hadirlah sosok Yesus yang mengenakan belangkon dan disalib pada kayu yang seperti dibelit ular dari kaki hingga kedua tangannya. Personifikasi Yesus tersebut sangat \u201cJawa\u201d kendati sebenarnya ada sedikit kekeliruan dalam pengerjaannya.<\/p>\n<p>\u201cSebenarnya itu bukan belangkon. Itu adalah mahkota duri. Tetapi, perajin wayang kulit yang membuatnya salah mempersepsikan gambar pola yang saya berikan. Maka, jadilah sosok Yesus seperti itu. Namun, itu sebenarnya bisa diperbaiki dengan teknik pewarnaan sehingga nanti duri di mahkotanya bisa terlihat\u201d. tutur Handi.<\/p>\n<p>Untuk membuat wayang-wayangnya, Handi banyak berkomunikasi dengan perajin wayang kulit dan beberapa dalang kenamaan di Solo, jawa Tengah. Ia sendiri adalah anggota Paguyuban seniman wayang wahyu Ngajab Rahayu, di Solo. Pengembangan pola dan sosok wayang yang menjadi tokohnya tak luput dari sentuhan perajin dan seniman lain. Salah satunya Wakiban (45) perajin wayang kulit di desa Wukirsari, Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, selama ini membantunya mewujudkan tokoh-tokoh wayang yang dikehendaki. \u201cIni hasil diskusi saya dengan banyak orang. sebab, wayang wahyu memang sudah ada dari dulu. Guru saya antara lain Pak Bambang Suwarno yang juga dalang dan peneliti wayang, serta Pak Bono (Blacius Subono), seorang pengrawit. Beberapa ide bentuk tokoh wayang wahyu saya peroleh dari mereka, tetapi ada juga yang saya buat sendiri. Bahkan ada juga yang hasil diskusi saya dengan Mas Wakiban,\u201d Kata Handi.<\/p>\n<p>Bungsu dari tujuh bersaudara ini mebuat tokoh Maria., ibunda Yesus, sesuai imaji Jawa. Diskusinya dengan Wakiban menghasilkan beberapa bentukan wayang yang unik. \u201cSaya bilang, Mas, tolong saya dibuatkan wayang perempuan, tetapi ada kerudungnya. Sebab, ini Bunda Maria.\u2019 Mas Wakiban memberi masukan, lalu jadilah Wayang Maria yang seperti ini\u201d ungkapnya sembari menunjukkan wayang Maria.<\/p>\n<p>BERTEMU GURU<\/p>\n<p>Diskusi dengan Wakiban itu unik, sebab wakiban adalah seorang Muslim. Proses kreasi dan pembuatan wayang itu pun tak lepas dari sentuhan Wakiban yang memberi warna. Sekalipun bukan Katolik, wakiban berusaha memahami maksud, bahkan memberikan saran jika diperlukan.<\/p>\n<p>Perjumpaan Handi dengan Wakiban sama istimewanya dengan pergulatannya dengan Sutrisno (62), seorang guru di Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah yang pertama kali mengajari Handi mendalang. Handi bertemu Sutrisno yang Muslim itu ketika ditugaskan diKroya setelah ia ditasbihkan menajdi imam, tahun 2008.<\/p>\n<p>\u201cAwalnya saya melihat seni tradisional, seperti ketoprak, wayang, dan jatilan, digemari warga pedesaan tempat saya bertugas. Saya lalu tertarik untuk mengembangkan wayang wahyu yang juga dikenal dalam tradisi Gereja. Saya meminta tolonng Pak Tugiman, tetangga Pastoran, tempat saya tinggal, untuk dikenalkan kepada orang yang bisa mendalang. Saya diantarkan kepada Pak Sutrisno yang jago mendalang tuturnya.<\/p>\n<p>Selanjutnya ia berjumpa dengan Heru dan Eko, dua guru lainnya yang mengajarinya sabetan, teknik menggerakkan wayang, serta memahami suluk atau mengenali kepekaan telinga pada tembang dang ending. Setelah hampir setahun, handi dianggap menguasai ilmu pedalangan. Ia pun tampil dengan kelompoknya yang diberi nama Hamangunsih di lapangan Desa Karangmangu, Kroya, tahun 2009.\u201d Adanya penampilan wayang wahyu yang digelar terbuka dilapangan umum itu ternyata menarik perhatian. Warga desa ramai menonton,\u201d katanya.<\/p>\n<p><strong>HASIL IURAN<\/strong><\/p>\n<p>Upaya Handi mengembangkan wayang wahyu tersebut mendaptkan dukungan banyak pihak. Rekannya sesame Pastor unio (praja) Keuskupan Purwokerto pun patungan untuk membeli wayang. Uskup Sunarka SJ membelikannya seperangkat gamelan. Setelah itu, Handi menggunakan uang honor pementasannya untuk menambah anak-anak wayangnya. Ia tidak pernah menghitung jumlah uang pribadi\u00a0 yang sudah digunakan untuk melengkapi dan merawat perlatan wayang wahyu ini. Mungkin bisa belasan hingga puluhan juta rupiah. Satu wayang kulit berkualitas sedang saat ini harganya sekitar 500.000. sementara harga sekotak wayang wahyu berkisar puluhan hingga ratusan juta rupiah tergantung dari kualitasnya. Bahkan, satu kotak wayang berisi 200 wayang dengan prada emas bisa berharga RP 500 juta. \u201cKemarin ada yang menawarkan sekotak wayang wahyu Rp 60 juta, tetapi saya terlambat merespon sudah lebih dulu dibeli oranglain, ujarnya.<\/p>\n<p>Untuk menyiasatinya, Handi sering membeli bakal wayang yang disebut begingan atau wayang yang belum diwarnai dan belum diberi tangkai. Saat ini, harga gebingan sekitar Rp 300.000 itu pun yang hanya berkualitas sedang.<\/p>\n<p>SUMBER : KOMPAS, SENIN, 28 DESEMBER 2015<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wayang menjadi wahana bekerja sekaligus belajar bagi Agustinus Handi Setyanto Pr (35). Khazanah budaya Jawa itu menjadi sarana pastor di Paroki Purwokerto, Jawa Tengah, tersebut untuk mendekati umat, sekaligus mengenali dirinya sendiri melalui perjumpaan dengan manusia lain yang berbeda keyakinan. OLEH RINI KUSTIASIH\/IRENE SARWINDANINGRUM Begitu asyiknya ia tenggelam dalam wayang, sampai-sampai Handi harus mencari-mencari waktu&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6808,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-6807","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Handi Setyanto Pr Perjumpaan Melalui Wayang Wahyu - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Handi Setyanto Pr Perjumpaan Melalui Wayang Wahyu - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Wayang menjadi wahana bekerja sekaligus belajar bagi Agustinus Handi Setyanto Pr (35). Khazanah budaya Jawa itu menjadi sarana pastor di Paroki Purwokerto, Jawa Tengah, tersebut untuk mendekati umat, sekaligus mengenali dirinya sendiri melalui perjumpaan dengan manusia lain yang berbeda keyakinan. OLEH RINI KUSTIASIH\/IRENE SARWINDANINGRUM Begitu asyiknya ia tenggelam dalam wayang, sampai-sampai Handi harus mencari-mencari waktu...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-05-16T03:57:54+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:18+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Handi-Setyanto-Pr-Perjumpaan-Melalui-Wayang-Wahyu.-Kompas.-28-Desember-2015.-Hal-16-e1494907033423.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1569\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1157\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Handi Setyanto Pr Perjumpaan Melalui Wayang Wahyu\",\"datePublished\":\"2017-05-16T03:57:54+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:18+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\\\/\"},\"wordCount\":858,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/05\\\/Handi-Setyanto-Pr-Perjumpaan-Melalui-Wayang-Wahyu.-Kompas.-28-Desember-2015.-Hal-16-e1494907033423.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\\\/\",\"name\":\"Handi Setyanto Pr Perjumpaan Melalui Wayang Wahyu - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/05\\\/Handi-Setyanto-Pr-Perjumpaan-Melalui-Wayang-Wahyu.-Kompas.-28-Desember-2015.-Hal-16-e1494907033423.jpg\",\"datePublished\":\"2017-05-16T03:57:54+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:18+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/05\\\/Handi-Setyanto-Pr-Perjumpaan-Melalui-Wayang-Wahyu.-Kompas.-28-Desember-2015.-Hal-16-e1494907033423.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/05\\\/Handi-Setyanto-Pr-Perjumpaan-Melalui-Wayang-Wahyu.-Kompas.-28-Desember-2015.-Hal-16-e1494907033423.jpg\",\"width\":1569,\"height\":1157},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Handi Setyanto Pr Perjumpaan Melalui Wayang Wahyu\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Handi Setyanto Pr Perjumpaan Melalui Wayang Wahyu - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Handi Setyanto Pr Perjumpaan Melalui Wayang Wahyu - Library","og_description":"Wayang menjadi wahana bekerja sekaligus belajar bagi Agustinus Handi Setyanto Pr (35). Khazanah budaya Jawa itu menjadi sarana pastor di Paroki Purwokerto, Jawa Tengah, tersebut untuk mendekati umat, sekaligus mengenali dirinya sendiri melalui perjumpaan dengan manusia lain yang berbeda keyakinan. OLEH RINI KUSTIASIH\/IRENE SARWINDANINGRUM Begitu asyiknya ia tenggelam dalam wayang, sampai-sampai Handi harus mencari-mencari waktu...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-05-16T03:57:54+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:18+00:00","og_image":[{"width":1569,"height":1157,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Handi-Setyanto-Pr-Perjumpaan-Melalui-Wayang-Wahyu.-Kompas.-28-Desember-2015.-Hal-16-e1494907033423.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Handi Setyanto Pr Perjumpaan Melalui Wayang Wahyu","datePublished":"2017-05-16T03:57:54+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:18+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/"},"wordCount":858,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Handi-Setyanto-Pr-Perjumpaan-Melalui-Wayang-Wahyu.-Kompas.-28-Desember-2015.-Hal-16-e1494907033423.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/","name":"Handi Setyanto Pr Perjumpaan Melalui Wayang Wahyu - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Handi-Setyanto-Pr-Perjumpaan-Melalui-Wayang-Wahyu.-Kompas.-28-Desember-2015.-Hal-16-e1494907033423.jpg","datePublished":"2017-05-16T03:57:54+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:18+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Handi-Setyanto-Pr-Perjumpaan-Melalui-Wayang-Wahyu.-Kompas.-28-Desember-2015.-Hal-16-e1494907033423.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Handi-Setyanto-Pr-Perjumpaan-Melalui-Wayang-Wahyu.-Kompas.-28-Desember-2015.-Hal-16-e1494907033423.jpg","width":1569,"height":1157},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/handi-setyanto-pr-perjumpaan-melalui-wayang-wahyu\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Handi Setyanto Pr Perjumpaan Melalui Wayang Wahyu"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6807","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6807"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6807\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8376,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6807\/revisions\/8376"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6808"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6807"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6807"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6807"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}