{"id":7202,"date":"2017-06-05T10:45:48","date_gmt":"2017-06-05T03:45:48","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=7202"},"modified":"2025-05-01T12:37:17","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:17","slug":"nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/","title":{"rendered":"Nyoto dan Pranti Berjuang di &#8220;Jalan Organik&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/06\/Nyoto-dan-Pranti_Berjuang-di-Jalan-Organik.-Kompas.-20-April-2017.-Hal.-16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-7203\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/06\/Nyoto-dan-Pranti_Berjuang-di-Jalan-Organik.-Kompas.-20-April-2017.-Hal.-16.jpg\" alt=\"Nyoto dan Pranti_Berjuang di Jalan Organik. Kompas. 20 April 2017. Hal. 16\" width=\"1151\" height=\"908\" \/><\/a><\/p>\n<p>Lahir dan besar di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah, pasangan suami-istri Nyoto (36) dan Pranti (34) menolak ikut cara bertani sayur dengan pupuk dan obat kimia seperti warga lain. Ia memilih bertani secara organik demi menghasilkan produk pertanian yang sehat. Belakangan, pertanian organiknya menjadi banyak Tarik pariwisata lereng Merbabu.<\/p>\n<p>Oleh Regina Rukmorini<\/p>\n<p>Dengan udara pengumuman yang bersih serta produk pertanian yang siap untuk di makan karena bebas obat-obatan dan pupuk kimia, kami berharap lahan kami ini bisa menjadi objek wisata sehat di lereng Gunung Merbabu,\u201d ujar Pranji, pertengahan Maret lalu.<\/p>\n<p>Bersama Nyoto, mereka merintis Manda Stoberi, lahan pertanian organik sekaligus tempat wisata petik buah di Desa Kapuhan, Kecamatan, Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, yang berdekatan dengan obyek wisata Ketep pass.<\/p>\n<p>Di lahan seluas 1600 meter persegi, merka menanam ribuan tanaman stoberi, buah melodi, terong belanda, serta beragam sayuran lokal seperti buncis, terong hijau dan ungu, bunga kol, dan daun bawang. Lahan pertanian itu bisa di panen silih berganti serta dibuka menjadi wisata petik buah dan sayur untuk pelancong sejak 2006. \u201cKarena bebas bahan kimia, seusai dipetik dan dicuci, wisatwan bisa langsung menyantap buah atau sayur yang baru di panen,\u201d ujar Nyoto.<\/p>\n<p>Pada 2010, wisata petik sayur dan buah itu sempat ditutup karena semua tanaman mati akibat terkena abu erupsi Gunung Merapi. Setelah melakukan beragam upaya pemulihan lahan dan tanaman, mulai 2016 wisata ntersebut kembali dibuka.<\/p>\n<p>Setiap mereka bersiap mengembangkan model wisata baru. Mereka akan menyediakan layanan memasak semua hasil panen tersebut. Dengan menyediakan layanan makanan dan minuman, diharapkan wisatawan semakin lama berkunjung.<\/p>\n<p>\u201cWisatawan nanti tinggal memetik dan selanjutnya tinggal meminta sayuran atau buah yang dipetik itu ingin dimasak atau diolah bagaimana, menjadi masakan atau minuman sesuai keinginan mereka,\u201d tutur Nyoto.<\/p>\n<p>Perjuangan Berat<\/p>\n<p>Usaha pertanian organik dan wisatawa petik itu berawal dari keinginan Nyoto dan Pranti bertani stroberi. Sebelumnya, tanaman stroberi jarang dikembangkan di desanya. Setelah belajar kepada beberapa petani di desa lan yang pernah menanam stroberi, kedua memutuskan beralih komoditas tanam.<\/p>\n<p>Stroberi dipilih karena harganya relastif lebh tinggi daripada sayuran. Buah tersebut juga cukup digemari wisatawan di kompleks wisata Ketep Pass. Mereka pun sudah berkomitmen menanam secara organik.<\/p>\n<p>Komitmen bertani organik itu muncul Karena menyadari bahwa stroberi adalah buah yang langsung di kosumsi dan tidak terlindugi kulit luar. \u201cSebagai petani sayur, kami juga terbiasa membaca label di obat kimia tentang betapa bahanyanya obat tersebut jika terhirup atau terkena kulit. Kami berpikir, bagaimana jika zat-zat kimia itu tertelan,\u201d ucap Nyoto.<\/p>\n<p>Mereka lalu membongkar semua sisa tanaman seperti cabai dan aneka sayur lain. Untuk menetralkan tanah yang sebelumnya dipupuk dengan obat-obatan kimia, mereka taburkan garam dan kapur ke lahan. Setelah itu baru ditanami stroberi.<\/p>\n<p>Bersamaan dengan pembukaan lahan stroberi, mereka membuka wisata petik stroberi untuk wisatawan. Tak disangka, usaha intu sukses. Setiap hari Nyoto dan Pranti bisa memetik panen sekitar 25 kilogram stroberi per hari. Wisatawan pun berdatangan dari jumlah kota seperti Jakarta, Semarang, Yogyakarta, kota-kota di luar Jawa, hingga turis asing dari Australia.<\/p>\n<p>Nyoto dan Pranti<\/p>\n<p>Semua berjalan lancar hingga bencana ini tak terhindarkan. Tahun 2010, erupsi besar Gunung Merapi terjadi dan menghancurkan kebun organic mereka. Kegiatan bertani dan pariwisata pun terhenti.<\/p>\n<p>Namun, keduanya tak patah arang. Setahun berselang, mereka kembali bertani. Demi terkumpulnya modal lebih cepat mereka menanam cabai dan tembakau terlebih dahulu. Dari hasil panen dua jenis tanaman ini, mereka manabung untuk kembali bertanam stroberi secara organic pada 2015. Mereka juga mendapat bantuan kredit dengan bunga rendah dari Bank Jateng senilai Rp 15 juta.<\/p>\n<p>Kondisi cuaca yang ekstrem dengan cuaca hujan tinggi sepanjang tahun 2016 cukup menyulitkan mereka. Hasil panen tidak terlalu mengembirakan. Banyak tanaman rusak dan buah busuk karena jamur sehingga mereka beberapa kali gagal panen. Pada akhir 2016, mereka hanya bisa memetik 5-7 kilogram stroberi per hari, jauh di bawah produksi selama 2006-2010 yang mencapai 25 kilogram.<\/p>\n<p>Semua hambatan itu tak menggoda mereka mengambil jalan pintas beralih ke pertanian non-organik. \u201cCara bertani yang kami jalankan jelas mengundang pertanyaan kerna selama hampir setahun, tetangga lain sudah panen cabai tiga hingga empat kali, sedangkan kami sama sekali belum,\u201d ujar Pranti.<\/p>\n<p>Mandiri<\/p>\n<p>Bagi Nyoto, bertani organic membutuhkan kesabaran. Oleh karena tidak menggunakan obat-obatan kimia, perawatan dan pembrantasan hama penyakit benar-benar dilakukan tradisional. Sebagai contoh, untuk mengantisipasi menjalankan busuk batang dan daun, mereka setiap hari cermat melihat dan segera memotong batang serta daun yang busuk,<\/p>\n<p>\u201cKalau petani lain sibuk menyemprotkan obat, kami cukup mematikan ulay dengan cara <em>digithes<\/em> (dilumat dengan tangan) saja,\u201d ujar Pranti sembari tertawa.<\/p>\n<p>Untuk pupuk, mereka menggunakan pupuk organic dan pupuk kandang. Cara bertani yang membutuhkan ketekunan dan kecermatan ini tidka mudah diterima banyak orang. Beberapa kali membayar pekerja untuk membantunya, Pranti merasa apa yang mereka lakukan kerap tidak sesuai dengan keinginannya. Pada akhirnya mereka berdualah yang lebih banyak terjun da melakukan perawatan langsung.<\/p>\n<p>Nyoto<\/p>\n<ul>\n<li>Lahir : Magelang, 1 Mei 1981<\/li>\n<li>Pendidikan : SMPN 2 Sawangan Magelang<\/li>\n<\/ul>\n<p>Pranti<\/p>\n<ul>\n<li>Lahir : Magelang, 29 November 1983<\/li>\n<li>Pendidikan : SMA Bentara Wacana Muntilan, Magelang<\/li>\n<li>Anak :<\/li>\n<li>Riska Amanda Putri (13)<\/li>\n<li>Rahendra Fariz Ardian (5)<\/li>\n<li>Pekerjaan\/kegiatan : Pendiri Manda Stroberi<\/li>\n<\/ul>\n<p>Nyoto dan Pranti bertekad terus mengembangkan usaha wisatawanya agar nanti dapat melibatkan semakin banyak orang. \u201cObyek wisata biasanya akan menghidupkan ekonomi banyak orang, baik yang terlibat di dalamnya, maupun warga lain di sekitarnya,\u201d Pranti.<\/p>\n<p>Mereka ingin bertani, sekaligus menjadi pelaku wisata , melalui jalan pertanian organik.<\/p>\n<p><strong>Sumber<\/strong> : Kompas. 20 April 2017 hal 16<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lahir dan besar di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah, pasangan suami-istri Nyoto (36) dan Pranti (34) menolak ikut cara bertani sayur dengan pupuk dan obat kimia seperti warga lain. Ia memilih bertani secara organik demi menghasilkan produk pertanian yang sehat. Belakangan, pertanian organiknya menjadi banyak Tarik pariwisata lereng Merbabu. Oleh Regina Rukmorini Dengan udara pengumuman&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7203,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-7202","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Nyoto dan Pranti Berjuang di &quot;Jalan Organik&quot; - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Nyoto dan Pranti Berjuang di &quot;Jalan Organik&quot; - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Lahir dan besar di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah, pasangan suami-istri Nyoto (36) dan Pranti (34) menolak ikut cara bertani sayur dengan pupuk dan obat kimia seperti warga lain. Ia memilih bertani secara organik demi menghasilkan produk pertanian yang sehat. Belakangan, pertanian organiknya menjadi banyak Tarik pariwisata lereng Merbabu. Oleh Regina Rukmorini Dengan udara pengumuman...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-06-05T03:45:48+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Nyoto-dan-Pranti_Berjuang-di-Jalan-Organik.-Kompas.-20-April-2017.-Hal.-16-e1496634337421.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"888\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"667\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Nyoto dan Pranti Berjuang di &#8220;Jalan Organik&#8221;\",\"datePublished\":\"2017-06-05T03:45:48+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:17+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\\\/\"},\"wordCount\":849,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Nyoto-dan-Pranti_Berjuang-di-Jalan-Organik.-Kompas.-20-April-2017.-Hal.-16-e1496634337421.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\\\/\",\"name\":\"Nyoto dan Pranti Berjuang di \\\"Jalan Organik\\\" - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Nyoto-dan-Pranti_Berjuang-di-Jalan-Organik.-Kompas.-20-April-2017.-Hal.-16-e1496634337421.jpg\",\"datePublished\":\"2017-06-05T03:45:48+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:17+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Nyoto-dan-Pranti_Berjuang-di-Jalan-Organik.-Kompas.-20-April-2017.-Hal.-16-e1496634337421.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Nyoto-dan-Pranti_Berjuang-di-Jalan-Organik.-Kompas.-20-April-2017.-Hal.-16-e1496634337421.jpg\",\"width\":888,\"height\":667},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Nyoto dan Pranti Berjuang di &#8220;Jalan Organik&#8221;\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Nyoto dan Pranti Berjuang di \"Jalan Organik\" - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Nyoto dan Pranti Berjuang di \"Jalan Organik\" - Library","og_description":"Lahir dan besar di lereng Gunung Merbabu, Jawa Tengah, pasangan suami-istri Nyoto (36) dan Pranti (34) menolak ikut cara bertani sayur dengan pupuk dan obat kimia seperti warga lain. Ia memilih bertani secara organik demi menghasilkan produk pertanian yang sehat. Belakangan, pertanian organiknya menjadi banyak Tarik pariwisata lereng Merbabu. Oleh Regina Rukmorini Dengan udara pengumuman...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-06-05T03:45:48+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:17+00:00","og_image":[{"width":888,"height":667,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Nyoto-dan-Pranti_Berjuang-di-Jalan-Organik.-Kompas.-20-April-2017.-Hal.-16-e1496634337421.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Nyoto dan Pranti Berjuang di &#8220;Jalan Organik&#8221;","datePublished":"2017-06-05T03:45:48+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:17+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/"},"wordCount":849,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Nyoto-dan-Pranti_Berjuang-di-Jalan-Organik.-Kompas.-20-April-2017.-Hal.-16-e1496634337421.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/","name":"Nyoto dan Pranti Berjuang di \"Jalan Organik\" - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Nyoto-dan-Pranti_Berjuang-di-Jalan-Organik.-Kompas.-20-April-2017.-Hal.-16-e1496634337421.jpg","datePublished":"2017-06-05T03:45:48+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:17+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Nyoto-dan-Pranti_Berjuang-di-Jalan-Organik.-Kompas.-20-April-2017.-Hal.-16-e1496634337421.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Nyoto-dan-Pranti_Berjuang-di-Jalan-Organik.-Kompas.-20-April-2017.-Hal.-16-e1496634337421.jpg","width":888,"height":667},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/nyoto-dan-pranti-berjuang-di-jalan-organik\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Nyoto dan Pranti Berjuang di &#8220;Jalan Organik&#8221;"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7202","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7202"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7202\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7712,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7202\/revisions\/7712"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7203"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7202"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7202"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7202"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}