{"id":74075,"date":"2016-08-16T12:23:41","date_gmt":"2016-08-16T05:23:41","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/"},"modified":"2025-09-17T09:10:13","modified_gmt":"2025-09-17T02:10:13","slug":"kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/","title":{"rendered":"Kembalikan Kawasan ke Tempoe Doeloe"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Kembalikan-Kawasan-ke-Tempoe-Doeloe.-Surya.-8-Januari-2016.Hal_.1316-e1492843034133.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2104\" src=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/Kembalikan-Kawasan-ke-Tempoe-Doeloe.-Surya.-8-Januari-2016.Hal_.1316-e1492843034133.jpg\" alt=\"Kembalikan Kawasan ke Tempoe Doeloe. Surya. 8 Januari 2016.Hal.13,16\" width=\"5906\" height=\"3549\" \/><\/a><\/p>\n<p>Pedestrian unik, ada trem ditengah jalan<\/p>\n<p>Rek ayo rek, mlaku mlaku nang tunjungan\u2026<\/p>\n<p>Rek ayo rek, ramai ramai bebarengan\u2026<\/p>\n<p>Cak ayo cak, sopo gelem melu aku\u2026<\/p>\n<p>Cak ayo cak, golek kenalan cah ayu\u2026.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Itulah bait lagu legendaries yang menggambarkan jalan tunjungan Surabaya sebagai pusat kota. Kawasan pusat ini malah lebih melegenda dari lagu parikan asli Surabaya itu. Saat ini, pemkot Surabaya bekerja keras mengembalikan kota legenda, jalan tunjungan. Kawasan ditengah kota itu sudah dimasukkan dalam kawasan cagar budaya. Bangunan disepanjang jalan ini juga sebagian besar masih utuh seperti sedia kala. Sebuah deretan bangunan kuno yang memiliki nilai historis, selain deretan toko dan bangunan penggerak ekonomi lainnya. Dinas pariwisatabkota Surabaya, bappeko dan semua stake holder pemerintah tengah bekerja mengembalikan wajah tunjungan seperti dulu kala. Kawasan ini di restorasi. \u201csemua proses restorasi untuk tunjungan menjadi destinasi wisata heritage sedang kita kerjakan\u201d kata wiwik widayati, kepala dinas pariwisata kota Surabaya, kamis (7\/1). Dinas pariwisata bahkan sore tadi membicarakan lebih detil menyangkut kampong disekitar jalan tunjungan, bersama camat dan lurah. Saat ini proses restorasi itu tengah berjalan dengan focus pada pengembalian deretan bangunan. Target pemkot pada sisi timur jalan tunjungan lebih.<\/p>\n<p>Dukung upaya gairahkan kawasan segitiga emas<\/p>\n<p>Rencana pengembalian keberadaan tunjungan heritage, mendapat dukungan penuh kalangan DPRD Surabaya. Namun, program itu diperkirakan benar benar mulai dikerjakan pada tahun depan. \u201cini salah satu upaya nyata untuk menghidupkan peninggalan dan tradisi lama yang dulu pernah kondang, serta menjadi kebanggaan, yakni mlaku mlaku di tunjungan. Makanya tak ada alas an untuk tidak mendukung keberadaan tunjungan heritage\u201d tegas sudirjo, anggota komisi C DPRD Surabaya, kepada surya, rabu (6\/1). Menurut sudirjo, dengan menghidupkan tunjungan heritage sebagai jujugan mlaku mlaku, pihaknya meyakini upaya itu turut berdampak makin menggeliatnya ekonomi masyarakat di jantung pusat kota Surabaya. Khususnya, yang berada di sepanjang jalan tunjungan, jalan embong malang, jalan blauran, jalan praban, dan sejumlah ruas jalan lain, yang hingga saat ini banyak berdiri bangunan cagar budaya. \u201cdisana kan merupakan \u2018segitiga emas\u2019. Banyak sekali pertokoannya\u201d ungkapnya. Jalan dikawasan ini melegenda bakal dibangkitkan kembali, salah satunya dengan menjadikan jujugan wisata heritage.<\/p>\n<p>Ada setidaknya 12 persil atau lokasi dikawasan itu yang harus segera di restorasi. Persil ini berupa deretan toko, bank dan hotel. Sebagian besar milik perorangan. Deretan bangunan itu harus dikembalikan ke bentuk asal nan eksotik. \u201cgedung sudah \u00a0mengawali. Ada museum, kantor dinas pariwisata dan dispenduk capil di sini. Deretan bangunan berikutnya diharapkan mengikui\u201d tambahnya. Pemkotpun mulai membuka fasad (tampak depan) asli deretan toko yang sudah ditutup papan bisnis. Ada board dan seng dipasang permanen dideretan kawasan heritage ini. Kini, bongkar bongkar penutup fasad bangunan dimulai.<\/p>\n<p>Kawasan dengan nama segitiga emas itu, konsepnya menyatukan kawasan modern dan bangunan bangunan bersejarah yang ada disekitarnya. Keberadaan pertokoan itu, lanjut sudirjo, diharapkan bisa menghidupkan dan menggaet banyak pembeli. Tentu dengan dilengkapi produk produk UKM dan makanan tradisional. Untuk mendukung hal itu, tambah politisi PAN ini, kawasan ini akan dilengkapi dengan program kampong wisata. Caranya,menyulap tiga gang yang membentang diantara jalan tunjungan dan jalan blauran sebagai kampong wisata. \u201cdi kampung wisata inilah nanti akan dijual souvenir khas Surabaya\u201d ungkapnya. Demi tujuan itu, disepanjang gang akan dipakai sebagai kampung wisata, pemkot melarang lahannya dibangun hotel maupun apartemen. \u201citu hasil pembahasan di komisi C\u201d imbuh sudirjo. Tak hanya itu, ke depan di tengah jalan tunjungan juga dibangun jalur trem sebagai pemadu moda, untuk menghubungkan wilayah satu dengan lainnya. \u201cmakanya saat ini tengah serius dibahas, bagaimana solusi dan rekayasa untuk lalulintas. Termasuk lokasi untuk parker kendaraan pengunjung\u201d tukasnya. Sudirjo menyebut, rencana membuat tunjungan heritage sebenarnya sudah sekitar tiga atau empat tahun lalu. Sejumlah acara untuk mengundang masyarakat datang ke tunjungan juga pernah dilakukan pemkot, saat peringatan ulang tahun Surabaya. Saat ini, bappeko masih detail engineering design (DED), serta mengkoordinasikan dengan berbagai pihak lain. \u201cmakanya kami minta tahun depan (2017) pemkot harus benar benar mewujudkan proyek ini\u201d tandas sudirjo.<\/p>\n<p>\u201cterakhir,akhir desember kemarin, fasad di dua bangunan no 9 dan no 11 dibongkar. Tentu kami berkoordinasi dengan pemilik deretan toko itu. Rata rata semua mendukung penuh\u201d ujar wiwik. Mwski demikian, ada juga yang sebaliknya. Apalagi tidak semua bangunan utuh. Ada beberapa bangunan malah sudah direnovasi. Nanti akan dikembalikan seperti tempo doeloe. Sementara pedestrian dilebarkan dan tengah jalan dilalui trem, kereta yang pernah ada. Wiwik menuturkan bahwa pembongkaran penutup fasad diseluruh tunjungan dilakukan bertahap. Setelah terlihat wujud asli bangunan, maka akan direstorasi terhadap fisiknya. Termasuk menembel dan mengecat ulang. Setelah pembongkaran disisi timur, tahap selanjutnya berlanjut ke sisi barat kawasan tunjungan. Pemkot Surabaya juga mengajak beberapa pihak yang memiliki maksud serta tujuan sama untuk menghidupkan lagi suasana kawasan tunjungan menjadi destinasi wisata heritage.<\/p>\n<p>Jadi etalase<\/p>\n<p>Terkait rencana itu, badan perencanaan dan pembangunan kota (bappeko) Surabaya sepakat denngan dinas pariwisata, untuk memulainya pada tahun ini (2016). Ketua bappeko kota Surabaya agus imam sonhaji mengatakan konsep tunjungan heritage memang digagas bersama. Namun, dalam pelaksanaannya, ada SKPD terkait lainnya. \u201cuntuk penertiban fasad dilakukan bersama satpolPP, sedang pembangunan seperti revitalisasi pasar tunjungan ada di PD pasar surya\u201d kata agus, kamis (7\/1). Targetnya, tunjungan heritage ini bisa menjadi etalase Surabaya, sekaligus jatim. Sebagai ikon kota pahlawan, nilai nilai sejarah di jl tunjungan ini bisa dikembangkan menjadi tujuan wisata. Menurut agus, pengembalian jl tunjungan sebagai ikon sejarah sudah diawali dengan gedung siola yang saat ini sebagian dimanfaatkan sebagai museum. Selanjutnya, diikuti revitalisasi bangunan yang ada dijalan itu, terutama yang masuk sebagai cagar budaya. Sebagai etalase kota, jl tunjungan disiapkan tempat parker di pasar tradisional,pasar tunjungan. Di tahun ini, rencana revitalisasi pasar itu belum juga terlaksana. Namun, agus mengatakan nantinya pasar tunjungan akan dijadikan ikon lain, sebagai tempat perdagangan tradisional dan tempat parker kendaraan. Selain belanja di jalan itu, juga bisa jalan jalan di sepanjang jl tunjungan. \u201cdi 2016 ini,selain penataan fisik, sudah ada sosialisasi ke masyarakat yang ada di jl tunjungan untuk menjaga bangunan dan menyiapkan wilayah ini sebagai tujuan wisata\u201d urai agus. Apakah mereka ikut bergabung melalui pemberdayaan ekonomi,atau kegiatan lainnya seperti seni dan budaya yang akan ditampilkan secara berkala di jl tunjungan. Ranah ini bagian dinas budaya dan pariwisata yang akan mengembangkannya.<\/p>\n<p>Tunjungan mulai dilepas. Tetapi cukup terlambat, karena jalan tunjungan selama ini dikenal hanya sebagai kota mati dan lewatan saja\u201d ucap freddy h istanto direktur sjarikat poesaka soerabaia atau Surabaya heritage society pada surya, rabu (6\/1). Bahkan menurutnya, komunitas, akademisi dan masyarakat lebih giat menuturkan pentingnya pengembalian fungsi jalan tunjungan sebagai ikon Surabaya di mata internasional. \u201ctiga tahun lalu, ITS juga telah memaparkan diskusi ilmiah tunjungan akan dibagaimanakan, tetapi juga tidak ada respons dari pemkot\u201d ungkap dekan fakultas industry kreatif universitas ciputra Surabaya ini. Menurutnya, kerja sama harus dilakukan pemkot dan pebisnis dengan melibatkan pemuda untuk mengembalikan ikon Surabaya ini. Toko toko yang sudah tidak beroperasi lebih baik disewakan dengan biaya murah pada anak anak muda untuk membuka industry kreatif. Selain itu, pemkot juga perlu menunjang berbagai fasilitas, seperti tas, seperti akses internet. \u201c tunjungan itu bisa jadi ikon, seperti braga dibandung atau malioboro di Yogyakarta\u201d tutur freddy. Dengan cirri khas kota pahlawan,maka tema heroic harus diperlihatkan dijalan ini. Karena Surabaya mulai kehilangan identitas sebagai kota pahlawan. Mulai dari pemilihan industri kreatif hingga membuat car free day tematik dijalan tunjungan. Misalkan saja industri clothing yang bertemakan kepahlawanan. Kelakar kelakar khas Surabaya yang bertema heroik hingga mengangkat street art. \u201cperlu start up bisnis untuk anak muda yang didukung pebisnis dan pemkot. Jadi biar anak anak muda yang membangun. Tidak hanya mengenang, tapi benar benar memudakan kembali Surabaya\u201d pungkasnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber: Surya, 8 Januari 2016<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pedestrian unik, ada trem ditengah jalan Rek ayo rek, mlaku mlaku nang tunjungan\u2026 Rek ayo rek, ramai ramai bebarengan\u2026 Cak ayo cak, sopo gelem melu aku\u2026 Cak ayo cak, golek kenalan cah ayu\u2026. &nbsp; Itulah bait lagu legendaries yang menggambarkan jalan tunjungan Surabaya sebagai pusat kota. Kawasan pusat ini malah lebih melegenda dari lagu parikan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":78871,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[5030,5069,5091],"tags":[],"class_list":["post-74075","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uc-news-en","category-uc-news-2016-en","category-uc-news-januari-en"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kembalikan Kawasan ke Tempoe Doeloe - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kembalikan Kawasan ke Tempoe Doeloe - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Pedestrian unik, ada trem ditengah jalan Rek ayo rek, mlaku mlaku nang tunjungan\u2026 Rek ayo rek, ramai ramai bebarengan\u2026 Cak ayo cak, sopo gelem melu aku\u2026 Cak ayo cak, golek kenalan cah ayu\u2026. &nbsp; Itulah bait lagu legendaries yang menggambarkan jalan tunjungan Surabaya sebagai pusat kota. Kawasan pusat ini malah lebih melegenda dari lagu parikan...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-08-16T05:23:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-09-17T02:10:13+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/doel.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"455\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"300\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Kembalikan Kawasan ke Tempoe Doeloe\",\"datePublished\":\"2016-08-16T05:23:41+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-17T02:10:13+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\\\/\"},\"wordCount\":1215,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/08\\\/doel.jpg\",\"articleSection\":[\"UC News\",\"UC News 2016\",\"UC News Januari 2016\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\\\/\",\"name\":\"Kembalikan Kawasan ke Tempoe Doeloe - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/08\\\/doel.jpg\",\"datePublished\":\"2016-08-16T05:23:41+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-17T02:10:13+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/08\\\/doel.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2016\\\/08\\\/doel.jpg\",\"width\":455,\"height\":300},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kembalikan Kawasan ke Tempoe Doeloe\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kembalikan Kawasan ke Tempoe Doeloe - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Kembalikan Kawasan ke Tempoe Doeloe - Library","og_description":"Pedestrian unik, ada trem ditengah jalan Rek ayo rek, mlaku mlaku nang tunjungan\u2026 Rek ayo rek, ramai ramai bebarengan\u2026 Cak ayo cak, sopo gelem melu aku\u2026 Cak ayo cak, golek kenalan cah ayu\u2026. &nbsp; Itulah bait lagu legendaries yang menggambarkan jalan tunjungan Surabaya sebagai pusat kota. Kawasan pusat ini malah lebih melegenda dari lagu parikan...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2016-08-16T05:23:41+00:00","article_modified_time":"2025-09-17T02:10:13+00:00","og_image":[{"width":455,"height":300,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/doel.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"6 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Kembalikan Kawasan ke Tempoe Doeloe","datePublished":"2016-08-16T05:23:41+00:00","dateModified":"2025-09-17T02:10:13+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/"},"wordCount":1215,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/doel.jpg","articleSection":["UC News","UC News 2016","UC News Januari 2016"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/","name":"Kembalikan Kawasan ke Tempoe Doeloe - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/doel.jpg","datePublished":"2016-08-16T05:23:41+00:00","dateModified":"2025-09-17T02:10:13+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/doel.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2016\/08\/doel.jpg","width":455,"height":300},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/kembalikan-kawasan-ke-tempoe-doeloe\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kembalikan Kawasan ke Tempoe Doeloe"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74075","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=74075"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74075\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":78872,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/74075\/revisions\/78872"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/78871"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=74075"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=74075"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=74075"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}