{"id":8485,"date":"2017-07-17T13:04:04","date_gmt":"2017-07-17T06:04:04","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=8485"},"modified":"2025-05-01T12:37:15","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:15","slug":"mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/","title":{"rendered":"Asrida Elisabeth Mendokumentasikan Papua dengan Mata Hati"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/07\/Mendokumentasikan-Papua-dengan-Mata-Hati.-Kompas.12-Maret-2015.Hal_.16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-8486\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/07\/Mendokumentasikan-Papua-dengan-Mata-Hati.-Kompas.12-Maret-2015.Hal_.16.jpg\" alt=\"Mendokumentasikan Papua dengan Mata Hati. Kompas.12 Maret 2015.Hal.16\" width=\"821\" height=\"721\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>Dimulai dari jalan- jalan sampai jatuh cinta dengantanah papua. Itulah yang dialami Asrida Elisabeth yang pertama kali menginjakkan Bumi Cendrawasih untuk menjadi pekerja sosial. Setelah empat tahun berada di tengah masyarakat Papua, Asrida merasa masih banyak yang harus dilakukannya.<\/strong><\/p>\n<p><strong>Oleh: Susie Berindra<\/strong><\/p>\n<p>Saat pertama kali menginjakkan kaki di Papua, Asrida tak pernah membayangkan akan tinggal di pulau burung cendrawasi ini. Setelah lulus dari Jurusan Statistik, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Udayana, Bali, tahu 2011, perempuan kelahiran Kampung Nanga, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, ini pergi ke Keerom, Papua. Dengan diantar sang kaka, dia berniat membantu Yohanes Djoga Pr, aktivis hak asasi manusia yang akrab disapa Pater John.<\/p>\n<p>\u201cSelama kuliah, saya sama sekali enggak tahu Papua. Untuk itulah saya pilih ikut Pater John yang sudah lama berada do Papua,\u201d kata Asrida. Saat itu, pihak keluarga mempertanyakan langkah Asrida yang lebih memiliih kerja sosial daripada melamar menjadi calon pegawai negeri sipil. Meski begitu, dia tetap memilih untuk berkeliling Papua membantu Pater John mendokumentasikan kehidupan dan smeua masalah yang dihadapi masyarakat Papua.<\/p>\n<p>\u201c Ke mana saja Pater John pergi saya ikut. Karena seiring jalan dengan Pater, sudut padang saya jadi seperti Pater, melihat masyarakat Papua sebagai korban. Tugas saya dokumentasi, mencatat, mengantar tamu, kebanyakan wartawan,\u201d ujar Asrida.<\/p>\n<p>Selama menjadi pekerja sosial, Asrida telah melihat beragam masalah yang melilit masyarakat Papua, mulai dari kepemilikan tanah, pendidkan, pendidikan, kesehatan, sampai konflik antara masyarakat dan militer. Seiring berjalannya waktu, anak seorang gutu di Flores, NTT, ini memilih menekuni permasalahan pererempua.<\/p>\n<p>Salah satu pengalaman yang paling berkesan ketika mengunjungi Distrik Semenage, Kabupaten Yahukimo, Papua, tahun 2013. Dengan pesawat kecil, dia bersama Pater John dan lima orang laiinya merayakan Pakah sekaligus menggalin informasi dari masyarakat daerah otonom baru diresmikan akhir tahun 2003.<\/p>\n<p>\u201cSaat turun dari pesawat, kami melihat anak perempuan dengn perut buncit dibopong ke bandara di atas bukit. Mereka menunggu pesawat yang akan mengangkut ke rumah sakit di kota. Pemukiman penduduk itu sangat jauh dari pusat pelayanan,\u201d ujar Asrida.<\/p>\n<p>Rombongan juga berkunjung ke sekolah yang salah satu temboknya terpasang gambar mantan\u00a0 Wakil Presiden Try Sutrisno. Hanya satu guru yang lulusan SMA yang mengajar untuk semua kelas. Sementara di bagunan puskesmas, rumput- rumput semakin tinggi, tak terlihat satu orang pun, \u201cSedihnya, masyarakat menerima saja yang mereka alami. Mereka menyerah dan semua pelayanan pendidikan dan kesehatan yang tak memadai itu menjadi hal biasa,\u201dkatanya.<\/p>\n<p><strong>Membuat film<\/strong><\/p>\n<p>Tahun 2013, Asrida memilih tinggal di Kabupaten Wamena, Papua. Semakin lama berada di tengah masyarakat, kepekaan Asrida terhadap kehidupan perempuan Papua semakin terasah. Apalagi, setiap kali berkeliling dengan Pater John, dia selalu mendokumentasikan semua kegiatan masyarakat Papua sehingga dirinya pun merasa dekat sekali dengan Papua.<\/p>\n<p>Hobinya dalam mendokumentasikan gambar dan video membuat Asrida bergabung dengan komunitas Papuan Voices yang membuat banyak sekali film pendek megenai kehidupan masyarakat Papua. Beberapa kali dia terlibat dalam pembuatan film documenter.<\/p>\n<p>Suatu saat, Asrida mengamati suasana\u00a0 Pasar Jimbana, Wamena. Tak\u00a0 sadar, pandangannya jatuh pada seorang mama yang datang dari Kampung Huguma. Mama Halusina memang tinggal di Yahukimo, tetapi perjalanan ke Wamena untuk menjual hasil pertaniannya lebih mudah jika berjalan ke Wamena. Rasa penasaran yang besar membuat Asrida mengikuti Halusina ampai ke rumahnya. Itak hanya sekali, kesempatan itu dilakukan beberapa kali.<\/p>\n<p>Beberapa waktu kemudian, Asrida melihat lowongan Project Change 2013 yang diselenggarakan Kalyana Shira Foundation. \u201cSaya isen saja mengirimkan cerita Mama Halusina ke Project Change. Sama sekali enggak menyangka, akhirnya ide cerita saya diterima Kalyana Shira,\u201dkatanya.<\/p>\n<p>Project change merupakan pelatihan untuk pembuat film muda yang mengangkat isu kesetaraan jender, baik fiksi maupun documenter. Kegiatan ini diprakarsai sutradara Nia Dinata. Awalnya, Asrida ingin mengangkat cerita mengenai perjalanan Halusina yang berjalan puluhan kilometer untuk menjual sayuran hasil pertaniannya, seperti daun ubi. Selama lima jam berjalan kaki, menyusuri lembah dan menyeberang kali, kemudian disambung dengan angkutan umum.<\/p>\n<p>Namun, ditengah perjalanan persiapan film documenter<em>Tanah Mama, <\/em>cerita berubah. Saat pulang dari Jakarta mengikuti pelatihan, Asrida tak menemukan Halusian di kampungnya. Ternyata, dia sedang terlilit\u00a0 masalah mencuri ubi di lahan milik adik iparnya. Sesuai hukum adat, Halusina harus membayar denda Rp 1 juta atau satu ekor babi. Sementara Hosea, sang suami Halusina mempunyai dia istri, tak peduli dengan nasip Halusina sebagai istri pertama. Akhirnya, dengan kondisi pas-pasam, Halusina pindah ke rumah adiknya di Kampung Anjelma, Yahukimo.<\/p>\n<p>Dalam film yang ditayangkan Cinema XXI bulan januari lalu digambarkan kehidupan sehari- hari Halusina bersama empat anaknya. Mereka tinggal di sebuah rumah beralas tanah yang dilapisi kain terpal. Di salah satu sisi rumah, mereka hidup bersama binatang pelihraan, babi.<\/p>\n<p>Asrida menceritakan, untuk membuat film documenter, diawali dengan riset selama tiga bulan. \u201c Setelah keadaan Mama Halusina beruba, saya berkonsultasi dengan mentor Ucu Agustin. Saya langsung diminta segera produksi filmnya,\u201d kata Asrida.<\/p>\n<p>Untuk pengambilan gambar, Asrida sebagai sutradara dibantu kemerawan Vera Lestafa dan Produser Lini Kiki Febriyanti. Selama sepuluh hari, Asrida berusaha membuat Halusina nyama ketika diikuti kamera kemanapun. Dari Sembilan kru film yang terlibat, hanya tiga oran yang mengikuti Halusnia.<\/p>\n<p>Salah satu kendala yang dihadapi adalah bahasa Wamena yang digunakan masyarakat. \u201c Saya dibantu banyak orang untuk menerjemahkan baasa Wamena. Untuk menerjemahkan dibutuhkan waktu satu bulan dan <em>editing <\/em>film satu bulan,\u201d ujar Asrida menceritakan film berdurasi 65 menit ini.<\/p>\n<p>Setelah film ini ditonton banyak orang, terutama masyarakat di luar Papua, Asrida menggantungkan banyak harapan. Solidaritas untuk masyrakat Papua, kehadiran pemerintah untuk memenuhi hak- hak dasar masyrakat, dan harapan generasi penerus Papua bisa hidup lebih baik. Semoga saja harapan demi harapan bisa terwujud di Bumi Cendrawasih.<\/p>\n<p><strong>Sumber:<\/strong> Kompas, Kamis, 12 Maret 2015<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dimulai dari jalan- jalan sampai jatuh cinta dengantanah papua. Itulah yang dialami Asrida Elisabeth yang pertama kali menginjakkan Bumi Cendrawasih untuk menjadi pekerja sosial. Setelah empat tahun berada di tengah masyarakat Papua, Asrida merasa masih banyak yang harus dilakukannya. Oleh: Susie Berindra Saat pertama kali menginjakkan kaki di Papua, Asrida tak pernah membayangkan akan tinggal&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8486,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-8485","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Asrida Elisabeth Mendokumentasikan Papua dengan Mata Hati - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Asrida Elisabeth Mendokumentasikan Papua dengan Mata Hati - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dimulai dari jalan- jalan sampai jatuh cinta dengantanah papua. Itulah yang dialami Asrida Elisabeth yang pertama kali menginjakkan Bumi Cendrawasih untuk menjadi pekerja sosial. Setelah empat tahun berada di tengah masyarakat Papua, Asrida merasa masih banyak yang harus dilakukannya. Oleh: Susie Berindra Saat pertama kali menginjakkan kaki di Papua, Asrida tak pernah membayangkan akan tinggal...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-07-17T06:04:04+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Mendokumentasikan-Papua-dengan-Mata-Hati.-Kompas.12-Maret-2015.Hal_.16-e1500271437573.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"604\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"339\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Asrida Elisabeth Mendokumentasikan Papua dengan Mata Hati\",\"datePublished\":\"2017-07-17T06:04:04+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\\\/\"},\"wordCount\":890,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Mendokumentasikan-Papua-dengan-Mata-Hati.-Kompas.12-Maret-2015.Hal_.16-e1500271437573.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\\\/\",\"name\":\"Asrida Elisabeth Mendokumentasikan Papua dengan Mata Hati - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Mendokumentasikan-Papua-dengan-Mata-Hati.-Kompas.12-Maret-2015.Hal_.16-e1500271437573.jpg\",\"datePublished\":\"2017-07-17T06:04:04+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:15+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Mendokumentasikan-Papua-dengan-Mata-Hati.-Kompas.12-Maret-2015.Hal_.16-e1500271437573.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Mendokumentasikan-Papua-dengan-Mata-Hati.-Kompas.12-Maret-2015.Hal_.16-e1500271437573.jpg\",\"width\":604,\"height\":339},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Asrida Elisabeth Mendokumentasikan Papua dengan Mata Hati\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Asrida Elisabeth Mendokumentasikan Papua dengan Mata Hati - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Asrida Elisabeth Mendokumentasikan Papua dengan Mata Hati - Library","og_description":"Dimulai dari jalan- jalan sampai jatuh cinta dengantanah papua. Itulah yang dialami Asrida Elisabeth yang pertama kali menginjakkan Bumi Cendrawasih untuk menjadi pekerja sosial. Setelah empat tahun berada di tengah masyarakat Papua, Asrida merasa masih banyak yang harus dilakukannya. Oleh: Susie Berindra Saat pertama kali menginjakkan kaki di Papua, Asrida tak pernah membayangkan akan tinggal...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-07-17T06:04:04+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:15+00:00","og_image":[{"width":604,"height":339,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Mendokumentasikan-Papua-dengan-Mata-Hati.-Kompas.12-Maret-2015.Hal_.16-e1500271437573.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Asrida Elisabeth Mendokumentasikan Papua dengan Mata Hati","datePublished":"2017-07-17T06:04:04+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/"},"wordCount":890,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Mendokumentasikan-Papua-dengan-Mata-Hati.-Kompas.12-Maret-2015.Hal_.16-e1500271437573.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/","name":"Asrida Elisabeth Mendokumentasikan Papua dengan Mata Hati - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Mendokumentasikan-Papua-dengan-Mata-Hati.-Kompas.12-Maret-2015.Hal_.16-e1500271437573.jpg","datePublished":"2017-07-17T06:04:04+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:15+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Mendokumentasikan-Papua-dengan-Mata-Hati.-Kompas.12-Maret-2015.Hal_.16-e1500271437573.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Mendokumentasikan-Papua-dengan-Mata-Hati.-Kompas.12-Maret-2015.Hal_.16-e1500271437573.jpg","width":604,"height":339},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/mendokumentasikan-papua-dengan-mata-hati\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Asrida Elisabeth Mendokumentasikan Papua dengan Mata Hati"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8485","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8485"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8485\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8787,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8485\/revisions\/8787"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8486"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8485"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8485"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8485"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}