{"id":8497,"date":"2017-07-17T13:12:21","date_gmt":"2017-07-17T06:12:21","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=8497"},"modified":"2025-05-01T12:37:15","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:15","slug":"pelestari-kue-keranjang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/pelestari-kue-keranjang\/","title":{"rendered":"Yap Cun Teh Pelestari Kue Keranjang"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/07\/Pelestari-Kue-Keranjang.-Kompas.17-Maret-2015.Hal_.16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-8498\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/07\/Pelestari-Kue-Keranjang.-Kompas.17-Maret-2015.Hal_.16.jpg\" alt=\"Pelestari Kue Keranjang. Kompas.17 Maret 2015.Hal.16\" width=\"820\" height=\"722\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>Usaha yang keras pasti akan membuahkan hasil yang manis. Prinsip itu disimbolkan dalam bentuk kue keranjang yang terlhat sederhana, tetapi membutuhkan kerja keras untuk membuanya. Kue keranjang hanya terdiri atas dua bahan, yaitu beras ketan dan gula. Namun, untuk mewujudkannya dibutuhkan kesabaran dan kerja keras. OLEH LARASWATI ARIADNE ANWAR<\/strong><\/p>\n<p>Prosesnya butuh waktu paling kurang lima hari. Beras ketan harus dilembutkan terlebih dahulu. Seteklah itu, diikuti pekerjaan membanting tulang mengaduk adonan yang menyerupai dodol tersebut agar kalis. Pekerjaan yang memeras keringat tersebut mengakibatkan semakin berkurangnya jumlah pembuat penganan khas Tionghoa ini.<\/p>\n<p>Salah satu pembuat kue keranjang yang masih bertahan hingga sekarang adalah Yap Cun the (64). Selama 31 tahun, Cun The telah membuat kue keranjang untuk menyambut Imlek atau pun Idul Fitri. Keahlian yang dipelajari dari ibunya itu pun diturunkan kepada anak dan cucunya. Dua kali didalam satu tahun, seluruh keluarga berkumpul untuk sama-sama bekerja membuat dan mengemas kue keranjang.<\/p>\n<p>Cun The mengenang ketika ia pertama kali memutuskan untuk menjual kue keranjang buatannya, yaitu pada tahun 1984. Tempat tinggal dia di Curug, Tangerang merupakan tempat bermukim salah satu komunitas Tionghoa tertua di Nusantara, yaitu Tionghoa Benteng. Komunitas ini memegang teguh adat-istiadat mereka. Oleh karena itu, kue keranjang merupakan makanan yang wajib ada ketika perayaan imlek tiba.<\/p>\n<p>\u201cDulu, semasa saya masih kecil, setiap keluarga membuat kue keranjang masing-masing.\u201d Cun Teh bercerita. Walaupun bahan dasar kue keranjang hanya dua, ia menerangkan bahwa setiap keluarga memiliki rasa khas masing-masing di kue keranjang mereka. Khusus untuk keluarga Yap, resep kue keranjang merupakan warisan turun-temurun dari pihak ibu.<\/p>\n<p>Pada masa itu, mayoritas warga Tionghoa Benteng bekerja sebagai petani. Mereka bercocok tanam, mulai dari padi hingga palawija. Cun Teh mengatakan, biasanya musim panen datang dua hingga tiga bula bulan sebelum Imlek, atau akrab disebut Sin Cia oleh para peranakan Tionghoa, sehingga mereka memiliki banyak waktu lowong untuk mempersiapkan hari istimewa tersebut.<\/p>\n<p>Anak-anak membantu orangtua mereka membersihkan rumah, menyusun altar untuk sembahyang, dan menghias rumah. Laki-laki dan perempuan semua terlibat didapur untuk membantu ibu memasak hidangan Sin Cia, termasuk membuat kue keranjang.<\/p>\n<p>Seiring perjalanan waktu, penduduk Tionghoa Benteng yang memilih sebagai petani berkurang. Generasi muda mendapat pendidikan yang lebih baik daripada orangtua mereka sehingga para pemuda memilih untuk membuka usaha sendiri ataupun menjadi pegawai di perusahaan.<\/p>\n<p>\u201cAwal tahun 1980-an terasa banget kalau kue keranjang semakin jarang dibuat. Saudara-saudara mulai meminta nenek saya agar dibuatkan kue kerangjang sejak dua hingga tiga minggu sebelum Sin Cia,\u201d kata Cun The. Ia pun membantu Nenek merendam beras ketan, menumbuknya, dan mengaduk adonan. Ternyata, setelah \u00a0kue-kue itu disebar ke sanak keluarga, para tetangga serta teman-teman saudara sepupu Cun The ikut tertarik memesan.<\/p>\n<p>TAHAN LAMA<\/p>\n<p>Pada tahun 1984, Cun the akhirnya memutuskan untuk benar-benar terjun ke bisnis kue keranjang. Pasalnya, ia menyayangkan semakin sedikit generasi seusianya yang mau melanjutkan tradisi tersebut. Padahal, kue keranjang memiliki makna filosofis yang mendalam.<\/p>\n<p>\u201cPrinsip kue keranjang adalah diantara langit dan bumi ada kesalahan, yaitu kehidupan. Makanya, hanya dengan menggunakan dua bahan sederhana bisa dihasilkan makanan yang enak.\u201d Ujanya.<\/p>\n<p>Kunci penting dalam pengolahan, proses yang memakan waktu dan tenaga manusia. Ini melambangkan keuletan seseorang untuk berusaha. Oelh karena itu, hasilnya pun tahan lama. Sebuah kue keranjang bisa tahan selama dua bulan tanpa perlu dimasukkan ke dalam lemari pendingin.<\/p>\n<p>Cun The mengatakan bahwa keluarganya, termasuk enam adik dan kakak, tidak keberatan dengan keputusannya berjualan kue keranjang. Pasalnya, pekerjaan Cun Teh adalah petani. Ia menanam sendiri beras ketan yang digunakan sebagai bahan baku kue keranjang tersebut. Dari sawahnya yang seluas 1 hektar, ia bisa memanen 3 ton beras ketan setiap panen. Jadi, dari segi produksi, ia relative tidak perlu memutar otak untuk mendapatkan bahan-bahan yang dibutuhkan.<\/p>\n<p>Setiap tahun, Cun The memanen beras ketan dua kali, yaitu sebelum Idul Fitri dan Sin Cia. Untuk Idul Fitri ia memasok kue keranjang ke toko-toko di Kota Tangerang. Sementara untuk Sin Cia, ia hanya menerima pesanan. Pesanan datang dari penjuru Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, hingga Serpong. Waktu pemesanan hanya sampai 15 hari sebelum Sin Cia. Waktu pemesanan ini penting sebab Cun The tidak mau membuat kue diluar kemampuannya sehingga hasilnya tidak maksimal. Kelima anaknya yang sudah mandiri dan berkeluarga pun rutin pulang untuk membantu ayah mereka membuat kue-kue pesanan.<\/p>\n<p>\u201cSetiap Sin Cia, kami membuat 5 ton kue keranjang dalam waktu pecan. Setiap hari 200-500 kue keranjang yang diproduksi,\u201d papar Chun Teh. Untuk itu, selain anak dan cucu, Cun teh juga mempekerjakan tenaga pembantu. Total, ada 16 orang yang berjibaku membuat kue keranjang di dapur rumah Cun Teh.<\/p>\n<p><strong>TRADISIONAL<\/strong><\/p>\n<p>Cara membuat kue keranjang yang dilakukan Cun Teh masih tidak berubah sejak dekade-dekade sebelumnya. Masih dimasak diatas tungku kayu bakar. Karena itu, api harus diatur dengan saksama. Proses menuang adonan ke cetakan pun dilakukan sendiri oleh Cun Teh. Ia mengungkapkan penunagan adonan ke cetakan pun dilakukan sendiri oleh Cun Teh. Ia mengungkapkan, penuangan adonan ke cetakan ini juga membutuhkan keahlian khusus. Kalau tidak, kuenya bisa bocor menggumpal.<\/p>\n<p>Menurut Cun The, ia tidak akan mengubah cara tersebut karena ia berprinsip setia kepada citarasa kue keranjang buatannya. Metode tersebutlah yang sesuai dengan makna kue keranjang bagi budaya Tionghoa di Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cKalau anak saya nanti meneruskan usaha, mereka ingat cara kuno ini yang bikin mereka semua bisa jadi sarjana\u201d katanya sambil terkekeh.<\/p>\n<p><strong>SUMBER : <\/strong>KOMPAS, SELASA, 17 MARET 2015<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Usaha yang keras pasti akan membuahkan hasil yang manis. Prinsip itu disimbolkan dalam bentuk kue keranjang yang terlhat sederhana, tetapi membutuhkan kerja keras untuk membuanya. Kue keranjang hanya terdiri atas dua bahan, yaitu beras ketan dan gula. Namun, untuk mewujudkannya dibutuhkan kesabaran dan kerja keras. OLEH LARASWATI ARIADNE ANWAR Prosesnya butuh waktu paling kurang lima&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8498,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-8497","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Yap Cun Teh Pelestari Kue Keranjang - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Yap Cun Teh Pelestari Kue Keranjang - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Usaha yang keras pasti akan membuahkan hasil yang manis. Prinsip itu disimbolkan dalam bentuk kue keranjang yang terlhat sederhana, tetapi membutuhkan kerja keras untuk membuanya. Kue keranjang hanya terdiri atas dua bahan, yaitu beras ketan dan gula. Namun, untuk mewujudkannya dibutuhkan kesabaran dan kerja keras. OLEH LARASWATI ARIADNE ANWAR Prosesnya butuh waktu paling kurang lima...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-07-17T06:12:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Pelestari-Kue-Keranjang.-Kompas.17-Maret-2015.Hal_.16-e1500271932849.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"916\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"502\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pelestari-kue-keranjang\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pelestari-kue-keranjang\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Yap Cun Teh Pelestari Kue Keranjang\",\"datePublished\":\"2017-07-17T06:12:21+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pelestari-kue-keranjang\\\/\"},\"wordCount\":854,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pelestari-kue-keranjang\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Pelestari-Kue-Keranjang.-Kompas.17-Maret-2015.Hal_.16-e1500271932849.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pelestari-kue-keranjang\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pelestari-kue-keranjang\\\/\",\"name\":\"Yap Cun Teh Pelestari Kue Keranjang - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pelestari-kue-keranjang\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pelestari-kue-keranjang\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Pelestari-Kue-Keranjang.-Kompas.17-Maret-2015.Hal_.16-e1500271932849.jpg\",\"datePublished\":\"2017-07-17T06:12:21+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:15+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pelestari-kue-keranjang\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pelestari-kue-keranjang\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pelestari-kue-keranjang\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Pelestari-Kue-Keranjang.-Kompas.17-Maret-2015.Hal_.16-e1500271932849.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Pelestari-Kue-Keranjang.-Kompas.17-Maret-2015.Hal_.16-e1500271932849.jpg\",\"width\":916,\"height\":502},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pelestari-kue-keranjang\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Yap Cun Teh Pelestari Kue Keranjang\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/en\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Yap Cun Teh Pelestari Kue Keranjang - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Yap Cun Teh Pelestari Kue Keranjang - Library","og_description":"Usaha yang keras pasti akan membuahkan hasil yang manis. Prinsip itu disimbolkan dalam bentuk kue keranjang yang terlhat sederhana, tetapi membutuhkan kerja keras untuk membuanya. Kue keranjang hanya terdiri atas dua bahan, yaitu beras ketan dan gula. Namun, untuk mewujudkannya dibutuhkan kesabaran dan kerja keras. OLEH LARASWATI ARIADNE ANWAR Prosesnya butuh waktu paling kurang lima...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-07-17T06:12:21+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:15+00:00","og_image":[{"width":916,"height":502,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Pelestari-Kue-Keranjang.-Kompas.17-Maret-2015.Hal_.16-e1500271932849.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"admin_library","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Yap Cun Teh Pelestari Kue Keranjang","datePublished":"2017-07-17T06:12:21+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/"},"wordCount":854,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Pelestari-Kue-Keranjang.-Kompas.17-Maret-2015.Hal_.16-e1500271932849.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/","name":"Yap Cun Teh Pelestari Kue Keranjang - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Pelestari-Kue-Keranjang.-Kompas.17-Maret-2015.Hal_.16-e1500271932849.jpg","datePublished":"2017-07-17T06:12:21+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:15+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Pelestari-Kue-Keranjang.-Kompas.17-Maret-2015.Hal_.16-e1500271932849.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Pelestari-Kue-Keranjang.-Kompas.17-Maret-2015.Hal_.16-e1500271932849.jpg","width":916,"height":502},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pelestari-kue-keranjang\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Yap Cun Teh Pelestari Kue Keranjang"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8497","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8497"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8497\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8602,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8497\/revisions\/8602"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8498"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8497"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8497"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8497"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}