Kepedihan atas banyaknya anak balita di kampungnya yang meninggal akibat diare, demam dan batuk membekas dalam ingatan dan hati yali ingibal (47). Penyakit penyakit sepele itu muncul hanya gara gara kebiasaan masyarakat buang air besar sembarangan. Namun, masyarakat seperti tak berdaya akibat sulitnya mengubah kebiasaan itu dan mahalnya biaya membangun jamban.

Sebelum 2013, masyarakat di kampong manda, distrik bugi, kabupaten jayawijaya, papua, tempat tinggal yali, biasa buang air besar sembarangan. Dikampung yang berjarak sekitar 1,5 jam berkendara dari wamena, ibu kota jayawijaya itu, warga bisa buang hajat di rerumputan halaman rumah, kebun bahkan di dalam rumah.

Kondisi di manda itu sebenarnya gambaran umum yang masih mudah ditemui di pedalaman pegunungan tengah papua. Rasa jijik, pentingnya kebersihan diri, dan lingkungan belum jadi kesadaran dan kebutuhan masyarakat. Selain buang air besar sembarangan, sulitnya air bersih membuat usai buang hajat biasanya dibersihkan dengan usapan rerumputan tanpa cuci tangan dengan air mengalir apalagi sabun. Belum lagi kotoran dari binatang peliharaan, terutama babi, yang umumnya dibiarkan berkeliaran disekitar rumah.

Wajar jika penyakit diare mudah menyebar dan menjadi pembunuh kedua terbesar anak anak papua setelah infeksi paru paru (pneumonia). “banyak anak meninggal hanya karena mencret dan demam,” kata yali,pertengahan juni lalu di manda. Kondisi itu mulai berubah saat manda jadi salah satu kampong binaan lembaga kemanusiaan wahana visi Indonesia (WVI). Saat itu coordinator program kesehatan WVI, dokter Chandra wijaya memicu rasa jijik warga dengan menempelkan kaki lalat palsu pada kotoran manusia dan memasukkannya ke gelas minuman. Ketika diminta meminum air itu, tak satupun warga mau. Dari situlah warga sadar mengapa harus buang air besar di jamban.

Masalahnya, belum ada jamban di manda. Untuk membangun jamban pun tidak lah murah. Harga semen di jayawijaya per zak bisa Rp 800.000- Rp 1 juta, sulit dijangkau masyarakat yang sebagian besar masih miskin. “masyarakat harus tunggu bupati kasih semen, baru bisa buat jamban,” tambah yali.

WVI pun menginisiasi dengan memberikan jamban model plengsengan dari besi. Selanjutnya, warga pun bergotong royong membangun wc (water closet) yang dindingnya dibuat dari berbagai bahan mulai dari anyaman rotan hingga lembaran bekas drum. Sementara tangki septiknya (septic tank) dibuat dengan menggali tanah yang ditutupi kayu dan tanah. Gas dari dalam tangki septik dialirkan memakai batang buah merah yang dilubangi tengahnya sebagai pengganti paralon.

Karena semen mahal, lantai kamar kecil masih dibiarkan dari tanah. Hingga tanpa sengaja, Chandra melihat bekas tungku pembakaran di dalam honai (rumah adat) yang mengeras seperti terbuat dari semen. Padahal, itu adalah abu sisa pembakaran yang disiram air agar apinya tidak merambat kemana mana. Dari situ, ide mengganti semen dengan abu muncul. Abu yang digunakan harus abu halus, tanpa ada sisa sisa kayu, batu atau tulang babi. Namun, agar abu itu bisa mengeras seperti semen bukan hal gampang. Beberapa kali yali mencoba mencampur abu itu dengan air, tetapi gagal.

Ternyata, abu itu akan lengket dan memberi hasil terbaik jika disiram air mendidih. “jika suhu air kurang dari 100 derajat celcius, lantai dari abu akan mudah retak,” katanya.

Yali menggunakan abu sebagai semen untuk melapisi lantai kamar kecil sejak 2015. Kini, dia sudah mengembangkannya dan menggunakan abu itu sebagai bahan pelembut jamban yang sudah diterapkan di sejumlah desa tetangga.

Denda

Meski sudah ada jamban, meminta warga yang terbiasa buang air besar sembarangan bukann perkara mudah. Tentangan dari warga pun muncul karena menganggap buang hajat di jamban bukan bagian dari budaya leluhur mereka.

Untuk meyakinkan masyarakat, yali mendekati kepala suku wulep kenelak karena perkataan kepala suku pasti akan dipatuhi masyarakat. Yali pun menceritakan pentingnya jamban dan manfaatnya bagi kesehatan anak anak dikampung mereka. Wulep pun sering diajak sosialisasi pentingnya buang hajat di jamban yang diselenggarakan WVI atau dinas kesehatan.

Akhirnya, kepala suku membuat aturan wajib buang hajat dijamban. Bagi yang melanggar, akan didenda yang disepakati sebesar Rp 300.000 setiap satu kali ditemukan kotoran manusia. Denda itu mengikat penduduk dan tamu dari kampong lain.

“sejak ditetapkan, hingga kini sudah ada empat orang yang kena denda,” katanya. Uang denda yang ada direncanakan untuk membeli semen, tetapi masih kurang. Dari sebuah jamban percontohan, jumlah jamban terus bertambah. Jika semula konsepnya adalah jamban umum untuk beberapa keluarga, kini setiap rumah di kampung manda dan kampung tetangganya, air garam, sudah punya jamban sendiri. Penyebabnya, jamban umum itu sering memicu pertengkaran antarkeluarga karena kemalasan sebagian orang membawa air atau meyiram kotorannya.

Kini, tak ada lagi anak balita di kedua kampung itu yang meninggal hanya gara gara diare, demam, atau batuk. “anak anak pun tampak lebih gemuk, tidak sekurus dulu, dan lebih segar,” kata yali. Bahkan, pada januari 2015, direktur jenderal pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan (sekarang dirjen pencegahan dan pengendalian penyakit) kementerian kesehatann M subuh meresmikan kampung manda dan air garam sebagai daerah bebas buang air besar sembarangan.

Kebersihan kampung manda dan air garam itu menarik warga kampung lain dan mereka pun ingin memiliki jamban. Alhasil, kini gerakan membangun jamban itu sudah berkembang ke sejumlah kampung dan distrik lain di jayawijaya. Hingga juni 2017, lanjut yali, sudah ada 243 jamban yang dibangun. Dengan dibantu anak ketiganya, nus inggibal, yali pun tak segan membantu pembangunan jamban tersebut secara percuma. “cukup dibuatkan air kopi dan gula saja,” katanya.

Namun, yali berharap ada bantuan kendaraan dari pemerintah daerah sehingga ia bisa lebih mudah dan lebih banyak membangun jamban di kampung kampung pegunungan tengah papua.

 

Sumber: Kompas, Senin 3 Juli 2017