
Persoalan petani di negeri agraris ini belum pernah dituntaskan. Begitu pandangan Yunita Triwardani Winarto yang meneliti kehidupan petani. Untuk itu, guru besar antropologi Universitas Indonesia setia mendampingi pahlawan pangan tersebut.
Abdullah Fikri Ashri
Akhir Januari lalu, sejumlah petani di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, “menahan” Yunita. la tidak diperbolehkan segera pulang. Padahal, tiket keretanya menuju Jakarta tinggal dua jam lagi. Dibonceng sepeda motor tua, Yunita menyanggupi ajakan ke rumah seorang petani.
Siang itu, di pinggir saluran irigasi teknis Desa Nunuk, Kecamatan Lelea, Yunita berdiskusi dengan petani yang beberapa tahun terakhir ia dampingi. Pagi harinya, ia menyiapkan materi yang terkait dengan petani dalam musyawarah Gerakan Petani Nusantara (GPN).
Nama doktor jebolan Australian 1National University ini memang tidak ada lagi di kalangan petani Indramayu. Kiprahnya pun demikian. Sa- lah satunya ia menginisiasi pembina Klub Pengukur Curah Hujan (KPCH) yang anggotanya terkenal di sejumlah desa di Indramayu, terma suk Desa Nunuk.
KPCH merupakan wadah bagi petani untuk membaca perubahan iklim beserta dampak ikutannya, seperti kemunculan hama. Dengan mengetahui curah hujan, misalnya, petani dapat menentukan waktu menanam.
Jangan sampai masa tanam dimulai saat hari-hari tanpa hujan sehingga sawah, apalagi tadah hujan, kekeringan. Laporan cuaca BMKG tidak cukup. Sebab, dalam satu kecamatan di Indramayu saja, curah hujan dan jenis tanahnya bisa berbeda.
KPCH Indramayu yang dibentuk sejak 2009 saat perubahan iklim tera sa. Pranata mangsa yang menjadi panduan petani menanam padi tidak lagi seirama dengan perubahan alam. Kemarau dan hujan tak lagi jelas.
Tani diajak mengukur curah hujan, “Yogyakarta. la didampingi seorang profesor meteorologi asal Belanda. Awálnya, ada 10 alat yang dioperasikan dengan harga sekitar 10 dollar AS per garis. Petani menamainya omplong, di kaleng. berapa kolom, seperti jumlah curah hujan, dampak pada tanah, dan hagus berdiskusi dengan petani Setiap iklim yang terkait dari Prof Sue Walker asal “Saat itu, tidak ada yang memberi tahu petani tentang iklim. Mulailah rekan kerja Yunita yang ikut sekolah lapang iklim di Gunung Kidul.
Alat yang digunakan kerahasiaan curah hujan adalah ombrometer. satuan. Belakangan, seorang petani membuat alat serupa dari bahan sederhana berbentuk silinder dan peng- seperti bunyi rintik hujan yang jatuh.
“Kini, alat itu terpasang di tengah sawah petani yang terkenal di 50 titik di Indramayu. Setidaknya 100 petani ikut belajar di KPCH,” katanya. Siapa pun bisa ikut KPCH. Gratis.
Saban pagi, antara pukul 07.00 dan 07.30, mereka ke sawah mengukur curah hujan. Hasil temuan di dalam buku besar yang terdiri atas musuh dan musuh alaminya.
Jika curah hujan tinggi, misalnya, hama padi adal alaminya adalah katak. Membasmi katak sama saja ledakan ledakan hama keong. Begitu petani mengartikan pengukuran curah hujan.
Seperti petani yang sabar mencatat, demikian juga Yunita. la kerap ke Indramayu untuk suku sekalikeong. Musuh bulan ia mengirimkan terjemahan pesan Afrika Selatan kepada petani Indramayu.
“Awalnya, sih, masih pusing karena harus mencatat setiap hari. Namun, pengaruh dari mengukur curah hujan luar biasa, “ujar Abbas Kartam (50), Yunita. Abbas kini menjadi rujukan petani asal Sukra, Indramayu, yang mendapatkan pendampingan dari bagi petani lokal untuk menentukan masa tanam.
Ini penting. Sebab, pemerintah menggencarkan tanam padi tiga kali, Padahal, intensifikasi tanam dapat ledakan ledakan hama dan penyakit. Persentuhan Yunita dengan pada 1984, untuk tesisnya, ia meneliti.
Bisa “dewek”
Persentuhan yunits dengan petani bukan terjadi kemarin sore, Wonogiri, Jawa Tengah, terhadap petani. Pada tahun 1990, Yunita kembali- dampak Bendung Gajah Mungkur, neliti cara petani mengendalikan hama di pantura Jabar.
Penelitian itu berlandaskan pertanyaan sederhana Yunita. Berulang kali menggunakan pestisida dan pupuk kimia, pengetahuan apa yang petani dapatkan? Bagaimana mereka menghadapi perubahan alam? pranata umumnya tidak tahu kandungan.
“Saya penasaran soal ini. Petani berisiko pestisida kimia. Namun, barang tersebut tetap digunakan,” ujar Yunita yang telah membuat lebih dari 30 penelitian, termasuk riset bersama lembaga internasional seperti FAO.
Menurut dia, sebagian besar petani asuransi pada pestisida dan pupuk dompet mereka. Petani menyebut pestisida dengan istilah “obat” kimia yang dapat menguras habis isi dahal, itu sebenarnya racun. Tidak hanya membunuh wereng, tetapi juga musuh alaminya. Akhirnya, ledakan hama terjadi.
Namun, Yunita tidak buru-buru menyalahkan seorang petani. Sebab, mereka hanya terjebak dalam sesat pikir soal pertanian yang terbangun sejak.
Pada saat bersamaan, varietas padi 1970-an saat penerapan Revolusi Hijau, ”ujarnya. lokal tersingkir. Petani perlahan-lahan menjadi “pasar” penjualan benih hingga pestisida. Yunita tidak lantas berhenti pada jalan-jalan. la ikut pada 1990an. Di sana, ia menemukan bebaskan diri dari candu pestisida.
Kisah tangguh petani asal Indramayu tersebut ia dokumenter yang mendampingi buku dan film dokumenter yang mendampingi sekolah pengawas hama terpadu (SLPHT) segelintir petani yang berhasil memdan memupuk kimia, tetapi melestarikan varietas lokal. judul Bisa Dewek: Kisah Perjuangan Petani Pemulia Tanaman di Indra- mayu (2011). Bisa dewek berarti diri sendiri. Aktor film itu juga petani.
“Waktu membuat film, ada tekanan dari pemerintah daerah kepada karyawan, tetapi kami tetap jalan,” ujar Yunita yang dibantu mahasiswanya dalam pembuatan film. Varietas padi lokal yang dikembangkan oleh petani tempat ancaman bagi perusahaan perbenihan. Padahal, jika varietas lokal hilang, pengetahuan petani turut lenyap.
Kini, varietas di sebagian besar petani hampir sama demi peningkatan produktivitas. Padahal, belum tentu cocok untuk semua daerah. Itu benar-benar pendapat Yunita, kearifan lokal, termasuk varietas lokal, menjadi jalan keluar untuk memanipulasi petani.
Ia juga mengkritik pemerintah yang menguasai abai soal itu. Pada 2012, ia bersama beberapa orang menemui Ketua Dewan Pertimbangan Presiden saat itu, Emil Salim. Mereka memaparkan hasil kajian di lapangan bahwa ledakan hama wereng sepanjang 2009-2011 salah satu penyebabnya adalah penggunaan pestisida berlebihan dan pemilihan varietas.
“Tidak pernah ada ancaman. Na- mun, dulu saya dilarang hadir dalam sebuah forum padahal sudah diundang,” ujarnya tersenyum.
Secara garis darah, anak ketiga dari tujuh bersaudara ini tidak punya hubungan dengan petani. “Kakek saya dulu pedagang beras. Bapak sayaneruskan usaha itu,” ujarnya. Kedua orangtuanya tidak mencicipi bangku kuliah karena harus bekerja.
Namun, berkat kegigihannya, Yu- nita mampu menjadi guru besar. Bahkan, ia menjadi ilmuwan pertama di Indonesia yang mendapatkan gelar akademi profesor dari Academy Professorship Indonesia (API) dan The Royal Netherlands Academy of Arts and Sciences (KNAW) pada 2010.
Lalu, mengapa di usia ke-67 tahun, ibu tiga anak ini tetap setia mendampingi petani? “Saya belajar dasar dari petani. Mereka sebenarnya adalah peneliti, pembelajar,” ucapnya.
Sumber: Kompas.22-Maret-2018.Hal_.16
