Kawasan Kya-Kya dalam dialek Tionghoa bisa diartikan jalan-jalan. Dia pintu masuk Jalan Kembang Jepun, terdapat dua gapura berdekorasi naga dan bertuliskan Kya-Kya. Tak hanya itu saja, di bagian kanan dan kiri gapura diletakkan dua patung singa.

MENURUT Ketua Surabaya Heritage Freddy H. Istanto, ini menjadi ikon penanda kawasan pecinan. Gapura besar nan kokoh yang didominasi warna merah, emas dan hijau ini memang bangunan khas negeri Tirai Bambu. Sedangkan di bagian atap gapura, terdapat dua patung ular naga yang seakan-akan sedang berjalan dari arah kanan kiri atap gapura ikut menambah kesan meyakinkan bahwa kita sedang berada di pecinan. “Jadi jalan ini kan memang sengaja dibuat seperti di Tiongkok. Di sana setiap memasuki kawasan tertentu pasti ada gapura seperti ini,” ujarnya kepada Radar Surabaya.

Sementara, di sebelah kanan-kiri gerbang juga terdapat patung kilin yang diibuat dari batu berwarna krem, bersiaga seakan-akan sedang berjaga. “Ini memang sepasang singa untuk menjaga kawasan,” jelasnya.

Gapura Kya-Kya dibuat pada bulan Mei tahun 2003 bertepatan dengan Hari Jadi Kota Surabaya. Freddy menuturkan gapura Kya-Kya diwujudkan atas prakarsa PT KYA-KYA bekerja sama dengan Pemerintah Kota Surabaya dalam rangka terciptanya pusat rekreasi di Kota Surabaya. “Jadi ini sumbangsih murni dari pihak swasta ke pemerintah kota, karena kami memakai sarana prasarana mereka. Jalan kembang Jepun ini juga yang mengaspal kami,” urainya.

Menurut Freddy, sebelumnya, gapura pintu masuk kawasan Kembang Jepun berada di posisi sepuluh meter sebelum posisi gapura saat ini. “Dulu di situ, tapi desainnya kurang lebih hampir sama dengan yang sekarang. Bentuknya standart tipikal gerbang masuk kawasan keramaian di Tiongkok,” katanya. (bersambung/nur)