{"id":10404,"date":"2017-10-20T12:58:25","date_gmt":"2017-10-20T05:58:25","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=10404"},"modified":"2025-05-01T10:57:26","modified_gmt":"2025-05-01T03:57:26","slug":"memperkuat-daerah-layak-investasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/","title":{"rendered":"Memperkuat Daerah Layak Investasi"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/10\/Tempo.Memperkuat-Daerah-layak-investasi.6-Agustus-2017.Hal-82-001-page-001__1508478828_36.73.160.149.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-extra_large wp-image-10405\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/10\/Tempo.Memperkuat-Daerah-layak-investasi.6-Agustus-2017.Hal-82-001-page-001__1508478828_36.73.160.149-1500x824.jpg\" alt=\"Tempo.Memperkuat Daerah layak investasi.6 Agustus 2017.Hal 82 001-page-001__1508478828_36.73.160.149\" width=\"1500\" height=\"824\" \/><\/a><\/p>\n<p>Semua ahli ekonomi sepakat investasi merupakan faktor kunci mendorong pertumbuhan ke tingkat yang lebih tinggi. Itulah yang di anut semua negara dalam pembangunan ekonomi, termasuk Indonesia. Tak mengherankan bila pemerintah menempuh berbagai cara agar investasi di Indonesia meningkat. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, listrik, dan energi, serta air bersih dikebut. Dwelling time pelauhan diusahakan hanya dua-tiga hari. Sistem perizinan diuat lebih epat dan murah. Kebijakan makroekonomi yang kredibel diambil guna memberikan keyakinan kepada investor.<\/p>\n<p>Di tingkat lokal, pemerintah daerah tampak berlomba menarik minat investor, dengan melakukan inovasi perizinan satu pintu , reformasi birokrasi, perbaikan regulasi investasi, dan pembangunan kawasan industri. Hasilnya, sejumlah kabupaten mulai dinilai ramah terhadap investor. Di antaranya Kabupaten Boyolali, Lamongan, Siak, dan Pinrang. Hal yang sama ditunjukkan di tingkat kota madya seperti Bitung, Parepare, dan Pekanbaru.<\/p>\n<p>Langkah pemerintah pusat dan daerah tersebut sedikitnya mulai memberihasil. Bank Dunia menilai peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia naik, dari 106 pada 2015 menjadi 91 pada 2016 dari total 193 negara yang berada di Asia \u2013 Pasifik.\u00a0 Sedangkan lembaga pemeringkat internasional S&amp;P Global Ratings menilai peringkat utang luar negeri jangka panjang Indonesia menjadi \u201cBBB-\u201c dari \u201cBB\u201d atau dikategorikan sebagai negara layak investasi.<\/p>\n<p>Meski pencapaian peringkat itu membanggakan, hal tersebut justru merupakan awal dari tugas berat selanjutnya. Pertama, jika di bandingkan dengan negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Brunei Darussalam, Indonesia belum mampu menyalip mereka. Kategori layak investasi yang diberikan oleh SAP masih menempatkan Indonesia di kisaran lower medium grade, jauh tertinggal dibanding beberapa negara ASEAN lainnya, seperti Malaysia (A+), Filipina (BBB), Thailand (BBB+), dan singapura (AAA). Kedua rating investasi yang dicapai baru memunculkan persepsi yang positif bagi investor. Untuk menarik minat investor sehingga penanaman modal benar \u2013 benar datang ke Indonesia dibutuhkan bukti nyata agar keamanan investasi investor terjamin. Tidak hanya balik modal, tapi juga harus menguntungkan.<\/p>\n<p>Lantas, strategi apa yang harus dilakukan pemerintah pusat dan pemerintah daerah ke depan dalam mengemban tugas berat tersebut? Yujiro Hayami (2001) dalam bukunya, Development Economics : Form the Poverty to the Wealth of Nations, menganalisis mengapa negara \u2013 negara Eropa memerlukan waktu begitu lama \u2013 sekitar 200 tahun \u2013 untuk menjadi negara maju, sementara Jepang hanya butuh waktu kurang dari 100 tahun. Korea, Hong Kong, Taiwan, dan Singapura hanya butuh sekitar 40 tahun menjadi new industrialized economies (NIE). Negara \u2013 negara Eropa harus menunggu ditemukannya teknologi mesin uap, yang mengawali terjadinya revolusi industri. Sedangkan NIE tinggal \u201cmendatangkan\u201d teknologi yang sudah ditemukan setelah revolusi industri di Eropa, dan itu hanya bisa dilakukan jika ada investasi.<\/p>\n<p>Merujuk pada Hayami (2001), eberhasilan Jepang dan NIE menarik investasi besar \u2013 besaran pada periode awal pembangunan tidak lepas dari strategi ekonomi yang mendorong terjadinya dialektika antara sub-sistem ekonomi dan cultural \u2013 institutional subsystem. Secara garis besar, subsistem ekonomi terdiri atas sumber daya (faktor produksi) dan teknologi. Adapun subsistem budaya dan kelembagaan terdiri atas sistem nilai (value system) yang menyangkut regulasi atau aturan main. Investasi yang menghadirkan teknologi baru akan masuk ke suatu wilayah saat wilayah tersebut mampu melakukan inovasi cultural-institutional terhadap aturan main.<\/p>\n<p>Sebaliknya, regulasi yang tidak jelas dan tidak konsisten akibat kurangnya inovasi kelembagaan akan membuat investor menjauh. Nilai \u2013 nilai yang tidak compatible dengan prinsip keadilan akan membuat investor berpikir dua kali. Inovasi cultural \u2013 institutional yang konsisten dan adil akan mendatangkan kepercayaan serta menambah jejaring yang kelak akan menarik investasi lebih besar. Inilah yang dilakukan Korea, Hong Kong, Taiwan, dan Singapura setelah Perang Dunia II. Ketika itu, level pendapatan per kapita mereka tidak jauh berbeda dengan negara \u2013 negara miskin saat ini.<\/p>\n<p>Karena itu, untuk meningkatkan rating kemudahan berinvestasi di Indonesia, inovasi cultural-institutional harus menjadi gerakan yang seirama antara pemerintah pusat dan daerah. Beberapa hal yang segera dilakukan adalah petama, pemerintah pusat dan daerah harus terus \u2013 menerus melakukan inovasi aturan main yang terintegrasi, konsisten, serta menjami rasa keadilan bagi pelaku usaha. Keluarnya Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2016 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Gambut salah satu contoh yang mencerminkan tidak adanya inovasi kelembagaan. Peraturan ini ditengarai akan memukul industri elapa sawit dan kertas. Lebih dari 30 persen luas lahan usaha kelapa sawit dan hutan tanaman industri yang berbeda di atas lahan gambut harus di konversi menjadi kawasan lindung sebagai dampak dari peraturan tersebut. Aturan ini tidak ahnya berperngaruh negatif terhadap iklim investasi di daerah, tapi juga membuat investor yang telah dan akan berinvestasi menarik diri. Aspek lingkungan \u2013 kebakaran hutan, banjir, dan emisi CO2 \u2013 yang menjadi dasar keluarnya aturan tersebut memang penting. Namun sejatinya inovasi regulasi masih bisa dilakukan. Salah satunya mewajibkan pelaku usaha menerapkan teknologi lahan gambut ramah lingkungan dengan melibatkan pemerintah daerah. Walhasil, aspek lingkungan hidup dapat dicapai tanpa harus mengganggu industri sawit, pulp, dan kertas.<\/p>\n<p>Kedua, penguatan dan inovasi regulasi perizinan di pusat dan daerah. Inovasi Pelayanan Terpadu Satu Pintu di Bidang Penanaman Modal terus diperuat dan diperluas ke daerah \u2013 daerah lain, terutama daerah yang punya potensi sumber daya alam dan ekowisata yang bisa menarik minat investor.<\/p>\n<p>Ketiga, inovasi pengaturan pajak, baik pajak pemerintah pusat maupun daerah. Salah satu contohnya mengenai pengenaan cukai CO2 kendaraan untuk mencapai target pengurangan emisi gas rumah kaca pada 2030 sebesar 29 persen. Aturan ini janghan sampai membuat pelaku usaha otomotif mengalihkan pabriknya ke negara lain. Ruang inovasi kebijakan penurunan emisi CO2 masih sangat terbuka. Misalnya, mendorong pelaku usaha otomotif menerapkan teknologi moil hybrid. Adapun mobil \u2013 mobil konvensional yang mengeluarkan CO2 sangat besar diberi waktu untuk mengganti teknologi ke mobil hybrid yang lebih ramah lingkungan sampai investasi produk mobil konvensional yang ada saat ini habis, misalnya dua-tiga tahun kedepan. Setelah itu, setiap mobil konvensional yang terjual dikenai cukai CO2 sehingga harga jual mobil hybrid bisa sama atau lebih murah dari mobil konvensional. Kebijakan ini tidak ahnya mampu menurunkan emisi CO2 secara signifikan, tapi juga tetap ramah trhadap investasi di sektor otomotif karena mobil hybrid yang ramah lingkungan akan berkembang pasarnya.<\/p>\n<p>Demikian halnya dengan pemerintah daerah. Paradigma baru harus digunakan untuk inovasi pengaturan pajak dan retribusi daerah. Paradigma daerah harus bisa memperbesar kue ekonomi dengan menarik investasi. Jika kue ekonomi daerah membesar, pendapatan daerah akan naik dengan sendirinya tanpa harus mengenakan paja dan retribusi baru.<\/p>\n<p>Keempat, perlu adanya pemetaan investasi menuju spesialisasi perekonomian daerah yang komplementer antara satu daerah dan daerah lainnya. Kompetisi antar daerah dalam menarik investasi memang penting. Namun ekonomi wilayah yang saling melengkapi melengkapi, terutama dalam satu provinsi, akan membuat perekonomian daerah jauh lebih efisien. Misalnya, investasi daerah yang memunyai potensi menjadi pemasok bahan baku industri pertanian diarahkan untuk agro industri. Sedangkan daerah yang memiliki potensi wisata di kembangkan bagi industri kreatif. Walhasil, perekonomian wilayah dalam satu provinsi atau dengan provinsi terdekat bisa saling melengkapi, bai dari sisi sektoral maupun regional.<\/p>\n<p>Empat usul di atas di harapkan menimbulkan kepercayaan dan menambah jaringan yang akan menarik investasi lebih besar ke berbagai daerah pada masa mendatang. Akibatnya, terjadi penguatan dan perluasan terhadap daerah layak investasi di Indonesia.<\/p>\n<p>Sumber : Tempo. 6 Agustus 2017. Hal. 82<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Semua ahli ekonomi sepakat investasi merupakan faktor kunci mendorong pertumbuhan ke tingkat yang lebih tinggi. Itulah yang di anut semua negara dalam pembangunan ekonomi, termasuk Indonesia. Tak mengherankan bila pemerintah menempuh berbagai cara agar investasi di Indonesia meningkat. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, listrik, dan energi, serta air bersih dikebut. Dwelling time pelauhan diusahakan hanya&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10405,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-10404","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Memperkuat Daerah Layak Investasi - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Memperkuat Daerah Layak Investasi - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Semua ahli ekonomi sepakat investasi merupakan faktor kunci mendorong pertumbuhan ke tingkat yang lebih tinggi. Itulah yang di anut semua negara dalam pembangunan ekonomi, termasuk Indonesia. Tak mengherankan bila pemerintah menempuh berbagai cara agar investasi di Indonesia meningkat. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, listrik, dan energi, serta air bersih dikebut. Dwelling time pelauhan diusahakan hanya...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-10-20T05:58:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T03:57:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Tempo.Memperkuat-Daerah-layak-investasi.6-Agustus-2017.Hal-82-001-page-001__1508478828_36.73.160.149-e1508479054178.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"331\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"370\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/memperkuat-daerah-layak-investasi\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/memperkuat-daerah-layak-investasi\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Memperkuat Daerah Layak Investasi\",\"datePublished\":\"2017-10-20T05:58:25+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T03:57:26+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/memperkuat-daerah-layak-investasi\\\/\"},\"wordCount\":1101,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/memperkuat-daerah-layak-investasi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/Tempo.Memperkuat-Daerah-layak-investasi.6-Agustus-2017.Hal-82-001-page-001__1508478828_36.73.160.149-e1508479054178.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/memperkuat-daerah-layak-investasi\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/memperkuat-daerah-layak-investasi\\\/\",\"name\":\"Memperkuat Daerah Layak Investasi - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/memperkuat-daerah-layak-investasi\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/memperkuat-daerah-layak-investasi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/Tempo.Memperkuat-Daerah-layak-investasi.6-Agustus-2017.Hal-82-001-page-001__1508478828_36.73.160.149-e1508479054178.jpg\",\"datePublished\":\"2017-10-20T05:58:25+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T03:57:26+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/memperkuat-daerah-layak-investasi\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/memperkuat-daerah-layak-investasi\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/memperkuat-daerah-layak-investasi\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/Tempo.Memperkuat-Daerah-layak-investasi.6-Agustus-2017.Hal-82-001-page-001__1508478828_36.73.160.149-e1508479054178.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/Tempo.Memperkuat-Daerah-layak-investasi.6-Agustus-2017.Hal-82-001-page-001__1508478828_36.73.160.149-e1508479054178.jpg\",\"width\":331,\"height\":370},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/memperkuat-daerah-layak-investasi\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Memperkuat Daerah Layak Investasi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Memperkuat Daerah Layak Investasi - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Memperkuat Daerah Layak Investasi - Library","og_description":"Semua ahli ekonomi sepakat investasi merupakan faktor kunci mendorong pertumbuhan ke tingkat yang lebih tinggi. Itulah yang di anut semua negara dalam pembangunan ekonomi, termasuk Indonesia. Tak mengherankan bila pemerintah menempuh berbagai cara agar investasi di Indonesia meningkat. Pembangunan infrastruktur seperti jalan, pelabuhan, listrik, dan energi, serta air bersih dikebut. Dwelling time pelauhan diusahakan hanya...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-10-20T05:58:25+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T03:57:26+00:00","og_image":[{"width":331,"height":370,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Tempo.Memperkuat-Daerah-layak-investasi.6-Agustus-2017.Hal-82-001-page-001__1508478828_36.73.160.149-e1508479054178.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Memperkuat Daerah Layak Investasi","datePublished":"2017-10-20T05:58:25+00:00","dateModified":"2025-05-01T03:57:26+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/"},"wordCount":1101,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Tempo.Memperkuat-Daerah-layak-investasi.6-Agustus-2017.Hal-82-001-page-001__1508478828_36.73.160.149-e1508479054178.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/","name":"Memperkuat Daerah Layak Investasi - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Tempo.Memperkuat-Daerah-layak-investasi.6-Agustus-2017.Hal-82-001-page-001__1508478828_36.73.160.149-e1508479054178.jpg","datePublished":"2017-10-20T05:58:25+00:00","dateModified":"2025-05-01T03:57:26+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Tempo.Memperkuat-Daerah-layak-investasi.6-Agustus-2017.Hal-82-001-page-001__1508478828_36.73.160.149-e1508479054178.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Tempo.Memperkuat-Daerah-layak-investasi.6-Agustus-2017.Hal-82-001-page-001__1508478828_36.73.160.149-e1508479054178.jpg","width":331,"height":370},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/memperkuat-daerah-layak-investasi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Memperkuat Daerah Layak Investasi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10404","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10404"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10404\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17507,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10404\/revisions\/17507"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10405"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10404"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10404"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10404"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}