{"id":10513,"date":"2017-10-20T14:46:50","date_gmt":"2017-10-20T07:46:50","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=10513"},"modified":"2025-05-01T13:13:26","modified_gmt":"2025-05-01T06:13:26","slug":"kesantunan-di-media-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/","title":{"rendered":"Kesantunan di Media Sosial"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/10\/Kesantunan-di-Media-Sosial.-Kompas.-24-Agustus-2017.-Hal.7-001-page-001.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-extra_large wp-image-10514\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/10\/Kesantunan-di-Media-Sosial.-Kompas.-24-Agustus-2017.-Hal.7-001-page-001-1229x1500.jpg\" alt=\"Kesantunan di Media Sosial. Kompas. 24 Agustus 2017. Hal.7 001-page-001\" width=\"1229\" height=\"1500\" \/><\/a><\/p>\n<p>Jumlah orang yang bermasalah dengan media sosial terus bertambah. Selain dari segi jumlah, intensitas masalah di media sosial juga terus berubah. Ada yang bermasalah dengan sesama pengguna media sosial lain, ada yang bermasalah dengan orang terdekat, bahkan tidak sedikit orang yang bermasalah dengan hukum.<\/p>\n<p>Ini sebuah realitas yang memprihatinkan. Dunia baru bernama media sosial alih-alih semakin membuat penggunanya komunikatif, justru membuat penggunanya semakin sering terlibat konflik. Padahal, konflik adalah gejala yang menandai kegagalan komunikasi. Bill Gates mengatakan, <em>the world in just the finger<\/em>. Sekarang, konflik pun sering kali bermula dari ujung jari.<\/p>\n<p>Dari luar, persoalan ini tampak sederhana, yakni kegagapan anak-anak muda menghadapi teknologi baru. Akan tetapi, jika ditelusuri lebih jauh, ada persoalan cukup rumit yang melibatkan distribusi pengetahuan, perubahan nilai, dan pembentukan kultur baru dalam masyarakat.<\/p>\n<p>Persoalan-persoalan inilah yang membuat media sosial jadi perhatian banyak pihak. Presiden Joko Widodo sendiri sering menyampaikan imbauan agar berhati-hati menggunakan media sosial. Peringatan yang sama disampaikan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohammad nasir dalam pidato resmi Peringatan Ke-72 Kemerdekaan RI yang dibacakan oleh semua rektor perguruan tinggi negeri di Indonesia. Ia mengimbau mahasiswa agar berhati-hati menggunakan media sosial.<\/p>\n<p>Benarkah persoalan media sosial sudah berkembang demikian membahayakan? Teknologi adalah produk tradisi di komunitas penciptanya dan melahirkan tradisi baru di komunitas yang menerimanya. Di komunitas penciptanya, teknologi lahir beserta perangkat pengetahuan yang menyertainya. Karena itulah, komunitas pencipta paham betul batas-batas penggunaannya. Para perancang teknologi tak ubahnya seperti Doraemon yang tahu persis cara menggunakan berbagai perkakas dari kantong ajaibnya secara proporsional.<\/p>\n<p>Di komunitas penerimanya, teknologi itu sering kali diterima semata-mata sebagai produk jadi. Nilai-nillai yang menyertainya ditinggalkan. Pengguna teknologi itu tidak menerima pesan itu sebagai produk yang telah dan sedang berproses. Perangkat nilai dan pengetahuan yang menyertainya ditinggalkan begitu saja. Akibatnya, komunitas pengguna sering kali gagal paham batas etis penggunaan teknologi itu. Mereka bersikap seperti Nobita yang karena ketidaktahuan dan kecerobohannya mengeksploitasi alat-alat dari kantong ajaib sesuka hatinya.<\/p>\n<p>Internet membuat produk teknologi informasi bisa didistribusikan dalam hitungan detik melalui <em>marketplace<\/em>. Produk itu dapat terpasang di gawai dalam hitungan detik pula. Akan tetapi, untuk \u201cmemasang\u201d pengetahuan dan nilai tentang teknologi tersebut diperlukan beberapa pekan, bulan, atau bahkan tahun. Di sinilah terjadi ketumpangtindihan. Kecanggihan teknologi menyalip jauh kecerdasan dan kearifan penggunanya.<\/p>\n<p><strong>Tindakan berbahasa<\/strong><\/p>\n<p>Catatan menunjukkan, sebagian besar persoalan yang mucul di media sosial berkaitan dengan Bahasa. Variasinya cukup banyak dan akan terus bertambah, antara lain berupa penghinaan, fitnah, penghasutan, dan ujaran kebencian. Keempatnya menjadi semcam lubang tak tampak yang siap membuat pengguna media sosial mana pun terperosok.<\/p>\n<p>Meskipun berformat tulisan (simbol grafis), tradisi bertutur di media sosial sejatinya adalah tradisi lisan. Tulisan yang lahir di media sosial lebih menyerupai obrolan, rumpian, atau gunjingan yang lahir spontan. Karakter tulisan di media sosial berbeda dengan tulisan yang lahir pada era sebelumnya. Sebelum era media sosial, tulisan adalah buah piker yang dikerjakan secara serius. Di media sosial, orang menulis, tetapi pada dasarnya berbicara sesuka hati (Betawi: <em>nyablak<\/em>).<\/p>\n<p>Pada satu sisi, spontanitas berbahasa di media sosial selevel dengan gossip, tetapi di sisi lain konsekuensi sosial dan hukumnya seketat dan seberat Bahasa tulis. Pembicaraan di media sosial ditulis tanpa proses berpikir Panjang, tetapi karena wujudnya tulisan dapat didokumentasikan dan dibaca ribuan orang seketika. Paduan ganjil inilah yang melahirkan masalah serius dalam komunikasi di media sosial.<\/p>\n<p>Perbincangan lisan memiliki kelemahan yang sekaligus keunggulan karena jangkauannya terbatas. Keterbatasan ini membuat perbincangan sangat personal, memiliki konteks yang sangat spesifik, dengan pendengar yang relative homogen. Media sosial memiliki keunggulan yang sekaligus menjadi kelemahannya. Jangkauan tanpa batas membuat keintiman hilang, konteksnya jadi tidak jelas, dan bisa dijangkau oleh pembaca mana pun dengan latar belakang dan tujuan sangat beragam.<\/p>\n<p>Beberapa decade sebelum kelahiran media sosial, filsuf John Searle (1969) telah mengingatkan bahw abahasa adalah sebuah tindakan. Ketika seseorang memproduksi tuturan tertentu, pada dasarnya ia melakukan tindakan lain. Karena itulah, setiap tindakan Bahasa melahirkan rangkaian akibat yang lebih dari sekedar tindakan berbahasa. Pada konteks media sosial, akibat itu bisa bersifat massif dan simultan.<\/p>\n<p>Dengan cara kerja demikian, pengguna media sosial tidak bisa lagi berlindung pada argumentasi konvensional. Misalnya, \u201csekadar curhat\u201d, \u201chanya nyetus\u201d, atau \u201cbebas berpendapat\u201d. Tindakan berbahasa yang \u201chanya\u201d dan \u201csekadar\u201d itu memiliki dampak yang kerap kali di luar kendali penulisnya. Kesalahpahaman, kebencian, ketegangan sosial, dan konflik yang lahir akibat komunikasi di media sosial tidak bisa diabaikan oleh argumentasi \u201chanya\u201d dan atau \u201csekadar\u201d tadi.<\/p>\n<p><strong>Prinsip kesantunan<\/strong><\/p>\n<p>Dalam penggunaan media sosial dewasa ini, ada perbedaan kontras antara pengguna berusia muda dan pengguna dewasa. Pengguna muda memiliki penguasaan teknis yang berkali-kali lipat lebih baik. Sebagai <em>digital native<\/em> mereka memiliki keterampilan teknis yang mengagumkan, tetapi tidak diiringi refleksi nilai yang memadai. Orang dewasa cenderung berkebalikan: gagap secara teknis, tetapi memiliki refleksi yang mendalam.<\/p>\n<p>Kondisi inilah yang perlu diantisipasi dengan memperkenalkan nilai-nilai kepada pengguna media sosial pemula. Salah satunya adalah memperkenalkan kesantunan sebagai nilai yang tak terpisahkan dalam komunikasi.<\/p>\n<p>Linguis berkebangsaan Inggris, Geofrey Leech (1983), merinci ada enam unsur kesantunan: kebijaksanaan; kedermawanan; kerendahhatian; penghargaan; kesetujuan; dan simpati. Dari enam prinsip itu, bisa diturunkan tiga panduan sederhana untuk menghindari konflik di media sosial. Pertama, utamakanlah memberi keuntungan kepada orang lain, baru keuntungan diri sendiri. Kedua, berilah apresiasi gagasan dan tindakan orang lain, hindari mengapresiasi diri sendiri. Ketiga, berusahalah merasakan hal yang dirasakan orang lain, hindari menjustifikasi.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Fathur Rokhman<\/p>\n<p>Rektor Universitas Negeri Semaran; Profesor Sosiolinguistik<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber: Kompas.24 Agustus 2017.Hal.7<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jumlah orang yang bermasalah dengan media sosial terus bertambah. Selain dari segi jumlah, intensitas masalah di media sosial juga terus berubah. Ada yang bermasalah dengan sesama pengguna media sosial lain, ada yang bermasalah dengan orang terdekat, bahkan tidak sedikit orang yang bermasalah dengan hukum. Ini sebuah realitas yang memprihatinkan. Dunia baru bernama media sosial alih-alih&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10514,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-10513","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kesantunan di Media Sosial - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kesantunan di Media Sosial - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Jumlah orang yang bermasalah dengan media sosial terus bertambah. Selain dari segi jumlah, intensitas masalah di media sosial juga terus berubah. Ada yang bermasalah dengan sesama pengguna media sosial lain, ada yang bermasalah dengan orang terdekat, bahkan tidak sedikit orang yang bermasalah dengan hukum. Ini sebuah realitas yang memprihatinkan. Dunia baru bernama media sosial alih-alih...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-10-20T07:46:50+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T06:13:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Kesantunan-di-Media-Sosial.-Kompas.-24-Agustus-2017.-Hal.7-001-page-001-e1508485589327.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1344\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"157\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kesantunan-di-media-sosial\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kesantunan-di-media-sosial\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Kesantunan di Media Sosial\",\"datePublished\":\"2017-10-20T07:46:50+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T06:13:26+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kesantunan-di-media-sosial\\\/\"},\"wordCount\":868,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kesantunan-di-media-sosial\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/Kesantunan-di-Media-Sosial.-Kompas.-24-Agustus-2017.-Hal.7-001-page-001-e1508485589327.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kesantunan-di-media-sosial\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kesantunan-di-media-sosial\\\/\",\"name\":\"Kesantunan di Media Sosial - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kesantunan-di-media-sosial\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kesantunan-di-media-sosial\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/Kesantunan-di-Media-Sosial.-Kompas.-24-Agustus-2017.-Hal.7-001-page-001-e1508485589327.jpg\",\"datePublished\":\"2017-10-20T07:46:50+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T06:13:26+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kesantunan-di-media-sosial\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kesantunan-di-media-sosial\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kesantunan-di-media-sosial\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/Kesantunan-di-Media-Sosial.-Kompas.-24-Agustus-2017.-Hal.7-001-page-001-e1508485589327.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/10\\\/Kesantunan-di-Media-Sosial.-Kompas.-24-Agustus-2017.-Hal.7-001-page-001-e1508485589327.jpg\",\"width\":1344,\"height\":157},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kesantunan-di-media-sosial\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kesantunan di Media Sosial\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kesantunan di Media Sosial - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kesantunan di Media Sosial - Library","og_description":"Jumlah orang yang bermasalah dengan media sosial terus bertambah. Selain dari segi jumlah, intensitas masalah di media sosial juga terus berubah. Ada yang bermasalah dengan sesama pengguna media sosial lain, ada yang bermasalah dengan orang terdekat, bahkan tidak sedikit orang yang bermasalah dengan hukum. Ini sebuah realitas yang memprihatinkan. Dunia baru bernama media sosial alih-alih...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-10-20T07:46:50+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T06:13:26+00:00","og_image":[{"width":1344,"height":157,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Kesantunan-di-Media-Sosial.-Kompas.-24-Agustus-2017.-Hal.7-001-page-001-e1508485589327.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Kesantunan di Media Sosial","datePublished":"2017-10-20T07:46:50+00:00","dateModified":"2025-05-01T06:13:26+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/"},"wordCount":868,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Kesantunan-di-Media-Sosial.-Kompas.-24-Agustus-2017.-Hal.7-001-page-001-e1508485589327.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/","name":"Kesantunan di Media Sosial - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Kesantunan-di-Media-Sosial.-Kompas.-24-Agustus-2017.-Hal.7-001-page-001-e1508485589327.jpg","datePublished":"2017-10-20T07:46:50+00:00","dateModified":"2025-05-01T06:13:26+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Kesantunan-di-Media-Sosial.-Kompas.-24-Agustus-2017.-Hal.7-001-page-001-e1508485589327.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/10\/Kesantunan-di-Media-Sosial.-Kompas.-24-Agustus-2017.-Hal.7-001-page-001-e1508485589327.jpg","width":1344,"height":157},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kesantunan-di-media-sosial\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kesantunan di Media Sosial"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10513","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10513"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10513\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15077,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10513\/revisions\/15077"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10514"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10513"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10513"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10513"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}