{"id":11569,"date":"2018-01-23T13:42:14","date_gmt":"2018-01-23T06:42:14","guid":{"rendered":"https:\/\/library.uc.ac.id\/?p=11569"},"modified":"2025-05-01T12:37:12","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:12","slug":"lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/","title":{"rendered":"Lukito_Memuliakan Lada di Tanah Rantau. Kompas 19 Juli 2017. Hal 16"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-extra_large wp-image-11570\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16.-1500x1225.jpg\" alt=\"\" width=\"1500\" height=\"1225\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16.-1500x1225.jpg 1500w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16.-300x245.jpg 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16.-768x627.jpg 768w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16.-1030x841.jpg 1030w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16.-705x576.jpg 705w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16.-450x368.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 1500px) 100vw, 1500px\" \/><\/p>\n<p>Kebutuhan ekonomi memaksanya hijrah merantau ke pulau andalas. Awalnya dia tak punya apa apa selain badan dan kemauan. Namun, berkat keuletannya, lukito (59) tumbuh berkembang menjadi \u201cduta\u201d lada di panggung nasional dan internasional.<\/p>\n<p>Tepat ketika suhu politik di pulau jawa memanas padah 1965, lukito bersama adik kakak dan ayahnya berangkat mengadu nasib ke lampung karena desakan kebutuhan ekonomi keputusan berat itu harus meereka jalani. Apalagi di daerah asal mereka di brebes, jateng, lukito dan keluarganya tidak memiliki lahan persawahan yang bisa menopang kebutuhan hidup sehari hari. Dilampung, lukito sekekluarga bergabung dengan para pendatang lainnya membuka lahan lahan perkebunan baru milik warga setempat di desa sukadana baru, kecmaatan margatiga, kabupaten lampung timur, lampung. Pekerjaan merintis daerah perkebunan baru sangat berat karena proses pembukaan lahan hutan butuh waktu lama.<\/p>\n<p>\u201cdi awal merantau, hidup kami sangat susah. Kami harus benar benar menghemat agar bisa bertahan,\u201d ujar bapak dua anak yang mengenyam pendidikan sekolah dasar ini. Meski demikian, perjuangan berat itu tak sia sia karena dengan system bagi hasil, para penggarap lahan seperti lukito pada saat itu bisa mendapatkan jatah separuh hasil panen dan tanah. Tahun 1975, sepuluh tahun setelah merantau, kerja keras lukito membuahkan hasil berupa tanah seluas 1 hektar yang kemudian ia tanami lada dan kopi.<\/p>\n<p>Memasuki tahun 1980, lukito memberanikan diri menyewa lahan tambahan seluas setengah hektar untuk ditanami lada . ketekunannya bercocok tanam lada membuahkan hasil panen yang luar biasa. Tak ayal, tanah itu pun langsung ia beli.<\/p>\n<p>Begitu seterusnya, pada 1984 lukito kembali memperluas tanah garapan dengan membeli tanah juga tahun 1988 tahun 1992 dan 2015. Sampai saat ini, total luas lahan perkebunan milik lukito adalah 6 hektar dan hamper seluruhnya ditanami lada. Selain bisa membeli tanah, berkat lada, lukito juga bisa membangun rumah, ia membeli sepeda motor dan mobil dan bahkan beangkat ke tanah suci menunaikan ibadah haji pada 2008 dan 2011, ia berencana akan kembali berangkat menunaikan ibadah haji ketiga kalinya bersama istri dan mertuanya.<\/p>\n<p>Dalam setahun, kebun lada milik lukito seluas 6 hektar bisa menghasilkan 5-6 ton per hector. Pada musim yang bagus, hasil panen bisa menyentuh 7 ton. Saat ini harga lada lampung yang sudah dikeringkan menjadi lada hitam mencapai 70.000 per kilogram.<\/p>\n<p>Bentuk kelompok<\/p>\n<p>Desa sukadana baru tempat lukito tinggal, merupakan salah satu sentra utama penghasil lada hitam lampung. Disana, setidaknya ada sekitar 500 hektar perkebunan lada. Ketekunan lukito merawat tanaman lada selama puluhan tahun membuat dirinya paham benar risiko membudidayakan tanaman semusim itu. Lada hanya berbuah sekali selama setahun. Oleh karena itu, tanaman lada harus dirawat dengan baik agar tidak terserang penyakit. Tahun 2003, lukito berinisiatif membentuk kelompok tani yang beranggotakan 20 petani lada itu dibentuk sebagai wadah untuk berkomunikasi dan berbagi informasi tentang cara budi daya lada.<\/p>\n<p>Lukito dan para petani di desa itu telah mampu mengembangkan bibit lada secara mandiri. Selain menggunakan bibit itu untuk peremajaan lada dikebunnya, mereka juga menjual bibit lada pada petani ditempat lain. Pesanan bibit lada tidak hanya datang dari luar kabupaten, tetapi juga luar provinsi. Selain mempertahankan bibit unggul, para petani juga bertahan menggunakan pupuk kandang, penggunaan pupuk kandang serta perawatan intensif terbukti efektif menekan serangan penyakit pada tanaman lada.<\/p>\n<p>Lewat kelompok tani itu, para petani juga bertukar informasi terkait perkembangan harga lada setiap hari. Denngna berkelompok, petani lada di desa mempunyai daya saing yang lebih tinggi didepan pengepul. Mereka tidak mudah terjebak menjual lada dengan harga rendah yang ditawarkn para pengkulak.<\/p>\n<p>Jadi rujukan<\/p>\n<p>Kesuksesan lukito merawat tanaman lada dan memberdayakan kelompok tani membuatnya menjadi rujukan para petani lada dari daerah lain. Dia juga kerap mendapat kunjungan peneliti, pengusaha dan mahasiswa yang ingin mengetahui cara cara budidaya tanaman lada. Mereka yang datang tidak hanya dari dalam negeri tetapi juga luar negeri. Selama ini, lukito selalu terbuka kepda siapa saja yang ingin belajar tentang budidaya lada. Namun, dia mengaku was was saat mendapat kunjungan dari peneliti atau petani Negara lain. Ia khawatir mereka yang datang hanya ingin mencuri ilmu budi daya lada dari petani Indonesia. Karena itu, lukito agak berhati hati saat menerima kunjungan orang asing.<\/p>\n<p>Ketekunan lukito merawaat lada telah membuktikan, para petani juga bisa meraih kesejahteraan dari berbagai cocok tanam. Didesanya, ia menjadi sosok panutan yang disegani. Atas kesuksesannya membudidayakan lada, lukito beberapa kali mendapat penghargaan tingkat nasional dan internasional. Tahun 2011, dia mendapat penghargaan dari internasional pepper community sebagai petani terbaik dari Indonesia. Penghargaan sebagai petani terbaik itu juga diraih lukito tahun 2012 dan 2015. Di tanah rantau, lukito memuliakan tanaman lada.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber: Kompas, Rabu 19 Juli 2017<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kebutuhan ekonomi memaksanya hijrah merantau ke pulau andalas. Awalnya dia tak punya apa apa selain badan dan kemauan. Namun, berkat keuletannya, lukito (59) tumbuh berkembang menjadi \u201cduta\u201d lada di panggung nasional dan internasional. Tepat ketika suhu politik di pulau jawa memanas padah 1965, lukito bersama adik kakak dan ayahnya berangkat mengadu nasib ke lampung karena&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11571,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-11569","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Lukito_Memuliakan Lada di Tanah Rantau. Kompas 19 Juli 2017. Hal 16 - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Lukito_Memuliakan Lada di Tanah Rantau. Kompas 19 Juli 2017. Hal 16 - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Kebutuhan ekonomi memaksanya hijrah merantau ke pulau andalas. Awalnya dia tak punya apa apa selain badan dan kemauan. Namun, berkat keuletannya, lukito (59) tumbuh berkembang menjadi \u201cduta\u201d lada di panggung nasional dan internasional. Tepat ketika suhu politik di pulau jawa memanas padah 1965, lukito bersama adik kakak dan ayahnya berangkat mengadu nasib ke lampung karena...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-01-23T06:42:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:12+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16-F.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1788\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1254\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Lukito_Memuliakan Lada di Tanah Rantau. Kompas 19 Juli 2017. Hal 16\",\"datePublished\":\"2018-01-23T06:42:14+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:12+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\\\/\"},\"wordCount\":720,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16-F.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\\\/\",\"name\":\"Lukito_Memuliakan Lada di Tanah Rantau. Kompas 19 Juli 2017. Hal 16 - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16-F.jpg\",\"datePublished\":\"2018-01-23T06:42:14+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:12+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16-F.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16-F.jpg\",\"width\":1788,\"height\":1254},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Lukito_Memuliakan Lada di Tanah Rantau. Kompas 19 Juli 2017. Hal 16\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Lukito_Memuliakan Lada di Tanah Rantau. Kompas 19 Juli 2017. Hal 16 - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Lukito_Memuliakan Lada di Tanah Rantau. Kompas 19 Juli 2017. Hal 16 - Library","og_description":"Kebutuhan ekonomi memaksanya hijrah merantau ke pulau andalas. Awalnya dia tak punya apa apa selain badan dan kemauan. Namun, berkat keuletannya, lukito (59) tumbuh berkembang menjadi \u201cduta\u201d lada di panggung nasional dan internasional. Tepat ketika suhu politik di pulau jawa memanas padah 1965, lukito bersama adik kakak dan ayahnya berangkat mengadu nasib ke lampung karena...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2018-01-23T06:42:14+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:12+00:00","og_image":[{"width":1788,"height":1254,"url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16-F.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Lukito_Memuliakan Lada di Tanah Rantau. Kompas 19 Juli 2017. Hal 16","datePublished":"2018-01-23T06:42:14+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:12+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/"},"wordCount":720,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16-F.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/","name":"Lukito_Memuliakan Lada di Tanah Rantau. Kompas 19 Juli 2017. Hal 16 - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16-F.jpg","datePublished":"2018-01-23T06:42:14+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:12+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/#primaryimage","url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16-F.jpg","contentUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lukito_Memuliakan-Lada-di-Tanah-Rantau.-Kompas-19-Juli-2017.-Hal-16-F.jpg","width":1788,"height":1254},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lukito_memuliakan-lada-di-tanah-rantau-kompas-19-juli-2017-hal-16\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Lukito_Memuliakan Lada di Tanah Rantau. Kompas 19 Juli 2017. Hal 16"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11569","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11569"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11569\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":12420,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11569\/revisions\/12420"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11571"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11569"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11569"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11569"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}