{"id":11705,"date":"2018-01-24T09:27:51","date_gmt":"2018-01-24T02:27:51","guid":{"rendered":"https:\/\/library.uc.ac.id\/?p=11705"},"modified":"2025-05-01T12:37:11","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:11","slug":"lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/","title":{"rendered":"Lee Duckhee_Menggapai Tenis Profesional Dalam Senyap. Kompas. 25 November 2017. Hal. 16"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-extra_large wp-image-11706\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-1500x1096.jpg\" alt=\"\" width=\"1500\" height=\"1096\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-1500x1096.jpg 1500w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-300x219.jpg 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-768x561.jpg 768w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-1030x752.jpg 1030w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-705x515.jpg 705w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-450x329.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 1500px) 100vw, 1500px\" \/><\/p>\n<p>Mendenganr suara ketika bola menyentuh senar raket menjadi faktor penting dalam tenis. Namun, ketika suara itu tak pernah didengar Lee Duckhee (19), yang terlahir dalam kondisi tuli, petenis Korea Selatan itu menggantinya dengan insting dan penglihatan yang menjadi kekuatannya.<\/p>\n<p>OLEH YULIA SAPTHIANI<\/p>\n<p>Duckhee mengangkat raketnya untuk menarik perhatian wasit saat bertanding melawan Taiwan, Wu Tung Lin, pada perempat final turnamen TEZ Terbuka Indonesia Futures F7, di Jakarta, Kamis (23\/11).<\/p>\n<p>\u201cOut?\u201d dia bertanya. Ibu jari dan telunjuk kanannya kemudian membentuk huruf U, memberikan pendapat ketika bola dari servisnya jatuh tipis di atas garis servis, setipis huruf U yang dibatnya. Sementara penjaga garis, lalu diperkuat keputusan wasit, menyatakan bola itu keluar. Itulah cara Duckhee berkomunikasi dengan wasit dan pertandingan.<\/p>\n<p>Namun, ketika berkomunikasi dengan salah satu pelatih yang juga sepupunya, Woo Chyung-hyo, Duckhee berbicara seperti halnya orang dengar. Tak ada gerakan isyarat tangan dalam komunikasi mereka.<\/p>\n<p>Ketika Kompas mewawancarainya, Duckhee juga berbicara. Woo menjadi penerjemah karena Duckhee tak bisa berbahasa Inggris. Duckhee membaca gerak bibir Woo, kemudian menjawabnya dengan bahasa Korea.<\/p>\n<p>\u201cDua tahun lalu, saya bermain di sini. Mudah-mudahan saya bisa juara lagi dengan permainan yang lebih baik,\u201d katanya. Duckhee pernah tampil pada dua seri turnamen sirkuit profesional Federasi Tenis Internasional (ITF) itu pada 2015. Dia menjuarai seri kedua (F2) dan F3.<\/p>\n<p>Dalam kemenangan, 6-4, 6-2, melawan Wu, Duckhee membuat lawannya itu beberapa kali menggelengkan kepala. \u201cOh my God!\u201d teriak Wu pada saat momen ketika Duckhee mendapat winner (poin dari pukulan) melalui passing shot. Duckhee mendapat poin dari backhand keras nan datar hingga bola melewati Wu.<\/p>\n<p>Insting dan melihat gerakan lawan dengan cepat menjadi alat untuknya dalam menentukan pukulan. Dua kelebihan itu menggantikan merdunya suara dentuman lembut impact bola pada senar raket. Apalagi jika perkenaan bola pas pada wilayah tengah raket. Titik paling ideal perkenaan raket.<\/p>\n<p>Dalam tenis, suara itu teramat penting. Petenis nomor satu dunia Rafel Nadal, mengeluhkan kerasnya suara hujan pada atap Stadion Arthur Ashe yang di tutup. \u201c Saya jadi tidak bisa mendengar suara bola saat memukul,\u201d katanya. Dikutip dari USA today.<\/p>\n<p>Perjuangan Orangtua<\/p>\n<p>Duckhee adalah putra pertama dari dua bersaudara. Dia diketahui tak bisa mendengar saat berusia dua tahun. Ketika itu, Duckhee hanya tinggal bersama ibunya, Park Mi-ja, karena sang ayah, Lee Sang-jin, harus menjalani wajib militer. \u201cdokter mengatakan anak saya tak bisa mendengar apa-apa. Saya terkejut, tak bereaksi apa-apa,\u201d kata Park seperti di tulis New York Times, 22 November 2016.<\/p>\n<p>Park langsung mengunjungi adiknya di Seoul. Dia menangis tanpa henti. Beberapa jam baru Park menelpon suaminya. Mereka berdiskusi dan memutuskan tak larut dalam kesedihan.<\/p>\n<p>\u201cSaya ingin dia bergaul dengan orang-orang normal. Saat melihat siswa tuli di sekolah disabilitas bertambah dewasa, mereka hanya berkomunikasi dengan bahasa isyarat menggunakan tangan. Peluang untuk bekerja terbatas. Akhirnya mereka bergantung kepada orangtua,\u201d kata Park.<\/p>\n<p>Tak mau itu terjadi pada anaknya, Park mengajari Duckhee berbicara dan membaca gerak bibir setiap malam. Dia menggunakan kartu gambar dan memperagakan cara membacanya dengan berbagai gerakan mulut. Duckhee akhirnya bisa berbicara seperti orang yang bisa mendengar.<\/p>\n<p>Beberapa tahun kemudian, orang tuanya memutuskan Duckhee hanya belajar di sekolah umum. Kemudian sang ayah menambah kemampuan putranya pada golf, panahan, dan menembak.<\/p>\n<p>Namun, Duckhee yang sadar tuli pada usia 6 tahun, justru tertarik pada tenis setelah melihat sepupunya. Woo Chung-hyo, berbain tenis. Sejak usia 7 tahun, mulailah Duckhee berlatih tenis. Woo hingga kini selalu menemani setiap kali saudaranya bertanding.<\/p>\n<p>Keinginan Duckhee menekuni tenis ditanggapi serius oleh orangtuanya. \u201cSekitar 90 persen pelatih, keluarga, petenis lain, dan orangtua petenis selalu menilai Duckhee tak akan bisa menjadi atlet ptofesional. Pada awal latihan, dia bisa melakukannya karena laju bola pelan. Tetapi saat memasuki arena profesional, dia harus berhadapan dengan kecepatan pukulan karena tak bisa mendengar Duckhee dinilai tidak akan bisa melakukannya, \u201c kata Lee yang bersama istrinya tidak peduli pada kritik itu.<\/p>\n<p>Ditemani pelatih, terkadang ayahnya, dalam menjalani tur, Duckhee mulai memasuki persaingan di arena tenis profesional pada 2012. Saat meraih poin dari turnamen pertamanya di Jepang, dengan tampil hingga babak kedua sejak kualifikasi, dia mendapat ucapan selamat dari Rafael Nadal melalui Twitter.<\/p>\n<p>Tantangan datang pada turnamen kecil yang berlangsung tanpa penjaga garis. Penilaian jatuhnya bola ditentukan oleh petenis saat penglihatan wasit terhalah untuk menilai. Duckhee sering dicurangi lawan, terutama pada poin-poin krusial.<\/p>\n<p>Namun momen-momen itu membuat mentalnya lebih tangguh meski hingga sekarang berkomunikasi dengan wasit menjadi kendala besar. \u201cKadang, saya tak tahu ketika bola jatuh tipis di luar lapangan karena saya tidak dapat mendengar wasity. Selain itu semuanya baik-baik saja. Saya tidak bisa mendengar, tetapi mata saya menggantikannya. Saya bisa menilai gerakan lawan hingga gerakan terakhirnya,\u201d kata Duckhee, yang sering mempelajari kemampuan petenis lain melalui video.<\/p>\n<p>Seperti petenis lain, cita-cita besarnya adalah menjadi petenis nomor satu dunia. Petenis peringkat ketiga di negaranya ini mencoba menjalani dunia tenis profesional setahap demi setahap. Duckhee saat ini berada di peringkat ke-216 dunia dan ingin mencapai jajaran 100 besar dunia pada 2018.<\/p>\n<p>Perjalanan menuju cita-citanya masih jauh. Akan tetapi, dia telah menjadi inspirasi banyak orang. Dia disponsori produsen mobil negaranya Hyundai, sejak 2011 hingga 2020.<\/p>\n<p>\u201cBanyak yang menjadi sumber inspirasi saya. Keluarga, teman-teman, pelatih, agen, dan petenis lain,\u201d katanya<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Lee Duckhee<\/p>\n<p>Lahir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Jecheon City, Korea Selatan. 29 Mei 1998<\/p>\n<p>Tinggi\/BB\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 175 cm\/ 75 kg<\/p>\n<p>Pegangan Raket\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Tangan kanan (\u201cbackhand\u201d dua tangan)<\/p>\n<p>Pelatih\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Im Kyu-tae dan Woo Chung-hyo<\/p>\n<p>Peringkat Dunia\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : ke-216 (20 November 2017)<\/p>\n<p>Peringkat Dunia Tertinggi\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : ke-130 (10 April 2017)<\/p>\n<p>Menang-kalah\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 168-105<\/p>\n<p>Gelar juara\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : 10 (turnamen ITF)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber: Kompas. 25 November 2017<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mendenganr suara ketika bola menyentuh senar raket menjadi faktor penting dalam tenis. Namun, ketika suara itu tak pernah didengar Lee Duckhee (19), yang terlahir dalam kondisi tuli, petenis Korea Selatan itu menggantinya dengan insting dan penglihatan yang menjadi kekuatannya. OLEH YULIA SAPTHIANI Duckhee mengangkat raketnya untuk menarik perhatian wasit saat bertanding melawan Taiwan, Wu Tung&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11707,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-11705","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Lee Duckhee_Menggapai Tenis Profesional Dalam Senyap. Kompas. 25 November 2017. Hal. 16 - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Lee Duckhee_Menggapai Tenis Profesional Dalam Senyap. Kompas. 25 November 2017. Hal. 16 - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Mendenganr suara ketika bola menyentuh senar raket menjadi faktor penting dalam tenis. Namun, ketika suara itu tak pernah didengar Lee Duckhee (19), yang terlahir dalam kondisi tuli, petenis Korea Selatan itu menggantinya dengan insting dan penglihatan yang menjadi kekuatannya. OLEH YULIA SAPTHIANI Duckhee mengangkat raketnya untuk menarik perhatian wasit saat bertanding melawan Taiwan, Wu Tung...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-01-24T02:27:51+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-F.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2384\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1550\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Lee Duckhee_Menggapai Tenis Profesional Dalam Senyap. Kompas. 25 November 2017. Hal. 16\",\"datePublished\":\"2018-01-24T02:27:51+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:11+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\\\/\"},\"wordCount\":871,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-F.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\\\/\",\"name\":\"Lee Duckhee_Menggapai Tenis Profesional Dalam Senyap. Kompas. 25 November 2017. Hal. 16 - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-F.jpg\",\"datePublished\":\"2018-01-24T02:27:51+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:11+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-F.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-F.jpg\",\"width\":2384,\"height\":1550},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Lee Duckhee_Menggapai Tenis Profesional Dalam Senyap. Kompas. 25 November 2017. Hal. 16\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Lee Duckhee_Menggapai Tenis Profesional Dalam Senyap. Kompas. 25 November 2017. Hal. 16 - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Lee Duckhee_Menggapai Tenis Profesional Dalam Senyap. Kompas. 25 November 2017. Hal. 16 - Library","og_description":"Mendenganr suara ketika bola menyentuh senar raket menjadi faktor penting dalam tenis. Namun, ketika suara itu tak pernah didengar Lee Duckhee (19), yang terlahir dalam kondisi tuli, petenis Korea Selatan itu menggantinya dengan insting dan penglihatan yang menjadi kekuatannya. OLEH YULIA SAPTHIANI Duckhee mengangkat raketnya untuk menarik perhatian wasit saat bertanding melawan Taiwan, Wu Tung...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2018-01-24T02:27:51+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:11+00:00","og_image":[{"width":2384,"height":1550,"url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-F.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Lee Duckhee_Menggapai Tenis Profesional Dalam Senyap. Kompas. 25 November 2017. Hal. 16","datePublished":"2018-01-24T02:27:51+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:11+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/"},"wordCount":871,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-F.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/","name":"Lee Duckhee_Menggapai Tenis Profesional Dalam Senyap. Kompas. 25 November 2017. Hal. 16 - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-F.jpg","datePublished":"2018-01-24T02:27:51+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:11+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/#primaryimage","url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-F.jpg","contentUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Lee-Duckhee_Menggapai-Tenis-Profesional-Dalam-Senyap.-Kompas.-25-November-2017.-Hal.-16-F.jpg","width":2384,"height":1550},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/lee-duckhee_menggapai-tenis-profesional-dalam-senyap-kompas-25-november-2017-hal-16\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Lee Duckhee_Menggapai Tenis Profesional Dalam Senyap. Kompas. 25 November 2017. Hal. 16"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11705","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11705"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11705\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":17505,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11705\/revisions\/17505"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11707"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11705"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11705"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11705"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}