{"id":1171,"date":"2015-09-17T16:05:45","date_gmt":"2015-09-17T09:05:45","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=1171"},"modified":"2025-05-01T12:37:26","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:26","slug":"pendidik-anak-mentawai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/","title":{"rendered":"Eriana Sagoiso Uma Pendidik Anak Mentawai"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2015\/09\/Pendidik-Anak-Mentawai.-Kompas.17-September-2015.Hal_.16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-1172\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2015\/09\/Pendidik-Anak-Mentawai.-Kompas.17-September-2015.Hal_.16.jpg\" alt=\"Pendidik Anak Mentawai. Kompas.17 September 2015.Hal.16\" width=\"964\" height=\"809\" \/><\/a><\/p>\n<p>ERIANA SAGOISO UMA<\/p>\n<ul>\n<li>Lahir : Mentawai, 25 Mei 1985<\/li>\n<li>Pendidikan Terakhir : SMA Negeri 1 Siberut Selatan (2005)<\/li>\n<li>Suami : Stefanus Nahu Sagulo<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Jadi guru di pelosok pulau terdepan Indonesia seperti Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, bukan hal mudah. Mereka yang memilih itu harus siap berhadapan dengan segala keterbatasan, terutama fasilitas dan aksesbilitas. Eriana Sagoiso Uma (30), guru satu \u2013 satunya di Sekolah Dasar Santa Maria Fillial, di Dusun Bekkeilu, Desa Muntei, Siberut\u00a0 Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Ia sudah menjalani itu selama hampir 10 tahun.<\/p>\n<p>OLEH ISMAIL ZAKARIA<\/p>\n<p>Eriana, yang ditemui awal bulan ini, menuturkan, dia mulai mengajar tahun 2005. Ketika itu, sekolah tersebut masih berbentuk kelompok belajar di Battumu, sebuah kawasan perladangan di Desa Muntei. Letak sekolah itu sekitar 1 kilometer dari bangunan sekolah yang ditempati sekarang. Setelah beberapa kali pindah tempat hingga akhirnya menjadi bagian dari Sekolah Dasar Santa Maria milik Yayasan Prayoga pada 2008, sekolah tersebut kini menempati gedung Gereja Katolik Santo Paulus yang berada di Dusun Bekkeilu.<\/p>\n<p>Proses belajar \u2013 mengajar tidak dilakukan di ruang kelas seperti sekolah kebanyakan. Kondisi ini menjadi salah satu dari sejumlah tantangan yang harus dilalui Eriana selama bertahun \u2013 tahun. Saat masih berbentuk kelompok belajar atau sekolah hutan, kegiatan belajar berlangsung di gereja. Sekarang, ketika sekolah berpindah tempat dan kembali menggunakan bangunan gereja, Eriana msih harus membiasakan diri mengajar dalam kondisi serba terbatas.<\/p>\n<p>\u201cMemang seperti ini adanya, Setiap hari mulai pukul 07.30 sampai pukul 11.00 sepanjang Senin sampai Sabtu, saya harus mengajar tiga kelas sekaligus secara bersamaan dalam satu ruang. Bisa dibayangkan repotnya membagi peran mengajar mata pelajaran berbeda. Akan tetapi, disitulah tantangannya. Saya harus bertanggungjawab dengan pilihan saya menjadi seorang guru,\u201d Kata Eriana.<\/p>\n<p>Sejak awal berdiri hingga sekarang, sekolah tersebut memang hanya terdiri atas tiga kelas. Para siswa yang naik ke kelas IV harus melanjutkan ke sekolah induk di Muara Siberut atau mencari sekolah yang membuka kelas hingga jenjang kelas yang lebih tinggi. Jarak sekolah lanjutan itupun tak dekat, harus ditempuh dengan berjalan kaki selama berjam \u2013 jam.<\/p>\n<p>Meski siswa yang ditangani Eriana hanya tiga kelas dengan jumlah siswa 14 orang, menjadi guru seorng diri di sekolah tersebut cukup membuatnya kewalahan.<\/p>\n<p>Suatu hari, saat kegiatan belajar \u2013 mengajar berlangsung, Eriana yang mengenakan baju coklat, terlihat tak pernah berdiam terlalu lama. Dia harus berpindah dari tujuh siswa kelas II dan III yang digabung di bagian depan ruangan gereja yang sedang belajar IPA. Ia pun segera berpindah ke tujuh siswa kelas I di lantai gereja untuk mengajari mereka membaca.<\/p>\n<p>Fasilitas belajar seperti buku juga terbatas. Hanya beberapa buku tak bersampul tampak tersusun rapi di mejanya. Ruang kelas hanya dilengkapi dua papan tulis. Satu papan putih yang dibagi dua ntuk kelas II dan III serta papan hitam untuk siswa kelas I. Selain itu, taka da penggaris.hanya potongan bambu seukuran 40 sentimeter yang dipakai Eriana ketika mengajar. Ruang belajar pun remang \u2013 remang. Penerangan hanya berasal dari cahaya matahari yang menyusup masuk lewat jendela dan pintu yang dibuka lebar.<\/p>\n<p>\u201cSiswanya juga tidak jarang yang membandel. Lihat saja, ini belum semua masuk, masih ada yang pulang ke rumah dan belum kembali sejak istirahat tadi. Ada juga yang meski sudah kembali, balik lagi karena alat tulisnya ditinggal di rumah. Tetapi, saya maklum, namanya juga anak \u2013 anak. Tidak jadi masalah. Yang terpenting mereka mau sekolah dan belajar,\u201d kata Eriana tersenyum sambil bangkit dan keluar ruangan mencari siswanya.<\/p>\n<p>Menjadi guru, Eriana tidak bergelar sarjana atau lulusan sebuah fakultas keguruan. Dia memang sempat bermimpi ke Padang dan berkuliah di salah satu perguruan tinggi di ibu kota Sumbar itu. Sayang, mimpi itu kandas karena kedua orangtuanya tak memiliki biaya. Beruntung, saat lulus SMA Negeri 1 Siberut Selatan tahun 2005, masih ada kelas belajar di Battumu dan dia diminta mengajar disana.<\/p>\n<p>Meski demikian, Eriana tak berkecil hati. Dia tetap berusaha menjadi guru yang baik. Sesekali dia ke Muara Siberut untuk mencari buku tentang pengajaran. Dari sana, dia belajar tentang cara mengajar, keinginannya untuk mengembangkan kemampuan dengan berkuliah di Universitas Terbuka belum juga terwujud. Selain karena pendaftaran sudah ditutup, biaya untuk kuliah belum cukup.<\/p>\n<p>\u201csebagai guru, saya harus terus berusaha memastika kegiatan belajar \u2013 mengajar tetap berlangsung. Karena itu, saya mencari cara agar anak \u2013 anak juga tetap semangat belajar. Misalnya dengan memberi tugas lalu menyelesaikannya dalam kelompok belajar. Saya sudah mengontrol itu karena rumah saya dan siswa berdekatan semua,\u201d kata Eriana.<\/p>\n<p>NAIK PERAHU<\/p>\n<p>Selain soa fasilitas, Eriana juga telah terlatih dengan terbatasnya aksesbilitas di pedalaman Mentawai. Tak ada alat komunikasi karena sinyal operator telepon belum menjangkau Bekkeilu. Kondisi ini membuat koordinasi dengan sekolah induk di Muara Siberut, pusat kecamatan Siberut Selatan, hanya bisa dilakukan dengan langsung ke sana.<\/p>\n<p>\u201cUntuk sampai ke Siberut, saya harus menumpang kapal pompon menyusuri sungai selama empat jam. Jalan darat sebenarnya ada, tetapi harus jalan kaki sekitas 5 -6 jam. Sebulan sekali saya ke sana untuk membeli kapur, tetapi sekarang dengan pompong sudah jarang jalan kaki lagi,\u201d kata Eriana yang lahir dan besar di Dusun Ubai, Desa Madobak, Siberut Selatan.<\/p>\n<p>Menurut Eriana, uang untuk membeli kapur diperolehnya dari uang komite sebesar Rp.3.000 per siswa per bulan. Namun, menurut dia, terkadang tidak semua orangtua sanggup membayar uang komite sehinga ada yang menunggak. Meskipun demikian, tidak ada sanksi atau skor dari sekolah. Para siswa tetap dibiarkan belajar.<\/p>\n<p>Eriana menambahkan, untuk biaya kehidupan sehari \u2013 hari, dia memang terbantu dengan honor yng diterimanya. Awal mengajar, dia dibayar Rp.400.000 \u2013 Rp.500.000 per bulan. Setelah sekolahnya menjadi bagian dari SD Santa Maria, honornya meningkat sekitar Rp.900.000 per bulan. Itu pun tidak seluruhnya digunakan untuk biaya hidup. Sebagian dia tabung untuk biaya jika nantinya berkesempatan untuk kuliah.<\/p>\n<p>\u201csaya tidak menjadikan honor itu sebagai alasan bertahan disini. Saya memang senang mengajar dan saya juga melihat bagaimana semangat anak \u2013 anak Mentawai untuk terus belajar di tengah segala keterbatasan mereka. Itu turut menyemangati saya,\u201d kata Eriana.<\/p>\n<p><strong>\u00a0SUMBER<\/strong> : KOMPAS, Kamis 17 September 2015<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>ERIANA SAGOISO UMA Lahir : Mentawai, 25 Mei 1985 Pendidikan Terakhir : SMA Negeri 1 Siberut Selatan (2005) Suami : Stefanus Nahu Sagulo &nbsp; Jadi guru di pelosok pulau terdepan Indonesia seperti Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, bukan hal mudah. Mereka yang memilih itu harus siap berhadapan dengan segala keterbatasan, terutama fasilitas dan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":1172,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-1171","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Eriana Sagoiso Uma Pendidik Anak Mentawai - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Eriana Sagoiso Uma Pendidik Anak Mentawai - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"ERIANA SAGOISO UMA Lahir : Mentawai, 25 Mei 1985 Pendidikan Terakhir : SMA Negeri 1 Siberut Selatan (2005) Suami : Stefanus Nahu Sagulo &nbsp; Jadi guru di pelosok pulau terdepan Indonesia seperti Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, bukan hal mudah. Mereka yang memilih itu harus siap berhadapan dengan segala keterbatasan, terutama fasilitas dan...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-09-17T09:05:45+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/Pendidik-Anak-Mentawai.-Kompas.17-September-2015.Hal_.16-e1487062470662.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"435\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"446\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pendidik-anak-mentawai\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pendidik-anak-mentawai\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Eriana Sagoiso Uma Pendidik Anak Mentawai\",\"datePublished\":\"2015-09-17T09:05:45+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:26+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pendidik-anak-mentawai\\\/\"},\"wordCount\":937,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pendidik-anak-mentawai\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/09\\\/Pendidik-Anak-Mentawai.-Kompas.17-September-2015.Hal_.16-e1487062470662.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pendidik-anak-mentawai\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pendidik-anak-mentawai\\\/\",\"name\":\"Eriana Sagoiso Uma Pendidik Anak Mentawai - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pendidik-anak-mentawai\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pendidik-anak-mentawai\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/09\\\/Pendidik-Anak-Mentawai.-Kompas.17-September-2015.Hal_.16-e1487062470662.jpg\",\"datePublished\":\"2015-09-17T09:05:45+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:26+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pendidik-anak-mentawai\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pendidik-anak-mentawai\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pendidik-anak-mentawai\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/09\\\/Pendidik-Anak-Mentawai.-Kompas.17-September-2015.Hal_.16-e1487062470662.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/09\\\/Pendidik-Anak-Mentawai.-Kompas.17-September-2015.Hal_.16-e1487062470662.jpg\",\"width\":435,\"height\":446},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/pendidik-anak-mentawai\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Eriana Sagoiso Uma Pendidik Anak Mentawai\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Eriana Sagoiso Uma Pendidik Anak Mentawai - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Eriana Sagoiso Uma Pendidik Anak Mentawai - Library","og_description":"ERIANA SAGOISO UMA Lahir : Mentawai, 25 Mei 1985 Pendidikan Terakhir : SMA Negeri 1 Siberut Selatan (2005) Suami : Stefanus Nahu Sagulo &nbsp; Jadi guru di pelosok pulau terdepan Indonesia seperti Pulau Siberut, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, bukan hal mudah. Mereka yang memilih itu harus siap berhadapan dengan segala keterbatasan, terutama fasilitas dan...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2015-09-17T09:05:45+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:26+00:00","og_image":[{"width":435,"height":446,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/Pendidik-Anak-Mentawai.-Kompas.17-September-2015.Hal_.16-e1487062470662.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Eriana Sagoiso Uma Pendidik Anak Mentawai","datePublished":"2015-09-17T09:05:45+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:26+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/"},"wordCount":937,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/Pendidik-Anak-Mentawai.-Kompas.17-September-2015.Hal_.16-e1487062470662.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/","name":"Eriana Sagoiso Uma Pendidik Anak Mentawai - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/Pendidik-Anak-Mentawai.-Kompas.17-September-2015.Hal_.16-e1487062470662.jpg","datePublished":"2015-09-17T09:05:45+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:26+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/Pendidik-Anak-Mentawai.-Kompas.17-September-2015.Hal_.16-e1487062470662.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/09\/Pendidik-Anak-Mentawai.-Kompas.17-September-2015.Hal_.16-e1487062470662.jpg","width":435,"height":446},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/pendidik-anak-mentawai\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Eriana Sagoiso Uma Pendidik Anak Mentawai"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1171","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1171"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1171\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8348,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1171\/revisions\/8348"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1172"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1171"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1171"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1171"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}