{"id":11867,"date":"2018-01-24T13:49:59","date_gmt":"2018-01-24T06:49:59","guid":{"rendered":"https:\/\/library.uc.ac.id\/?p=11867"},"modified":"2025-05-01T12:37:10","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:10","slug":"alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/","title":{"rendered":"Alex Waisimon_Pejuang dari Girime.Kompas.8 Januari 2018.Hal.16"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-extra_large wp-image-11868\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-1500x1274.jpg\" alt=\"\" width=\"1500\" height=\"1274\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-1500x1274.jpg 1500w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-300x255.jpg 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-768x652.jpg 768w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-1030x875.jpg 1030w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-705x599.jpg 705w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-450x382.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 1500px) 100vw, 1500px\" \/><\/p>\n<p>Alex Waisimon (50) menghadirkan inovasi dalam upaya konservasi hutan lindung di Papua. Tak pantang menyerah, Alex mengajak warga menghentikan pembalakan liar. Ia kemudian merintis destinasi wisata pengamatan burung cenderawasih di Kampung Rhepang Muaif, Kabupaten Jayapura, Papua.<\/p>\n<p>Fabio Maria Lopes Costa<\/p>\n<p>Destinasi wisata Bird Watching Rhepang Muaif di Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, berjarak 105 kilometer dari Kota Jayapura. Perjalanan darat dari Kota Jayapura menuju tempat itu sekitar dua jam.<\/p>\n<p>Hutan seluas 19.000 hektar di Rhepang Muaif menjadi habitat 58 jenis burung. Dari jumlah itu, terdapat tujuh jenis burung cenderawasih yang langka. Rhepang Muaif masuk dalam kawasan Lembah Girime di Kabupaten Jayapura.<\/p>\n<p>Alex bersama rekannya, Marthen Bay, berjalan di tengah gerimis tanpa menggunakan mantel hujan. Setelah berjalan 1 kilometer, keduanya berhenti di salah satu pos pemantauan burung cenderawasih.<\/p>\n<p>Pos yang terbuat dari kayu itu setinggi 8 meter. Dari ketinggian itu, mereka bisa mengecek ada atau tidak aktivitas pembalakan liar.<\/p>\n<p>Setelah puas tidak menemukan aktivitas yang merusak lingkungan, keduanya melanjutkan perjalanan ke empat pos lainnya. Kegiatan patrol dapat berlangung selama dua hingga tiga jam. Itulah rutinitas Alex selaku pengelola destinasi wisata pengamatan burung di Rhepang Muaif sejak Mei 2015.<\/p>\n<p>Dalam perjalanan hidupnya, setelah lulus dari sekolah teknik menengah negeri tahun 1987, setahun kemudian Alex merantau ke Denpasar, Bali.<\/p>\n<p>Di Bali, Alex bekerja di sebuah bengkel mobil. Dia juga pernah menjadi pemandu wisata. Di kota itu pula, Alex menikah dengan Maitha Mursiami yang berasal dari Malang, Jawa Timur, hingga dikarunai empat anak.<\/p>\n<p>Setelah 25 tahun merantai, dirinya teringat pesan sang bibi dalam bahasa daerah yang berbunyi <em>kokaberie umibetu. <\/em>Pesan itu bermakna: saatnya pulang setelah perjalanan jauh.<\/p>\n<p>Alex memutuskan kembali ke kampung halamannya, Kampung Yenggu, Distrik Nimborang, Kabupaten Jayapura, tahun 2013. Saat itu, Alex ingin menghentikan penebangan liar di hutan. Niatnya itu ditolak warga, karena warga merasa mata pencaharian mereka akan terganggu.<\/p>\n<p>Alex kecewa dan kembali ke Bali. Tahun 2015, dia kembali lagi ke Papua, tetapi memutuskan tinggal di Rhepang Muaif. Niat baik untuk menghentikan pembalakan liar di sambut warga Rhepang Muaif.<\/p>\n<p><strong>Menggerakan warga<\/strong><\/p>\n<p>Sebelum merintis kawasan pengamatan burung, Alex membentuk kelompok Isyo Hill\u2019s yang berarti Bukit Isyo. Kelompok yang beranggotakan 15 warga ini berperan mencegah pembalakan liar di Rhepang Muaif. Mereka sadar, hutan merupakan habitat satwa endemik di Lembah Girime, termasuk burung cenderawasih. Sebagian besar anggota Isyo Hill\u2019s adalah pemilik hak ulayat di kawasan hutan Rhepang Muaif.<\/p>\n<p>Kelompok ini lahir setelah Alex melakukan pendekatan persuasive kepada warga tentang pentingnya konservasi hutan. Pendekatan itu dilakukan selama beberapa pekan di rumah salah satu kerabatnya.<\/p>\n<p>Dalam waktu beberapa bulan saja, mereka berhasil mencegah 50 aksi pembalakan liar oleh oknum pekerja beberapa perusahaan. Selain itu, mereka juga melarang pembuangan sampah dan oli ke sejumlah sungai di kawasan tersebut.<\/p>\n<p>\u201cAda perusahaan yang mengiming-imingi masyarakat pemilik hak ulayat di hutan tersebut dengan uang. Setelah mendapatkan informasi tentang pentingnya gerakan konservasi hutan demi menjaga populasi satwa endemik, warga pemilik hak ulayat barulah sadar dan terlibat dalam gerakan Isyo Hill\u2019s,\u201d ujar Alex.<\/p>\n<p>Setelah gerakan Isyo Hill\u2019s berhasil, Alex mengaktifkan Yawadatum, sebuah kelompok adat di Rhepang Muaif yang selama puluhan tahun vakum. Nama Yawadatum berasal dari bahasa setempat yang berarti \u201ctumbuh bersama\u201d.<\/p>\n<p>Kelompok ini menjadi motor kegiatan operasional pengamatan burung di Rhepang Muaif.<\/p>\n<p>Yawadatum memiliki 30 anggota yang masing-masing memiliki peran dalam pengelolaan tempat wisata itu. Mereka di antaranya jadi juru masak, pemandu wisatawan, dan pembuat kerajinan, seperti tas noken dan gelang kayu, sebagai cendera mata.<\/p>\n<p>Alex bersama sejumlah warga juga membangun fasilitas penginapan. Ada pula sebuah restoran yang menyajikan menu lokal, seperti papeda dan ikan kuah kuning.<\/p>\n<p>Wisatawan asing yang datang ke Bird Watching Rhepang Muaif berasal dari berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Rusia, Inggris, Belanda, China, Korea Selatan, dan Jepang. Ada juga wisatawan lokal.<\/p>\n<p>Kegiatan pemantauan aktivitas burung cenderawasih dilakukan di empat pos. Setiap pos terpisah jarak berkisar 1-4 kilometer.<\/p>\n<p>Hanya ada dua kesempatan untuk melihat langsung burung cenderawasih di alam, yakni pada pukul 05.00-06.00 dan pukul 15.00-18.00.<\/p>\n<p>Biasanya, jenis burung yang sering menjadi target wisatawan untuk dipotret adalah cenderawasih kuning, cenderawasih mati kawat, dan cenderawasih raja atau biasa dikenal dengan sebutan <em>king of paradise<\/em>. Selain cenderawasih, para wisatawan juga dapat melihat spesies burung khas Papua lainnya, seperti kasuari dan mambruk.<\/p>\n<p>Tarif yang dikenakan untuk wisatawan asing Rp 1 juta per orang per hari, sedangkan untuk wisatawan lokal Rp 500.000. kunjungan ke Rhepang Muaif biasanya dalam bentuk paket wisata. Satu paket terdiri atas 5-10 wisatawan dengan lama waktu menginap dua hingga tiga hari.<\/p>\n<p>\u201cKami bisa mendapatkan penghasilan rata-rata sekitar Rp 50 juta per bulan. Uang ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan anggota kelompok kami dan biaya sekolah anak mereka. Ini adalah wujud nyata dari kegiatan konservasi lingkungan yang tetap bernilai ekonomis bagi masyarakat setempat,\u201d tutur Alex.<\/p>\n<p>Saat ini, World Wide Fund for Nature (WWF) Program Papua telah bekerja sama dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara untuk membantu perbaikan fasilitas pengamatan burung. Hal itu, di antaranya, jalur pendakian menuju pos pemantauan dan penginapan.<\/p>\n<p>Kerja keras Alex pun mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak. Hal itu, antara lain, Alex mendapat penghargaan Kalpatura untuk Kelompok Pencinta Alam Isyo Hill\u2019s yang diserahkan Presiden Joko Widodo pada 2 Agustus 2017 di Jakarta. Ia juga mendapat penghargaan ASEAN Biodiversity Hero di Manila, Filipina, pada 7 Agustus 2017.<\/p>\n<p><strong>Alex Waisimon<\/strong><\/p>\n<p>Lahir: Kampung Ombrop, Kabupaten Jayapura, 19 September 1967<\/p>\n<p>Istri: Maitha Mursiami<\/p>\n<p>Anak: 4<\/p>\n<p>Penghargaan:<\/p>\n<ul>\n<li>Kalpatura Tahun 2017 Kategori Kelompok Pencinta Alam Isyo Hill\u2019s<\/li>\n<li>ASEAN Biodiversity Hero 2017<\/li>\n<li>Australia Award 2017<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber: Kompas, 8 Januari 2018<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Alex Waisimon (50) menghadirkan inovasi dalam upaya konservasi hutan lindung di Papua. Tak pantang menyerah, Alex mengajak warga menghentikan pembalakan liar. Ia kemudian merintis destinasi wisata pengamatan burung cenderawasih di Kampung Rhepang Muaif, Kabupaten Jayapura, Papua. Fabio Maria Lopes Costa Destinasi wisata Bird Watching Rhepang Muaif di Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, berjarak 105 kilometer&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":11869,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-11867","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Alex Waisimon_Pejuang dari Girime.Kompas.8 Januari 2018.Hal.16 - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Alex Waisimon_Pejuang dari Girime.Kompas.8 Januari 2018.Hal.16 - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Alex Waisimon (50) menghadirkan inovasi dalam upaya konservasi hutan lindung di Papua. Tak pantang menyerah, Alex mengajak warga menghentikan pembalakan liar. Ia kemudian merintis destinasi wisata pengamatan burung cenderawasih di Kampung Rhepang Muaif, Kabupaten Jayapura, Papua. Fabio Maria Lopes Costa Destinasi wisata Bird Watching Rhepang Muaif di Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, berjarak 105 kilometer...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-01-24T06:49:59+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-F.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1808\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1230\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Alex Waisimon_Pejuang dari Girime.Kompas.8 Januari 2018.Hal.16\",\"datePublished\":\"2018-01-24T06:49:59+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:10+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\\\/\"},\"wordCount\":872,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-F.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\\\/\",\"name\":\"Alex Waisimon_Pejuang dari Girime.Kompas.8 Januari 2018.Hal.16 - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-F.jpg\",\"datePublished\":\"2018-01-24T06:49:59+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:10+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-F.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/01\\\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-F.jpg\",\"width\":1808,\"height\":1230},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Alex Waisimon_Pejuang dari Girime.Kompas.8 Januari 2018.Hal.16\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Alex Waisimon_Pejuang dari Girime.Kompas.8 Januari 2018.Hal.16 - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Alex Waisimon_Pejuang dari Girime.Kompas.8 Januari 2018.Hal.16 - Library","og_description":"Alex Waisimon (50) menghadirkan inovasi dalam upaya konservasi hutan lindung di Papua. Tak pantang menyerah, Alex mengajak warga menghentikan pembalakan liar. Ia kemudian merintis destinasi wisata pengamatan burung cenderawasih di Kampung Rhepang Muaif, Kabupaten Jayapura, Papua. Fabio Maria Lopes Costa Destinasi wisata Bird Watching Rhepang Muaif di Kampung Rhepang Muaif, Distrik Nimbokrang, berjarak 105 kilometer...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2018-01-24T06:49:59+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:10+00:00","og_image":[{"width":1808,"height":1230,"url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-F.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Alex Waisimon_Pejuang dari Girime.Kompas.8 Januari 2018.Hal.16","datePublished":"2018-01-24T06:49:59+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:10+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/"},"wordCount":872,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-F.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/","name":"Alex Waisimon_Pejuang dari Girime.Kompas.8 Januari 2018.Hal.16 - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-F.jpg","datePublished":"2018-01-24T06:49:59+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:10+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/#primaryimage","url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-F.jpg","contentUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/01\/Alex-Waisimon_Pejuang-dari-Girime.Kompas.8-Januari-2018.Hal_.16-F.jpg","width":1808,"height":1230},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/alex-waisimon_pejuang-dari-girime-kompas-8-januari-2018-hal-16\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Alex Waisimon_Pejuang dari Girime.Kompas.8 Januari 2018.Hal.16"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11867","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=11867"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11867\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":24493,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/11867\/revisions\/24493"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/11869"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=11867"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=11867"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=11867"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}