{"id":13450,"date":"2018-04-13T09:16:08","date_gmt":"2018-04-13T02:16:08","guid":{"rendered":"https:\/\/library.uc.ac.id\/?p=13450"},"modified":"2025-05-01T13:26:19","modified_gmt":"2025-05-01T06:26:19","slug":"kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/","title":{"rendered":"Kerumitan Benih dan Agroklimat Durian"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-extra_large wp-image-13451\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/04\/Kerumitan-Benih-dan-Agroklimat-Durian.Tabloid-Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.23-001-618x1500.jpg\" alt=\"\" width=\"618\" height=\"1500\" \/><\/p>\n<p>Oleh F Rahardi (Pengamat Agribisnis)<\/p>\n<p>Pada dekade 1990, Bernard Sadani membuka kebun durian belasan hektare di Cikalong Kulon, Cianjur, Jawa Barat. Dia menanam beragam durian unggul, terbanyak varietas montong dari Thailand, dengan benih dari penangkar di Bogor.<\/p>\n<p>Dalam tiap hektare lahan, ditanam sekitar 100 benih durian, dengan jarak tanam 10 x 10 meter. Total, ia menanam hampir 2000 batang durian. Setelah panen, ia kecewa karena buah durian montong dari kebunnya itu lain dengan durian montong yang pernah ia lihat di Thailand.<\/p>\n<p>Ia pun mengundang pakar durian dari Negeri Gajah Putih ke kebunnya. Menurut pakar tersebut, durian yang ditanam Bernard Sadani bukan montong, melainkan varietas kop. Tetapi ada satu dua batang durian yang benar-benar montong. Pakar durian itu menyarankan agar Bernard memotong durian kop tersebut setinggi 1,5 meter, lalu menyambungnya dengan entres durian montong yang satu dua ada di kebunnya.<\/p>\n<p>Saran itu dijalankannya. Dua tahun kemudian , entres yang disambung di atas durian kop itu berbuah. Seluruhnya benar-benar montong.<\/p>\n<p>Tapi masalah lain datang. Penyakit <em>phytophthora <\/em>menyerang pangkal batang, tepat pada sambungan. Benih durian yang dipasarkan di Indonesia umumnya merupakan sambungan okulasi, menggunakan mata tempel (kulit batang dengan satu mata tunas). Penyambungan dilakukan saat semaian benih asal biji itu baru umur satu sampai dua bulan, dengan tinggi kurang dari 30 sentimeter. Setelah benih tumbuh menjadi pohon, letak sambungan itu dekat sekali, bahkan seakan menempel pada tanah. Nah, <em>phytophthora<\/em> mudah menyerang melalui titik ini.<\/p>\n<p>Bernard ingat, waktu ia berkunjung ke sentra durian di Provinsi Rayong, Thailand, ia melihat para petani menanam durian montong menggunakan benih sambung pucuk, setinggi 1,5 meter. Sambung pucuk menghasilkan batang pohon lebih mulus sibanding okulasi mata tempel. Penyambungan pada ketinggian 1,5 meter, juga menjauhkan titik sambungan dari permukaan tanah. Para petani Thailand juga selalu menggunakan batang bawah varietas kani yang berperakaran kuat dan tahan kekeringan. Di Indonesia, konsumen tak pernah tau jenis batang bawah yang digunakan oleh para penangkar. Umumnya para penangkar mengambil biji untuk batang bawah dari kios penjual durian.<\/p>\n<p>Bernard Sadani pun kemudian membuka kebun durian baru di dekat kebun lamanya. Di kebun lamanya itu, Bernard punya satu pohon durian berukuran besar, tetapi buahnya kecil-kecil, bulat, berdaging buah tipis, dengan biji banyak dan besar-besar. Pohon durian itu sudah ada ketika ia membeli lahan tersebut. Durian inilah yang ia gunakan sebagai batang bawah untuk benih bagi kebun durian barunya. Sesuai saran pakar durian Thailand, ia tak menyemai biji durian itu, tetapi langsung menanamnya di lahan. Agar tak kepanasan di lahan tersebut ia juga menanam legum sebagai peneduh. Tak sampai dua tahun, benih benih durian asal biji yang sudah setinggi 1,5 meter tersebut.<\/p>\n<p>Penanaman biji langsung di kebun akan mengurangi risiko stagnasi akibat pencabutan, pemindahan ke polybag, kemudian penanaman di lahan. Pertumbuhan biji yang langsung ditanam di lahan pun akan lebih cepat. Bernard Sadani puas, Durian di kebun barunya tumbuh dan berproduksi lebih baik dari pada montong di kebun lamanya.<\/p>\n<p>Kebun lamanya memang lebih banyak menyajikan masalah. Selain montong, durian sunan yang ia datangkan dari Boyolali juga tak seperti yang ia harapkan. Produksi buahnya normal, tapi dagingnya tak pernah bisa masak sempurna. Selalu ada bagian yang tetap keras. Cacat ini merata pada semua buah dan semua pohon durian sunan di kebun lamanya.<\/p>\n<p>Ia kembali konsultasi dengan pakar durian, kali ini pakar dalam negeri. Menurut si pakar, durian memerlukan penyerbukan silang.<\/p>\n<p>Ketika pemerintah melalui Menteri Pertanian melepas durian sunan Boyolali sebagai varietas unggul nasional, mestinya juga sekalian dilepas durian penyerbuknya, yang sekalian bisa digunakan sebagai batang bawah. Kalau durian sunan ditanam berjauhan dengan durian penyerbuknya, hasil buahnya tak akan sama dengan di habitat aslinya.<\/p>\n<p><strong>Agroklimat sangat menentukan<\/strong><\/p>\n<p>Kebun Bernard di Cikalong Kulon, terletak pada 6,5 derajat lintang selatan. Sangat dekat dengan Katulistiwa yang beragroklimat sangat basah. Sementara sentra durian di Rayong, Thailand terletak pada 13 derajat lintang utara yang sudah relatif kering. Agroklimat sangat menentukan budidaya durian.<\/p>\n<p>Faktor agroklimat ini sering dilupakan oleh pekebun durian. Hingga di kawasan Nongkojajar, Pasuruan, Jawa Timur yang berelevasi 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl), ada yang menanam durian montong. Hasilnya, durian itu tumbuh kerdil dan tak pernah mau berbuah.<\/p>\n<p>Selain menghendaki agroklimat relatif kering dengan air tanah cukup, montong hanya bisa tumbuh dan berproduksi baik pada elevasi di bawah 600 meter dpl. Lain dengan durian lokal yang masih mau tumbuh dan berproduksi baik pada elevasi 800 meter dpl.<\/p>\n<p>Sebenarnya, habitat asli durian budidaya (<em>Durio zibethinus<\/em>) merupakan dataran rendah basah di sepanjang katulistiwa, yang beragroklimat basah dengan kelembaban udara sangat tinggi. Tapi montong yang sudah beradaptasi dengan kawasan kering di rayong, kemudian relatif peka dengan kelembaban udara tinggi. Itulah sebabnya benih yang disambung okulasi saat masih berumur satu sampai dua bulan, mudah terserang <em>phytophthora<\/em>.<\/p>\n<p>\u201cDemam\u201d budidaya durian montong pada dekade 1990, hanya menyisakan beberapa kebun, termasuk kebun durian Bernard Sadani. Yang lain lenyap dihajar penyakit <em>phtophthora<\/em>, karena kesalahan memilih benih, dan lokasi lahan terkait dengan agroklimat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber:\u00a0Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.23<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh F Rahardi (Pengamat Agribisnis) Pada dekade 1990, Bernard Sadani membuka kebun durian belasan hektare di Cikalong Kulon, Cianjur, Jawa Barat. Dia menanam beragam durian unggul, terbanyak varietas montong dari Thailand, dengan benih dari penangkar di Bogor. Dalam tiap hektare lahan, ditanam sekitar 100 benih durian, dengan jarak tanam 10 x 10 meter. Total, ia&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":13451,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-13450","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kerumitan Benih dan Agroklimat Durian - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kerumitan Benih dan Agroklimat Durian - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh F Rahardi (Pengamat Agribisnis) Pada dekade 1990, Bernard Sadani membuka kebun durian belasan hektare di Cikalong Kulon, Cianjur, Jawa Barat. Dia menanam beragam durian unggul, terbanyak varietas montong dari Thailand, dengan benih dari penangkar di Bogor. Dalam tiap hektare lahan, ditanam sekitar 100 benih durian, dengan jarak tanam 10 x 10 meter. Total, ia...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-04-13T02:16:08+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T06:26:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/04\/Kerumitan-Benih-dan-Agroklimat-Durian.Tabloid-Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.23-001-e1523585730549.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"725\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"528\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Kerumitan Benih dan Agroklimat Durian\",\"datePublished\":\"2018-04-13T02:16:08+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T06:26:19+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\\\/\"},\"wordCount\":787,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/04\\\/Kerumitan-Benih-dan-Agroklimat-Durian.Tabloid-Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.23-001-e1523585730549.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\\\/\",\"name\":\"Kerumitan Benih dan Agroklimat Durian - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/04\\\/Kerumitan-Benih-dan-Agroklimat-Durian.Tabloid-Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.23-001-e1523585730549.jpg\",\"datePublished\":\"2018-04-13T02:16:08+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T06:26:19+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/04\\\/Kerumitan-Benih-dan-Agroklimat-Durian.Tabloid-Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.23-001-e1523585730549.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/dieng.blob.core.windows.net\\\/library\\\/2018\\\/04\\\/Kerumitan-Benih-dan-Agroklimat-Durian.Tabloid-Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.23-001-e1523585730549.jpg\",\"width\":725,\"height\":528},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kerumitan Benih dan Agroklimat Durian\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kerumitan Benih dan Agroklimat Durian - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kerumitan Benih dan Agroklimat Durian - Library","og_description":"Oleh F Rahardi (Pengamat Agribisnis) Pada dekade 1990, Bernard Sadani membuka kebun durian belasan hektare di Cikalong Kulon, Cianjur, Jawa Barat. Dia menanam beragam durian unggul, terbanyak varietas montong dari Thailand, dengan benih dari penangkar di Bogor. Dalam tiap hektare lahan, ditanam sekitar 100 benih durian, dengan jarak tanam 10 x 10 meter. Total, ia...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2018-04-13T02:16:08+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T06:26:19+00:00","og_image":[{"width":725,"height":528,"url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/04\/Kerumitan-Benih-dan-Agroklimat-Durian.Tabloid-Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.23-001-e1523585730549.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Kerumitan Benih dan Agroklimat Durian","datePublished":"2018-04-13T02:16:08+00:00","dateModified":"2025-05-01T06:26:19+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/"},"wordCount":787,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/04\/Kerumitan-Benih-dan-Agroklimat-Durian.Tabloid-Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.23-001-e1523585730549.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/","name":"Kerumitan Benih dan Agroklimat Durian - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/04\/Kerumitan-Benih-dan-Agroklimat-Durian.Tabloid-Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.23-001-e1523585730549.jpg","datePublished":"2018-04-13T02:16:08+00:00","dateModified":"2025-05-01T06:26:19+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/#primaryimage","url":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/04\/Kerumitan-Benih-dan-Agroklimat-Durian.Tabloid-Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.23-001-e1523585730549.jpg","contentUrl":"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/04\/Kerumitan-Benih-dan-Agroklimat-Durian.Tabloid-Kontan.5-11-Maret-2018.Hal_.23-001-e1523585730549.jpg","width":725,"height":528},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kerumitan-benih-dan-agroklimat-durian\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kerumitan Benih dan Agroklimat Durian"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13450","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=13450"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13450\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14515,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/13450\/revisions\/14515"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/13451"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=13450"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=13450"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=13450"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}