{"id":14317,"date":"2018-07-05T13:38:31","date_gmt":"2018-07-05T06:38:31","guid":{"rendered":"https:\/\/library.uc.ac.id\/?p=14317"},"modified":"2025-05-01T12:27:24","modified_gmt":"2025-05-01T05:27:24","slug":"papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/","title":{"rendered":"Papeda dari Ujung Timur.Kompas.18 Maret 2018.Hal.30"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-extra_large wp-image-14318\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.Kompas.18-Maret-2018.Hal_.30-955x1500.jpg\" alt=\"\" width=\"955\" height=\"1500\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.Kompas.18-Maret-2018.Hal_.30-955x1500.jpg 955w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.Kompas.18-Maret-2018.Hal_.30-191x300.jpg 191w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.Kompas.18-Maret-2018.Hal_.30-768x1206.jpg 768w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.Kompas.18-Maret-2018.Hal_.30-656x1030.jpg 656w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.Kompas.18-Maret-2018.Hal_.30-449x705.jpg 449w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.Kompas.18-Maret-2018.Hal_.30-450x706.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 955px) 100vw, 955px\" \/><\/p>\n<p>Papua tak hanya surga bagi petualangan alam. Kekayaan alamnya juga memberikan kelimpahan bahan pangan untuk dinikmati dalam petualangan kuliner. Dengan sentuhan dan kreasi, sagu, beras, dan ikan hadir memuaskan kerinduan akan cita rasa \u201cBumi Cendrawasih\u201d.<\/p>\n<p>Papeda dan ikan kuah kuning, Siapa tak mengenal sajian khas Papua ini. Tak perlu jauh-jauh untuk menikmati lezatnya papeda yang meluncur mulus di lidah dengan ikan dan kuahnya yang segar. Di Alenia Papua Coffee &amp; Kitchen yang berada di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, pengunjung bisa mencicipi berbagai makanan khas papua dan Indonesia Timur dengan beragam variasi olahannya.<\/p>\n<p>Kafe milik suami istri produsen dan sutradara Nia Zulkarmaen dan Ari Sihasale yang baru dibuka pada 10 November 2017 ini memang dimaksudkan sebagai \u201crumah\u201d bagi mereka yang rindu akan Papua atau mereka yang belum berkesempatan mengunjungi pulau tersebut.<\/p>\n<p>Tak saja menu yang disajikan khas Papua, tetapi suasana di dalam kafe pun dirancang untuk membuat pengunjung serasa berada di Papua. Burung cendrawasih hadir dalam berbagai bentuk, dari lambang kafe hingga ke hiasan pada keramik pajangan dan piring sajian. Terpampang peta besar Indonesia bagian timur di lantai bawah, dengan nama-nama Celebes, Molluca, Papua, Ceram Sea, Banda Sea, dan Arafuru Sea.<\/p>\n<p>Tak ketinggalan ukir-ukiran khas dari Papua, lukisan kulit kayu, hiasan kepala lengkap dengan bulu burung dan kerang-kerangan, serta tifa. Kursi-kursi berhias bantal bermotif batik papuadengan warnah cerah. Lagu-lagu tradisional Papua dan aransemen kontemporernya menemani pengunjung bersantap. Suasana hangat menyambut pengunjung.<\/p>\n<p>\u201cSetelah kami sering ke Papua, kami jadi tahu salah satu unggulannya adalah kopi. Satu-satunya cara memperkenalkan kopi Papua, ya, dengan bikin kafe. Lalu, setelah kami menggarap Uncover Papua, kami ingin kenalkan Papua lebih dekat lagi kepada masyarakat. Tidak hanya lewat film atau dokumenter, tetapi juga produk budaya lain, yakni masakan,\u201d tutur Ale.<\/p>\n<p>Kopi memamg menjadi unggulan Alenia Papua Coffe &amp; Kitchen. Ada enam jenis kopi yang tersedia, yakni Amungme, Pegunungan Bintang, Moanemani, Tiam, Wansena, Deiyai. Kopi tersebut bisa disajikan dengan pilihan V60, kopi papua tubruk, kopi susu mamakota, kopi papua drip, dan kopi gula bakar. Ada pula variasi es kopi kacang tumbuk, yakni kopi susu dengan es krim dan taburan kacang tumbuk.<\/p>\n<p>Nia mengatakan, kopi susu mamakota merupakan favorit karena rasanya yang manis ringan meski tanpa gula. \u201cUntuk ngopi-ngopi cantik, ibu-ibu banyak yang memesan kopi ini,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Berkonsep restoran keluarga, Alenia Papua Coffee &amp; Kitchenmenawarkan aneka makanan yang nikmat disantap bersama keluarga, teman, atau kolega. Tersedia menu pembuka yang bisa dipilih, di antaranya papeda goreng, cumi kariting, dan bakwan ikan puri. Papeda goreng yang renyah disajikan bersama sambal ikan teri cabai merah pedas.<\/p>\n<p>Ikan puri adalah ikan kecil-kecil, sejenis <em>baby fish<\/em>, yang berwarna keperakan. Bakwan yang gurih nikmat dicocol dengan saus asam manis.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Langsung ditelan<\/strong><\/p>\n<p>Menu utama favorit jelas papeda ikan kuah kuning. Pelayan dengan ramah membantu pengunjung yang belum pernah mencicipi menu itu sebelumnya. Papeda disajikan dalam kuali tanah liat kecil. Potongan ikan kerapu berenang di kuah kuning bening dengan irisan tomat dan serai.<\/p>\n<p>\u201cKuah kuning lebih dahulu dituang, sedikit-sedikit ke dalam mangkuk. Kalau mau pedas, bisa dicampur sambal. Kami siapkan terpisah. Ini yata-yata, untuk menggulung papeda, lalu masukkan ke dalam mangkuk. Biasanya orang Papua makannya tidak menggunakan sendok, langsung dimasukkan ke mulut. Papedanya juga tidak dikunyah, langsung ditelan . Lebih nikmat,\u201d papar pelayan.<\/p>\n<p>Karena belum terbiasa, kami tetap menggunakan sendok. Dengan \u201cbantuan\u201d kuah kuning yang ringan dan seger, papeda langsung meluncur ke tenggorokan.<\/p>\n<p>Menu andalan lain adalah nasi campur papua, nasi kuning papua, nasi ikan kuah kuning, dan nasi sop brenebon. Nasi campur papua berupa nasi putih berbentuk kerucut dengan ikan goreng cakalang, telur pedis, bakwan ikan puri, tumis bunga pepaya, ikan kuah kuning, dan sambal. Adapun menu nasi kuning papua berupa nasi kuning dengan ikan goreng cakalang, tempe dan kentang kering, mi goreng, serundeng, ayam goreng, telur pedis, dan kerupuk bawang.<\/p>\n<p>\u201cNasi kuning seperti ini banyak dijual di Jayapura, terutama saat malam. Barangkali karena sekaranga seudah banyak pendatang sehingga olahan nasinya pun semakin beragam,\u201d ujar Nia.<\/p>\n<p>Untuk olahan ikan tersedia ikan bakan manokwari, ikan goreng biak sambal colo-colo\/dabu-dabu, serta ikan bakar colo-colo dan keladi tumbuk. Tumis kangkung dan bunga pepaya bisa menjadi pelengkap yang lezat.<\/p>\n<p>Menu nasi diolah dari beras Merauke, Berasnya putih, bentuknya cenderung panjang, dan teksturnya pulen. Ketika diolah, lanjut Nia, nasinya pas. Tidak kering, dan tidak lembek.<\/p>\n<p>Guna menjaga cita rasa yang otentik, bahan-bahan utama didatangkan dari Papua. Beras dari Merauke, ikan dikirim dua kali seminggu dari Biak, keladi juga dikirim dari Biak, sagu dikirim dari Serai.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Masa Kecil<\/strong><\/p>\n<p>Sebagai hidangan penuyup, pengunjung bisa memilih puding sagu kenari, kue lontar, pisang goreng gula merah, kue bola Persipura, bubur sagu, dan roti ampas terigu. \u201cPuding sagu dan bubur sagu ini makanan masa kecil Mas Ale. Saya belajar membuatnya dari resep keluarga,\u201d ucap Nia.<\/p>\n<p>Puding sagu dan bubur sagu disajikan dalam stoples kecil. Bubur sagu berupa sagu dingin padat yang dihancurkan, lalu disiram santan dan kacang merah. Adapun puding sagu berupa sagu dingin padat dicampur kacang kenari, lalu dituangi saus vanila. Rasanya manis dan seger. Ini kopi <em>pu<\/em> teman, teman cocok untuk minum kopi.<\/p>\n<p>Puding ini favorit pengunjung. Dalam sebulan bisa 500 cup bisa terjual. Nia harus membuat stok banyak puding sagu ketika harus bepergian lama ke Papua. Itu pun dengan cepat ludes sehingga ada hari-hari ketika menu itu tidak tersedia.<\/p>\n<p>Dengan beragam menu berbahan sagu tersebut, seketika terpikir bahwa ternyata sagu bisa diolah menjadi macam-macam makanan yang belum dikenal luas. Biasanya yang terbesit hanyalah papeda.<\/p>\n<p>Nia dan Ale berharap kafe milik mereka ini bisa menjadi wadah promosi Papua. Pengunjung tidak sekedar mengisi perut, tetapi juga mengisi otak karena tersedia banyak sumber pengetahuan tentang wilayah tersebut berupa buku, foto, dan film dokumenter.<\/p>\n<p>Kerinduan akan tanah Papua bisa terpuaskan. Keinginan yang belum kesampaian untuk ke sana pun tersalurkan.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Aneka Hidangan dari Peuyeum Bandung (Tape Singkong)<\/strong><\/p>\n<p>Bandung kaya akan penganan yang khas . Salah satunya, peuyeum bandung atau tape singkong. Seiring dengan perkembangan zaman dan semakin banyaknya makanan impor, penganan dari peuyeum mungkin terlupakan. Namun, jika Anda masih ingin menikmatinya, cobalah resep-resep hidangan dari peuyeum berikut ini, di antaranya colenak (dicocol enak). Rasanya tidak kalan dengan kudapan masa kini.<\/p>\n<ol>\n<li><strong> Colenak<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Bahan:<\/strong> 1 kilogram peuyeum yang sedang matangnya, jangan terlalu empuk, kira-kira \u00bd butir kelapa yang agak muda, gula jawa semanisnya, sedikit gula pasir, sedikit garam, 3-4 lembar daun pandan, sedikit tepung kanji.<\/p>\n<p><strong>Cara membuat:<\/strong> Mula-mula peuyeum dipanggang diatas api arang, buang seratnya, lalu potong-potong.<\/p>\n<p><strong>Kuah:<\/strong> Rebus gula jawa dengan ditambahkan segelas air sampai hancur, saring lalu jerangkan lagi, masukkan kelapa parut dan daun pandan dan sedikit garam. Didihkan, lalu tambahkan kira-kira 1 sendok tepung kanji yang sudah dilarutkan dengan sedikit air, sampai kuahnya agak mengental. Tambahkan gula pasir sampai cukup manis rasanya. Angkat lalu dinginkan. Taruh peuyeum bakar dipiring, siram dengan kuahny, hidangkan.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong> Wingko Tape<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Bahan:<\/strong> 300 gram peuyeum, 150 cc santan kental, 125 gram gula pasir, sedikit garam, 100 gram tepung terigu, 25 gram tepung kanji, 1 butir telur ayam, dan satu kuningnya untuk memulas permukaannya.<\/p>\n<p><strong>Cara membuat:<\/strong> Peuyeum dibuang seratnya, lalu lumatkan, tambahkan santan yang sudah diberi garam, gula, dan telur yang sudah dikocok, kemudian campurkan kedua macam tepung, aduk rata. Tuangkan adonan ke loyang ukuran 25 x 15 x 2 cm yang sudah diberi alas daun dan dipulas mentega. Adonan diratakan lalu panggang sampai matang. Pulas atasnya dengan kuning telur yang sudah di kocok dan dicampur dengan 1 sdm air gula. Panggang lagi sampai berwarna kuning keemasan. Angkat, dinginkan, lalu potong-potong.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong> Peuyeum Bollen<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Bahan:<\/strong> \u00bd kilogram peuyeum, 1 butir telur ayam, gula semanisnya, tepung terigu secukupnya, minyak goreng.<\/p>\n<p><strong>Cara membuat:<\/strong> Peuyeum dibuang seratnya, haluskan, campurkan telur, gula dan tepung terigu sampai merupakan adonan yang dapat dipulung. Pulungi bulat-bulat sebesar bola pingpong, lalu goreng sampai kuning.<\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><strong> Rucuh Tape<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p><strong>Bahan:<\/strong> \u00bd kilogram peuyeum (tape singkong), 3 gelas santan dari \u00bd butir kelapa, 300 gram gula jawa, 2 lembar daun pandan, es batu.<\/p>\n<p><strong>Cara membuat:<\/strong> Rebus santan dengan gula, garam, dan daun pandan. Setelah gulanya hancur, angkat lalu saring. Jerangkan kembali, masukkan peuyeum yang sudah dipotong-potong. Didihkan lagi, lalu angkat, dinginkan. Dihidangkan dengan ditambah es batu secukupnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber: Kompas.18 Maret 2018.Hal.30<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Papua tak hanya surga bagi petualangan alam. Kekayaan alamnya juga memberikan kelimpahan bahan pangan untuk dinikmati dalam petualangan kuliner. Dengan sentuhan dan kreasi, sagu, beras, dan ikan hadir memuaskan kerinduan akan cita rasa \u201cBumi Cendrawasih\u201d. Papeda dan ikan kuah kuning, Siapa tak mengenal sajian khas Papua ini. Tak perlu jauh-jauh untuk menikmati lezatnya papeda yang&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":14319,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-14317","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Papeda dari Ujung Timur.Kompas.18 Maret 2018.Hal.30 - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Papeda dari Ujung Timur.Kompas.18 Maret 2018.Hal.30 - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Papua tak hanya surga bagi petualangan alam. Kekayaan alamnya juga memberikan kelimpahan bahan pangan untuk dinikmati dalam petualangan kuliner. Dengan sentuhan dan kreasi, sagu, beras, dan ikan hadir memuaskan kerinduan akan cita rasa \u201cBumi Cendrawasih\u201d. Papeda dan ikan kuah kuning, Siapa tak mengenal sajian khas Papua ini. Tak perlu jauh-jauh untuk menikmati lezatnya papeda yang...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2018-07-05T06:38:31+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:27:24+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.F.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2717\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1777\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Papeda dari Ujung Timur.Kompas.18 Maret 2018.Hal.30\",\"datePublished\":\"2018-07-05T06:38:31+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:27:24+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\\\/\"},\"wordCount\":1302,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2018\\\/07\\\/Papeda-dari-Ujung-Timur.F.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\\\/\",\"name\":\"Papeda dari Ujung Timur.Kompas.18 Maret 2018.Hal.30 - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2018\\\/07\\\/Papeda-dari-Ujung-Timur.F.jpg\",\"datePublished\":\"2018-07-05T06:38:31+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:27:24+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2018\\\/07\\\/Papeda-dari-Ujung-Timur.F.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2018\\\/07\\\/Papeda-dari-Ujung-Timur.F.jpg\",\"width\":2717,\"height\":1777},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Papeda dari Ujung Timur.Kompas.18 Maret 2018.Hal.30\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Papeda dari Ujung Timur.Kompas.18 Maret 2018.Hal.30 - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Papeda dari Ujung Timur.Kompas.18 Maret 2018.Hal.30 - Library","og_description":"Papua tak hanya surga bagi petualangan alam. Kekayaan alamnya juga memberikan kelimpahan bahan pangan untuk dinikmati dalam petualangan kuliner. Dengan sentuhan dan kreasi, sagu, beras, dan ikan hadir memuaskan kerinduan akan cita rasa \u201cBumi Cendrawasih\u201d. Papeda dan ikan kuah kuning, Siapa tak mengenal sajian khas Papua ini. Tak perlu jauh-jauh untuk menikmati lezatnya papeda yang...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2018-07-05T06:38:31+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:27:24+00:00","og_image":[{"width":2717,"height":1777,"url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.F.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Papeda dari Ujung Timur.Kompas.18 Maret 2018.Hal.30","datePublished":"2018-07-05T06:38:31+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:27:24+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/"},"wordCount":1302,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.F.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/","name":"Papeda dari Ujung Timur.Kompas.18 Maret 2018.Hal.30 - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.F.jpg","datePublished":"2018-07-05T06:38:31+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:27:24+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/#primaryimage","url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.F.jpg","contentUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2018\/07\/Papeda-dari-Ujung-Timur.F.jpg","width":2717,"height":1777},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/papeda-dari-ujung-timur-kompas-18-maret-2018-hal-30\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Papeda dari Ujung Timur.Kompas.18 Maret 2018.Hal.30"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14317","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=14317"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14317\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":14472,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/14317\/revisions\/14472"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/14319"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=14317"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=14317"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=14317"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}