{"id":2231,"date":"2016-08-16T13:04:33","date_gmt":"2016-08-16T06:04:33","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=2231"},"modified":"2025-09-17T09:50:36","modified_gmt":"2025-09-17T02:50:36","slug":"albert-rahardjo-dan-peco-sushi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/","title":{"rendered":"Albert Rahardjo dan Peco Sushi"},"content":{"rendered":"<p>Berawal dari hobi menyantap sushi, Albert Rahardjo kini menjadi salah seorang pengusaha muda yang sukses. Albert membuka gerai sushi pada 2009. Tepatnya saat dia masih menjadi mahasiswa semester empat di Universitas Ciputra Surabaya. Saat itu dia sangat ingin bekerja untuk mencari pengalaman. Namun, karena statusnya masih mahasiswa, Albert merasa tidak bisa maksimal dalam proses mencari pengalaman.<\/p>\n<p>\u201cKalau mahasiswa, paling hanya bisa bekerja part time. Jadi, ya, Cuma gitu-gitu saja. Saya pikir, kalau membuka usaha sendiri, pengalaman yang saya dapat mungkin bisa lebih maksimal,\u201d ujarnya. Jadilah, dia mencoba membuka usaha sushi di Surabaya, Albert mengaku, tidak ada tantangan yang berarti saat kali pertama membuka usaha. Meski masih berstatus mahasiswa, orang tuanya sangat mendukung untuk menjadi pebisnis. Dengan modal Rp. 50 juta dari orang tuanya, Albert membuka sebuah kios sushi kecil-kecilan di mall. Modal tersebut terbilang pas-pasan. Jadi Albert tidak boleh terlalu banyak mengadakan biaya tambahan yang melebihi modal.<\/p>\n<p>Dalam pembukaan kios itu, Albert dibantu seorang desainer interior untuk mempercantik kiosnya. Soal menu, dia dibantu seorang <em>chef<\/em> hotel kenalannya. Pada awal pembukaan, dia menjual 20 menu sushi campuran (fusion). Mengapa fusion? \u201dSebab sushi fusion lebih cocok dengan lidah dengan orang Indonesia. Lebih gurih, segar dan manis,\u201dungkap sarjana manajemen tersebut. Albert bisa memasak sushi otentik. Namun sushi otentik dirasa kurang cocok dengan lidah orang Indonesia. Albert mengaku tidak sulit dalam memilih nama untuk brand sushi-nya. Albert menamai gerainya dengan brand Peco Peco Sushi. Peco-peco adalah bahasa slang Jepang yang berarti lapar. Nama itu dipilih karena mudah dilafalkan dan cocok untuk bisnis kuliner.<\/p>\n<p>Pada tahun 2009, sushi masih menjadi menu mewah di Surabaya. Rata-rata, harga sushi pada saat mencapai lebih dari Rp. 50 Ribu. Itu hanya sushi otentik yang dijual direstoran mewah dan hotel-hotel. Sementara itu, kios sushi fusion saat itu belum menjadi tren. \u201cOrang kalau mau beli sushi berat dikantong karena mahal. Saya ingin bikin sushi untuk masyarakat <em>middle class<\/em>. Jadi, harganya lebih murah,\u201dpapar pria kelahiran 7 Februari 1990 tersebut. Bila di restoran mewah satu porsi sushi dibanderol Rp. Ro ribu, Albert saat itu berani menjual sushi mulai harga Rp. 20 ribu. Banyak biaya yang di tekan agar bisa menjual sushi dengan harga murah. Biaya operasional, sewa tempat, tenaga kerja dan lain-alin dibuat serendah mungkin. Dengan harga yang lebih murah dan rasa yang lebih sesuai dengan selera lokal, sushi fusion racikan Albert laris. Dia bisa mendatangkan hingga 200 <em>customer<\/em> per hari. Dalam waktu tiga bulan, Albert bisa balik modal.<\/p>\n<p>Pada 2010, Albert mulai menambah empat <em>outlet<\/em> baru di Surabaya. Dalam pembukaan <em>outlet <\/em>baru ini, Albert mendapatkan pembelajaran. Dia merugi ratusan juta rupiah karena dua kali salah memilih lokasi. Lokasi yang dipilih terletak di mall. Namaun lokasinya cenderung tidak mudah dilirik pengunjung. Selain itu, Albert pernah salah membuka <em>outlet outdoor <\/em>di mall.lokasinya jauh dari tempat parkir. Kalau hujan, <em>outlet<\/em> tersebut kehujanan sehingga pengunjung jarang datang. Kerugian yang dialami cukup mengganggu kondisi finansial usahanya. Namun, Abert pantang menyerah. Dia tetap membuka <em>outlet <\/em>baru di lokasi yang lebih strategis. Pada 2012, Albert membuka <em>outlet<\/em> di Malang. Kini dia memiliki 14 <em>outlet<\/em> yang tersebar di Surabaya, Malang, Sidoarjo, Jember dan Jakarta. Ada lima gerai Peco-peco Sushi yang berupa kios sisanya berupa restoran dan stan di <em>foodcourt <\/em>mall. Dalam sehari, Albert mampu menjual hingga 600 porsi dai 14 <em>outlet <\/em>peco-peco Sushi miliknya. Penjual peco-peco sushi juga dibantu dengan adanya layanan pesan antar (<em>delivery ordr)<\/em>. Layanan tersebut sebenarnya sudah ada sejak 2009. Namun saat itu jumlah armada kurir yang dimiliki Albert terbatas.<\/p>\n<p>Dia mengaku sangat terbantu dengan adanya layanan pesan antar dari <em>provider<\/em> ojek <em>online<\/em>. Selain praktis, tren konsumsi makanan masyarakat saat ini mulai bergeser dengan mengandalkan cara pemesanan via internet. Tahun ini Albert berencana membuka tiga <em>outlet <\/em>baru di Surabaya, Malang, dan Sidoarjo. Jumlah menu yang saat ini ada 60 akan ditambah sepuluh menu baru. \u201cMenu itu harus banyak dan variatif supaya customer tidak bosan,\u201dungkap anak ketiga dari empat bersaudara tersebut. (rin\/c5\/noe)<\/p>\n<p><strong>Tips pengusaha kuliner:<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Perhatikan lokasi<\/li>\n<\/ul>\n<p>Lokasi sangat menentukan kesuksesan usaha kuliner. Kalau membutuhkan <em>outlet <\/em>di mall, pilih lokasi yang mudah dilihat pengunjung. Misalnya, didekat pintu masuk dan di dekat tempat parkir<\/p>\n<ul>\n<li>Lakukan branding dan advertising yang konsisten serta baik<\/li>\n<\/ul>\n<p>Meski lokasi sudah strategis, kalau branding-nya kurang kuat, pengunjung tidak akan tertarik untuk datang.<\/p>\n<ul>\n<li>Jangan mudah menyerah<\/li>\n<\/ul>\n<p>Kita tidak pernah tahu kapan usaha kuliner itu akan maju dan sukses<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>TERKENDALA KUOTA IMPOR<\/strong><\/p>\n<p>Menjual sushi bukan meski sushi otentik, memiliki tantangan tersendiri. Salah satu tantangan yang dihadapi Albert di awal usahanya adalah mendapatkan bahan-bahan yang harus diimpor. Rupanya, pemerintah masih menerapkan batasan-batasan atas volume barang impor, terutama barang konsumsi. Batasan tersebut beragam, tergantung jenis barang yang diimpor. Meski pembatasan itu cenderung baik untuk mendorong pembelian barang konsumsi dari dalam negeri, industry kuliner, terutama makanan asing, terkena dampaknya.\u201dsaya jadi susah mendapatkan bahan baku dari importer,\u201dkeluh Albert. Beberapa bahan baku impor yang dibutuhkan Albert untuk <em>outlet <\/em>sushinya antara lain ikan salmon, daging sapi, beras jepang, rumput laut (nori) dan bumbu sushi. Bahan-bahan itu harus diimpor dari Jepang, Korea Selatan, Singapura, Thailand, Tiongkok dan Norwegia. Bahan baku impor tersebut sebenarnya bisa disubstitusi dengan bahan dari dalam negeri seperti daging sapi dan bumbu. Namun, kualitasnya tidak seperti yang diharapkan Albert. \u201cTidak sebagus dari luar negeri. Kalau akhirnya rasa produk kami jadi tidak enak, kan pasti customer complain,\u201dujarnya. Selain pembatasan kuota impor, harga barang konsumsi impor mahal karena dikenai pajak yang tinggi. Sampai saat ini Albert cederung idealis sehingga dirinya tetap tidak mau mengganti bahan impor tersebut dengan bahan dari dalam negeri.<\/p>\n<p>Kalaupun harus membeli bahan impor dengan harga mahal, Albert rela melakukannya, itu lebih baik daripada mengganti dengan bahan baku dari dalam negeri, namun dengan resiko rasa sushi yang kurang enak dan tidak disukai pelanggan. \u201cSampai saat ini, kami masih bisa membuat sushi fusion yang murah meski bahan impor cenderung mahal. Tapi harganya naik terus, bisa saja harga jual sushi naik sedikit \u2018jelas pria yang hobi nge-gym itu (rin\/c23\/noe)<\/p>\n<p>Sumber: Jawa Pos, Senin, 11 Juli 2016<\/p>\n<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2016\/08\/Albert-Rahardjo-dan-Peco-Sushi_Pernah-Merugi-Ratusan-Juta-karena-Salah-Tempat.-Jawa-Pos.11-Juli-2016.Hal_.6.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-2232\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2016\/08\/Albert-Rahardjo-dan-Peco-Sushi_Pernah-Merugi-Ratusan-Juta-karena-Salah-Tempat.-Jawa-Pos.11-Juli-2016.Hal_.6.jpg\" alt=\"Albert Rahardjo dan Peco Sushi_Pernah Merugi Ratusan Juta karena Salah Tempat. Jawa Pos.11 Juli 2016.Hal.6\" width=\"2782\" height=\"2877\" \/><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berawal dari hobi menyantap sushi, Albert Rahardjo kini menjadi salah seorang pengusaha muda yang sukses. Albert membuka gerai sushi pada 2009. Tepatnya saat dia masih menjadi mahasiswa semester empat di Universitas Ciputra Surabaya. Saat itu dia sangat ingin bekerja untuk mencari pengalaman. Namun, karena statusnya masih mahasiswa, Albert merasa tidak bisa maksimal dalam proses mencari&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":78992,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,454,297],"tags":[],"class_list":["post-2231","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uc-news","category-uc-news-2016","category-uc-news-juli-2016"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Albert Rahardjo dan Peco Sushi - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Albert Rahardjo dan Peco Sushi - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Berawal dari hobi menyantap sushi, Albert Rahardjo kini menjadi salah seorang pengusaha muda yang sukses. Albert membuka gerai sushi pada 2009. Tepatnya saat dia masih menjadi mahasiswa semester empat di Universitas Ciputra Surabaya. Saat itu dia sangat ingin bekerja untuk mencari pengalaman. Namun, karena statusnya masih mahasiswa, Albert merasa tidak bisa maksimal dalam proses mencari...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2016-08-16T06:04:33+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-09-17T02:50:36+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2016\/08\/cha.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"485\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"408\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Albert Rahardjo dan Peco Sushi\",\"datePublished\":\"2016-08-16T06:04:33+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-17T02:50:36+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\\\/\"},\"wordCount\":963,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2016\\\/08\\\/cha.jpg\",\"articleSection\":[\"UC News\",\"UC News 2016\",\"UC News Juli 2016\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\\\/\",\"name\":\"Albert Rahardjo dan Peco Sushi - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2016\\\/08\\\/cha.jpg\",\"datePublished\":\"2016-08-16T06:04:33+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-17T02:50:36+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2016\\\/08\\\/cha.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2016\\\/08\\\/cha.jpg\",\"width\":485,\"height\":408},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Albert Rahardjo dan Peco Sushi\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Albert Rahardjo dan Peco Sushi - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Albert Rahardjo dan Peco Sushi - Library","og_description":"Berawal dari hobi menyantap sushi, Albert Rahardjo kini menjadi salah seorang pengusaha muda yang sukses. Albert membuka gerai sushi pada 2009. Tepatnya saat dia masih menjadi mahasiswa semester empat di Universitas Ciputra Surabaya. Saat itu dia sangat ingin bekerja untuk mencari pengalaman. Namun, karena statusnya masih mahasiswa, Albert merasa tidak bisa maksimal dalam proses mencari...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2016-08-16T06:04:33+00:00","article_modified_time":"2025-09-17T02:50:36+00:00","og_image":[{"width":485,"height":408,"url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2016\/08\/cha.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Albert Rahardjo dan Peco Sushi","datePublished":"2016-08-16T06:04:33+00:00","dateModified":"2025-09-17T02:50:36+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/"},"wordCount":963,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2016\/08\/cha.jpg","articleSection":["UC News","UC News 2016","UC News Juli 2016"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/","name":"Albert Rahardjo dan Peco Sushi - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2016\/08\/cha.jpg","datePublished":"2016-08-16T06:04:33+00:00","dateModified":"2025-09-17T02:50:36+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/#primaryimage","url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2016\/08\/cha.jpg","contentUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2016\/08\/cha.jpg","width":485,"height":408},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/albert-rahardjo-dan-peco-sushi\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Albert Rahardjo dan Peco Sushi"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2231","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2231"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2231\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2775,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2231\/revisions\/2775"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/78992"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2231"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2231"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2231"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}