{"id":28740,"date":"2021-08-19T10:31:23","date_gmt":"2021-08-19T03:31:23","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?p=28740"},"modified":"2022-02-12T11:30:44","modified_gmt":"2022-02-12T04:30:44","slug":"the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/","title":{"rendered":"The Sin Nio dan Ho Wan Moy, Srikandi Tionghoa untuk Kemerdekaan. nationalgeographic. 20 Januari 2021grid.id."},"content":{"rendered":"<p><a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/132501060\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan?page=all\">https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/132501060\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan?page=all<\/a><\/p>\n<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/Sosok-The-Sin-Nio.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-28780\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/Sosok-The-Sin-Nio-1030x699.png\" alt=\"\" width=\"1030\" height=\"699\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/Sosok-The-Sin-Nio-1030x699.png 1030w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/Sosok-The-Sin-Nio-300x204.png 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/Sosok-The-Sin-Nio-768x521.png 768w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/Sosok-The-Sin-Nio-705x479.png 705w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/Sosok-The-Sin-Nio.png 1408w\" sizes=\"auto, (max-width: 1030px) 100vw, 1030px\" \/><\/a><\/p>\n<p><a class=\"read__author\" href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/penulis\/8802\/afkar-aristoteles-mukhaer\"><span class=\"read__author pink\">Afkar Aristoteles Mukhaer<\/span><\/a><\/p>\n<p><strong>Nationalgeographic.co.id\u2014<\/strong>Perjuangan untuk mempertahankan\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/kemerdekaan\">kemerdekaan<\/a>\u00a0tak hanya berasal dari golongan laki-laki pribumi saja. Ketika Belanda yang menginginkan kembali menancapkan bendera triwarnanya di Bumi Pertiwi, semua rakyat Indonesia berjuang bersama\u2014tanpa meamndang gender, keturunan, dan agama.<\/p>\n<p>Kebanyakan\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/perempuan\">perempuan<\/a>\u00a0memberi dukungan dan bantuan kepada para\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0dari logistik. Sebab, lingkungan perjuangan garis terdepan bernuansa patriarkis pada masanya. Namun, ada segelintir\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/perempuan\">perempuan<\/a>\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/tionghoa\">Tionghoa<\/a>, demi cintanya untuk negeri ini, bersedia tampil di garis depan perjuangan fisik dan bergerilya dengan para\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Demi dapat bergabung dengan gerilyawan, The Sin Nio merubah identitas administrasinya sebagai laki-laki dengan nama Mochamad Moeksin. Sehingga dia pun dapat bergabung dengan\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0lainnya dalam Kompi 1 Batalyon 4 Resimen 18, demikian berdasarkan laporan majalah\u00a0<em>Sarinah<\/em>\u00a0edisi 6 Agustus 1984. Majalah itu koleksi Museum Pustaka Peranakan\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/tionghoa\">Tionghoa<\/a>\u00a0di Tangerang Selatan.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/perempuan\">Perempuan<\/a>\u00a0asal Wonosobo tersebut, menurut keterangan cucunya, Rosalia Sulistiawati saat dihubungi\u00a0<em>National Geographic Indonesia<\/em>, ia turut berperan di bidang logistik dan persenjataan. Setelah menjadi bagian logistik, ia dipindahkan ke bagian perawat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tak banyak gambaran secara detail mengenai sosok The Sin Nio pada masa perjuangan\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/kemerdekaan\">kemerdekaan<\/a>.<\/p>\n<p>Sejak 1973 ia meninggalkan keluarganya untuk pergi ke Jakarta untuk menuntut haknya sebagai\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/veteran\">veteran<\/a>. Ia baru mendapatkan pengakuan sebagai\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/veteran\">veteran<\/a>\u00a0pada 15 Agustus 1981, berdasarkan Surat Keputusan yang ditandatangani Wakil Panglima ABRI, Laksamana Sudomo. Akan tetapi, pengakuan tersebut tak beriringan dengan cairnya hak tunjangan veterannya.<\/p>\n<p>\u201cOma terlunta-terlunta sampai menempati rumah di pinggir rel, saya pernah ke sana sama Papa. Seperti kontrakan gitu. Kalau kereta lewat rumahnya bergetar,\u201d kenang Rosalia. \u201cHanya papa saya yang sering berkunjung ke Jakarta,\u00a0<em>nengokin<\/em>\u00a0Oma. Kalau ada papa ada urusan di Jakarta sering menyempatkan ketemu Oma.\u201d<\/p>\n<p>Ia menghabiskan sisa hidupnya hingga meninggal pada 1985 di usia 70 tahun di kawasan kumuh di dekat Stasiun Juanda, Jakarta. \u201cSaya tidak mau merepotkan bangsa saya, biarlah saya hidup dan mati dalam kesendirian, karena hanya Tuhan yang mampu memeluk dan menghargai gelandangan seperti saya!\u201d ucap The Sin Nio pada majalah\u00a0<em>Sarinah<\/em>.<\/p>\n<p><strong>Ho Wan Moy (Tika Nurwati)<\/strong><\/p>\n<p>Sejak muda, Tika Nuwrwati telah terlibat perjuangan\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/kemerdekaan\">kemerdekaan<\/a>\u00a0di Jawa Tengah. Ia pun mendapat penganugerahan Bintang Gerilya dan Bintang\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/veteran\">Veteran<\/a>\u00a0pasca\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/kemerdekaan\">kemerdekaan<\/a>. Keberaniannya, diungkap oleh Lisa Suroso dalam\u00a0<em>Suara Baru<\/em>\u00a0edisi Maret-April 2008 berkat\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0yang datang padanya, Herman Sarens Soediro dari Kompi Tentara Pelajar Siliwangi.<\/p>\n<p>\u201cKamu jangan takut. Walaupun kamu\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/perempuan\">perempuan<\/a>\u00a0dan\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/tionghoa\">Tionghoa<\/a>, kamu harus berani,\u201d ucap\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0muda itu pada Ho Wan Moy.<\/p>\n<p>Dorongan itulah yang membuatnya ikut berperan dalam gerilya. Ia sempat menjadi para\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0ke tempat persembunyian senjata di Banjar. Kemudian bergabung Palang Merah Indonesia dan Laskar Wanita Indonesia untuk merawat\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0yang terluka, mengurusi logistik tentara, dan merangkap sebagai mata-mata.<\/p>\n<p><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/asset-a.grid.id\/crop\/0x0:300x397\/700x0\/photo\/2021\/01\/16\/930364165.jpg\" alt=\"Tika Nurwati (Ho Wan Moy)\" \/><\/p>\n<p>Tika Nurwati (Ho Wan Moy)<\/p>\n<p>Kisahnya menjadi mata-mata bermula dari habisnya persediaan singkong dan beras milik keluarganya setelah disumbangkan kepada gerilyawan. Ia terpaksa harus ke kota melewati pos-pos Belanda untuk belanja. Beruntung ia tak dicurigai.<\/p>\n<p>Sesaat melewati pos-pos Belanda, ia juga mencatat jumlah tantara yang berjaga. Ia mengungkapkan bila tentara yang berjaga adalah pasukan Belanda Hitam (sebutan untuk tentara KNIL pribumi saat itu), dan sedikit yang Belanda putih.<\/p>\n<p>Setelah melewati perjalanan yang menegangkan, ia langsung memberikan data-datanya kepada Soediro Wirjo Soehardjo\u2014ayah dari Herman\u2014yang menangani masalah logistik Batalyon IV Resimen XI Divisi III Siliwangi.<\/p>\n<p>Desember 1947, Ho Wan Moy dipercaya oleh Soediro untuk dititipkan rombongan\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/perempuan\">perempuan<\/a>\u00a0ketika kampungnya hendak digempur. Ia mendapat kabar bahwa orang\u00a0<a href=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/tag\/tionghoa\">Tionghoa<\/a>\u00a0di Banjar, Jawa Barat, menjadi sasaran pembantaian di tengah-tengah suasana kacau.<\/p>\n<p>Ia juga menyampaikan kesaksiannya saat nekat ke kota untuk mencari Soediro yang bergerilya. Ia menemukan jasad bapak\u2014panggilannya untuk Soediro\u2014tak bernyawa tak jauh dari jenazah pamannya yang juga turut berjuang. Malam itu juga, keduanya dimakamkan Ho Wan Moy bersama ibu dan neneknya.<\/p>\n<h1 class=\"read__title\">Pahlawan Perempuan Asal Wonosobo The Sin Nio, Pejuang Bersenjata Bambu Runcing, Sosok Kartini Sebenarnya<\/h1>\n<p><a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/nasional\/pr-1561806383\/pahlawan-perempuan-asal-wonosobo-the-sin-nio-pejuang-bersenjata-bambu-runcing-sosok-kartini-sebenarnya\">https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/nasional\/pr-1561806383\/pahlawan-perempuan-asal-wonosobo-the-sin-nio-pejuang-bersenjata-bambu-runcing-sosok-kartini-sebenarnya<\/a><\/p>\n<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/The-Sin-Nio.png\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-large wp-image-28765\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/The-Sin-Nio-1030x647.png\" alt=\"\" width=\"1030\" height=\"647\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/The-Sin-Nio-1030x647.png 1030w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/The-Sin-Nio-300x188.png 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/The-Sin-Nio-768x483.png 768w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/The-Sin-Nio-705x443.png 705w, https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/The-Sin-Nio.png 1391w\" sizes=\"auto, (max-width: 1030px) 100vw, 1030px\" \/><\/a><\/p>\n<p><a>Erwin Abdillah<\/a><\/p>\n<p><strong>KABAR WONOSOBO<\/strong>\u00a0\u2013 Nyatanya nasib\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/kemerdekaan\">kemerdekaan<\/a>\u00a0tidak selalu sama, seperti mendapatkan haknya seperti jaminan pensiun hingga pengakuan dari Negara secara langsung.<\/p>\n<p>Kehidupan yang cukup berat dialami oleh\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/perempuan\">perempuan<\/a>\u00a0bernama The\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>, seorang keturunan Tionghoa asal Wonosobo yang turut bertempur melawan belanda.\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0meninggal dunia dan dimakamkan di\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Jakarta\">Jakarta<\/a>\u00a0pada tahun 1985 di usia 70 tahun.<\/p>\n<p>Dikutip Kabar Wonosobo dari Majalah Sarinah yang terbit 6 Agustus 1984, Koleksi Museum Pustaka Peranakan Tionghoa, berikut fakta mengenai kehidupan\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0yang patut diangkat sebagai sosok teladan dan perwujudan\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Kartini\">Kartini<\/a>\u00a0lewat jalan sunyi sebenarnya.<\/p>\n<p>\u201cSaya tidak mau merepotkan bangsa saya, biarlah saya hidup dan mati dalam kesendirian, karena hanya Tuhan yang mampu memeluk dan menghargai gelandangan seperti saya!\u201d sebuah kutipan dari Majalah Sarinah yang sangat menohok dan pengingat untuk generasi ini agar lebih menghargai pahlawan dan pejuangnya.<\/p>\n<p>Di sisa usianya yang senja,\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0menghabiskan sisa hidupnya bertahan hidup di kawasan kumuh di dekat Stasiun Juanda,\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Jakarta\">Jakarta<\/a>.<\/p>\n<p>Bahkan, setelah masa\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/kemerdekaan\">kemerdekaan<\/a>\u00a0dan kondisi negara aman,\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0yang asli Wonosobo, sempat hidup terlantar ketika berjuang bertahan hidup di\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Jakarta\">Jakarta<\/a>.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0memiliki enam anak dari dua orang suami, keduanya ikatan pernikahannya berakhir dengan perceraian.<\/p>\n<p>Sebagai janda dengan enam anak, hidup\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0sangatlah berat, dan atas itu, tekad semakin bulat untuk pindah dari Wonosobo ke\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Jakarta\">Jakarta<\/a>\u00a0pada tahun 1973.<\/p>\n<p>Alasan lain ke\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Jakarta\">Jakarta<\/a>\u00a0adalah karena\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/perempuan\">perempuan<\/a>\u00a0Wonosobo itu tidak mendapatkan pensiun sebagai\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/kemerdekaan\">kemerdekaan<\/a>.<\/p>\n<p>Maka\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0mantap berangkat ke\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Jakarta\">Jakarta<\/a>\u00a0untuk mengurus hak pensiunnya dan meskipun dinilai cukup jarang adanya\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0Tionghoa, nyatanya ada sederet\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0Tionghoa yang hingga kini tercatat sebagai pahlawan\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/kemerdekaan\">kemerdekaan<\/a>.<\/p>\n<p>Dalam catatan perjuangannya,\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0ikut bertempur melawan\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Belanda\">Belanda<\/a>\u00a0dan bergabung dalam Kompi 1 Batalion 4 Resimen 18.<\/p>\n<p>Berada di bawah komando Sukarno yang terakhir berpangkat Brigjend dan pernah menjadi Duta Besar RI untuk Aljazair. Di Resimen itu,\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0adalah satu-satunya prajurit\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/perempuan\">perempuan<\/a>\u00a0dalam kompi tersebut dan bersenjatakan golok, tombak, bahkan bambu runcing.<\/p>\n<p>Baru setelah berhasil merampas senapan jenis LE dari pihak\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Belanda\">Belanda<\/a>,\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0memiliki senjata api.<\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0pernah dipindah ke bagian perawat palang merah karena banyak sekali\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0terluka dan butuh perawatan medis.<\/p>\n<p>Hidup sebagai janda dengan 6 anak di Wonosobo, hidupnya sangat berat, terlebih dalam usia yang senja.<\/p>\n<p>Usai berangkat ke\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Jakarta\">Jakarta<\/a>\u00a0untuk mengurus hak pensiunnya pada 1973,\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0sempat menumpang tinggal selama sembilan bulan di Markas Besar Legiun Veteran Republik Indonesia, di Jalan Gajah Mada.<\/p>\n<p>Usai tinggal menumpang, lalu\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0menggelandang di ibukota di usia 60 tahun harus kehujanandan \u00a0kepanasan tanpa tempat tinggal layak.<\/p>\n<p>Setelah perjuangan panjang, pada tanggal 29 Juli 1976,\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0berhasil mendapatkan pengakuan sebagai\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0yang mempertahankan\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/kemerdekaan\">kemerdekaan<\/a>\u00a0Republik Indonesia.<\/p>\n<p>Pengakuan itu tertuang di Surat Keputusan pengakuan The\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0yang dikeluarkan oleh Mahkamah Militer Yogyakarta, ditandatangani oleh Kapten CKH Soetikno SH dan Lettu CKH Drs. Soehardjo.<\/p>\n<p>Tetapi nahas, SK tersebut tidak diiringi dengan hak pensiun untuk\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>, sehingga dirinya harus bertahan sebagai gelandangan di seputaran pintu air dekat masjid Istiqlal\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Jakarta\">Jakarta<\/a>.<\/p>\n<p>Akhirnya, beberapa tahun kemudian, uang pensiun sebesar Rp28.000 per bulan diperolehnya, namun tidak mencukupi kebutuhannya.<\/p>\n<p>Terpaksa,\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0tinggal di gubuk tanah pinggiran rel kereta api milik PJKA dan bersikeras enggan pulang lagi ke Wonosobo.<\/p>\n<p>Namun\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0tak pernah lupa mengirimkan uang kepada anak cucunya di Wonosobo.<\/p>\n<p>Dalam sebuah petikan di Majalah Sarinah (1984)\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0menyebut lebih memilih hidup sendiri di\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Jakarta\">Jakarta<\/a>.<\/p>\n<p>\u201cSaya tak mau merepotkan anak cucu saya, biarlah saya hidup sendiri di\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Jakarta\">Jakarta<\/a>, meski dalam tempat seperti ini!\u201d tutur\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/pejuang\">pejuang<\/a>\u00a0Wanita itu.<\/p>\n<p>Selain itu,\u00a0<a href=\"https:\/\/kabarwonosobo.pikiran-rakyat.com\/tag\/Sin%20Nio\">Sin Nio<\/a>\u00a0pernah dijanjikan sebuah rumah di Perumnas dari Menteri Perumahan di masa itu, Cosmas Batubara, namun diduga tidak dipenuhi hingga akhir hayatnya.***<\/p>\n<p>Editor:\u00a0<a>Erwin Abdillah<\/a><\/p>\n<p>Sumber: Majalah Sarinah<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div class=\"photo photo--main\"><\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/132501060\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan?page=all Afkar Aristoteles Mukhaer Nationalgeographic.co.id\u2014Perjuangan untuk mempertahankan\u00a0kemerdekaan\u00a0tak hanya berasal dari golongan laki-laki pribumi saja. Ketika Belanda yang menginginkan kembali menancapkan bendera triwarnanya di Bumi Pertiwi, semua rakyat Indonesia berjuang bersama\u2014tanpa meamndang gender, keturunan, dan agama. Kebanyakan\u00a0perempuan\u00a0memberi dukungan dan bantuan kepada para\u00a0pejuang\u00a0dari logistik. Sebab, lingkungan perjuangan garis terdepan bernuansa patriarkis pada masanya. Namun, ada segelintir\u00a0perempuan\u00a0Tionghoa, demi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":28804,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-28740","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uncategorized-id"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>The Sin Nio dan Ho Wan Moy, Srikandi Tionghoa untuk Kemerdekaan. nationalgeographic. 20 Januari 2021grid.id. - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"The Sin Nio dan Ho Wan Moy, Srikandi Tionghoa untuk Kemerdekaan. nationalgeographic. 20 Januari 2021grid.id. - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/132501060\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan?page=all Afkar Aristoteles Mukhaer Nationalgeographic.co.id\u2014Perjuangan untuk mempertahankan\u00a0kemerdekaan\u00a0tak hanya berasal dari golongan laki-laki pribumi saja. Ketika Belanda yang menginginkan kembali menancapkan bendera triwarnanya di Bumi Pertiwi, semua rakyat Indonesia berjuang bersama\u2014tanpa meamndang gender, keturunan, dan agama. Kebanyakan\u00a0perempuan\u00a0memberi dukungan dan bantuan kepada para\u00a0pejuang\u00a0dari logistik. Sebab, lingkungan perjuangan garis terdepan bernuansa patriarkis pada masanya. Namun, ada segelintir\u00a0perempuan\u00a0Tionghoa, demi...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2021-08-19T03:31:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2022-02-12T04:30:44+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/2095280854.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1303\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"825\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"The Sin Nio dan Ho Wan Moy, Srikandi Tionghoa untuk Kemerdekaan. nationalgeographic. 20 Januari 2021grid.id.\",\"datePublished\":\"2021-08-19T03:31:23+00:00\",\"dateModified\":\"2022-02-12T04:30:44+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\\\/\"},\"wordCount\":1231,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2021\\\/08\\\/2095280854.jpeg\",\"articleSection\":[\"Uncategorized @id\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\\\/\",\"name\":\"The Sin Nio dan Ho Wan Moy, Srikandi Tionghoa untuk Kemerdekaan. nationalgeographic. 20 Januari 2021grid.id. - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2021\\\/08\\\/2095280854.jpeg\",\"datePublished\":\"2021-08-19T03:31:23+00:00\",\"dateModified\":\"2022-02-12T04:30:44+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2021\\\/08\\\/2095280854.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2021\\\/08\\\/2095280854.jpeg\",\"width\":1303,\"height\":825},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"The Sin Nio dan Ho Wan Moy, Srikandi Tionghoa untuk Kemerdekaan. nationalgeographic. 20 Januari 2021grid.id.\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"The Sin Nio dan Ho Wan Moy, Srikandi Tionghoa untuk Kemerdekaan. nationalgeographic. 20 Januari 2021grid.id. - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"The Sin Nio dan Ho Wan Moy, Srikandi Tionghoa untuk Kemerdekaan. nationalgeographic. 20 Januari 2021grid.id. - Library","og_description":"https:\/\/nationalgeographic.grid.id\/read\/132501060\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan?page=all Afkar Aristoteles Mukhaer Nationalgeographic.co.id\u2014Perjuangan untuk mempertahankan\u00a0kemerdekaan\u00a0tak hanya berasal dari golongan laki-laki pribumi saja. Ketika Belanda yang menginginkan kembali menancapkan bendera triwarnanya di Bumi Pertiwi, semua rakyat Indonesia berjuang bersama\u2014tanpa meamndang gender, keturunan, dan agama. Kebanyakan\u00a0perempuan\u00a0memberi dukungan dan bantuan kepada para\u00a0pejuang\u00a0dari logistik. Sebab, lingkungan perjuangan garis terdepan bernuansa patriarkis pada masanya. Namun, ada segelintir\u00a0perempuan\u00a0Tionghoa, demi...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2021-08-19T03:31:23+00:00","article_modified_time":"2022-02-12T04:30:44+00:00","og_image":[{"width":1303,"height":825,"url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/2095280854.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"The Sin Nio dan Ho Wan Moy, Srikandi Tionghoa untuk Kemerdekaan. nationalgeographic. 20 Januari 2021grid.id.","datePublished":"2021-08-19T03:31:23+00:00","dateModified":"2022-02-12T04:30:44+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/"},"wordCount":1231,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/2095280854.jpeg","articleSection":["Uncategorized @id"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/","name":"The Sin Nio dan Ho Wan Moy, Srikandi Tionghoa untuk Kemerdekaan. nationalgeographic. 20 Januari 2021grid.id. - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/2095280854.jpeg","datePublished":"2021-08-19T03:31:23+00:00","dateModified":"2022-02-12T04:30:44+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/#primaryimage","url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/2095280854.jpeg","contentUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2021\/08\/2095280854.jpeg","width":1303,"height":825},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/the-sin-nio-dan-ho-wan-moy-srikandi-tionghoa-untuk-kemerdekaan-nationalgeographic-20-januari-2021grid-id\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"The Sin Nio dan Ho Wan Moy, Srikandi Tionghoa untuk Kemerdekaan. nationalgeographic. 20 Januari 2021grid.id."}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28740","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=28740"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28740\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":28823,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/28740\/revisions\/28823"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/28804"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=28740"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=28740"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=28740"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}