{"id":295,"date":"2015-05-20T04:03:22","date_gmt":"2015-05-20T04:03:22","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=295"},"modified":"2025-05-01T12:37:29","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:29","slug":"melayani-petani-dengan-hati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/","title":{"rendered":"Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2015\/05\/Melayani-Petani-dengan-Hati.Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-296\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2015\/05\/Melayani-Petani-dengan-Hati.Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16.jpg\" alt=\"Melayani Petani dengan Hati.Kompas.6 Mei 2015.Hal.16\" width=\"977\" height=\"802\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>Cristiyani Margaretha<\/strong><\/p>\n<p><strong>Matahari sore itu masih bersinar terik. Cristiyani bersama sang suami,Wawanto (42), berkeliling kawasan unit pemukiman transmigrasi kilometer 38,kelurahan Sei Gohong, menggunakan sepeda motor. Sejumlah warga yang juga petani ramah menyapa dan disapa\u00a0 Cristiyani yang dikenal akrab sebagai penyuluh pertanian.<\/strong><\/p>\n<p><strong>OLEH WILIBRORDUS<\/strong><\/p>\n<p><strong>MEGANDIKA WICAKSONO<\/strong><\/p>\n<p>Cristiyani menjadi tenaga harian-lepas tenaga bentu penyuluh pertanian (THI-TBPP) di kelurahan Sei Gohong, Kecamatan Bukit Batu , Palangkaraya, Kalimantan tengah (Kalteng), sejak 2008. Kelurahan yang terletak di barat laut Palangkaraya itu terbagi menjadi dua wilayah, dikilometer 33 biasa disebut Sei Gohong Kampung yang dihuni penduduk asli\u00a0 suku Dayak Kalteng dan kilometer 38 menjadi lokasi transmigrasi agribisnis dan peternakan DKI Jakarta.<\/p>\n<p>Berbekal ilmu pengetahuan tentang pertanian yang ditimbah dibangku kuliah pada Fakultas Pertanian Universitas Palangkaraya\u00a0 jenjang D-3 pada 1995, serta pengalaman membina 10 desa saat bekerja di perusahaan Kayu Mas di Parenggean, Kotawaringin Timur, Kalteng, Cristiyani menekuni pekerjaan sebagai penyuluh\u00a0 pertanian \u201c penyuluh pertanian hanya sebagai jembatan antara pemerintah dan para petani,\u201d katanya, minggu n(26\/4).<\/p>\n<p>Upaya dan karya Cristiyani menjembatani banyak program pemerintah bagi kemajuan pertanian di kelurahan Sei Gahong tampah dari perkembangan kesejahteraan penduduk disana. Rumah-rumah, yang dulu masih berupa bangunan kayu, sekarang mulai dibangun dengan tembok para petanipun sudah bisa memiliki alat transportasi pribadi berupa sepeda motor.<\/p>\n<p>\u201cDulu masih banyak warga yang menggunakan\u00a0 sitem ladang berpindah dan menanam tanaman tanpa memperhitungkan biaya, seperti biaya biaya tenaga kerja, listrik untuk menyedot air. Program pemerintahpun\u00a0 biasanya selesai dalam\u00a0 sekali masa tanaman ,\u201dtutur Cristiyani.<\/p>\n<p>Melalui pendekatan personal dan informal, secara perlahan Cristiyani mengajak para petani untuk mengelola ladang yang dimilikinya secara berkesinambungan. Program-program pemerintah juga ditawarkan dengan selektif dan penuh pertimbangan\u00a0 disertai juga dengan hasil survey dilapangan.<\/p>\n<p>\u201cProgram akan berjalan jika diterima oleh orang yang total dan tidak setengah-setengah. Oleh karena itu, mengenal setiap karakter petani juga menjadi hal yang penting,\u201ducapnya.<\/p>\n<p>Dalam pelaksanaan program pemerintah oleh para petani, Cristiyani memilih tidak banyak terlibat langsung didalamnya untuk memberi jarak dan memberi kesempatan kreativitas petani. Dia tetap memantau sebagai bentuk pertanggungjawaban\u00a0 serta tetap terbuka memberi masukan jika dibutuhkan kapan pun.<\/p>\n<p>Kunjungan Cristiyani kepada para petani dilakukan secara informal, misalnya, dengan berkunjung dengan membeli sejumlah sayuran untuk dimasak bagi keperluan rumah tangganya,\u201dsambil belanja kepetani tidak ada jarak\u00a0 antara petani dan penyuluh,\u2019\u2019 kata Cristiyani yang pada awalnya sering diabaikan atau tidak dianggap oelh para petani.<\/p>\n<p>Pertemuan dengan kelompok-kelompok petani juga tidak selalu dilaksanakan di tempay khusus yang resmi, melainkan di rumah warga, dikebun petani, dihalaman rumahnya, dan sesekali dibalai basara kelurahan atau balai pertemuan warga.\u201d Pintu rumah juga terbuka 24 jam bagi para petani yang ingin menyampaikan keluhan,harapan, atau bertanya tentang program-program,\u201dkata ibu dua anak itu.<\/p>\n<p><strong>Desa mandiri pangan <\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Sei Gohong yang dihuni sekitar 1.811 orang telah menjadi desa mandiri dalam hal ketersediaan hasil pertanian khususnya hortikultura, seperti cabai,timun, kacang panjang, jagung, bawang merah, dan lain-lain. Hasil pertanian itu dipasarkan para petani di desa tradisional Tangkiling dan juga dijual ke kota Palangkaraya. Desa itu juga sedang mengembangkan bidang peternakan, antara lain, ayam, kambing, sapi, dan babi. Selain itu, warga juga mulai merintis budidaya ikan gurami, patin, dan nila.<\/p>\n<p>Meski petani menghadapi tantangan geografis, yaitu jenis tanah yang berupa pasir kuarsa, gambut, dan batuan granit, hal itu pun biatasi dengan pemberian pupuk kandang dan kapur untuk mengurani tingkat keasaman tanah gambut.<\/p>\n<p>Di desa itu, Cristiyani mendampingi 12 kelompok petani, yaitu kelompok Tani Harapan, Mandiri, Bersmi , Makmur, Bawi Kuwu, Dasawisma,Hapakat, Mandiri, Suka Maju, Lestari, Riang Jaya, Bagamat Jaya, Poduk Bendera, dan Wanita Tani Anggrek. Setiap kelompok petani terdiri atas 10-15 orang.kedua belas kelompok petani itu bergerak di sektor pertanian ,perkebunan dan wanita petani.<\/p>\n<p>Kepada kelompok wanita petani, Cristiyani mengajak ibu-ibu memanfaatkan lahan dipekarangan rumahnya ditanami tanaman apotek hidup, seperti bawang lemba atau dikenal juga bawang suku Dayak yang berkhasiat mengobati aneka penyakit sembiloto, kencur dan lain-lain.<\/p>\n<p>Selain itu, para ibu rumah tangga juga mulai mengelolah hasil perkebunan dan pertanian menjadi makanan ringan dalam kemasan, misalnya, keripik singkong, rempeyek, keripik pisang, kacang molen, dan juga kue bawang. Karya dari Wanita Tani Dasawisma\u00a0 Haparat Mandiri pun pernah menangani lombah penganan tradisional tingkat kota palangkaraya pada 2012,\u201d kita boleh bersaing sehat. Kita boleh berlombah, tetapi tidak mencela orang atau kelompok lain. Antarkelompok itu bersaing untuk maju,\u201dujarnya.<\/p>\n<p>Berkat ketekunan dan kesetiaanya\u00a0 menjadi penyuluh di desa itu, Cristiyani mendapat apresiasi dari pemerintah daerah juga pemerintah pusat. Pada juli 2013 Cristiyani mendapat penghargaan THL-TBPP Telah Tingkat Kota Palangkaraya dan Tingkat Provinsi Klimantan Tengah. Kemuadian pada agustus 2013, dia pun meraih penghargaan serupa di tingkat nasional.<\/p>\n<p>Cristiyani tidak pernah bermimpi mendapatkan penghargaan itu. Meski demikian, dia sangat bersyukur. Namun, rasa syukur paling besar baginya adalah saat melihat para petani didesa semakin mandiri dan sejahtera.<\/p>\n<p><strong>Cristiyani Margareta<\/strong><\/p>\n<ul>\n<li>Lahir:palangkaraya,22 maret 1973<\/li>\n<li>Pendidikan: D-3 Fakultas Pertanian, Universitas Palangkaraya (1995)<\/li>\n<li>Suami: Wawanto S Siram (42)<\/li>\n<li>Anak: Anggi cristam Angelo(16) dan Bernart Etwan Manuelo (8)<\/li>\n<li>Pekerjaan: Tenaga Harian lepas-tenaga Batu Penyuluh Pertanian (THL-TBPP) di Kelurahan Sei Gohong,Palangkaraya, Kalteng<\/li>\n<li>Penghargaan: THL-TBPP Teladan Tingkat kota Palangkaraya, THL-TBPP Teladan Tingkat Provinsi Klimantan Tengah&lt; dan THL-TBPP Teladan Tingkat Nasional (2013)<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Sumber:\u00a0<\/strong>Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cristiyani Margaretha Matahari sore itu masih bersinar terik. Cristiyani bersama sang suami,Wawanto (42), berkeliling kawasan unit pemukiman transmigrasi kilometer 38,kelurahan Sei Gohong, menggunakan sepeda motor. Sejumlah warga yang juga petani ramah menyapa dan disapa\u00a0 Cristiyani yang dikenal akrab sebagai penyuluh pertanian. OLEH WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO Cristiyani menjadi tenaga harian-lepas tenaga bentu penyuluh pertanian (THI-TBPP) di&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":296,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-295","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Cristiyani Margaretha Matahari sore itu masih bersinar terik. Cristiyani bersama sang suami,Wawanto (42), berkeliling kawasan unit pemukiman transmigrasi kilometer 38,kelurahan Sei Gohong, menggunakan sepeda motor. Sejumlah warga yang juga petani ramah menyapa dan disapa\u00a0 Cristiyani yang dikenal akrab sebagai penyuluh pertanian. OLEH WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO Cristiyani menjadi tenaga harian-lepas tenaga bentu penyuluh pertanian (THI-TBPP) di...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-05-20T04:03:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/Melayani-Petani-dengan-Hati.Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16-e1492753326499.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"888\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"468\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melayani-petani-dengan-hati\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melayani-petani-dengan-hati\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati\",\"datePublished\":\"2015-05-20T04:03:22+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:29+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melayani-petani-dengan-hati\\\/\"},\"wordCount\":814,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melayani-petani-dengan-hati\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/05\\\/Melayani-Petani-dengan-Hati.Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16-e1492753326499.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melayani-petani-dengan-hati\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melayani-petani-dengan-hati\\\/\",\"name\":\"Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melayani-petani-dengan-hati\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melayani-petani-dengan-hati\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/05\\\/Melayani-Petani-dengan-Hati.Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16-e1492753326499.jpg\",\"datePublished\":\"2015-05-20T04:03:22+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:29+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melayani-petani-dengan-hati\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melayani-petani-dengan-hati\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melayani-petani-dengan-hati\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/05\\\/Melayani-Petani-dengan-Hati.Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16-e1492753326499.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/05\\\/Melayani-Petani-dengan-Hati.Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16-e1492753326499.jpg\",\"width\":888,\"height\":468},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melayani-petani-dengan-hati\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati - Library","og_description":"Cristiyani Margaretha Matahari sore itu masih bersinar terik. Cristiyani bersama sang suami,Wawanto (42), berkeliling kawasan unit pemukiman transmigrasi kilometer 38,kelurahan Sei Gohong, menggunakan sepeda motor. Sejumlah warga yang juga petani ramah menyapa dan disapa\u00a0 Cristiyani yang dikenal akrab sebagai penyuluh pertanian. OLEH WILIBRORDUS MEGANDIKA WICAKSONO Cristiyani menjadi tenaga harian-lepas tenaga bentu penyuluh pertanian (THI-TBPP) di...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2015-05-20T04:03:22+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:29+00:00","og_image":[{"width":888,"height":468,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/Melayani-Petani-dengan-Hati.Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16-e1492753326499.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati","datePublished":"2015-05-20T04:03:22+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:29+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/"},"wordCount":814,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/Melayani-Petani-dengan-Hati.Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16-e1492753326499.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/","name":"Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/Melayani-Petani-dengan-Hati.Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16-e1492753326499.jpg","datePublished":"2015-05-20T04:03:22+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:29+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/Melayani-Petani-dengan-Hati.Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16-e1492753326499.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/05\/Melayani-Petani-dengan-Hati.Kompas.6-Mei-2015.Hal_.16-e1492753326499.jpg","width":888,"height":468},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melayani-petani-dengan-hati\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Cristiyani Margaretha Melayani Petani dengan Hati"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=295"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8531,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/295\/revisions\/8531"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/296"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=295"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=295"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=295"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}