{"id":3282,"date":"2017-02-09T08:01:58","date_gmt":"2017-02-09T01:01:58","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=3282"},"modified":"2025-05-01T12:37:23","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:23","slug":"melacak-leluhur-melalu-makanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/","title":{"rendered":"Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-3283\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-16.jpg\" alt=\"Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan. Kompas. 8 Januari 2016. Hal 16\" width=\"991\" height=\"838\" srcset=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-16.jpg 2362w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-16-300x254.jpg 300w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-16-1030x871.jpg 1030w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-16-1500x1269.jpg 1500w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-16-705x596.jpg 705w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-16-450x381.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 991px) 100vw, 991px\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>Koo Siu Ling<\/strong><\/p>\n<p>Makanan bukan hanya soal kebutuhan badan. Makanan juga menjadi identitas. Identitas sebuah suku, sebuah komunitas, hingga bangsa. Tak mengherankan apabila makanan juga menjadi salah satu ciri eksistensi masyarakat. Kehadiran makanan bisa menjadi tanda kehadiran sebuah bangsa. Namun, masih sangat sedikit orang yang mencari keberadaan bangsa atau leluhurnya melalui makanan.<\/p>\n<p><strong>Oleh Andreas Maryoto<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p>Salah satunya dari sedikit orang yang mencari leluhurnya melalui makanan itu adalah Koo Siu Ling. Kematian ibunya yang meninggalkan buku resep bertulis tangan membuatnya penasaran. Perasaan ini diakuinya tidak muncul saat ia sibuk dengan pekerjaan dan kesehariannya. Namun, begitu ias melihat buku-buku itu, pikirannya melayang dengan banyak pertanyaan.<\/p>\n<p>Menulis buku resep makanan sudah banyak dilakukan beberapa kalangan. Namun, menulis buku resep yang memiliki kisah di balik resep-resep tersebut masih sangat lamgka di Indonesia. Koo Siu Ling, peranakan Tionghoa yang tinggal di Belanda, melacak sejarah nenek moyangnya melalui menu makanan mereka serta buku resep warisan ibunya dan juga kerabatnya hingga ia menemukan kehidupan peranakan Tionghoa Jawa Timur dulu dan sekarang.<\/p>\n<p>Ling kecil lahir tahun 1939 di Kota Malang, Jawa Timur, dididik ibunya yang seorang guru. Ia mengaku dalam kehidupan mereka sehari-hari resep makanan diperkenalkan sejak dini. Kini ia menerbitkan resep-resep makanan ibu dan kerabatnya dalam sebuah buku berjudul <em>Culture, Cuisine, Cooking, an East Java Peranakan Memoir. <\/em>Buku ini ditulis dengan bantuan Paul Freedman, seorang profesor Sejarah Chester D Tripp di Universitas Yale, Amerika Serikat.<\/p>\n<p>Kisahnya berawal saat ibunya meninggalkan, ia menemukan buku-buku resep makanan yang sudah lama ditulis tangan ibunya. Ling juga mencari buku-buku resep makanan milik kerabatnya. Buku resep itu ada yang bertahun sekitar 1930. Kadang ditulis dalam bahasa Belanda, kadang Mandarin, dan kadang Jawa. Ada juga bahasa Hokkian yang merupakan warisan leluhurnya.<\/p>\n<p>Dengan membaca buku resep makanan tersebut, ia melihat bahwa Tionghoa peranakan menyerap dan mengadopsi masakan Belanda dan Jawa. Di dalam buku itu, terlihat adopsi masakan tersbut, mulai dari <em>galantine <\/em>dan kue dari Belanda serta sate dan rawon yang diadopsi dari Jawa, \u201cIni buku masak mama saya. Tulisannya masih bagus. Ada beberapa bahasa di dalamnya. Ada bahasa Belanda, bahasa Jawa, bahasa Mandarin, dan ada bahasa Indonesia,\u201d kata Ling sambil memperlihatkan buku setebal 5 sentimeter yang antara lain berisi tulisan tangan ibu dan familinya.<\/p>\n<p>Motivasi menerbitkan buku tersebut awalnya adalah keinginan agar anaknya bisa membaca buku resep itu. Ia berpikir jika buku tersebut tidak dibukukan, resep ini akan hilang. Ibunya menulis resep mulai akhir 1920-an sampai tahun 2000. Satu ciri yang unik, disetiap resep tidak pernah diberi ukuran bahan. Akibatnya, setiap mencoba resep itu Ling harus menanyakan ke kenalannya.<\/p>\n<p>\u201cSaya memperhatikan buku itu setelah ibu meninggal tahun 2000. Dulu buku ini kan tidak dianggap. Beberapa tahun sesudahnya saya melihat itu. Saya tahu buku tersebut tidak boleh dibuang. Lama masih tersimpan dilemari hingga saya mulai mengetik ulang. Tidak ada amanah untuk tidak dibuang, tetapi saya mengerti dan wktu kecil saya mengerti buku itu dan saya tahu buku itu lebih berharga dibandingkan dengan buku-buku yang lain,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p><strong>Bolak-balik ke Malang<\/strong><\/p>\n<p>Apakah Anda pernah mencoba resep di dalam buku tersebut? \u201cIya. Saya harus pergi ke Malang untuk mencoba resep itu. Saya masih bertemu dengan pembantu tante saya yang umurnya sekitar 70 tahun, dan ada juga saudara saya yang pintar masak. Saya bolak-balik (ke) Malang sejak tiga tahun yang lalu,\u201d kata Ling.<\/p>\n<p>Ia mengaku tidak pernah mencoba masakan itu Belanda karena di dalam buku tersebut tidak ada ukuran bahan-bahan dalam resep, selain karena sulit mencari beberapa bahan makanan. \u201cSaya baru mengerti, melalui buku ini kalau makanan itu bakan sekadar makanan, melainkan juga kebudayaan dan sejarah. Karena itu, makanan harus ditaruh dalam konteks sejarah. Dari masakan ini, sekarang saya mengerti sejarah orang Tionghoa di Indonesia, khususnya di Jawa Timur,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Banyak makanan yang merupakan pencampuran budaya Jaaw, Tionghoa, hingga Belanda dalam resep-resep di buku itu. Ia menyebut antara lain kehadiran petis dan juga <em>cwie mie <\/em>di Jawa Timur menjadi penanda pengaruh etnis Tionghoa di Jawa Timur. Saat menulis buku itu, sesuatu yang menyulitkannya adalah mencari data tentang makanan, sejarah, dan beberapa remaph. Ia harus mencari di sejumlah perpustakaan. Ling mengaku, kalau tidak menemukan data yang benar, ia tidak berani menulis mengenai makanan itu. Untuk menyelesaikan bukunya, Ling membutuhkan waktu empat tahun. Buku tersebut terdiri dari tiga bahasa, yaitu bahasa Inggris, bahasa Belanda, dan bahasa Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cSaya memilih tiga bahasa karena, dengan bahasa Inggris, jangkaunnya akan lebih luas. Ada bahasa Belanda agar orang Belanda bisa baca buku ini. Saya masih tetap merasa sebagai orang Indonesia, karena itu harus dengan bahasa Indonesia. Lidah saya kurang bagus,\u201d kata Ling terkekeh. Ketika dipuji bahasa Indonesianya masih bagus, ia kembali tersenyum. \u201cWah bahasa Indonesia saya sudah setengah mati. Di keluarga saya berbahasa Belanda. Waktu di Indonesia belum stabil, saya dikirim ke Belanda. Waktu kecil saya juga belajar bahasa Jawa. <em>Isih ngerti,\u201d <\/em>katanya. Ia mengaku meski lama berada di luar negeri seleranya masih terpelihara. \u201cKarena lidah saya sebenarnya tertinggal di sini. Logat Jawa saya juga masih keluar. Kadang bahasa Jawa juga masih keluar,\u201d katanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Koo Siu Ling<\/strong><\/p>\n<p>Lahir\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Tahun 1939 di Kota Malang, Jawa Timur.<\/p>\n<p>Pendidikan\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : SD hingga SMA diselesaikan di Jakarta, Studi Aeronautika di TU Delft<\/p>\n<p>Belanda, tahun 1956<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pengalaman bekerja\u00a0\u00a0\u00a0 : Bidang Aeronautika di Long Beach di Los Angelesm California<\/p>\n<p>Amerika Serikat<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Tinggal\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 : Sempat tinggal di Australia, tetapi sekarang menetap di Belanda<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Sumber: <\/strong>Kompas, Jumat, 8 Januari 2016<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Koo Siu Ling Makanan bukan hanya soal kebutuhan badan. Makanan juga menjadi identitas. Identitas sebuah suku, sebuah komunitas, hingga bangsa. Tak mengherankan apabila makanan juga menjadi salah satu ciri eksistensi masyarakat. Kehadiran makanan bisa menjadi tanda kehadiran sebuah bangsa. Namun, masih sangat sedikit orang yang mencari keberadaan bangsa atau leluhurnya melalui makanan. Oleh Andreas Maryoto&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4404,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-3282","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Koo Siu Ling Makanan bukan hanya soal kebutuhan badan. Makanan juga menjadi identitas. Identitas sebuah suku, sebuah komunitas, hingga bangsa. Tak mengherankan apabila makanan juga menjadi salah satu ciri eksistensi masyarakat. Kehadiran makanan bisa menjadi tanda kehadiran sebuah bangsa. Namun, masih sangat sedikit orang yang mencari keberadaan bangsa atau leluhurnya melalui makanan. Oleh Andreas Maryoto...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-02-09T01:01:58+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-161.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1009\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1089\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melacak-leluhur-melalu-makanan\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melacak-leluhur-melalu-makanan\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan\",\"datePublished\":\"2017-02-09T01:01:58+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:23+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melacak-leluhur-melalu-makanan\\\/\"},\"wordCount\":865,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melacak-leluhur-melalu-makanan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-161.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melacak-leluhur-melalu-makanan\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melacak-leluhur-melalu-makanan\\\/\",\"name\":\"Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melacak-leluhur-melalu-makanan\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melacak-leluhur-melalu-makanan\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-161.jpg\",\"datePublished\":\"2017-02-09T01:01:58+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:23+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melacak-leluhur-melalu-makanan\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melacak-leluhur-melalu-makanan\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melacak-leluhur-melalu-makanan\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-161.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-161.jpg\",\"width\":1009,\"height\":1089},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/melacak-leluhur-melalu-makanan\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan - Library","og_description":"Koo Siu Ling Makanan bukan hanya soal kebutuhan badan. Makanan juga menjadi identitas. Identitas sebuah suku, sebuah komunitas, hingga bangsa. Tak mengherankan apabila makanan juga menjadi salah satu ciri eksistensi masyarakat. Kehadiran makanan bisa menjadi tanda kehadiran sebuah bangsa. Namun, masih sangat sedikit orang yang mencari keberadaan bangsa atau leluhurnya melalui makanan. Oleh Andreas Maryoto...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-02-09T01:01:58+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:23+00:00","og_image":[{"width":1009,"height":1089,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-161.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan","datePublished":"2017-02-09T01:01:58+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:23+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/"},"wordCount":865,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-161.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/","name":"Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-161.jpg","datePublished":"2017-02-09T01:01:58+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:23+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-161.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Koo-Siu-Ling-Melacak-Leluhur-Melalui-Makanan.-Kompas.-8-Januari-2016.-Hal-161.jpg","width":1009,"height":1089},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/melacak-leluhur-melalu-makanan\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Koo Siu Ling Melacak Leluhur Melalui Makanan"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3282","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3282"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3282\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8169,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3282\/revisions\/8169"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4404"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3282"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3282"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3282"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}