{"id":3647,"date":"2017-02-13T10:11:09","date_gmt":"2017-02-13T03:11:09","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=3647"},"modified":"2025-05-01T12:37:21","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:21","slug":"3647","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/","title":{"rendered":"Muhammad Sahidul Wathan Menghidupkan Kopi Sembalun"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/02\/Menghidupkan-Kopi-Sembalun.-Kompas.-30-Desember-2016.Hal_.161.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-3650\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/02\/Menghidupkan-Kopi-Sembalun.-Kompas.-30-Desember-2016.Hal_.161.jpg\" alt=\"Menghidupkan Kopi Sembalun. Kompas. 30 Desember 2016.Hal.16\" width=\"949\" height=\"1068\" \/><\/a><\/p>\n<p>Desa Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pernah menghasilkan kopi arabica tahun 1940-an. Namun, potensi itu mati suri selama beberapa dekade, terutama setelah kampung itu \u201cdemam\u201d komoditas bawang putih dan kentang. Muhammad Sahidul Wathan, pemuda setempat, menghidupkan kembali kopi lokal itu sehingga menembus pasar nasional bahkan internasional. (Oleh Khaerul Anwar)<\/p>\n<p>\u201cDulunya, satu bakul kecil kopi dibarter dengan dua ikan pindang,\u201d kata Sahidul Wathan (37) saat ditemui di rumahnya di Desa Sembalun, pertengahan Desember lalu.<\/p>\n<p>Saat itu, warga biasa menyimpan biji kopi dalam <em>losok,<\/em> yaitu wadah dari bambu sepanjang sekitar 30 sentimeter. Kopi itu baru dikeluarkan, ditumbuk buat minuman tamu pada acara pesta pernikahan ataupun khitanan.<\/p>\n<p>Menurut Wathan, demikian ia biasa disapa, kopi si Sembalun-yang mencakup Desa Sembalun, Desa Sembalun Bumbung, dan Sembalun Lawang-dari jenis arabica dibawa seorang Tionghoa pada tahun 1942. Kopi itu lalu dibudayakan di kebun dan kawasan hutan desa tersebut. Namun, selanjutnya tanaman itu tidak terawat karena buahnya kurang laku dijual. Warga memetik buah kopi hanya untuk dikonsumsi sendiri.<\/p>\n<p>\u201cWarga sukanya yang instan, lebih baik menanam sayur dan palawija dengan masa pemeliharaan tiga bulan sudah bisa dijual. Sedangkan kopi, panennya sekali setahun. Itupun kalau ada yang beli,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Kopi Sembalun mengalami nasib lebih buruk pada 1985. Tanaman kopi di Desa kaki Gunung Rinjani itu di babat. Lahan tersebut lantas dimanfaatkan budidaya bawang putih.<\/p>\n<p>Komoditas itu menjadi primadona sampai \u2013 sampai muncul sebutan \u201cHaji Bawang Putih\u201d. Ini istilah untuk menyebut para petani yang berhasil mennunaikan ibadah haji dari hasil menjual komoditas itu. Pada tahun \u2013 tahun tersebut, warga desa berhawa sejuk ini pertama kali menggunakan antena parabola untuk menyaksikan acara televisi.<\/p>\n<p>Namun, era bawang putih berangsur berakhir. Produksi bawang putih berkualitas merosot karena tanah menjadi jenuh setelah dieksploitasi dengan menggunakan pupuk dan pestisida kimia. Belakangan, kesejahteraan warga desa itu kembali terang \u2013 terangan berkat budidaya kentang.<\/p>\n<h1>Mati Suri<\/h1>\n<p>Selama beberapa dekade itu, produk kopi di desa tersebut seakan mati suri. Padahal, secara sosial budaya, masyarakat Pulau Lombok termasuk tukang <em>ngopi <\/em>alias gemar meminum kopi. \u201cTiga tempat anda bertamu, tiga kali pula tuan rumah menyuguhkan kopi,\u201d tutur Wathan.<\/p>\n<p>Tradisi itu semakin mendorong niat pemuda tersebut untuk mencari solusi menghidupkan kopi sembalun. Tahun 2013, ia mengajak beberapa rekannya dan petani berdialog seputar peluang bisnis kopi. Pada 2015, ia berguru kepada seorang pakar kopi di Jawa Barat, mulai dari teknik budidaya, pengolahan buah kopi pasca panen, cara perawatan pemilahan, sangrai, sampai coffee cupping (mencicipi rasa kopi sebelum dijual). Ilmu yang diperoleh selama sebulan itu kemudian ditularkan kepada warga.<\/p>\n<p>Wathan juga menjajal usaha sendiri. Ia membeli seluruh produk kopi petani, yaitu sebanyak 300 kilogram, seharga Rp 5.000 per kilogram. Ia lantas mengerjakan sendiri semua proses pasca panen, mulai dari menjemur, menyortir, mengupas, sampai memasarkan kopi. Produk kopinya saat itu diberi nama \u201cKopi Pahlawan\u201d.<\/p>\n<p>\u201cSaya ingin petani menjadi pahlawan bagi dirinya, keluarganya, dan desanya,\u201d katanya. Belakangan, ia dibantu sejumlah lembaga yang menghubungkannya dengan konsumen di beberapa kota di Indonesia.<\/p>\n<p>Usahanya kian berkembang. Ada 50 petani yang bersedia memasok kopi yang dibelinya Rp 7.000 per kg. Untuk memudahkan komunikasi, Wathan memberikan telepon genggam kepada 25 petani. Ia juga mempekerjakan 8 tenaga sortir, 5 pembilas biji kopi, dan 4 pekerja pulping ( pengupas kulit buah ) kopi. Penyortir, pembilas, dan petugas sangrai dibayar Rp 40.000 sehari, sementara pengupas kulit rp 70.000 sehari.<\/p>\n<p>Produk kopinya dalam bentuk green bean dijual Rp 150.000 per kg. Dalam bentuk bubuk, dijual Rp 250.000 sampai Rp 350.000 per kg. Selain untuk beberapa kafe lokal di Lombok, produknya juga dikirim ke sejumlah kafe di Jakarta, rata \u2013 rata 300 kg sekali pesanan. Ada juga kopi bubuk kemasan 100 gr dan 200 gr yang dijual masing \u2013 maisng harga Rp 25.000 dan Rp 50.000<\/p>\n<p>Lewat cerita dari mulut ke mulut, kopi Sembalun mulai dipesan kedutaan besar Negara \u2013 Negara asing di Jakarta, seperti Kedubes Belanda, Jepang, Australia, dan Singapura meski baru sanggup memenuhi dalam skala kecil. Menurut Wathan, sejumlah kedubes asing tertarik dengan kopi Sembalun karena dinilai memiliki aroma dan cita rasa khas, terutama karena mengandung rasa rempah \u2013 rempah, cokelat, dan karamel.<\/p>\n<h1>Rumah Belajar<\/h1>\n<p>Wathan tak hanya fokus pada kopi. Ketika petani mulai merasakan manfaat dari tanaman kopi, perhatian pemuda itu menyasar pada pendidikan. Ia ingin mengembangkan pendidikan tambahan untuk menanamkan budi pekerti dan nilai \u2013 nilai budaya lokal yang dianggap mulai luntur di desa. \u201ckami punya falsafah <em>sangkabira, <\/em>hidup saling tolong mrnolong. Ada solidaritas antarsesama,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Bersama para petani dan bantuan sejumlah sukarelawan di Jakarta, Bandung, dan daerah lain, Wathan membangun Rumah Belajar pada April 2016. Pesertanya adalah 50 anak petani setempat, rata \u2013 rata dari kelas 1 SD hingga kelas 1 SMP. Mereka mengikuti pendidikan di Rumah Belajar seusai jam sekolah, yaitu dari pukul 14.00 sampai 17.00 wita.<\/p>\n<p>Anak \u2013 anak diajari pendidikan budi pekerti, tanggung jawab, kejujuran, dan kepemimpinan. Semua itu diterapkan dengan kegiatan kemah rutin kelompok di seputar Rumah Belajar. Caranya, seorang siswa ditunjuk menjadi ketua yang bertanggung jawab atas kelompok.<\/p>\n<p>Apabila ketua bersalah, harus minta maaf dan jujur menyatakan kesalahannya kepada anggota. Pembelajaran itu mengacu pada nilai falsafah Sembalun<em>, Lamun jau\u2019 jarum, linggis ilang, jau\u2019 awis batek Ilang<\/em>. Artinya, jika mengambil jarum (orang lain), linggis yang hilang; mengambil sabit, parang yang hilang.<\/p>\n<p>Agar lebih menarik, kegiatan belajar dikemas dalam tema \u2013 tema khusus, seperti Bulan Dongeng, Bulan Bahasa Inggris, dan Bulan Seni. Pada Bulan Dongeng, orang tua pelajar diajak mendongeng di depan siswa. Saat Bulan Bahasa Inggris, siswa berkomunikasi dengan bahasa inggris. Bahkan ada seorang <em>volunteer<\/em> guru Bahasa Inggris di Australia, menyampaikan materi bahasa inggris melalui <em>video call<\/em> kepada siswa di Sembalun.<\/p>\n<p>Wathan pun lebih selektif menerima sukarelawan yang ingin membantu mengisi kegiatan belajar, seperti mengajukan proposal terkait materi yang bakal disampaikan kepada siswa. \u201cMateri ajar harus bertali \u2013 temali dengan membangun karakter sesuai kultur Bangsa kita.itu intinya,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Di tangan Wathan, kopi sembalun hidup lagi. Saat bersamaan, ada Rumah Belajar yang menanamkan budi pekerti untuk anak \u2013 anak setempat. Desa ini juga menjadi salah satu tujuan Wisata Halal di Lombok.<\/p>\n<p>Perkembangan itu membuka langkah Wathan berikutnya. \u201cPetani harus berdaulat di tanahnya sendiri. Makanya tanah jangan dijual ke pemodal,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Nama<\/strong> : Muhammad Sahidul Wathan<\/p>\n<p><strong>TTL<\/strong>\u00a0 : Desa Sembalun, 10 November 1979<\/p>\n<p><strong>Istri<\/strong>\u00a0\u00a0 : Diah Handriani<\/p>\n<p><strong>Anak<\/strong> : Rifka El Wathan, Denda Sembahulun El Wathan<\/p>\n<p><strong>Orang Tua <\/strong>: H Aepudin (Ayah), HJ Zulmini (Ibu)<\/p>\n<p><strong>Riwayat<\/strong> <strong>Pendidikan<\/strong> :<\/p>\n<ul>\n<li>SDN 3 Sembalun Lawang (lulus1991)<\/li>\n<li>MTs Al Kautsar Al Gontori (lulus 1994)<\/li>\n<li>MA Al Kautsar Al Gontori (lulus 1997)<\/li>\n<\/ul>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber : Kompas, Jumat, 30 Desember 2016<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Desa Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pernah menghasilkan kopi arabica tahun 1940-an. Namun, potensi itu mati suri selama beberapa dekade, terutama setelah kampung itu \u201cdemam\u201d komoditas bawang putih dan kentang. Muhammad Sahidul Wathan, pemuda setempat, menghidupkan kembali kopi lokal itu sehingga menembus pasar nasional bahkan internasional. (Oleh Khaerul Anwar) \u201cDulunya, satu bakul kecil kopi&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3649,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-3647","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Muhammad Sahidul Wathan Menghidupkan Kopi Sembalun - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Muhammad Sahidul Wathan Menghidupkan Kopi Sembalun - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Desa Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pernah menghasilkan kopi arabica tahun 1940-an. Namun, potensi itu mati suri selama beberapa dekade, terutama setelah kampung itu \u201cdemam\u201d komoditas bawang putih dan kentang. Muhammad Sahidul Wathan, pemuda setempat, menghidupkan kembali kopi lokal itu sehingga menembus pasar nasional bahkan internasional. (Oleh Khaerul Anwar) \u201cDulunya, satu bakul kecil kopi...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-02-13T03:11:09+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Menghidupkan-Kopi-Sembalun.-Kompas.-30-Desember-2016.Hal_.16.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1240\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3647\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3647\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Muhammad Sahidul Wathan Menghidupkan Kopi Sembalun\",\"datePublished\":\"2017-02-13T03:11:09+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:21+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3647\\\/\"},\"wordCount\":1006,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3647\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Menghidupkan-Kopi-Sembalun.-Kompas.-30-Desember-2016.Hal_.16.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3647\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3647\\\/\",\"name\":\"Muhammad Sahidul Wathan Menghidupkan Kopi Sembalun - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3647\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3647\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Menghidupkan-Kopi-Sembalun.-Kompas.-30-Desember-2016.Hal_.16.jpg\",\"datePublished\":\"2017-02-13T03:11:09+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:21+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3647\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3647\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3647\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Menghidupkan-Kopi-Sembalun.-Kompas.-30-Desember-2016.Hal_.16.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Menghidupkan-Kopi-Sembalun.-Kompas.-30-Desember-2016.Hal_.16.jpg\",\"width\":1240,\"height\":1560},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3647\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Muhammad Sahidul Wathan Menghidupkan Kopi Sembalun\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Muhammad Sahidul Wathan Menghidupkan Kopi Sembalun - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Muhammad Sahidul Wathan Menghidupkan Kopi Sembalun - Library","og_description":"Desa Sembalun, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, pernah menghasilkan kopi arabica tahun 1940-an. Namun, potensi itu mati suri selama beberapa dekade, terutama setelah kampung itu \u201cdemam\u201d komoditas bawang putih dan kentang. Muhammad Sahidul Wathan, pemuda setempat, menghidupkan kembali kopi lokal itu sehingga menembus pasar nasional bahkan internasional. (Oleh Khaerul Anwar) \u201cDulunya, satu bakul kecil kopi...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-02-13T03:11:09+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:21+00:00","og_image":[{"width":1240,"height":1560,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Menghidupkan-Kopi-Sembalun.-Kompas.-30-Desember-2016.Hal_.16.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Muhammad Sahidul Wathan Menghidupkan Kopi Sembalun","datePublished":"2017-02-13T03:11:09+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:21+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/"},"wordCount":1006,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Menghidupkan-Kopi-Sembalun.-Kompas.-30-Desember-2016.Hal_.16.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/","name":"Muhammad Sahidul Wathan Menghidupkan Kopi Sembalun - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Menghidupkan-Kopi-Sembalun.-Kompas.-30-Desember-2016.Hal_.16.jpg","datePublished":"2017-02-13T03:11:09+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:21+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Menghidupkan-Kopi-Sembalun.-Kompas.-30-Desember-2016.Hal_.16.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Menghidupkan-Kopi-Sembalun.-Kompas.-30-Desember-2016.Hal_.16.jpg","width":1240,"height":1560},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3647\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Muhammad Sahidul Wathan Menghidupkan Kopi Sembalun"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3647","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3647"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3647\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16927,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3647\/revisions\/16927"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3649"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3647"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3647"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3647"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}