{"id":3807,"date":"2017-02-13T15:42:54","date_gmt":"2017-02-13T08:42:54","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=3807"},"modified":"2025-05-01T12:37:21","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:21","slug":"3807","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/","title":{"rendered":"Abdul kadir Ibrahim Penerus Raja Ali Haji dari Natuna"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/02\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-3808\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/02\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.16.jpg\" alt=\"Penerus Raja Ali Haji dari Natuna. Kompas.26 Oktober 2016.Hal.16\" width=\"944\" height=\"791\" srcset=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.16.jpg 588w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.16-300x252.jpg 300w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.16-450x378.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 944px) 100vw, 944px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Dalam pengantar buku \u201c Tanah Air Indonesia\u201d(2013), Profesor Harimurti Kridalaksana membuat catatan kecil tentang penulisnya : Abdul kadir Ibrahim (50). Pendek! Hanya satu lembar. Meskipun pendek, catatan kecil tersebut terasa bernas \u2013 berisi pas!. (Oleh Kenedi Nurhan)<\/p>\n<p>Dalam satu periode, kata sang munsyi, masyarakat Melayu mengalami kejayaan ketika masyarakat di Pulau Penyengat menghasilkan karya karya sastra ciptaan para pujangga yang masih bisa dinikmati hingga kini. Sebutlah seperti Gurindam Dua Belas, Tuhfat An Mafis, Bustanul Katibin, atau Kitab Pengetahuan Bahasa-nya Raja Ali Haji. Karya \u2013 karya tersebut juga dibanggakan oleh generasi baru dewasa ini.<\/p>\n<p>Namun, di balik kebanggaan itu juga terselip kegelisahan: adakah yang boleh dibanggakan di antara karya \u2013 karya ciptaan generasi baru? Bisakah kita menggubah karya seperti itu?<\/p>\n<p>Setelah membaca Tanah Air Bahasa Indonesia, sang munsyi sampai pada satu pernyataan \u201cMasyarakat kepulauan Riau beruntung karena kiprah budayawan Abdul Kadir Ibrahim.\u201d Dia adalah anak Melayu dari abad ke-20 dan 21, periode yang bersambungan ke masyarakat Indonesia modern, yang merupakan pewaris langsung masyarakat Melayu-Riau<\/p>\n<p>\u201cKarya \u2013 karya dalam buku ini membuktikan bahwa <em>Abdul Kadir Ibrahim<\/em> menjalankan peranannya sebagai eksponen kedua periode kebudayaan itu.\u201d<\/p>\n<p><strong>Jiwa Yang Kasmaran<\/strong><\/p>\n<p>Terlahir dengan nama Abdul Kadir Ibrahim, ia lebih dikenal dengan panggilan akib. Bahkan, di lingkungan kerjanya sebagai birokrat- entah guru, staff, dan pejabat teras di kota Tanjung Pinang, dan saat ini sekrestaris DPRD \u2013 nama Akib lebih kerap disebut ketimbang nama aslinya.<\/p>\n<p>\u201cAkib itu singkatan dari Abdul Kadir Ibrahim, diberikan oleh penyair Syahruddin Saleh ketika membahas puisi \u2013 puisi saya di sebuah radio swasta di Pekanbaru tahun 1986. Sejak itu, saya pakai nama tersebut, untuk pergaulan sehari \u2013 hari\u201d kata Akib pada satu senja dalam perbincangan ringan di kedai kopi di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, awal Oktober lalu.<\/p>\n<p>Datang dari Natuna, Pulau yang berhadapan langsung dengan Laut Tiongkok Selatan, Akib sudah merantau ke Riau daratan ketika melanjutkan ke Madrasah Alyah Negeri (MAN) Pekanbaru. Di sinilah, kepengarangan nya mulai tumbuh merekah.<\/p>\n<p>Dalam periode awal ini, Akib remaja sempat terombang \u2013 ambing. Semula, ia ingin jadi anak \u201canak band\u201d yang jadi idola remaja. Terlebih vokalisnya, sebagaimana posisi yang dirangkap Akib di kelompok bandnya.<\/p>\n<p>Pada satu ketika, Akib dipanggil Ibu Rosniar, guru pengampu pelajaran Bahasa Indonesia. Lalu, ia disodori puisi \u2013 puisi Sutardji Calzoum Bachri. \u201cTernyata saya diminta ikut lomba baca puisi di Universita Riau. Itu tahun 1985,\u201d kenangnya<\/p>\n<p>Pihak sekolah pun mengundang penyair Ibrahim Sattah guna melatih Vocal dan gaya panggung Akib. Walaupun penampilan Akib gagal menarik perhatian juri lomba, sejak itu satu pilihan lagi di jalan hidupnya ia pancangkan lagi menjadi penyair!<\/p>\n<p>Dalam gelegak jiwa yang kasmaran pada penciptakan karya, puisi \u2013 puisi mantra mengalir dari tangan Akib. Sebagai anak Pulau, ia begitu akrab dengan idiom \u2013 idiom tentang laut,ombak, pantai, gelombang, dan angin. Seperti halnya Sutardji dan Ibrahim Sattah, permainan bentuk juga menjadi bagian dari kekhasan puisi &#8211; puisi Akib.<\/p>\n<p>Hingga menyelesaikan pendidikan di MAN Pekanbaru, bermusik dan berpuisi masih jalan seiring. Baru ketika Akib berniat kuliah ke Yogyakarta, dan terlebih dahulu mesti pulang ke Natuna untuk meminta restu orang tuanya, cita \u2013 cita sebagai anak band akhirnya ia tanggalkan.<\/p>\n<p>Restu ke Yogyakarta di dapat, tetapi cita \u2013 cita nya jadi \u201canak band\u201d ditolah dengan keras. Akib pun pasrah dan kembali ke tanah rantau di Pekanbaru. Terbayang sudah, Yogyakarta akan jadi tujuan perantauan berikutnya.<\/p>\n<p>Namun, akibat cuaca buruk, sesampai di Pekanbaru ternyata pendaftaran masuk perguruan tinggi lewat sistem penerimaan mahasiswa baru (sipenmaru) sudah ditutup. Satu \u2013 satunya yang masih menerima pendaftaran itu pun sudah gelombang kedua \u2013 adalah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Qasim, Pekanbaru. Disanalah kemudian ia tercatat sebagai mahasiswa hingga rampung sambil terus mengasah baka kepengarangannya di jagat tanah Melayu.<\/p>\n<p><strong>Menjadi Guru<\/strong><\/p>\n<p>Sempat mengisi acara puisid dan lagu setiap Sabtu di RRI stasiun Pekanbaru (1987-1989), Akib juga mulai terlibat dalam dunia jurnalistik. Semula ia bergabung dengan Mingguan Genta (1989) , sebelum akhirnya pindah ke surat kabar harian milik grup Riau Pos (1989 \u2013 1995).<\/p>\n<p>Saat itu, Akib merasa profesi wartawan adalah jalan hidup yang ideal. Pas dengan jiwa kepengarangannya. Namun, profesi yang penuh risiko itu justru membuat orang tuanya di Natuna selalu waswas. Tak sekali-duakali mereka mendengar kabar ada wartawan yang diculik, disiksa, bahkan dibunuh hanya karena urusan pemberitaan.<\/p>\n<p>Satu malam, sepulang kerja, ia mendapati sang bapak tiba \u2013 tiba sudah ada dikamar kosnya. Jauh \u2013 jauh datang dari Natuna hanya untuk meminta Akib agar berhenti jadi wartawan. \u201cTak dapat saya menolak permintaan itu,\u201d kata Akib.<\/p>\n<p>Alhasil, SK pengangkatan dirinya sebagai guru di SMP Negeri Midai di Pulau Natuna-yang lama dibiarkan \u201cmengendap\u201d di Kantor Wilayah Depdikbud Riau-akhirnya ia urus. Lalu jadilah Akib seorang guru yang mengampu sekaligus empat mata pelajaran; Agama, Bahasa Arab, Biologi, dan PPKN.<\/p>\n<p>Kurang dari empat tahun di Natuna, Akib dipindahkan ke SMP Negeri 4 Tanjung Pinang di Pulau Bintan, sebelum ditunjuk sebagai Kasubdin Kebudayaan pada Dinas kebudayaan dan Pariwisata Kota Tanjung Pinang. Sejak itu, sejumlah jabatan di Pemerintahan Kota Tanjung Pinang sudah ia duduki. Namun, tak selintaspun terpikir olehnya untuk istirahat dari dunia kepengarangan yang telah ia tapaki lebih dari separuh hidupnya.<\/p>\n<p>\u201cJabatan itu sementara. Umurnya pendek. Beda dengan penulis, meski telah meninggal, \u2018umurnya\u2019 panjang. Contohnya Raja Ali Haji,\u201d kata Akib<\/p>\n<p>Akib mengatakan, karya \u2013 karya Raja Ali Haji memang menjdi roh kepengarangannya. Entah itu dalam bentuk cerpen, novel, puisi, esai, ataupun tulisan \u2013 tulisan lepas. Stuardji dan Ibrahim?\u00a0 \u201cMereka hanya semacam spirit, tetapi roh krpengarangannya mengacu kepada Raja Ali Haji,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Roh yang ia maksud terutama pada pesan bahwa dalam berkarya tetap perlu mengusung konsep Melayu: Menggembirakan dan(menjadi) rahmat bagi orang lain. Karena itu, dalam menghadapi perubahan pun, karya \u2013 karya harus berangkat dari budaya tempatan. Budaya lokal! Karena itu pula, tidak aneh apabila Akib banyak menyerap unsur \u2013 unsur Hikayat, Dongeng, dan Mantra dalam karyanya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Nama<\/strong> : Abdul Kadir Ibraham<\/p>\n<p><strong>TTL<\/strong> : Natuna, Kepulauan Riau, 4 Juni 1966<\/p>\n<p><strong>Riwayat Pendidikan<\/strong> :<\/p>\n<ul>\n<li>Sekolah Dasar Kelarik Natuna (1982)<\/li>\n<li>Sedanau-Natuna (1984)<\/li>\n<li>Madrasah Tsanawiyah<\/li>\n<li>Madrasah Aliyah Negeri (MAN), Pekanbaru (1987)<\/li>\n<li>Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Syarif Qasim (SUSQA), Pekanbaru (1991)<\/li>\n<li>Sarjana Pendidikan Agama Islam (S-1), Fakultas Tarbiyah<\/li>\n<li>Magister Teknik (S-2) Program Magister Pembangun Wilayah dan Kota. Universitas Diponegoro, Semarang (2008)<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>Istri<\/strong> : Ermita Thaib, S. Ag<\/p>\n<p><strong>Anak<\/strong> : Tiara Ayu Karmita (26 September 1999), Safril Rahmat (22 April 2002), dan Sasqia\u00a0\u00a0 Nurhasanah (29 Juni 2006)<\/p>\n<p><strong>Karya<\/strong> :\u00a0 66 Menguak, Menggantang Warta Nasib, \u201ckerikil\u201d dalam Sagang \u201996, Pancang-pancang Universitas Riau, Ungkapan Tradisional Masyarakat Melayu , Cakap Rampai Orang Patut-patut, Menjual Natuna, Harta Karun, Aisyah Sulaiman Riau Pengarang dan Pejuang Perempuan, Sejarah Perjuang Raja Ali Haji sebagai Bapak Bahasa Indonesia\u00a0 Negeri Airmata, Rampai Islam: Dari Syahadat Sampai Lahat, Hj. Suryatati A. Manan: Revitalisasi Sastra Melayu, Penafsiran dan Penjelasan Gurindam Dua Belas Raja Ali Haji, Nadi Hang Tuah, Tanjungpinang Punya Cerita, dan Dermaga Sastra Indonesia<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Sumber : Kompas, Rabu 26 Oktober 2016<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam pengantar buku \u201c Tanah Air Indonesia\u201d(2013), Profesor Harimurti Kridalaksana membuat catatan kecil tentang penulisnya : Abdul kadir Ibrahim (50). Pendek! Hanya satu lembar. Meskipun pendek, catatan kecil tersebut terasa bernas \u2013 berisi pas!. (Oleh Kenedi Nurhan) Dalam satu periode, kata sang munsyi, masyarakat Melayu mengalami kejayaan ketika masyarakat di Pulau Penyengat menghasilkan karya karya&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3809,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-3807","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Abdul kadir Ibrahim Penerus Raja Ali Haji dari Natuna - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Abdul kadir Ibrahim Penerus Raja Ali Haji dari Natuna - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Dalam pengantar buku \u201c Tanah Air Indonesia\u201d(2013), Profesor Harimurti Kridalaksana membuat catatan kecil tentang penulisnya : Abdul kadir Ibrahim (50). Pendek! Hanya satu lembar. Meskipun pendek, catatan kecil tersebut terasa bernas \u2013 berisi pas!. (Oleh Kenedi Nurhan) Dalam satu periode, kata sang munsyi, masyarakat Melayu mengalami kejayaan ketika masyarakat di Pulau Penyengat menghasilkan karya karya...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-02-13T08:42:54+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.161.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1183\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1417\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3807\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3807\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Abdul kadir Ibrahim Penerus Raja Ali Haji dari Natuna\",\"datePublished\":\"2017-02-13T08:42:54+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:21+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3807\\\/\"},\"wordCount\":1066,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3807\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.161.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3807\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3807\\\/\",\"name\":\"Abdul kadir Ibrahim Penerus Raja Ali Haji dari Natuna - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3807\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3807\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.161.jpg\",\"datePublished\":\"2017-02-13T08:42:54+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:21+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3807\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3807\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3807\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.161.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.161.jpg\",\"width\":1183,\"height\":1417},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/3807\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Abdul kadir Ibrahim Penerus Raja Ali Haji dari Natuna\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Abdul kadir Ibrahim Penerus Raja Ali Haji dari Natuna - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Abdul kadir Ibrahim Penerus Raja Ali Haji dari Natuna - Library","og_description":"Dalam pengantar buku \u201c Tanah Air Indonesia\u201d(2013), Profesor Harimurti Kridalaksana membuat catatan kecil tentang penulisnya : Abdul kadir Ibrahim (50). Pendek! Hanya satu lembar. Meskipun pendek, catatan kecil tersebut terasa bernas \u2013 berisi pas!. (Oleh Kenedi Nurhan) Dalam satu periode, kata sang munsyi, masyarakat Melayu mengalami kejayaan ketika masyarakat di Pulau Penyengat menghasilkan karya karya...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-02-13T08:42:54+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:21+00:00","og_image":[{"width":1183,"height":1417,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.161.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Abdul kadir Ibrahim Penerus Raja Ali Haji dari Natuna","datePublished":"2017-02-13T08:42:54+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:21+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/"},"wordCount":1066,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.161.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/","name":"Abdul kadir Ibrahim Penerus Raja Ali Haji dari Natuna - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.161.jpg","datePublished":"2017-02-13T08:42:54+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:21+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.161.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Penerus-Raja-Ali-Haji-dari-Natuna.-Kompas.26-Oktober-2016.Hal_.161.jpg","width":1183,"height":1417},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/3807\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Abdul kadir Ibrahim Penerus Raja Ali Haji dari Natuna"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3807","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3807"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3807\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":16925,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3807\/revisions\/16925"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3809"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3807"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3807"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3807"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}