{"id":3903,"date":"2017-02-14T08:38:11","date_gmt":"2017-02-14T01:38:11","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=3903"},"modified":"2025-05-01T12:37:21","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:21","slug":"agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/","title":{"rendered":"Agus Noor Siasat Pangeran Kunang-Kunang"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-3904\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.16.jpg\" alt=\"Siasat Pangeran Kunang-Kunang. Kompas.17 September 2016.Hal.16\" width=\"950\" height=\"795\" srcset=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.16.jpg 2016w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.16-300x251.jpg 300w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.16-1030x862.jpg 1030w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.16-1500x1256.jpg 1500w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.16-705x590.jpg 705w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.16-450x377.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 950px) 100vw, 950px\" \/><\/a><\/p>\n<p>Sejak cerpennya dimuat di surat kabar nasional tahun 1988. Agus Noor menetapkan jalan hidupnya sebagai sastrawan. Ia mengarungi dunia menulis yang soliter sambil bergelut di dunia teater solider. Kini, ia menjadi satu dari dari sedikit seniman Indonesia yang konsisten dan produktif berkarya.<\/p>\n<p>Oleh: Budi Suwarna &amp; Aryo Wisanggeni Gentong.<\/p>\n<p>Akhir Agustus lalu, kami bertemu Agus Noor di sebuah rumah besar di kawasan Tebet Barat, Jakarta Selatan. \u201cHari ini, saya menyediakan waktu khusus untuk kamu,\u201d katanya sambil tersenyum.<\/p>\n<p>Seniman berusia 48 tahun yang terkesan santai dan urakan itu sesungguhnya orang yang tertib. Ia disiplin membagi waktu untuk menulis, menyiapkan pertunjukan, <em>nge-gym, nongkrong <\/em>di kafe, dan berceloteh di dunia maya. \u201cPenulis ini mesti mengatur dirinya sendiri agar tetap waras dan produktif, ha-ha-ha,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Siang itu, Agus Noor membiarkan laptopnya tetap hidup. Di sana ada jejak naskah yang belum kelar. Ia sedang menyiapkan naskah <em>Hakim Sormin <\/em>untuk Teater Gandrik yang mengisahkan para hakim yang berbondong-bondong masuk ke rumah sakit jiwa,<\/p>\n<p><em>Hakim Sarmin <\/em>hanya satu dari sekian garapannya. Ia terbiasa mengerjakan beberapa tulisan sekaligus. \u201cSaya memasang target. Setiap bulan, saya mesti menulis empat cerpen, beberapa naskah televisi, dan draft-draft novel.\u201d<\/p>\n<p>Sebagian karyanya ia simpan dan keluarkan satu per satu. Begitu ia bersiasat agar karynya eksis lebih lama. \u201cAda cerpen yang saya tabung dan akan saya keluarkan nanti pada masa pension. Penulis, kan, tidak punya uang pension, ha-ha-ha.\u201d<\/p>\n<p>Ia mengaku bisa menulis di rumah atau di kafe. Saat menulis, ia menjadi makhluk soliter yang seolah putus dengan dunia sekitar. Ia tenggelam dalam imaji-imaji aneh, termasuk sering membayangkan dirinya menjelma menjadi kunang-kunang, hewan yang menurut dia mistis sekaligus romantis. Kata kunang-kunang bertebaran di cerpen-cerpennya sehingga ia dijuluki penggemarnya \u201cPangeran Kunang-kunang\u201d.<\/p>\n<p><strong>Manusia Solider<\/strong><\/p>\n<p>Selesai menulis, ia kembali berproses bersama teman-temannya di teater. Ia pun menjadi manusia solider yang rindu bertukar gagasan dan ego. Ia kembali menyapa \u201cJemaah\u201d-nya di sosial media dengan cuitan, kutipan mini fiksi, atau sekedar ucapan terima kasih kepada <em>follower <\/em>barunya di Steller atau Twitter.<\/p>\n<p>\u201cAku tidak ingin menjadi penulis penyendiri, merasa sebagai nabi yang mewakili zamannya, padahal ide-idenya belum tentu sesuai dengan hasrat dan impian pembaca. Aku memilih menjadi penulis yang menyelami perubahan zaman sehingga ide-ideku punya relasi dengan masyarakat sekarang.\u201d<\/p>\n<p>Dengan cara itu, ia jadi lebih peka menangkap perubahan. Pertengahan 2000-an misalnya, ia melihat gejala menguatnya intoleransi dan disintegrasi di Tanah Air. Orang makin sensitif terhadap perbedaan.<\/p>\n<p>Merespons fenomena itu, ia bersama Butet Kartaredjasa Djaduk Ferianto menggagas Indonesia Kita, forum para seniman bekerja sama merancang pentas yang merangsang imajinasi keindonesiaan. Mereka mencari tali pengikat sebagai bangsa.<\/p>\n<p>\u201cSelain bahasa Indonesia, tali pengikat saat ini\u00a0 ternyata produk budaya pop. Generasi muda mengidentifikasi keindonesiannya, misalnya, melalui lagu-lagu Slank atau Iwan Fals, kita tahu di situ masih wilayah Indonesia.\u201d<\/p>\n<p>Karena itulah, Indonesia Kita memberi tempat luas pada produk budaya pop di sejumlah daerah, seperti hip hop jogja dan telempong rock minang. Sejumlah lakon telah dipentaskan, antara lain <em>Laskar Dagelan, Bata Maluku, <\/em>dan <em>Kabayan Jadi Presiden<\/em>. Agus menulis naskan dan menyutradarai sebagian besar pentas itu.<\/p>\n<p>Indonesia Kita digelar rata-rata empat kali setiap tahun mulai dari 2011 hingga 2016. Ini pentas yang paling teragenda dan rutin di Jakarta, biasanya digelar setiap Maret. Konsistensi itu berhasil membangun komunitas baru penonton teater di Jakarta, yang sebagian adalah kalangan eksekutif dan kaum muda urban. \u201cSetiap Maret mereka sudah mengagendakan <em>nonton<\/em> Indonesia Kita,\u201d ujar Agus,<\/p>\n<p>Ini menunjukkan, pasar teater di Jakarta itu ada dan punya daya beli tinggi. Justru pertunjukkan teaternya yang masih jarang sehingga mereka akhirnya terbang ke Singapura atau Amerika Serikat sekedar untuk <em>nonton<\/em> teater. \u201cKedepan, kami ingin bisa pentas dua kali sebulan.\u201d<\/p>\n<p>Untuk itu, Agus dan kawan-kawan berusaha mengelola pertunjukan teater secara modern. \u201cZaman menuntut itu. Nah, banyak kelompok seniman tidak siap dengan tuntutan. NPWP saja enggak punya, bagaimana mau dapat sponsor pertunjukan,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p><strong>Ke Yogyakarta<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Agus berasal dari keluarga yang sederhana di Tegal, Jawa Tengah. Ketika kecil, ia cadel. Untuk mengatasi kekurangan itu, orangtuanya menyuruh bocah itu membaca buku apa saja dengan suara keras. Tiap hari membaca ia jatuh cinta pada buku.<\/p>\n<p>AGUS NOOR<\/p>\n<ul>\n<li>Lahir: Tegal, 16b Juni 1968<\/li>\n<li>Pendidikan:<\/li>\n<li>SMP Negeri I Margasari Tegal<\/li>\n<li>SMA 17\/I Yogyakarta<\/li>\n<li>Seni Pertunjukan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.<\/li>\n<li>Penghargaan<\/li>\n<li>Cerpenis Terbaik Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) IV (1992)<\/li>\n<li>Anugerah Cerpen Indonesia oleh Dewan Kesenian Jakarta (1999)<\/li>\n<li>Karya Terbaik Majalah \u201cHorison\u201d selama kurun waktu 1990-2000<\/li>\n<li>Anugerah Seni dari Menbudpar (2006)<\/li>\n<li>Pemenang Cerpen Terbaik \u201cKompas\u201d 2011<\/li>\n<li>Buku (antara lain): Bapak Presiden yang Terhormat, Selingkuh Itu Indah, Matinya Toekang Kritik, Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (2007), Ciuman yang Menyelamatkan dari Kesedihan, Cerita buat Para Kekasih, Barista Tanpa Nama.<\/li>\n<\/ul>\n<p>Orangtuanya menjual buku, novel, majalah, buku anak-anak, dan koran. Sebelum majalah dkirim ke pelanggan, Agus membacanya lebih dulu. Ia melahap novel John Steinbeck, <em>Dataran Tortila, <\/em>dan novel Iwan Simatupang, <em>Kering <\/em>dan<em> Ziarah. <\/em><\/p>\n<p>Masuk SMP, ia kian keranjingan membaca dan mulai menulis puisi cinta pesanan teman-temannya. Suatu ketika, ia bertemu sastrawan angkatan 66 asal Tegal, Piek Ardijanto Soeprijadi. Piek menyarankan Agus meneruskan SMA ke Yogyakarta agar bertemu dengan seniman-seniman besar.<\/p>\n<p>Orangtua Agus tidak setuju. \u201cKami tak punya saudara di Yogyakarta. Lagi pula orang Tegal lazimnya merantau ke Jakarta supaya bisa buka warteg, ha-ha-ha,\u201d<\/p>\n<p>Pemuda itu nekat merantau dan sekolah di Yogyakarta. Namun, alih-alih duduk manis di kelas, ia malah suka keluyuran ke berbagai perpustakaan, toko buku, atau kios penyewaan buku. \u201cPernah tiga bulan tidak masuk sekolah karena keasyikan baca Kho Ping Ho, ha-ha-ha,\u201d kenang Agus yang tiga kali pindah sekolah.<\/p>\n<p>Di SMA terakhir. SMA 17\/I Badran, ia bertemu Nunik T Harayani, guru Sastra dan Bahasa Indonesia yang juga penulis. Guru itu mendorong Agus ikut kelompok teater dan <em>nonton <\/em>pertunjukan.<\/p>\n<p>Ketika kuliah, Agus mendatangi tempat <em>nongkrong <\/em>para seniman. Bertemulah ia dengan Indra Tranggono, Butet Kartarejadsa, Emha Ainun Nadjib, Genthong HAS, Bakdi Soemanto, Umar Kayam, Ashadi Siregar, dan Linus Suyadi Ag. Agus rajin menyerap ilmu sastra dan teater dari mereka.<\/p>\n<p>\u201cLinus bilang, \u2018Gus, kamu lebih bagus kalau <em>nulis <\/em>cerita daripada <em>nulis <\/em>puisi,\u201d kenang Agus yang merasa gayanya menulis naskah teater sangat dipengaruhi Emha.<\/p>\n<p>Agus akhirnya menetapkan jalan hidupnya sebagai penulis ketika cerpennya, <em>Kecoa<\/em>, dimuat harian <em>Kompas <\/em>tahun 1988. \u201cCerpen itu saya pigura ha-ha-ha,\u201d katanya. Banyak cerpen Agus masuk dalam ontology <em>Cerpen Pilihan Kompas.<\/em><\/p>\n<p>Sejak saat itu, Agus benar-benar hidup dari menulis, \u201cSaya telah memilih jalan yang benar, melakukan sesuatu yang saya cinta dan membahagiakan,\u201d katanya.<\/p>\n<p><strong>Sumber:<\/strong>\u00a0 Kompas, 17 September 2016.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak cerpennya dimuat di surat kabar nasional tahun 1988. Agus Noor menetapkan jalan hidupnya sebagai sastrawan. Ia mengarungi dunia menulis yang soliter sambil bergelut di dunia teater solider. Kini, ia menjadi satu dari dari sedikit seniman Indonesia yang konsisten dan produktif berkarya. Oleh: Budi Suwarna &amp; Aryo Wisanggeni Gentong. Akhir Agustus lalu, kami bertemu Agus&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3905,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-3903","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Agus Noor Siasat Pangeran Kunang-Kunang - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Agus Noor Siasat Pangeran Kunang-Kunang - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Sejak cerpennya dimuat di surat kabar nasional tahun 1988. Agus Noor menetapkan jalan hidupnya sebagai sastrawan. Ia mengarungi dunia menulis yang soliter sambil bergelut di dunia teater solider. Kini, ia menjadi satu dari dari sedikit seniman Indonesia yang konsisten dan produktif berkarya. Oleh: Budi Suwarna &amp; Aryo Wisanggeni Gentong. Akhir Agustus lalu, kami bertemu Agus...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-02-14T01:38:11+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:21+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.161.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1824\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"968\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Agus Noor Siasat Pangeran Kunang-Kunang\",\"datePublished\":\"2017-02-14T01:38:11+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:21+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\\\/\"},\"wordCount\":1022,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.161.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\\\/\",\"name\":\"Agus Noor Siasat Pangeran Kunang-Kunang - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.161.jpg\",\"datePublished\":\"2017-02-14T01:38:11+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:21+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.161.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/02\\\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.161.jpg\",\"width\":1824,\"height\":968},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Agus Noor Siasat Pangeran Kunang-Kunang\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Agus Noor Siasat Pangeran Kunang-Kunang - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Agus Noor Siasat Pangeran Kunang-Kunang - Library","og_description":"Sejak cerpennya dimuat di surat kabar nasional tahun 1988. Agus Noor menetapkan jalan hidupnya sebagai sastrawan. Ia mengarungi dunia menulis yang soliter sambil bergelut di dunia teater solider. Kini, ia menjadi satu dari dari sedikit seniman Indonesia yang konsisten dan produktif berkarya. Oleh: Budi Suwarna &amp; Aryo Wisanggeni Gentong. Akhir Agustus lalu, kami bertemu Agus...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-02-14T01:38:11+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:21+00:00","og_image":[{"width":1824,"height":968,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.161.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Agus Noor Siasat Pangeran Kunang-Kunang","datePublished":"2017-02-14T01:38:11+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:21+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/"},"wordCount":1022,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.161.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/","name":"Agus Noor Siasat Pangeran Kunang-Kunang - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.161.jpg","datePublished":"2017-02-14T01:38:11+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:21+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.161.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/02\/Siasat-Pangeran-Kunang-Kunang.-Kompas.17-September-2016.Hal_.161.jpg","width":1824,"height":968},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/agus-noor-siasat-pangeran-kunang-kunang\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Agus Noor Siasat Pangeran Kunang-Kunang"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3903","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3903"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3903\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9092,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3903\/revisions\/9092"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3905"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3903"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3903"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3903"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}