{"id":4935,"date":"2017-03-03T17:51:29","date_gmt":"2017-03-03T10:51:29","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=4935"},"modified":"2025-05-01T12:37:19","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:19","slug":"yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/","title":{"rendered":"Yok Koeswoyo Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-4936\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.16.jpg\" alt=\"Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga. Kompas. 23 Juli 2016. Hal.16\" width=\"1983\" height=\"1584\" srcset=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.16.jpg 1983w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.16-300x240.jpg 300w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.16-1030x823.jpg 1030w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.16-1500x1198.jpg 1500w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.16-705x563.jpg 705w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.16-450x359.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 1983px) 100vw, 1983px\" \/><\/a><\/p>\n<p>\u201cOrang bilang tanah kita tanah surgam tongkat ayu dan batu jadi tanaman&#8230;.\u201d Begitu Yok Koeswoyo menulis lagu \u201cKolam Susu\u201d.Kini, ia menulis kupasan karya-karya gubahannya dalam buku \u201cYok Koeswoyo-Pesan dalam Lagu\u201d. Seniman ini mengkritik tanpa menyakiti, tapi justru menghibur.<\/p>\n<p>Yok Koeswoyo<\/p>\n<p>Lahir : Tuban, Jawa Timur, 3 September 1943, anak ke-7 dari 9 bersaudara keluarga Koeswoyo<\/p>\n<p>Kegiatan : Eksponen pada Kus Bersaudara dan Koes Plus<\/p>\n<p>Oleh Frans Sartono<\/p>\n<p>Lagu gubahan Yok Koeswoyo, seperti \u201ckolam Susu\u201d, \u201cTul Jaenak\u201d, dan \u201cNusantara\u201d, telah berumur lebih dari 40 tahun. Yok kini berusia 72 tahun dan sebagai seniman, dia tidak mengenal \u201cpensiun\u201d. Kiprahnya memang tidak lagi harus di panggung, atau dapur rekaman, tetapi di pentas kreatifitas yang tidak ada batas.<\/p>\n<p>Pria kelahiran Tuban, Jawa Timur, bernama lahir Kostoyo ini masih menulis laguu. Ia juga menuliskan pikiran-pikirannya. Dalam buku Yok Koeswoyo-Pesan dalam Lagu (terbitan Grasiondo), eksponen Kus Bersaudara dan Koes Plus ini mengupas 40 lagu karyanya. Ia menjelaskan latar belakang lahirnya lagu serta pemaknaan sesuai konteks zaman.<\/p>\n<p>\u201cKolam Susu\u201d yang populer pada awal 1970-an, misalnya, merupakan semacam ironi negeri yang konon subur makmur, gemah ripah loh jinawi. \u201cBukan lautan hanya kolam susu\/ Kain dan jala cukup menghidupimu\/ Tiada adai, tiada topan kau temui\/ Ikan dan udang menghampiri dirimu&#8230; \/\/ Orang bilang tanah kita tanah surga\/ Tongkat kayu dan batu jadi tanaman&#8230;\u201d<\/p>\n<p>Lagu tersebut sebenarnya menyisakan pertanyaan yang tak tertulis. Proses yang tak disampaikan secara verbal, tapi sembunyi-sembunyi di antara baris-baris lirik. Dalam buku, pertanyaan itu dijaab. \u201cMemang alam kita kaya raya, namun mengapa di negeri ini pembangunan tidak merata&#8230; Masih terdengar orang sakit susah mendapatkan perawatan. Masih banyak masyarakat yang menganggap sekolah merupakan barang mewah&#8230;\u201d<\/p>\n<p>Bagaimana lagu itu lahir? Dalam obrolan di sebuah saung di Jalan Haji Nawi, kompleks keluarga Koeswoyo di Jakarta Selatan itu, Yok menjelaskan bahwa sebagai seniman ia harus bicara, bersaksi. Dalam kapasitasnya sebagai musisi, unek-unek itu ia sampaikan lewat lagu.<\/p>\n<p>\u201cYah&#8230; saya melihat keadaan pada saat itu, ya, seperti itu. Terus muncul begitu saja ide lagu itu. Ini tanah surga yang salah kelola. Tapi, kami menyampaikan tanpa menyalahkan siapa pun,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Tembang dolanan<\/p>\n<p>Dengan sikap seperti itu, Yok menyampaikan kritik keras dengan cara bersahabat. Dalam masyarakat Jawa, hal itu disebut guyon parikeno, Kritik lewat canda, dengan harapan pesan atau kritikan tersampaikan tanpa menyakiti. Gaya menulis lagu semacam itu merupakan pengaruh tembang dolanan Jaya. Yok tumbuh dalam keluarga dan lingkunagn budaya jawa dengan segenap elemen budaya yang melingkupinya, termasuk tembang-tembang Jawa.<\/p>\n<p>Dala obrolan, tampak sekali Yok mendalami, dan memahami tembang, mulai tembang macapat yang \u201cserius\u201d sampai tembang dolanan. Ia hafal tembang macapat Dhandang Gula terkenal, \u201cKidung Rumeksa ing Wengi\u201d, yang konon ditulis oleh Sunan Kalijaga.<\/p>\n<p>Ia mencoba mengupas makna tembang \u201cSemut Ireng\u201d dan \u201cIlir-ilir\u201d. Yok juga mengupas lagu dolanan, seperti \u201cTekate diipanah\u201d, dan \u201cYuk nang alun-alun\u201d, yang menurut dia punya makna profetik, futuristik.<\/p>\n<p>Model tembang dolanan terbawa dala lagu-lagu karya Yok, seperti lagu berbahasa Jawa \u201cTul Jaenak\u201d, \u201cSalah Mongso\u201d, dan \u201cPiring Gading\u201d. Juga lagu \u201cLihat Jendelaku\u201d dan tentu saja \u201cKolam Susu\u201d.<\/p>\n<p>Lagu \u201cTul jaenak\u201d yang menjadi lagu pertama dalam album Koes Plus Pop Jawa Volume I dikembangkan Yok dari lagu \u201cTul Jaenak\u201d yang ia keal sejak masa kecil di Tuban. Koes Plus dengan cerdas mentransformasikan tembang dolanan dengan struk lagu pop dan berhasil.<\/p>\n<p>Lagu ini sangat populer pada 1973, bahkan hingga hari ini dalam hajatan perayaan lagu-lagu Koes Plus, \u201cTul Jaenak\u201d seering dilantunkan. Sekedar mengingatkan, berikut lirim refreain-nya, \u201cTul jaenak, jae jatul jaeji, kontul jare banyak ndoke bajul kari siji&#8230;.\u201d<\/p>\n<p>Penjelasan Yok, \u201cKuntul, burung kecil, kok, mengaku banyak (angsa) yang berbadan lebih besar. Kalau sekarang itu, kan, namanya mark up.\u201d<\/p>\n<p>Dalam lirik juga disebut \u201cArep mulya kudu marsudi\/ Buto Ijo ojo digugu&#8230;.\u201d Artinya, kalau ingin hidup mulia, haruslah bekerja keras, Buto Ijo (raksasa hijau) jangan dipercaya.)<\/p>\n<p>Dalam mitologi Jawa dikenal sosok Buto Ijo atau raksasa hijau yang bisa memberikan kekayaan instan kepada mereka yang memintanya dengan syarat tertentu. Yok, lewat lagu itu, sebenarnya bucara tentang korupsi atau upaya orang untuk mencari kkayaan dengan jalan pintas.<\/p>\n<p>Mewarnai Koes Plus<\/p>\n<p>Yok Koeswoyo ikut mewarnai Kus Bersaudara dan Koes Plus. Bersama kakak-kakaknya, Koesdjon atau Djon Koeswoyo, Koestono (Tonni), Koesnomo (Nomo) dan Kosyono (Yon), Yok tergabung dalam Koes Bersaudara sejak umur belasan tahun. Dalam Kus Bersaudara, Yok yang bermain bas berpasangan dengan Yon. Mereka berduet yang mengacu pada duet Everly Brothers, duet asal Amerika Serikat populer pada akhir 1950-an.<\/p>\n<p>Pada pertengahan era 1960-an, Kus Bersaudara mengubah orientasu dai Everly Brothers ke jenis-jenis musik Beatles, Rolling Stone, dan Bee Gees. Pada jelang akhir 1960-an, Nomo keluar dan dibentuklah Kos Plus dengan Murry sebagai drummer.<\/p>\n<p>Yok sebagai salah seorang vokalis Koes Plus memberi ciri dengan suara tinggi melengking ala penyanyi rock. Misalnya, pada lagu \u201cPencuri Hati\u201d dan \u201cJemu\u201d. Akan tetapi, suara Yok bisa juga lembut, seperti pada lagu \u201cMawar Bunga\u201d dan \u201cAku Sendiri\u201d.<\/p>\n<p>Lagu-lagu gubahan Yok juga ikut melegakan Koes Plus. Tema sangan beragam, mulai dari cinta yang memang menjadi jualan utama dalam industri musik sampai cinta Tanah Air, lingkungan, dan Yang Maha Esa. Lagu cinta gubahan Yok antara lain \u201cWhy Do You Love Me\u201d yang dalam album Koes Plus Volume 4 (1971) dibawakan oleh Yon Koeswoyo.<\/p>\n<p>Untuk lagu cinta Tanah Air, Yok menyumbang tiga lagu seri Nusantara, yaitu Nusantara 3, 5, dan 8. Seperti diketahui, Koes menulis sebanyak 8 seri lagu Nusantara.<\/p>\n<p>Yok dalam lagunya juga bicara tentang desa dalam \u201cDesaku\u201d. Secara halus ia menyindir desa yang tidak kebagian rezeki yang semestinya dalam prinsip pemerataan hasil pembangunan.<\/p>\n<p>Gitaris Dewa Budjana yang memberikan catatan dalam buku Yok itu menuliskan bahwa lagu-lagu Yok dan Koes Plus bicara tentang berbagai aspek kehidupan. Budjana yang sejak kanak-kanak menggemari lagu Koes Plus menambahkan, lagu-lagu mereka menyentuk aspek Tri Hita Karana. \u201cKeharmnonisan hubungan antara manusia dengan sesamanya, manusia dengan alam lingkungan, dan manusia dengan Tuhan,\u201d tulis Budjana.<\/p>\n<p>\u201cPenyuka seni itu menyukai keindahan. Karena suka kkeindahan, mereka menyukai alam. Suka akan alam, mereka mencintai Pencipta Alam. Sang Pencipta pun mencintai kita,\u201d Kata Yok.<\/p>\n<p><strong>Sumber:\u00a0<\/strong>Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.16<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cOrang bilang tanah kita tanah surgam tongkat ayu dan batu jadi tanaman&#8230;.\u201d Begitu Yok Koeswoyo menulis lagu \u201cKolam Susu\u201d.Kini, ia menulis kupasan karya-karya gubahannya dalam buku \u201cYok Koeswoyo-Pesan dalam Lagu\u201d. Seniman ini mengkritik tanpa menyakiti, tapi justru menghibur. Yok Koeswoyo Lahir : Tuban, Jawa Timur, 3 September 1943, anak ke-7 dari 9 bersaudara keluarga Koeswoyo&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4937,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-4935","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Yok Koeswoyo Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Yok Koeswoyo Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"\u201cOrang bilang tanah kita tanah surgam tongkat ayu dan batu jadi tanaman&#8230;.\u201d Begitu Yok Koeswoyo menulis lagu \u201cKolam Susu\u201d.Kini, ia menulis kupasan karya-karya gubahannya dalam buku \u201cYok Koeswoyo-Pesan dalam Lagu\u201d. Seniman ini mengkritik tanpa menyakiti, tapi justru menghibur. Yok Koeswoyo Lahir : Tuban, Jawa Timur, 3 September 1943, anak ke-7 dari 9 bersaudara keluarga Koeswoyo...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-03-03T10:51:29+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:19+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.161.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1801\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1020\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Yok Koeswoyo Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga\",\"datePublished\":\"2017-03-03T10:51:29+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:19+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\\\/\"},\"wordCount\":965,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.161.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\\\/\",\"name\":\"Yok Koeswoyo Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.161.jpg\",\"datePublished\":\"2017-03-03T10:51:29+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:19+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.161.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/03\\\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.161.jpg\",\"width\":1801,\"height\":1020},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Yok Koeswoyo Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Yok Koeswoyo Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Yok Koeswoyo Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga - Library","og_description":"\u201cOrang bilang tanah kita tanah surgam tongkat ayu dan batu jadi tanaman&#8230;.\u201d Begitu Yok Koeswoyo menulis lagu \u201cKolam Susu\u201d.Kini, ia menulis kupasan karya-karya gubahannya dalam buku \u201cYok Koeswoyo-Pesan dalam Lagu\u201d. Seniman ini mengkritik tanpa menyakiti, tapi justru menghibur. Yok Koeswoyo Lahir : Tuban, Jawa Timur, 3 September 1943, anak ke-7 dari 9 bersaudara keluarga Koeswoyo...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-03-03T10:51:29+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:19+00:00","og_image":[{"width":1801,"height":1020,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.161.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Yok Koeswoyo Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga","datePublished":"2017-03-03T10:51:29+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:19+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/"},"wordCount":965,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.161.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/","name":"Yok Koeswoyo Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.161.jpg","datePublished":"2017-03-03T10:51:29+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:19+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.161.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/03\/Orang-Bilang-Tanah-Kita-Tanah-Surga.-Kompas.-23-Juli-2016.-Hal.161.jpg","width":1801,"height":1020},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/yok-koeswoyo-orang-bilang-tanah-kita-tanah-surga\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Yok Koeswoyo Orang Bilang Tanah Kita Tanah Surga"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4935","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4935"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4935\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9100,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4935\/revisions\/9100"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4937"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4935"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4935"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4935"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}