{"id":7048,"date":"2017-05-24T13:41:25","date_gmt":"2017-05-24T06:41:25","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=7048"},"modified":"2017-05-30T15:42:03","modified_gmt":"2017-05-30T08:42:03","slug":"negosiasi-dan-romantisme","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/","title":{"rendered":"Negosiasi dan Romantisme"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/05\/Jony-Eko-Yulianto@PSY_Negoisasi-dan-Romantisme.-Tabloid-Kontan.-13-19-Maret-2017.Hal_.31.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-7049\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/05\/Jony-Eko-Yulianto@PSY_Negoisasi-dan-Romantisme.-Tabloid-Kontan.-13-19-Maret-2017.Hal_.31.jpg\" alt=\"Jony Eko Yulianto@PSY_Negoisasi dan Romantisme. Tabloid Kontan. 13-19 Maret 2017.Hal.31\" width=\"1138\" height=\"2660\" \/><\/a><\/p>\n<p>Oleh Jony Eko Yulianto (Dosen Psikologi Negoisasi dan Persuasi Universitas Ciputra Surabaya)<\/p>\n<p>Apakah anda masih mengingat sambutan masyarakat terhadap kunjungan presiden AS Barrack S. Obama ke Indonesia tujuh tahun silam? Saat itu, banyak rakyat Indonesia senang buka kepalang saat dalam pidatonya di Jakarta, presiden Obama berkata bahwa ia merasakan seperti pulang kampung. Belum lagi, ia bisa menuntaskan kerinduannya terhadap berbagai makanan kesukaannya di waktu kecil. Seperti sate ayam atau bakso. Pidatonya yang mengandung romantisme di masa lalu membuat kita spontan merasa memiliki kedekatan personal dengan Obama. Sang presiden AS itu adalah bagian dari Indonesia, kira-kira demikian yang kita rasakan.<\/p>\n<p>Kini, cerita dengan tema sama muncul. Kali ini, pemerannya adalah raja Salman bin Abdul Aziz. Raja dari Arab Saudi itu datang ke Indonesia dengan membawa agenda investasi bisnis untuk memulihkan perekonomian negerinya. Dalam kunjungannya. Raja Salman menceritakan tentang kedekatan kerajaan Arab Saudi dengan presiden Soekarno. Cerita ini disambut baik masyarakat Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersama raja Salman kemudian menanam pohon ulin di istana Negara sebagai simbol persahabatan di antara kedua Negara. Raja Salman juga menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan presiden Megawati Soekarnoputri dan menteri Puan Maharani untuk membangkitkan kenagan persahabatan dengan presiden soekarno.<\/p>\n<p>Kedua fenomena diatas sebenarnya memiliki substansi serupa, yakni menunjukkan dinamika psikologis sebagai bagian dari strategi negosiasi dalam menjalin kerjasama bilateral. Presiden Jokowi dalam vlognya menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia dan pemerintah Arab Saudi berencana akan melakukan sinergi di bidang ekonomi dan pariwisata yang akan menguntungkan keduabelah pihak. Bagaimana kita menjelaskan fenomena diatas?apa peranan narasi romantisme masa lalu dalam sebuah proses negosiasi bisnis?<\/p>\n<p>Raymond Cohen, melalui karyanya <em>Negotiating Across Culture: Communication in International Diplomacy<\/em>, menekankan prinsip penting diplomasi level international: komunikasi bilateral adalah sebuah proses yang sangat dipengaruhi oleh budaya. Melakukan negosiasi tanpa memahami budaya komunikasi dari lawan negosiasi dapat menimbulkan gagalnya proses negosiasi. Sebaliknya, memahami perbedaan budaya lawan bicara akan membantu menentukan konten, proses serta gaya negosiasi yang akan digunakan. Artinya tidak ada satupun rumus pakem yang paling jitu untuk bernegoisasi kecuali memahami perbedaan budaya itu sendiri. Misalnya, apa yang dianggap penting dalam proses komunikasi di Negara kolektivistik tentu sangat berbeda dengan Negara yang berbudaya individualistic.<\/p>\n<p>Di Negara-negara yang menganut kultur kolektivistik, komunikasi amat menekankan pentingnya konteks. Selain itu, komunikasi hanya bisa dibangun dengan efektif ketika komunikator menekankan kesatuan, relasi, dan bercerita secara tidak langsung atau indirect communication.<\/p>\n<p><strong>Hubungan interpersonal dianggap lebih penting daripada memorandum of understanding<\/strong><\/p>\n<p>Sedangkan di Negara-negara yang masyarakat berbudaya individualistic, komunikasi lebih cenderung dilakukan secara langsung dan tidak terlalu menekankan pentingnya konteks maupun relasi personal antar komunikator. Etiket yang terlalu kompleks, penuh dengan retorika, serta guyonna yang tidak berorientasi pada konten justru dihindari atau sebisa mungkin diminimalisir. Dengan menggunakan basis perbedaan inilah, maka Negara-negara timur seperti Indonesia, disebut Geert Hofstede sebagai High-Contenxt Culture. Sedangkan Negara-negara barat disebut low-context culture.<\/p>\n<p><strong>Narasi masa lalu<\/strong><\/p>\n<p>Implikasinya, seorang diplomat atau kepala Negara yang ingin bernegosiasi dengan Negara-negara kolektivistik, seperti Indonesia, cina, atau jepang, akan berfokus untuk menegaskan hubungan personal dengan lawan negosiasinya. Sebelum membicarakan tentang konten negosiasi itu sendiri. Para pebisnis di cina, mengenal istilah Renjie Hixie. Istilah itu merujuk ke harmoni interpersonal dalam berbisnis. Hubungan interpersonal dianggap lebih penting oleh mereka dibandingkan dengan dokumen memorandum of understanding itu sendiri.<\/p>\n<p>Dalam prosesnya, kepercayaan baru akan terbentuk ketika relasi interpersonal terbentuk. Tidak heran jika kemudian dalam buku teks negosiasi bisnis, diceritakan bagaimana pebisnis-pebisnis asal Cina menghabiskan banyak waktu makan bersama di meja makan atau main golf bersama dengan calon mitra bisnisnya. Pembicaraan tentang hal-hal di luar bisnis bisa mengambil waktu lebih banyak daripada pembicaraan tentang konten bisnis itu sendiri. Keberhasilan negosiasi bisnis ditentukan oleh sejauhmana relasi interpersonal dapat terjalin dengan baik. Ketika dieksplorasi dengan lebih dalam lagi, narasi-narsi cerita tentang kesamaan keduabelah pihak memiliki peran yang sangat penting. Dua pebisnis dari Negara timur dapat bekerjasama membangun sebuah pabrik karena keduanya menggemari sebuah klub sepakbola yang sama. Atau karena keduanya berasal dari kampung halaman yang sama.<\/p>\n<p>Atribut psikologis maupun non-psikologis yang sama dari kedua belah pihak dapat memperkuat relasi. Saat itu terjadi, proses negosiasi dapat dilakukan dengan lebih lancar. Jika penjelasan ini ditarik kembali kedalam konteks kunjungan prsiden Obama dan raja Salman ke Indonesia, kita dapat memahami bahwa narasi romantisme masa lalu adalah pintu masuk yang digunakan oleh kedua pimpinan itu dalam menjalin relasi interpersonal dengan presiden Indonesia.<\/p>\n<p>Narasi romantisme masa lalu itu juga yang menjadi sarana presiden Obama dan raja Salman untuk membangun konektuvitas psikologis dengan segenap rakyat Indonesia. Secara psikologis, kita akan lebih tertarik dan mudah membentuk ikatan emosional dengan individu yang memiliki kesamaan-kesamaan atribut dengan kita. Namun demikian, kita tetap memiliki kewajiban untuk mengingatkan pemerintahan pusat bahwa negosiasi maupun diskusi terkait investasi antara Indonesia dengan Arab Saudi hendaknya tetap dilakukan dengan orientasi kesejahteraan rakyat Indonesia. Semoga relasi bilateral yang baik antara Indonesia dengan Arab Saudi dapat menghasilkan invensi yang inovatif untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.<\/p>\n<p><strong>Sumber:\u00a0<\/strong>Tabloid Kontan 13 Maret-19 Maret 2017 Hal 31<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh Jony Eko Yulianto (Dosen Psikologi Negoisasi dan Persuasi Universitas Ciputra Surabaya) Apakah anda masih mengingat sambutan masyarakat terhadap kunjungan presiden AS Barrack S. Obama ke Indonesia tujuh tahun silam? Saat itu, banyak rakyat Indonesia senang buka kepalang saat dalam pidatonya di Jakarta, presiden Obama berkata bahwa ia merasakan seperti pulang kampung. Belum lagi, ia&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7049,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,455,447],"tags":[],"class_list":["post-7048","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uc-news","category-uc-news-2017","category-uc-news-maret-2017"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Negosiasi dan Romantisme - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Negosiasi dan Romantisme - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Oleh Jony Eko Yulianto (Dosen Psikologi Negoisasi dan Persuasi Universitas Ciputra Surabaya) Apakah anda masih mengingat sambutan masyarakat terhadap kunjungan presiden AS Barrack S. Obama ke Indonesia tujuh tahun silam? Saat itu, banyak rakyat Indonesia senang buka kepalang saat dalam pidatonya di Jakarta, presiden Obama berkata bahwa ia merasakan seperti pulang kampung. Belum lagi, ia...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-05-24T06:41:25+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2017-05-30T08:42:03+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Jony-Eko-Yulianto@PSY_Negoisasi-dan-Romantisme.-Tabloid-Kontan.-13-19-Maret-2017.Hal_.31-e1495608063162.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"407\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"460\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/negosiasi-dan-romantisme\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/negosiasi-dan-romantisme\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Negosiasi dan Romantisme\",\"datePublished\":\"2017-05-24T06:41:25+00:00\",\"dateModified\":\"2017-05-30T08:42:03+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/negosiasi-dan-romantisme\\\/\"},\"wordCount\":797,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/negosiasi-dan-romantisme\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/05\\\/Jony-Eko-Yulianto@PSY_Negoisasi-dan-Romantisme.-Tabloid-Kontan.-13-19-Maret-2017.Hal_.31-e1495608063162.jpg\",\"articleSection\":[\"UC News\",\"UC News 2017\",\"UC News Maret 2017\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/negosiasi-dan-romantisme\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/negosiasi-dan-romantisme\\\/\",\"name\":\"Negosiasi dan Romantisme - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/negosiasi-dan-romantisme\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/negosiasi-dan-romantisme\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/05\\\/Jony-Eko-Yulianto@PSY_Negoisasi-dan-Romantisme.-Tabloid-Kontan.-13-19-Maret-2017.Hal_.31-e1495608063162.jpg\",\"datePublished\":\"2017-05-24T06:41:25+00:00\",\"dateModified\":\"2017-05-30T08:42:03+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/negosiasi-dan-romantisme\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/negosiasi-dan-romantisme\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/negosiasi-dan-romantisme\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/05\\\/Jony-Eko-Yulianto@PSY_Negoisasi-dan-Romantisme.-Tabloid-Kontan.-13-19-Maret-2017.Hal_.31-e1495608063162.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/05\\\/Jony-Eko-Yulianto@PSY_Negoisasi-dan-Romantisme.-Tabloid-Kontan.-13-19-Maret-2017.Hal_.31-e1495608063162.jpg\",\"width\":407,\"height\":460},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/negosiasi-dan-romantisme\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Negosiasi dan Romantisme\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Negosiasi dan Romantisme - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Negosiasi dan Romantisme - Library","og_description":"Oleh Jony Eko Yulianto (Dosen Psikologi Negoisasi dan Persuasi Universitas Ciputra Surabaya) Apakah anda masih mengingat sambutan masyarakat terhadap kunjungan presiden AS Barrack S. Obama ke Indonesia tujuh tahun silam? Saat itu, banyak rakyat Indonesia senang buka kepalang saat dalam pidatonya di Jakarta, presiden Obama berkata bahwa ia merasakan seperti pulang kampung. Belum lagi, ia...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-05-24T06:41:25+00:00","article_modified_time":"2017-05-30T08:42:03+00:00","og_image":[{"width":407,"height":460,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Jony-Eko-Yulianto@PSY_Negoisasi-dan-Romantisme.-Tabloid-Kontan.-13-19-Maret-2017.Hal_.31-e1495608063162.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Negosiasi dan Romantisme","datePublished":"2017-05-24T06:41:25+00:00","dateModified":"2017-05-30T08:42:03+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/"},"wordCount":797,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Jony-Eko-Yulianto@PSY_Negoisasi-dan-Romantisme.-Tabloid-Kontan.-13-19-Maret-2017.Hal_.31-e1495608063162.jpg","articleSection":["UC News","UC News 2017","UC News Maret 2017"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/","name":"Negosiasi dan Romantisme - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Jony-Eko-Yulianto@PSY_Negoisasi-dan-Romantisme.-Tabloid-Kontan.-13-19-Maret-2017.Hal_.31-e1495608063162.jpg","datePublished":"2017-05-24T06:41:25+00:00","dateModified":"2017-05-30T08:42:03+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Jony-Eko-Yulianto@PSY_Negoisasi-dan-Romantisme.-Tabloid-Kontan.-13-19-Maret-2017.Hal_.31-e1495608063162.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/05\/Jony-Eko-Yulianto@PSY_Negoisasi-dan-Romantisme.-Tabloid-Kontan.-13-19-Maret-2017.Hal_.31-e1495608063162.jpg","width":407,"height":460},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/negosiasi-dan-romantisme\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Negosiasi dan Romantisme"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7048","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7048"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7048\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7159,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7048\/revisions\/7159"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7049"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7048"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7048"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7048"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}