{"id":711,"date":"2015-07-08T10:02:47","date_gmt":"2015-07-08T03:02:47","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=711"},"modified":"2025-05-01T12:37:27","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:27","slug":"tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/","title":{"rendered":"Endang Sutarwan Tabib Papan Selancar Sekaligus Pelestari Budaya"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2015\/07\/Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal_.16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-712\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2015\/07\/Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal_.16.jpg\" alt=\"Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal.16\" width=\"978\" height=\"861\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>Peselancar lokal dan asing tak perlu khawatir saat papan selancar mereka rusak ketika digunakan menunggai ombak di Pesisir Barat, Lampung. Selama ada Endang Sutarwan alias Nanang (33), papan selancar yang rusak bisa kembali fit untuk digunakan.<\/strong><\/p>\n<p><strong>OLEH ANGGER PUTRANTO<\/strong><\/p>\n<p>Sebuah gubuk kecil berbahan dasar kayu berdiri di tengah tanah lapang yang ada di kawasan Pantai Tanjung Setia, Kabuoaten Pesisir Barat, Lampung. Hamparan rumput yang tumbuh ditambah rimbunnya pepohonan kelapa menghadirkan suasana sejuk di sekitar gubuk.<\/p>\n<p>Di dalam gubuk itu tersimpan puluhan papan selancar dalam berbagai kondisi. Aneka perkakas dan perlengkapan bengkel lengkap tersedia disana. Obeng, ampelas, gergaji, tang, lem, resin, dan lainnya terserak begitu saja. Walaupun begitu, Nanang tak pernah kesulitan mencari perkakas-perkakas tersebut saat dibutuhkan untuk memperbaiki papan selancar yang rusak.<\/p>\n<p>Kecintaannya pada dunia selancar sudah tumbuh sejak Nanang duduk di bangku sekolah dasar. Lelaki kelahiran Sukabumi itu sempat merasakan sulitnya bermain selancar saat papa selancarnya rusak.<\/p>\n<p>\u201cSaya tak punya uang untuk memperbaiki papan selancar. Saya hanya bisa memperbaiki sedikit-sedikit. Dari sana perlahan saya semakin mahir dan terinspirasi untuk membuka Ding Repair (bengkel papan selancar),\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Setelah menyelesaikan pendidikan di bangku sekolah menengah atas, Nanang memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya dan merantau ke Pesisir Barat. Berbekal informasi dari mesin pencari Google, ia mengetahui bahwa Pesisir Barat memiliki alam yang indah dan ombak yang luar biasa.<\/p>\n<p>Sejumlah peselancar asing menilai ombak Pesisir Barat setara dengan ombak di Hawaii. Sebab, ombak dari perairan Samudra Hindia itu memiliki garasi ombak yang panjang denga ketinggian mencapai 6 meter hingga 8 meter.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Buka bengkel<\/strong><\/p>\n<p>Sejak meninggalkan Sukabumi, Nanang tahu tujuannya ke Pesisir Barat ialah untuk dunia selancar. Selain ingin melampiaskan kegemarannya bermain ombak, petualangannya kali ini untuk membuka bengkel papan selancar.<\/p>\n<p>\u201cSaya tidak meneruskan kuliah karena lebih tertarik berbisnis. Awalnya banyak orang mencibir dan mengatakan saya tidak bakal sukses, tetapi buktinya saya sekarang bisa membiayai keluarga besar,\u201d ujar suami Indriani itu.<\/p>\n<p>Sejak tahun 2005, Nanang mulai tinggal di Pesisir Barat. Ia menyewa dua gubuk kayu di sekitar Pantai Tanjung Setia. Satu gubuk ia gunakan sebagai tempat tinggal, sementara gubuk lainnya ia jadikan tempat praktik reparasi papan selancar.<\/p>\n<p>Sebelum ia membuka bengkel selancar, papan selancar yang rusak ketika dipakai bermain di Pesisir Barat harus dibawa ke Bali untuk diperbaiki. Namun, kini para peselancar tak perlu repot bolak-balik Lampung \u2013 Bali \u2013 Lampung hanya untuk reparasi dan kembali berburu ombak, di Pesisir Barat.<\/p>\n<p>Peselancar yang mengalami kerusakan papan bisa langsung memperbaiki di Ding Repair Sumatera milik Nanang. Dalam sehari ada sekitar 40 papan selancar yang masuk ke bengkel itu. Sebanyak 30 papan akan diperbaiki hari itu juga, sedangkan 10 papan sisanya selalu disisakan untuk digarap esok hari.<\/p>\n<p>\u201cKerusakan yang dialami bermacam-macam tergantung ombak. Kerusakan paling banyak papan patah, ganti pelat, dan dudukan <em>fin<\/em> (sirip di bawah papan yang berfungsi untuk mengarahkan laju papan). Biaya reparasi berbeda-beda, Rp 600.000 untuk reparasi bergaransi dan Rp 400.000 untuk reparasi tidak bergaransi,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Sebagian besar wisatawan asing yang biasa menghabiskan waktu berbulan-bulan di Pesisir Barat lebih memilih reparasi dengan garansi. Sebab, jika mereka mengalami kerusakan papan, Nanang tidak akan memungut biaya lagi.<\/p>\n<p>Pelayanan ini menjadikan nilai lebih bengkel selancar milik Nanang. Hasil garapan Nanang juga terkenal halus dan sempurna. Tak heran, para peselancar asing yang pernah menjadi \u201cpasiennya\u201d masih kerap mengirim papan seluncur dari berbagai belahan dunia untuk diperbaiki Nanang.<\/p>\n<p>\u201cPara peselancar Eropa dan Australia masih sering mengirim papannya yang rusak untuk diperbaiki disini. Dimana pun mereka berselancar, kalau ada kerusakan, mereka pasti mengirim kemari. Kalau sudah seperti itu, saya hanya mengandalkan saling percaya saja,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Kini pemuda berambut gondrong ikal itu menyebut dirinya sendiri sebagai orang sukses. Kesuksesan yang ia raih berawal dari 1 kilogram resin dan sedikit modal usaha. Ayah satu anak tersebut kini bisa memperoleh keuntungan bersih Rp 40 juta. Keuntungan itu sudah dipotong upah untuk 5 karyawannya masing-masing Rp 2 juta per bulan.<\/p>\n<p>Berkat keterampilannya itu, Nanang sudah memiliki lahan sawit seluas 4 hektar dan berencana membuka sebuah rumah toko yang menjual aksesori selancar.<\/p>\n<p>Tak hanya berkutat pada usaha reparasi papan selancar, Nanang ternyat juga memiliki ketertarikan pada budaya Lampung. Keterkaitan tersebut ia tuangkan dalam sebuah produksi <em>fin<\/em>. Sekitar lima tahun lalu, Nanang memberanikan diri menjadi produsen <em>fin<\/em> dengan motif batik Lampung.<\/p>\n<p>\u201cSaya tertarik dengan motif Lampung yang menampilkan Siger (mahkota pengantin wanita Lampung), Gajah, dan Tapis. Kelebihan <em>fin<\/em> buatan saya ialah cita rasa klasik. Kalau <em>fin<\/em> produksi luar negeri biasanya hanya polos, punya saya ada motifnya,\u201d kata Nanang bangga.<\/p>\n<p>Produksi <em>fin<\/em> dengan motif Lampung milik Nanang mulai merambah pasar internasional. Australia dan Hawaii menjadi pasar terbesar produksi tersebut. Kendati awalnya hanya memasarkan <em>fin<\/em>, secara tidak langsung\u00a0 usaha Nanang juga merupakan bentuk promosi budaya Lampung.<\/p>\n<p>Produksi <em>fin<\/em> motif Lampung milik Nanang terus berjalan di tengah kesibukan melayani reparasi papan selancar yang rusak. Dalam satu hari Nanang dan rekan-rekannya bisa menyelesaikan 5 set <em>fin<\/em> (15 buah).<\/p>\n<p>Guna mengatasi mahalnya biaya ekspor, Nanang hanya melayani ekspor minimal 5 set <em>fin<\/em> dalam sekali kirim. Dalam satu tahun setidaknya ada 200 set <em>fin<\/em> yang dikirim ke sejumlah negara pemesan.<\/p>\n<p>Nanang berharap produk Indonesia bisa lebih diterima pasar Internasional dan juga lokal. Ia mengatakan, saat ini banyak penggemar selancar Indonesia lebih memilih produk luar negeri.<\/p>\n<p>\u201cBanyak orang berpikir, yang lebih mahal itu lebih baik. Hal itu yang membuat hasil karya anak negeri tidak dihargai. Padahal, saat ini orang asing lebih menghargai produk Indonesia. Percayalah, produk Indonesia tidak kalah kualitasnya,\u201d ungkap Nanang.<\/p>\n<p><strong>ENDANG SUTARWAN\/NANANG\/NANUNG<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u25aa Lahir<\/strong> : Sukabumi, 16 Juni 1982<\/p>\n<p><strong>\u25aa Pendidikan<\/strong> : D Marinjung Sukabumi<\/p>\n<ul>\n<li>SMP Cilosok, Sukabumi<\/li>\n<li>SMA Pelabuhan Ratu, Sukabumi<\/li>\n<\/ul>\n<p><strong>\u25aa Nama Istri<\/strong> : Indriani (23)<\/p>\n<p><strong>\u25aa Nama Anak<\/strong> : Muhammad Rail (8)<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Lihat Video Terkait<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u201cTabib Papan Selancar\u201d<\/strong><\/p>\n<p><strong>di kompasprint.com\/vod\/tabibselancar<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>UC Lib-Collect<\/strong><\/p>\n<p><strong>Kompas. Senin. 22 Juni 2015. Hal. 16<\/strong><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Peselancar lokal dan asing tak perlu khawatir saat papan selancar mereka rusak ketika digunakan menunggai ombak di Pesisir Barat, Lampung. Selama ada Endang Sutarwan alias Nanang (33), papan selancar yang rusak bisa kembali fit untuk digunakan. OLEH ANGGER PUTRANTO Sebuah gubuk kecil berbahan dasar kayu berdiri di tengah tanah lapang yang ada di kawasan Pantai&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":712,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-711","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Endang Sutarwan Tabib Papan Selancar Sekaligus Pelestari Budaya - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Endang Sutarwan Tabib Papan Selancar Sekaligus Pelestari Budaya - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Peselancar lokal dan asing tak perlu khawatir saat papan selancar mereka rusak ketika digunakan menunggai ombak di Pesisir Barat, Lampung. Selama ada Endang Sutarwan alias Nanang (33), papan selancar yang rusak bisa kembali fit untuk digunakan. OLEH ANGGER PUTRANTO Sebuah gubuk kecil berbahan dasar kayu berdiri di tengah tanah lapang yang ada di kawasan Pantai...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2015-07-08T03:02:47+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:27+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal_.16-e1487046513892.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"926\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"420\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Endang Sutarwan Tabib Papan Selancar Sekaligus Pelestari Budaya\",\"datePublished\":\"2015-07-08T03:02:47+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:27+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\\\/\"},\"wordCount\":915,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal_.16-e1487046513892.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\\\/\",\"name\":\"Endang Sutarwan Tabib Papan Selancar Sekaligus Pelestari Budaya - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal_.16-e1487046513892.jpg\",\"datePublished\":\"2015-07-08T03:02:47+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:27+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal_.16-e1487046513892.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2015\\\/07\\\/Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal_.16-e1487046513892.jpg\",\"width\":926,\"height\":420},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Endang Sutarwan Tabib Papan Selancar Sekaligus Pelestari Budaya\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Endang Sutarwan Tabib Papan Selancar Sekaligus Pelestari Budaya - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Endang Sutarwan Tabib Papan Selancar Sekaligus Pelestari Budaya - Library","og_description":"Peselancar lokal dan asing tak perlu khawatir saat papan selancar mereka rusak ketika digunakan menunggai ombak di Pesisir Barat, Lampung. Selama ada Endang Sutarwan alias Nanang (33), papan selancar yang rusak bisa kembali fit untuk digunakan. OLEH ANGGER PUTRANTO Sebuah gubuk kecil berbahan dasar kayu berdiri di tengah tanah lapang yang ada di kawasan Pantai...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2015-07-08T03:02:47+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:27+00:00","og_image":[{"width":926,"height":420,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal_.16-e1487046513892.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Endang Sutarwan Tabib Papan Selancar Sekaligus Pelestari Budaya","datePublished":"2015-07-08T03:02:47+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:27+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/"},"wordCount":915,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal_.16-e1487046513892.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/","name":"Endang Sutarwan Tabib Papan Selancar Sekaligus Pelestari Budaya - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal_.16-e1487046513892.jpg","datePublished":"2015-07-08T03:02:47+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:27+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal_.16-e1487046513892.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2015\/07\/Tabib-Papan-Selancar-Sekaligus-pelestari-Budaya.-Kompas.22-Juni-2015.Hal_.16-e1487046513892.jpg","width":926,"height":420},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/tabib-papan-selancar-sekaligus-pelestari-budaya\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Endang Sutarwan Tabib Papan Selancar Sekaligus Pelestari Budaya"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/711","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=711"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/711\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6044,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/711\/revisions\/6044"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/712"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=711"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=711"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=711"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}