{"id":7232,"date":"2017-06-05T14:17:30","date_gmt":"2017-06-05T07:17:30","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=7232"},"modified":"2025-05-01T12:37:17","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:17","slug":"antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/","title":{"rendered":"Antonius Triyanto dan Kadmiya Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/06\/Antonius-Triyanto-dan-Kadmiya_Agar-Gerabah-Tak-Terkubur-Sejarah.-Kompas.-8-April-2017.-Hal-16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-7233\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/06\/Antonius-Triyanto-dan-Kadmiya_Agar-Gerabah-Tak-Terkubur-Sejarah.-Kompas.-8-April-2017.-Hal-16.jpg\" alt=\"Antonius Triyanto dan Kadmiya_Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah. Kompas. 8 April 2017. Hal 16\" width=\"1170\" height=\"885\" \/><\/a><\/p>\n<p>Meneruskan tugas sejarah, Antonius Triyanto dan Kadmiya dari Cirebon berusaha mengembangkan kerajinan gerabah agar tidak tergusur oleh perubahan zaman. Karya mereka menjadi bagian dari pameran gerabah \u201cAntara Sitiwinangun dan Pagerjurang Bayat\u201d di Bentara Budaya Jakarta, 4-9 April.<\/p>\n<p>OLEH FRANS SARTONO<\/p>\n<p>Kerajinan gerabah dengan beragam fungsi, bentuk, dan desain sedang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ), Jalan Palmerah Selatan 17. Ada kendi, celengan, vas bunga, pot, gosang atau semacam jambangan, pedaringan atau tempat beras, tungku gentong, berbagai patung ukurang mungil hingga besar, pot, kap lampu, peranti saji, sampai satu set cangkir dan teko. Gerabah itu berasal dari dua daerah, yaitu Dukuh Pagerjurang, Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang lebih dikenal sebagai gerabah Bayat. Ada juga gerabah dari Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.<\/p>\n<p>Secara turun temurun, warga di kedua desa tersebut menjadi pembuat gerabah. Bukan semata sebagai penghidupan, membuat gerabah bagi mereka juga merupakan sebuah sejarah. Mereka ikut merawat budaya warisan leluhur sejak ratusan tahun silam. \\<\/p>\n<p>Zaman berubah, gerabah ditinggalkan konsumen. Mereka memilih peranti dari bahan non gerabah, seperti plastik dan sejenisnya. Kaum muda pun tidak berminat bekerja sebagai pembuat gerabah.<\/p>\n<p>\u201cTahun 1980-an, anak muda di desa saya sudah tidak lagi tertarik bekerja sebagai oerajin gerabah. Gerabah dianggap sudah tidak lagi menjanjikan. Lulus SMA, mereka cari kerja ke kota besar,\u201d tutur Antonius Triyanto (53). Lulusan Jurusan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret, Solo Jawa Tengah.<\/p>\n<p>Nasib serupa menimpa gerabah di Sitiwinangun. Pada era awal 1970-an, ada lebih dari 1.000 perajin gerabah. Tahun 2009, pembuat tinggal 30 orang, itu pun dari kalangan usia lanjut. \u201cKami berpikir bagaimana gerabah Sitiwinangun bisa bertahan dan berkembang,\u201d ujar kadmiya (49), perajin gerabah dari Sitiwinangun.<\/p>\n<p><strong>Pagerjurang<\/strong><\/p>\n<p>Triyanto masih mengalami hari-hari kala kendi menjadi tempat air minum di rumah-rumah. Kala itu warga masih menggunakan gentong sebagai tempat penampungan air untuk keperluan rumah tangga. Sejuknya air yang tersimpan di kendi dan gentong itu masih terasa sejuk dalam ingatannya.<\/p>\n<p>Pada era 1980-an, sudah terasa pamor gerabah menurun. Gerabah hanya laku pada waktu-waktu tertentu, seperti Sekatenan atau Lebaran. Triyanto terdorong untuk melakukan sesuatu untuk gerabah.<\/p>\n<p>Triyanto dan kawan-kawan yang notabene \u201corang sekolahan\u201d memulai dengan mendirikan Sanggar Budaya Pandanaran tahun 1985. Di sanggar itu, ia dan kawan-kawan mengembangkan desain-desain baru agar gerabah diminati konsumen. Ia, misalnya membuat kendi dengan leher panjang atau bodi pipih. \u201cNamun, hasilnya belum sampai menyentuh para perajin. Saya gagal memotivasi mereka,\u201d kata Triyanto.<\/p>\n<p>Tahun 1990, ia anak-anak para perajin bergabung dalam Pancreas, singkatan dari Pandanaran Ceramics Art Central. Nama Pandanaran diinspirasi oleh Sunan Pandanaran, tokoh terkait dengan keberadaan gerabah di Bayat dan sekitarnya. \u201cSaya ajak mereka membuat karya yang tidak lazim, tetapi tetap menggunakan teknik putaran miring.\u201d Ucap Triyanto. Putaran miring adalah alat pemutar dalam pembuatan gerabah khas Bayat.<\/p>\n<p>Pancreas sempat memproduksi gerabah dan mendapat mitra dari pengusaha asal Australia. Akan tetapi karena sesuatu hal, usaha ini tidak berlanjut. Triyanto melanjutkan upaya menggairahkan pembuatan gerabah dengan cara mandiri membuka usaha bernama Pandanaran Ceramics. Lewat usaha ini, ia memberi ruang bagi anak muda desanya untuk melanjutkan pembuatan gerabah seperti dilakukan kakek nenek mereka.<\/p>\n<p>\u201cSaya ingin mereka tidak hanya menjadi karyawan di tempat saya. Harapan saya, mereka nantinya bisa berdiri sendiri,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Usaha berkembang dan Pandanaran Ceramics kini bahkan melayani permintaan ekspor ke Belanda. Yohanes Gandhi Agustar, anak Triyanto yang ikut mengelola usaha menyebutkan pihaknya kini mengekspor dua kontainer gerabah setiap 40-an hari. Saat ini permintaan ekspor berupa vas bunga aneka bentuk. Satu kontainer panjang berisi sekitar 1.900 vas bunga dengan berbagai ukuran.<\/p>\n<p>Triyanto memperkerjakan 16 karyawan. Di luar itu, ia men-\u201csub\u201d-kan pengerjaan kepada perajin-perajin lain di desanya. \u201cSaya bukan menekankan bahwa karya kami harus diikuti. Tapi kami sekedar memotivasi mereka,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Triyanto yakin, gerabah bisa menjadi ladang penghidupan, selain juga mempertahankan tradisi dan identitas desanya sebagai pembuat gerabah.<\/p>\n<p><strong>Sitiwinangun<\/strong><\/p>\n<p>Menjaga warisan sejarah berupa gerabah menjadi semacam gerakan di Sitiwinangun. Kadmiya (49) menjadi ketua kelompok yang menghimpun 50-an perajin di bawah nama Bina Karya. Beberapa perajin anggota kelompok itu ikut memajang karyanya di BBJ. Mereka antara lain Suyandi (32) yang membuat patung Semar dengan beragam ukuran; Junaedi (36) yang membuat kap lampu dari gerabah dengan tuang berwujud Punakawan; ada pula Nurjaji (40), pembuat gentong, padasan, dan jambangan.<\/p>\n<p>Mereka tumbuh di desa di mana gerabah menjadi bagian dari keseharian sebagaian warganya sejak ratusan tahun silam. Kadmiya sudah sejak SMP membantu pengerjaan gerabah seperti pot bunga dan pandas an. \u201cSaya cuma bagian <em>finishing<\/em>, <em>ngalusin<\/em>, dan bantu bikin kaki pot,\u201d kata Kadmiya. Seiring jam terbang, Kadmiya muda kemudian sudah terampil membuat pot sampai gentong.<\/p>\n<p>Ketika gerabah Sitiwinangun mulai kurang diminati pasar, muncul pembaruan desain. Seniman Bonzan Eddy Prasetyo memberikan kontribusi pada awal 1990-an. Lulusan Institut Teknologi Bandung (ITB) yang meninggal pada 2011 itu memperkenalkan teknik pijit dan pilin pada pembuatan gerabah. Kadmiya dan kawan-kawan menggunakan teknik tersebut pada gerabah Sitiwinangun seperti yang dipamerkan di BBJ. Itu antara lain, terlihat pada patung, topeng, serta ornament pada gentong dan jambangan.<\/p>\n<p>Dari gerabah dengan model konvensional, kadmiya dan kawan-kawan ditantang untuk membuat ornament dengan motif batik, termasuk motif khas cirebonan seperti mega mendung. Gonsang atau jambangan juga diberi semacam relief pada bagian dalam atau luarnya. Relief bisa bertema cerita rakyat, seperti Lutung Kasarung atau Malin Kundang. \u201cSekarang mudah mencari model-model dari internet,\u201d kata Kadmiya.<\/p>\n<p>Meski gerabah Sitiwinangun sudah lebih \u201cberani\u2019 dalam hal kreasi, Kadmiya dan perajin gerabah Sitiwinangun berusaha untuk tetap menjaga karakter khasnya.<\/p>\n<p>\u201cCiri itu jangan sampai hilang. Sejarah jangan sampai lepas\u2026,\u201d ujar Kadmiya.<\/p>\n<p><strong>Sumber:<\/strong> Kompas, 8 April 2017 Hal 16<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Meneruskan tugas sejarah, Antonius Triyanto dan Kadmiya dari Cirebon berusaha mengembangkan kerajinan gerabah agar tidak tergusur oleh perubahan zaman. Karya mereka menjadi bagian dari pameran gerabah \u201cAntara Sitiwinangun dan Pagerjurang Bayat\u201d di Bentara Budaya Jakarta, 4-9 April. OLEH FRANS SARTONO Kerajinan gerabah dengan beragam fungsi, bentuk, dan desain sedang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ),&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7233,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-7232","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Antonius Triyanto dan Kadmiya Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Antonius Triyanto dan Kadmiya Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Meneruskan tugas sejarah, Antonius Triyanto dan Kadmiya dari Cirebon berusaha mengembangkan kerajinan gerabah agar tidak tergusur oleh perubahan zaman. Karya mereka menjadi bagian dari pameran gerabah \u201cAntara Sitiwinangun dan Pagerjurang Bayat\u201d di Bentara Budaya Jakarta, 4-9 April. OLEH FRANS SARTONO Kerajinan gerabah dengan beragam fungsi, bentuk, dan desain sedang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ),...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-06-05T07:17:30+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:17+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Antonius-Triyanto-dan-Kadmiya_Agar-Gerabah-Tak-Terkubur-Sejarah.-Kompas.-8-April-2017.-Hal-16-e1496647039942.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1252\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"518\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Antonius Triyanto dan Kadmiya Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah\",\"datePublished\":\"2017-06-05T07:17:30+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:17+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\\\/\"},\"wordCount\":883,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Antonius-Triyanto-dan-Kadmiya_Agar-Gerabah-Tak-Terkubur-Sejarah.-Kompas.-8-April-2017.-Hal-16-e1496647039942.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\\\/\",\"name\":\"Antonius Triyanto dan Kadmiya Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Antonius-Triyanto-dan-Kadmiya_Agar-Gerabah-Tak-Terkubur-Sejarah.-Kompas.-8-April-2017.-Hal-16-e1496647039942.jpg\",\"datePublished\":\"2017-06-05T07:17:30+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:17+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Antonius-Triyanto-dan-Kadmiya_Agar-Gerabah-Tak-Terkubur-Sejarah.-Kompas.-8-April-2017.-Hal-16-e1496647039942.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Antonius-Triyanto-dan-Kadmiya_Agar-Gerabah-Tak-Terkubur-Sejarah.-Kompas.-8-April-2017.-Hal-16-e1496647039942.jpg\",\"width\":1252,\"height\":518},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Antonius Triyanto dan Kadmiya Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Antonius Triyanto dan Kadmiya Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Antonius Triyanto dan Kadmiya Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah - Library","og_description":"Meneruskan tugas sejarah, Antonius Triyanto dan Kadmiya dari Cirebon berusaha mengembangkan kerajinan gerabah agar tidak tergusur oleh perubahan zaman. Karya mereka menjadi bagian dari pameran gerabah \u201cAntara Sitiwinangun dan Pagerjurang Bayat\u201d di Bentara Budaya Jakarta, 4-9 April. OLEH FRANS SARTONO Kerajinan gerabah dengan beragam fungsi, bentuk, dan desain sedang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta (BBJ),...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-06-05T07:17:30+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:17+00:00","og_image":[{"width":1252,"height":518,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Antonius-Triyanto-dan-Kadmiya_Agar-Gerabah-Tak-Terkubur-Sejarah.-Kompas.-8-April-2017.-Hal-16-e1496647039942.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Antonius Triyanto dan Kadmiya Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah","datePublished":"2017-06-05T07:17:30+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:17+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/"},"wordCount":883,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Antonius-Triyanto-dan-Kadmiya_Agar-Gerabah-Tak-Terkubur-Sejarah.-Kompas.-8-April-2017.-Hal-16-e1496647039942.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/","name":"Antonius Triyanto dan Kadmiya Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Antonius-Triyanto-dan-Kadmiya_Agar-Gerabah-Tak-Terkubur-Sejarah.-Kompas.-8-April-2017.-Hal-16-e1496647039942.jpg","datePublished":"2017-06-05T07:17:30+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:17+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Antonius-Triyanto-dan-Kadmiya_Agar-Gerabah-Tak-Terkubur-Sejarah.-Kompas.-8-April-2017.-Hal-16-e1496647039942.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Antonius-Triyanto-dan-Kadmiya_Agar-Gerabah-Tak-Terkubur-Sejarah.-Kompas.-8-April-2017.-Hal-16-e1496647039942.jpg","width":1252,"height":518},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/antonius-triyanto-dan-kadmiya-agar-gerabah-tak-terkubur-sejarah\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Antonius Triyanto dan Kadmiya Agar Gerabah Tak Terkubur Sejarah"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7232","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7232"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7232\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7359,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7232\/revisions\/7359"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7233"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7232"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7232"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7232"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}