{"id":7732,"date":"2017-06-14T13:10:22","date_gmt":"2017-06-14T06:10:22","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=7732"},"modified":"2025-09-17T11:37:41","modified_gmt":"2025-09-17T04:37:41","slug":"polesan-modern-untuk-kue-kuno","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/","title":{"rendered":"Polesan Modern untuk Kue Kuno"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/06\/Polesan-Modern-untuk-Kue-Kuno.-Surya.-4-Mei-2015.Hal_.7.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-7733\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/06\/Polesan-Modern-untuk-Kue-Kuno.-Surya.-4-Mei-2015.Hal_.7.jpg\" alt=\"Polesan Modern untuk Kue Kuno. Surya. 4 Mei 2015.Hal.7\" width=\"1159\" height=\"2086\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>Setahun Kehilangan Pelanggan<\/strong><\/p>\n<p>Ide awal membuat usaha kuliner datang karena kebetulan. Setelah menyelesaikan masa kuliah, Jene ingin membuka usaha. Akan tetapi, ia bingung ingin membuka usaha apa.<\/p>\n<p>Saat itu ia ingin sekali makan lapis legit. Ia ingat mamanya yang tinggal di Kalimantan selalu membuat lapis legit di saat istimewa. Mamanya memang dikenal pintar membuat lapis legit.<\/p>\n<p>\u201cSaya juga tipe orang yang suka pilih-pilih makanan. Saya tidak terlalu suka kue yang dijual orang. \u201cKalau ingin lapis legit, saya akan menahan diri sampai pulang ke Kalimantan untuk menikmati sepotong kecil lapis legit buatan Mama. Akhirnya saya mencoba membuat sendiri. Awalnya sih pakai oven. Saya cuma tanya resep melalui telepon,\u2019 tuturnya.<\/p>\n<p>Namun, percobaan awalnya ternyata tidak menghasilkan sepotong kenikmatan seperti buatan mamanya. Ternyata, arang yang dibeli di swalayan membutuhkan waktu yang lama untuk mendapatkan panas maksimal. Jene menghabiskan waktu selama satu hari untuk melakukan percobaan itu.<\/p>\n<p>\u2018Saya buat sendiri, saya makan sendiri. Waktu itu saya sempat berikan ke teman yang punya butik. Dia langsung memesan dan akan diberikan ke temannya. Saya menolak karena masih memakai oven dan arang yang lamanya minta ampun,\u201d cerita Jene sambil tersenyum.<\/p>\n<p>Saat itu dia tahu, lapis legitnya sudah mengena di lidah orang lain. Ia mulai berpikir untuk berbisnis lapis legit. Selanjutnya ia fokus kepada pengembangan usahanya itu. Mulai dari pemasaran dari mulut ke telinga, merambah ke <em>online<\/em>, menambah jaringan, hingga ia mampu merambah konsumen dari Kalimantan.<\/p>\n<p>Namun, Jene sempat vakum selama satu tahun. Saat itu ia ingin mengelola <em>franchise<\/em> Delimanjo asal Korea Selatan. Jene jujur mengatakan, itu lebih menghasilkan laba dibandingkan dengan usaha lapis legit.<\/p>\n<p>Memasuki fase jenuh pada <em>franchise<\/em> yang dirasa semakin menurun, akhirnya Jene kembali ke bisnis lapis legit. Sayangnya, setahun meninggalkan pelanggan membuatnya kesulitan memulai lagi.<\/p>\n<p>\u201cWaktu itu saya sudah keenakan di Delimanjoo. Waktu itu banyak yang nanyain. Saya Cuma bisa berjanji akan membuatkan lapis legit lagi. Kemudian, saya buka kembali pelanggan lama. Semua saya kirimi SMS satu per satu,\u201d kenang Jene.<\/p>\n<p>Ia tidak mencatat secara khusus pelanggannya, tetapi ia masih menyimpan dokumen pengiriman melalui jasa kirim. Jene mengabari, ia membuka lagi lapis legit seperti dulu.<\/p>\n<p>Sayangnya, dari semua pelanggan hanya sedikit yang merespons. Satu tahun menjadi waktu yang terlalu singkat untuk ditinggalkan pelanggan.<\/p>\n<p>\u201cSaya harus mulai dari awal lagi. Untunglah sekarang sudah ada pelanggan yang selalu menanyakan pesanan. Pertanyaan seperti itu membuat hati hangat,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Lapis legit menjadi kue masa lalu yang masih mendapat tempat di hati. Disajikan di saat istimewa membuat sepotong lapis legit seperti pintu waktu yang sanggup menyedot penikmatnya mengulangi kenangan lama.<\/p>\n<p>`Sepotong kenikmatan itu mahal harganya. Urusan mahal erat berhubungan dengan proses dan bahan baku. Jika menyebut lapis legit, semua kepala akan mengangguk setuju jika selo- yang dihargai ratusan ribu rupiah.<\/p>\n<p>Jangan protes dulu karena untuk loyang kecil ukuran 20 cm x 20 cm paling tidak harus ada 30 kuning telur. Jika ingin rasanya mantap, mentega yang digunakan juga khusus. Ditambah dengan beberapa bahan lain, sebenarnya nilai selangitnya juga ada pada proses pembuatan.<\/p>\n<p>Adonan lapis legit hanya dituang sekitar empat sendok makan untuk setiap lapisan. Setiap kali lapisan dimasak, api yang digunakan harus api atas dan api bawah bergantian. Butuh kesabaran ekstra untuk menghasilkan lapis legit yang lapisannya hingga mencapai 20 susun.<\/p>\n<p>Itu sebabnya penganan yang digigit secuil saja berasa mantap ini hanya muncul di saat-saat istimewa. Imlek, Lebaran, Natal, pesta perkawinan adalah saat-saat si lapis legit tampil dengan genit. Biasanya kue ini dipotong tipis dan digigit sedikit-sedikit. Manis dan gurihnya yang mantap membuatnya cocok disajikan dengan teh yang tidak terlalu manis atau kopi pahit.<\/p>\n<p>Kangen akan rasa mantapnya, banyak orang mencari lapis legit meski tidak sedang ada pesta. Bakery yang menjual lapis legit memang ada, tetapi kadang-kadang kangen dengan rasa rumahan. Kalau hanya ingin makan sepotong atau dua potong., tetap saja harus merogoh dompet karena harganya di atas Rp 250.000.<\/p>\n<p>Ketika banyak orang ingin mencicipi lapis legit sebagai obat kangen tetapi enggan membeli dalam bentuk utuh, Jene Green Sabeth (24) melihat itu sebagai peluang. Ia membuat lapis legit per-<em>slice<\/em>. Urusan harga bisa diatur ulang.<\/p>\n<p>\u201cHarga untuk ukuran segitiga berkisar Rp 50.000.\u00a0 Tidak terlalu mahan kalau hanya untuk pengobatan kangen,\u201d kata perempuan lulusan Universitas Ciputra itu.<\/p>\n<p>Sambutan <em>slice<\/em> lapis legitnya meriah. Jene melihat orang membeli kenangan. Lapis legit memang tidak untuk dimakan hap-hap-hap, tetapi justru dinikmati per potong. Kenikmatannya ketika lumer di mulut itulah yang membuat lapis legit Jene dicari.<\/p>\n<p>Melihat lapis legitnya laris manis, Jene berpikir lagi untuk mengembangkan ide. Ia melihat lapis legit itu kue kuno yang harus dipoles agar tetap mengikuti gaya hidup orang masa kini. Jene pun mengutak-atik resep memakai Nuttela dan Ovomaltine yang sedang <em>booming<\/em> digunakan untuk martabak manis.<\/p>\n<p>\u201cJadilah lapis legit baru. Sebelumnya sudah ada lapis legit variasi lain,\u201d ungkapnya. Ia membuat <em>brand<\/em> Jene\u2019s Cake untuk wilayah lapis legit dan kue tradisional yang dimodifikasi.<\/p>\n<p>Saat ini terdapat delapan varian rasa dalam lapis legitnya, yakni keju, original, prunes, raisin, Oreo, Nuttela, Ovomaltine, dan almond. Rasa-rasa itu mewakili kekinian yang sedang dicari. Orang pun heran melihat ada lapis legit rasa modern. Itu sebabnya mereka akhirnya berburu.<\/p>\n<p>Perburuan itu banyak dilakukan orang-orang dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Daripada menunggu delivery sepotong lapis legit datang, mereka memesan semua varian.<\/p>\n<p>\u201cSaya mikir lucu juga kalau dicampur-campur rasanya. Akhirnya saya campur-campur sampai membuat seloyang dengan delapan rasa,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Jadi, pembeli dapat mencicipi semuanya dalam satu loyang. Jurusnya ternyata jitu karena nyaris semua orang ingin mencicipi semua rasa sebelum menentukan varian rasa favorit.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Pasar Utama di Jakarta dan Luar Jawa<\/strong><\/p>\n<p>Delapan rasa lapis legit itu dibuat dengan resep khusus sehingga orang dapat mencicipi semuanya tanpa rasa enek. Jene menjelaskan, variasi rasa itu bisa didapatkan karena keunggulan tekstur\u00a0 lapis legit miliknya yang berbeda. Potongan lapis legis Jene\u2019s Cake tidak terlalu berminyak seperti permintaan konsumen.<\/p>\n<p>\u201cSaya beda di bahan. Lapis legit saya bisa dikonsumsi setiap hari karena bagian luarnya sedikit lebih kering dengan tekstur basah di dalamnya,\u201d tuturnya sambil menunjukkan tekstur lapis legit yang memang tidak berminyak.<\/p>\n<p>Selain itu keberanian Jene dalam bereksperimen, juga turut adil dalam terciptanya variasi rasa dan bentuk itu. Pasar yang disasarnya untuk segmen menengah ke atas. Konsumennya rata-rata berumur 25-40 tahun.<\/p>\n<p>Lapis legit Jene\u2019s Cake ini bisa bertahan tujuh hari di suhu ruangan dan 10 hari di lemari pendingin. Keawetan itu karena proses pemanggangan yang lama dan membuat lapis legit matang sempurna. Tekstur lebih kering itu juga menyumbang keawetan.<\/p>\n<p>Jene berusaha tidak menyimpan persediaan. Ia hanya membuat lapis legit untuk keperluan sehari. Ia ingin produksi Jene\u2019s Cake tetap fresh ketika sampai di tangan konsumen. Kue lapis yang satu ini dibanderol Rp 392.000 untuk delapan rasa dengan ukuran loyang 22 cm x 22 cm.<\/p>\n<p>Usaha Jene\u2019s cake terus berkembang. Februari 2015, ia membuka gerai pertamanya di Jalan Indragiri 46 Surabaya.<\/p>\n<p>Hingga saat ini diakui Jene belum pernah ada complain dari pelanggannya mengenai produknya itu. Setiap harinya, Jene\u2019s cake mampu mengeluarkan 140 loyang. Namun, untuk daerah Surabaya, lapis legit yang terjual hanya 10 loyang setiap hari.<\/p>\n<p>\u201cPembeli di Surabaya tidak terlalu banyak dibandingkan dengan yang di luar Jawa. Konsumen terbesar justru di Jakarta dan luar Jawa.\u00a0 Konsumen di Surabaya cenderung membeli yang satu utuh karena menurut mereka harganya jauh lebih murah. Masyarakat Surabaya lebih konsen ke masalah harga,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p><strong>Sumber:\u00a0<\/strong>Surya, Senin 4 Mei 2015<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Setahun Kehilangan Pelanggan Ide awal membuat usaha kuliner datang karena kebetulan. Setelah menyelesaikan masa kuliah, Jene ingin membuka usaha. Akan tetapi, ia bingung ingin membuka usaha apa. Saat itu ia ingin sekali makan lapis legit. Ia ingat mamanya yang tinggal di Kalimantan selalu membuat lapis legit di saat istimewa. Mamanya memang dikenal pintar membuat lapis&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":79248,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[9,453,427],"tags":[],"class_list":["post-7732","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-uc-news","category-uc-news-2015","category-uc-news-mei-2015"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Polesan Modern untuk Kue Kuno - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Polesan Modern untuk Kue Kuno - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Setahun Kehilangan Pelanggan Ide awal membuat usaha kuliner datang karena kebetulan. Setelah menyelesaikan masa kuliah, Jene ingin membuka usaha. Akan tetapi, ia bingung ingin membuka usaha apa. Saat itu ia ingin sekali makan lapis legit. Ia ingat mamanya yang tinggal di Kalimantan selalu membuat lapis legit di saat istimewa. Mamanya memang dikenal pintar membuat lapis...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-06-14T06:10:22+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-09-17T04:37:41+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2017\/06\/des.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"925\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"471\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"7 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Polesan Modern untuk Kue Kuno\",\"datePublished\":\"2017-06-14T06:10:22+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-17T04:37:41+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\\\/\"},\"wordCount\":1172,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2017\\\/06\\\/des.jpg\",\"articleSection\":[\"UC News\",\"UC News 2015\",\"UC News Mei 2015\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\\\/\",\"name\":\"Polesan Modern untuk Kue Kuno - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2017\\\/06\\\/des.jpg\",\"datePublished\":\"2017-06-14T06:10:22+00:00\",\"dateModified\":\"2025-09-17T04:37:41+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2017\\\/06\\\/des.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/library\\\/2017\\\/06\\\/des.jpg\",\"width\":925,\"height\":471},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Polesan Modern untuk Kue Kuno\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Polesan Modern untuk Kue Kuno - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Polesan Modern untuk Kue Kuno - Library","og_description":"Setahun Kehilangan Pelanggan Ide awal membuat usaha kuliner datang karena kebetulan. Setelah menyelesaikan masa kuliah, Jene ingin membuka usaha. Akan tetapi, ia bingung ingin membuka usaha apa. Saat itu ia ingin sekali makan lapis legit. Ia ingat mamanya yang tinggal di Kalimantan selalu membuat lapis legit di saat istimewa. Mamanya memang dikenal pintar membuat lapis...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-06-14T06:10:22+00:00","article_modified_time":"2025-09-17T04:37:41+00:00","og_image":[{"width":925,"height":471,"url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2017\/06\/des.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"7 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Polesan Modern untuk Kue Kuno","datePublished":"2017-06-14T06:10:22+00:00","dateModified":"2025-09-17T04:37:41+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/"},"wordCount":1172,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2017\/06\/des.jpg","articleSection":["UC News","UC News 2015","UC News Mei 2015"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/","name":"Polesan Modern untuk Kue Kuno - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2017\/06\/des.jpg","datePublished":"2017-06-14T06:10:22+00:00","dateModified":"2025-09-17T04:37:41+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/#primaryimage","url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2017\/06\/des.jpg","contentUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/library\/2017\/06\/des.jpg","width":925,"height":471},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/polesan-modern-untuk-kue-kuno\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Polesan Modern untuk Kue Kuno"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7732","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7732"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7732\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7762,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7732\/revisions\/7762"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/79248"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7732"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7732"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7732"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}