{"id":7947,"date":"2017-06-19T16:13:53","date_gmt":"2017-06-19T09:13:53","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=7947"},"modified":"2025-05-01T12:37:16","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:16","slug":"dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/","title":{"rendered":"Dwi Woro Retno Mastuti Menjaga Asal &#8220;Bhinneka Tunggal Ika&#8221;"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/06\/Menjaga-Asal-Bhinneka-Tunggal-Ika.-Kompas.7-April-2015.-Hal.16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-7948\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/06\/Menjaga-Asal-Bhinneka-Tunggal-Ika.-Kompas.7-April-2015.-Hal.16.jpg\" alt=\"Menjaga Asal Bhinneka Tunggal Ika. Kompas.7 April 2015. Hal.16\" width=\"1228\" height=\"1071\" \/><\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Masyarakat Indonesia mengenal istilah \u201cBhinneka tunggal Ika\u201d, tetapi tidak semua mengetahui rincian asal-usulnya. Demi menjaga sumber asal sesanti tersebut, Dwi Woro Retno Mastuti (56), pengajar di Universitas Indonesia, menerjemahkan 1.209 bait puisi Jawa klasik dari Kakawin Sutasoma gubahan Mpu Tantular antara tahun 1365 dan 1389 ke bahasa Indonesia.<\/strong><\/p>\n<p><strong>OLEH NAWA TUNGGAL<\/strong><\/p>\n<p>\u201cGenerasi penerus kita perlu mewarisi nilai Bhinneka Tunggal Ika dalam konteks narasi seutuhnya seperti tercantum di dalam Kakawin (puisi Jawa klasik) Sutasoma. Ini jarang bisa diperoleh. Dari sinilah pentingnya menerjemahkan karya sastra atau Kakawin Sutasoma yang pertama kali mencantumkan kata \u2018Bhinneka Tunggal Ika\u2019 pada pupuh 139 bait kelima,\u201d kata Dwi Woro, yang mengajar di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (UI), di Jakarta, akhir Februari lalu.<\/p>\n<p>Kutipan pupuh atau bab 139 bait kelima selengkapnya seperti ini. \u201c<em>Rwaneka dhatu winuwus wara Buddha Wisma\/bhineki rakwa ring apan kena parwanosen\/mangkang Jinatwa kalawan Siwatatwa tunggal\/ bhineka tunggal ika tan hana dharmma mangrwa.\u201d<\/em><\/p>\n<p><em>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/em>Bait puisi ini memakai pola metrum persajakan Sanskerta India. Saat menerjemahkan, Dwi Woro ditemani Hasto Bramantyo, Kepala Sekolah dan dosen di Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra di Kopeng, Salatiga, Jawa Tengah.<\/p>\n<p>Bait yang mencantumkan Bhinneka Tunggal Ika itu diterjmahkan sebagai berikut. \u201cKonon dikatakan bahwa wujud Buddha dan Siwa itu berbeda\/Mereka memang berbeda, namun bagaimana kita bisa mengenali perbedaannya dalam selintas pandang\/karens kebenaran yang diajarkan Buddha dan Siwa itu sesungguhnya satu jua\/Mereka memang berbeda-beda, namun pada hakikatnya sama karena tidak ada kebenaran yang mendua.\u201d<\/p>\n<p>Merujuk beberapa referensi sejarah kita, Mohammad Yamin (1903-1962)-lah yang mencuplik kata \u201cBhinneka Tunggal Ika\u201d, kemudian disebut sebagai seloka Tantular dan dicantumkan dalam lambing negara Garuda Pancasila buatan Sultan Abdul Hamid Pontianak. Lambang Negara itu kemudian disahkan Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS) pada 11 Februari 1950.<\/p>\n<p>Presiden Soekarno pada masanya, di dalam berbagai pidato, banyak mengungkap nilai kebinekaan ini. Sampai sekarang pun, penyampaian ide dasar penghomatan terhadap kebinekaan oleh para tokoh nasional masih terus berkumandang. Namun, tanpa dasar pengetahuan yang benar, seloka Tantular \u201cBhinneka Tunggal Ika\u201d hanya tinggal kata-kata tidak mewujud ke dalam tindakan nyata.<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><\/p>\n<p><strong>SIKAP HIDUP<\/strong><\/p>\n<p>Terjemahan Kakawin Sutasoma berbahasa Jawa kuno menyajikan narasi panjang perjalanan hidup Pangeran Sutasoma. Ia putra mahkota Raja Hastina Sri Mahaketu yang menolak penobatan dirinya menjadi raja, \u201cSaya (Sutasoma) tidak mempunyai keinginan apa pun selain pergi ke tempat sunyi di hutan untuk melakukan disiplin spiritual,\u201d (Pupuh 4 Bait 13).<\/p>\n<p>Pangeran Sutasoma muda akhirnya pergi tanpa sepengetahuan siapa pun dari istana kerajaannya. Dari situlah, kisah perjalanan hidup Sutasoma mulai terurai. Kesulitan hidup Sutasoma dipaparkan, dan berbagai solusi dengan jalan kebenaran ditawarkan, yang kemudian dikenal sebagai jalan kebenaran Buddha karena Sutasoma adalah titisan Buddha.<\/p>\n<p>\u201cKakawin Sutasoma memang sebagai kakawin Buddhis. Perjalanan Sutasoma dengan penuh rintangan mencirikan Buddhistis-nya, yaitu mendapati musuh tidaklah untuk dihancurkan, melainkan untuk dirangkul dan diubah menjadi teman. Musuh harus dinasihati untuk meninggalkan kejahatannya dan diubah menjadi orang baik dan berguna,\u201d kata Dwi Woro.<\/p>\n<p>Di dalam teks terjemahan, Sutasoma dikisahkan menaklukkan sosok jahat yang selalu ingin membunuhnya dengan semangat penyerahan diri dan pengorbanan diri demi kesejahteraan makhluk lain. Sosok yang menginginkan nyawa Sutasoma, antara lain Gajawaktra, Nagaraja, dan macan betina.<\/p>\n<p>Sutasoma sempat dibunuh dan mati oleh macan betina yang menginginkannya untuk dimangsa karena binatang itu merasa sangat lapar. Macan betina itu tidak menemukan mangsa lain dan ingin sekali memangsa anaknya sendiri karena saking laparnya. Sutasoma meminta macan betina supaya tidak memangsa anaknya sendiri. Ia menyerahkan dirinya untuk dimangsa demi nyawa anak macan betina.<\/p>\n<p>Terjadilah. Taring macan betina menancap di dada Sutasoma. Darah Sutasoma mengucur menjadi amerta atau air kehidupan yang membuat macan betina lega dan tidak merasa lapar lagi. Macan betina terpuaskan. Tetapi, ia kemudian larut dalam penyesalannya karena telah membunuh Sutasoma.<\/p>\n<p>Macan betina gundah dan menghendakiu siapa pun di sekitarnya untuk membunuhnya sebagai penebusan rasa bersalah telah membunuh Sutasoma. Ia pun berniat bunuh diri.<\/p>\n<p>Raja Dewa Indra mendengar dan mengetahui itu semua. Indra memperingatkan macan betina supaya tidak bunuh diri, dan ia akan menghidupkan kembali. \u201cSaya terpengaruh ajaran Buddhis ini, seperti membunuh seekor semut pun saya tidak akan pernah berani melakukannya,\u201d kata Dwi Woro.<\/p>\n<p>Buku terjemahan Kakawin Sutasoma digarap selama Sembilan bulan, kemudian diterbitkan pada peringatan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2009. Naskah yang diterjemahkan berasal dari teks Kakawin Sutasoma yang diteliti untuk disertasi Soewito Santoso pada 1975.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Ahli Wayang Potehi<\/strong><\/p>\n<p><strong>\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0\u00a0 <\/strong>Dwi Woro memang tertarik pada ajaran moral. Ia lulus dari Fakultas Sastra UI tahun 1987 dengan judul skripsi, \u201cKunjarakarna, Analisis Ajaran Moral\u201d. Melanjutkan studi di Pascasarjana Fakultas Sastra UI, dia lulus tahun 1992 dengan tesis \u201cKakawin Manuk Abha dan Analisis Struktural Ajaran Moral yang terkandung di Dalamnya\u201d. Perempuan itu juga lekat dengan mitologi-mitologi yang berkembang oada masa Jawa klasik.<\/p>\n<p>Bermodal pengetahuan Jawa klasik itu, Dwi Woro diundang menyajikan hasil penelitiannya di sejumlah negara. Seperti tahun 2003 di Roma, Italia, Dwi Woro menjadi salah satu pembicara \u201cInternational Conference of Emotion anf State of Mind\u201d. Saat itu dia menyajikan makalah\u00a0 berjudul, \u201cLove Expression in Javanese panji Story\u201d atau \u201cEkspresi Cinta dalam Cerita Panji Jawa\u201d.<\/p>\n<p>Pada tahun 2005, perempuan ini mempresentasikan \u201cStudi Kasus Wayang Potehi dan Wayang Kulit Tiongkok-Jawa\u201d di Shanghai, Tiongkok. Dilanjutkan kemudian di Beijing, Tiongkok. Pada tahun 2007, Dwi Woro meneliti koleksi wayang kulit Tiongkok-Jawa yang mnejadi koleksi Walter Angst di Uberlingen, Jerman. Pada tahun berikutnya, 2008, Dwi Woro mempresentasikan, \u201cSelf-javanizing Effots: Chinese-Javanese Manuscript anda Wayang\u201d. Pada kesempatan lain, dia banyak menjalani aktivitas kultural ilmiahnya di dalam negeri. Berkat ketekunannya meneliti wayang potehi, peneliti yang tekun ini dikenal juga sebagai ahli wayang potehi di Indonesia.<\/p>\n<p>Pada 2014 lalu, dia menerbitkan buku <em>Wayang Potehi Gudo-Seni Pertunjukan Peranakan Tionghoa di Indonesia<\/em>. Gudo, nama suatu daerah di Jombang, Jawa Timur. Di situ terdapat Kelenteng Hong San Kiong yang turut menyuburkan budaya wayang potehi dengan mementaskannya setiap hari. Di tempat itu pula, pengasuh kelenteng memprouksi wayang potehi setiap hari.<\/p>\n<p>Perjalanan riset wayang potehi memenuhi rasa keingintahuan Dwi Woro terhadap budaya akulturasi. Budaya akulturasi merupakan proses sosial suatu kelompok masyarakat yang dihadapkan dan mampu menerima serta mengolah unsur kebudayaan asing tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan asing tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan dan kelompok masing-masing.<\/p>\n<p>Di dalam proses sosial itu, dituntut sikap menghargai perbedaan dan kemampuan menyediakan ruang tumbuh bersama dalam keragaman. Napas hidupnya, \u201cBhinneka Tunggal Ika\u201d, yang kini telah dijaga asalnya oleh Dwi Woro.<\/p>\n<p><strong>Sumber:\u00a0<\/strong>Jawa Pos, 7 April 2017<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Masyarakat Indonesia mengenal istilah \u201cBhinneka tunggal Ika\u201d, tetapi tidak semua mengetahui rincian asal-usulnya. Demi menjaga sumber asal sesanti tersebut, Dwi Woro Retno Mastuti (56), pengajar di Universitas Indonesia, menerjemahkan 1.209 bait puisi Jawa klasik dari Kakawin Sutasoma gubahan Mpu Tantular antara tahun 1365 dan 1389 ke bahasa Indonesia. OLEH NAWA TUNGGAL \u201cGenerasi penerus kita&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7948,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-7947","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Dwi Woro Retno Mastuti Menjaga Asal &quot;Bhinneka Tunggal Ika&quot; - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Dwi Woro Retno Mastuti Menjaga Asal &quot;Bhinneka Tunggal Ika&quot; - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"&nbsp; Masyarakat Indonesia mengenal istilah \u201cBhinneka tunggal Ika\u201d, tetapi tidak semua mengetahui rincian asal-usulnya. Demi menjaga sumber asal sesanti tersebut, Dwi Woro Retno Mastuti (56), pengajar di Universitas Indonesia, menerjemahkan 1.209 bait puisi Jawa klasik dari Kakawin Sutasoma gubahan Mpu Tantular antara tahun 1365 dan 1389 ke bahasa Indonesia. OLEH NAWA TUNGGAL \u201cGenerasi penerus kita...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-06-19T09:13:53+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Menjaga-Asal-Bhinneka-Tunggal-Ika.-Kompas.7-April-2015.-Hal.16-e1497863620335.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"587\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"673\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Dwi Woro Retno Mastuti Menjaga Asal &#8220;Bhinneka Tunggal Ika&#8221;\",\"datePublished\":\"2017-06-19T09:13:53+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:16+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\\\/\"},\"wordCount\":1008,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Menjaga-Asal-Bhinneka-Tunggal-Ika.-Kompas.7-April-2015.-Hal.16-e1497863620335.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\\\/\",\"name\":\"Dwi Woro Retno Mastuti Menjaga Asal \\\"Bhinneka Tunggal Ika\\\" - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Menjaga-Asal-Bhinneka-Tunggal-Ika.-Kompas.7-April-2015.-Hal.16-e1497863620335.jpg\",\"datePublished\":\"2017-06-19T09:13:53+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:16+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Menjaga-Asal-Bhinneka-Tunggal-Ika.-Kompas.7-April-2015.-Hal.16-e1497863620335.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Menjaga-Asal-Bhinneka-Tunggal-Ika.-Kompas.7-April-2015.-Hal.16-e1497863620335.jpg\",\"width\":587,\"height\":673},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Dwi Woro Retno Mastuti Menjaga Asal &#8220;Bhinneka Tunggal Ika&#8221;\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Dwi Woro Retno Mastuti Menjaga Asal \"Bhinneka Tunggal Ika\" - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Dwi Woro Retno Mastuti Menjaga Asal \"Bhinneka Tunggal Ika\" - Library","og_description":"&nbsp; Masyarakat Indonesia mengenal istilah \u201cBhinneka tunggal Ika\u201d, tetapi tidak semua mengetahui rincian asal-usulnya. Demi menjaga sumber asal sesanti tersebut, Dwi Woro Retno Mastuti (56), pengajar di Universitas Indonesia, menerjemahkan 1.209 bait puisi Jawa klasik dari Kakawin Sutasoma gubahan Mpu Tantular antara tahun 1365 dan 1389 ke bahasa Indonesia. OLEH NAWA TUNGGAL \u201cGenerasi penerus kita...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-06-19T09:13:53+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:16+00:00","og_image":[{"width":587,"height":673,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Menjaga-Asal-Bhinneka-Tunggal-Ika.-Kompas.7-April-2015.-Hal.16-e1497863620335.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"5 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Dwi Woro Retno Mastuti Menjaga Asal &#8220;Bhinneka Tunggal Ika&#8221;","datePublished":"2017-06-19T09:13:53+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:16+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/"},"wordCount":1008,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Menjaga-Asal-Bhinneka-Tunggal-Ika.-Kompas.7-April-2015.-Hal.16-e1497863620335.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/","name":"Dwi Woro Retno Mastuti Menjaga Asal \"Bhinneka Tunggal Ika\" - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Menjaga-Asal-Bhinneka-Tunggal-Ika.-Kompas.7-April-2015.-Hal.16-e1497863620335.jpg","datePublished":"2017-06-19T09:13:53+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:16+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Menjaga-Asal-Bhinneka-Tunggal-Ika.-Kompas.7-April-2015.-Hal.16-e1497863620335.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Menjaga-Asal-Bhinneka-Tunggal-Ika.-Kompas.7-April-2015.-Hal.16-e1497863620335.jpg","width":587,"height":673},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/dwi-woro-retno-mastuti-menjaga-asal-bhinneka-tunggal-ika\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Dwi Woro Retno Mastuti Menjaga Asal &#8220;Bhinneka Tunggal Ika&#8221;"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7947","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7947"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7947\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8380,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7947\/revisions\/8380"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7948"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7947"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7947"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7947"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}