{"id":7954,"date":"2017-06-20T10:35:55","date_gmt":"2017-06-20T03:35:55","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=7954"},"modified":"2025-05-01T12:37:16","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:16","slug":"kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/","title":{"rendered":"Kamilus Pati Wayon Merawat Anak-anak Terlantar di Sumba"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/06\/Merawat-Anak-anak-Telantar-di-Sumba.-Kompas.1-April-2015.Hal_.16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-7955\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/06\/Merawat-Anak-anak-Telantar-di-Sumba.-Kompas.1-April-2015.Hal_.16.jpg\" alt=\"Merawat Anak-anak Telantar di Sumba. Kompas.1 April 2015.Hal.16\" width=\"1143\" height=\"988\" \/><\/a><\/p>\n<p>Menjadi pegawai negeri sipil golongan III, tak menghalanginya untuk mengadopsi anak telantar. Bukan termasuk kelompok orang yang berlebih dari sisi keuangan, dengan gaji bulanan sekitar Rp 3 juta, tak menghalanginya untuk mengadopsi 52 anak telantar. Anak-anak itu diadopsi sejak bayi, dirawat, disekolahkan, bahkan dicarikan pekerjaan.<\/p>\n<p>Anak-anak itu dikumpulkan oleh Kamilus Pati Wayon (52) serentak. Dari 52 anak, 31 diantaranya perempuan, dan 21 laki-laki. Secara bertahap, mereka diadopsi, sejak tahun 1991. Saat itu Kamilus berusia 24 tahun, dan baru satu tahun menikah. Sebagai perawat muda di Pusat Kesehatan Masyarakat Anakalang (kini Kabupaten Sumba Tengah), ia pun menelusuri informasi kematian ibu di pedalaman Sumba. Untuk itu, ia harus menempuh perjalanan kaki sejauh 7 kilometer.<\/p>\n<p>\u201cKondisi jalan setapak waktu itu sangat buruk. Penduduk tinggal terpencar di hutan-hutan sehingga informasi mengenai kesehatan pun jarang mereka terima. Lagi pula, tenaga kesehatan waktu itu terbatas, dan tidak ada telepon genggam seperti sekarang untuk berkomunikasi,\u201d kata Kamilus yang ditemui beberapa waktu lalu.<\/p>\n<p>Dua anak perempuan kembar yang ia temui di Desa Manurara, Sumba Barat, sedang dirawat sang nenek yang renta. Kondisi keonomi mereka sangat memprihatinkan.<\/p>\n<p>Ketika ditemui, anak kembar itu dibungkus kain kumal, dan sang nenk sedang mencelupkan jari ke dalam air putih dicampur gula pasir, kemudian dioleskan ke mulut kedua bayi itu. Kamilus mendekati sang nenek, dan keluarga setempat, kemudian meminta izin untuk merawat anak kembar itu.<\/p>\n<p>Kamilus bersama istrinya kemudian membawa anak kembar itu ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sumba Barat. Sang bayi kemudian dirawat di incubator selama sepekan, dengan biaya Rp 1,8 juta.<\/p>\n<p>Dia kemudian merawat dan menyekolahkan kedua anak kembar itu sampai perguruan tinggi. Kini, salah satu dari anak kembar itu sudah bekerja sebagi tenaga honorer di Rumah Sakit Caritas, di Waitabula, Sumba Barat Daya, dan satu lagi belum mendapatkan pekerjaan.<\/p>\n<p>Ketika anak kembar itu memasuki usia lima tahun, Kamilus mengangkat anak ketiga. Seorang anak laki-laki, berusia tiga bulan, dari Desa Umbu Ratunggai, Sumba Tengah. Anak itu yatim piatu, kedua orangtuanya meninggal.<\/p>\n<p>\u201cSetiap ada informasi mengenai anak telantar yang ditinggalkan orangtua karena meninggal dunia, bercerai, atau ke Malaysia, saya berupaya mendekati keluarga dan meminta merawat anak itu. kadang pihak orangtua keberatan, tetapi setelah dijelaskan dengan baik, mereka pun merelakan anak-anak itu dirawat. Saya sering membawa anak-anak yang sudah sukses mendekati keluarga itu untuk meyakinkan pihak keluarga,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Secara bertahap, ia terus mengadopsi anak-anak yang dilahirkan tanpa perhatian orangtua. Kebanyakan anak-anak yang diadopsi yatim piatu. Ada juga dari orangtua tunggal dan kehamilan di luar nikah, serta kelahiran yang tidak diterima pihak keluarga besar orangtua.<\/p>\n<p><strong>Pendidikan<\/strong><\/p>\n<p>Tidak semua anak adopsi itu bisa sekolah sampai ke perguruan tinggi. Hanya 18 orang yang bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Sebagian besar lulusan sekolah menengah dan bisa mandiri. Ada yang bekerja di warung makan, toko, mengikuti kegiatan proyek pemerintah, menjadi tukang ojek, dan lainnya.<\/p>\n<p>\u201cSaya ajari mereka untuk menghargai setiap pekerjaan. Sekecil apapun, jika itu dikerjakan dengan sungguh-sungguh, akan mendatangkan rezeki untuk hidup. Hasil yang diperoleh dari keringat sendiri jauh lebih memuaskan daripada pemberian orang,\u201d kata Kamilus.<\/p>\n<p>Setiap hari Natal dan Tahun Baru, mereka berkumpul di rumah Kamilus, bersilaturahim. Suasana mendadak ramai, dan penuh canda tawa. Kamilus dan istri tampil sebagai orangtua dari anak-anak dan cucu-cucu itu.<\/p>\n<p>Kini, di tangan Kamilus, masih ada delapan anak yang dirawat. Lima anak adopsi, dan tiga anak kandung. Tiga di antara anak-anak adopsi ini masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, dan dua masih di bawah lima tahun.<\/p>\n<p>Terkadang orang sekitar, menurut Kamilus, ada yang mencurigainya tentang asal biaya untuk merawat anak-anak itu. ia pun menjawab, sebagai pekerja di RSUD, ia pun mengajar pada Sekolah Pendidikan Keperawatan Sumba Barat.<\/p>\n<p>Selain itu, ia pun mencari penghasilan tambahan dengan bekerja sebagai pengepul padi. Seorang pengusaha di Sumba Barat memintanya mencari padi di desa-desa yang baru selesai panen. Padi itu dikumpulkan kemudian diantar ke pengusaha itu untuk dibeli.<\/p>\n<p>\u201cJasa saya mengumpulkan padi dari petani itu dibayar oleh pengusaha itu di Waikabubak. Pada waktu senggang, saya juga mengumpulkan ranting-ranting kayu kering yang jatuh di hutan, kemudian disimpan di sisi jalan, dan dijual kepada pengusaha warung makan dan masyarakat umum, selain menjual sayur dan bumbu dapur hasil olahan istri,\u201d kata Kamilus.<\/p>\n<p>Jika ada pasangan suami-istri yang belum memiliki keturunan, dan ingin merawat anak-anak itu, bayi-bayi yang baru diadopsi itu diserahkan kepada keluarga bersangkutan setelah berkoordinasi dengan keluarga sang bayi. Tetapi, Kamilus selalu membuat perjanjian lisan dengan pasangan suami-istri itu, bahwa anak itu harus dirawat seperti anak sendiri, sampai dikuliahkan di perguruan tinggi.<\/p>\n<p>Sedikitnya lima anak sudah diberikan kepada pasangan suami-istri yang belum memiliki keturunan. Namun, ia sendiri masih terus mengikuti perkembangan anak-anak yang diberikan pada orang lain itu. setiap cuti kerja, ia menyempatkan diri mengunjungi anak-anak yang dititipkan kepada pasangan suami-istri itu, sekedar melihat kondisi anak-anak.<\/p>\n<p>Anak-anak itu pun dipotret kemudian hasil fotonya diserahkan kepada keluarga inti dari anak-anak itu. Ketika sudah besar, sebagian besar anak-anak itu tidak tertarik kembali ke orangtua (keluarga) asal. Mereka memilih tetap bersama orangtua angkat.<\/p>\n<p>Saat ini, salah satu anak kandungnya sudah duduk di perguruan tinggi keperawatan di Malang, Jawa Timur. Dua orang duduk di bangku sekolah menengah atas dan sekolah dasar.<\/p>\n<p>Kamilus mengakui, terkadang anak kandungnya merasa kurang mendapat perhatian darinya. \u201cNamun, saya meyakinkan anak-anak itu agar mereka belajar sejak kecil untuk mandiri dan berbagi dari kekurangan yang ada. Paling penting, anak-anak itu bisa bersekolah, kemudian mendapatkan pekerjaan, termasuk anak-anak adopsi. Dalam hal perhatian dan kasih saying, saya dan istri tidak membedakan antara anak kandung dan anak adopsi,\u201d kata Kamilus.<\/p>\n<p>Sumber:\u00a0KOMPAS, RABU, 1 APRIL 2015<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Menjadi pegawai negeri sipil golongan III, tak menghalanginya untuk mengadopsi anak telantar. Bukan termasuk kelompok orang yang berlebih dari sisi keuangan, dengan gaji bulanan sekitar Rp 3 juta, tak menghalanginya untuk mengadopsi 52 anak telantar. Anak-anak itu diadopsi sejak bayi, dirawat, disekolahkan, bahkan dicarikan pekerjaan. Anak-anak itu dikumpulkan oleh Kamilus Pati Wayon (52) serentak. Dari&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":7955,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-7954","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Kamilus Pati Wayon Merawat Anak-anak Terlantar di Sumba - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Kamilus Pati Wayon Merawat Anak-anak Terlantar di Sumba - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Menjadi pegawai negeri sipil golongan III, tak menghalanginya untuk mengadopsi anak telantar. Bukan termasuk kelompok orang yang berlebih dari sisi keuangan, dengan gaji bulanan sekitar Rp 3 juta, tak menghalanginya untuk mengadopsi 52 anak telantar. Anak-anak itu diadopsi sejak bayi, dirawat, disekolahkan, bahkan dicarikan pekerjaan. Anak-anak itu dikumpulkan oleh Kamilus Pati Wayon (52) serentak. Dari...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-06-20T03:35:55+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:16+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Merawat-Anak-anak-Telantar-di-Sumba.-Kompas.1-April-2015.Hal_.16-e1497929733407.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"593\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"714\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Kamilus Pati Wayon Merawat Anak-anak Terlantar di Sumba\",\"datePublished\":\"2017-06-20T03:35:55+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:16+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\\\/\"},\"wordCount\":891,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Merawat-Anak-anak-Telantar-di-Sumba.-Kompas.1-April-2015.Hal_.16-e1497929733407.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\\\/\",\"name\":\"Kamilus Pati Wayon Merawat Anak-anak Terlantar di Sumba - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Merawat-Anak-anak-Telantar-di-Sumba.-Kompas.1-April-2015.Hal_.16-e1497929733407.jpg\",\"datePublished\":\"2017-06-20T03:35:55+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:16+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Merawat-Anak-anak-Telantar-di-Sumba.-Kompas.1-April-2015.Hal_.16-e1497929733407.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/06\\\/Merawat-Anak-anak-Telantar-di-Sumba.-Kompas.1-April-2015.Hal_.16-e1497929733407.jpg\",\"width\":593,\"height\":714},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Kamilus Pati Wayon Merawat Anak-anak Terlantar di Sumba\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Kamilus Pati Wayon Merawat Anak-anak Terlantar di Sumba - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Kamilus Pati Wayon Merawat Anak-anak Terlantar di Sumba - Library","og_description":"Menjadi pegawai negeri sipil golongan III, tak menghalanginya untuk mengadopsi anak telantar. Bukan termasuk kelompok orang yang berlebih dari sisi keuangan, dengan gaji bulanan sekitar Rp 3 juta, tak menghalanginya untuk mengadopsi 52 anak telantar. Anak-anak itu diadopsi sejak bayi, dirawat, disekolahkan, bahkan dicarikan pekerjaan. Anak-anak itu dikumpulkan oleh Kamilus Pati Wayon (52) serentak. Dari...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-06-20T03:35:55+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:16+00:00","og_image":[{"width":593,"height":714,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Merawat-Anak-anak-Telantar-di-Sumba.-Kompas.1-April-2015.Hal_.16-e1497929733407.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"4 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Kamilus Pati Wayon Merawat Anak-anak Terlantar di Sumba","datePublished":"2017-06-20T03:35:55+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:16+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/"},"wordCount":891,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Merawat-Anak-anak-Telantar-di-Sumba.-Kompas.1-April-2015.Hal_.16-e1497929733407.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/","name":"Kamilus Pati Wayon Merawat Anak-anak Terlantar di Sumba - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Merawat-Anak-anak-Telantar-di-Sumba.-Kompas.1-April-2015.Hal_.16-e1497929733407.jpg","datePublished":"2017-06-20T03:35:55+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:16+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Merawat-Anak-anak-Telantar-di-Sumba.-Kompas.1-April-2015.Hal_.16-e1497929733407.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/06\/Merawat-Anak-anak-Telantar-di-Sumba.-Kompas.1-April-2015.Hal_.16-e1497929733407.jpg","width":593,"height":714},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/kamilus-pati-wayon-merawat-anak-anak-terlantar-di-sumba\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Kamilus Pati Wayon Merawat Anak-anak Terlantar di Sumba"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7954","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7954"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7954\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8385,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7954\/revisions\/8385"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/7955"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7954"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7954"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7954"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}