{"id":8426,"date":"2017-07-17T11:56:10","date_gmt":"2017-07-17T04:56:10","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=8426"},"modified":"2025-05-01T12:33:15","modified_gmt":"2025-05-01T05:33:15","slug":"apa-salahnya-membeli-barang-palsu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/","title":{"rendered":"Apa Salahnya Membeli Barang Palsu?"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/07\/Apa-Salahnya-Membeli-Barang-Palsu.-Kompas.27-Maret-2015.Hal_.C.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone  wp-image-8427\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/07\/Apa-Salahnya-Membeli-Barang-Palsu.-Kompas.27-Maret-2015.Hal_.C.jpg\" alt=\"Apa Salahnya Membeli Barang Palsu. Kompas.27 Maret 2015.Hal.C\" width=\"828\" height=\"728\" \/><\/a><\/p>\n<p>Ada bab menarik di buku <em>The (Honest) Truth About Dishonesty <\/em>tulisan Dan Ariely yang mungkin relevan bagi banyak orang Indonesia, yaitu membeli barang bermerek (<em>branded)<\/em> yang palsu atau populer disebut \u201cbarang KW\u201d.<\/p>\n<p>Membeli barang KW bagaimana pun adalah sebuah bentuk ketidakjujuran, bahkan walaupun kita mengakuinya kepada teman terdekat. Misalnya, kita membeli sebuah tas Louis Vuitton KW Super (yang harga aslinya bisa mencapai puluhan juta rupiah). Kita sadar bahwa yang dibeli dan dipakai oleh kita bukanlah tas bermerek asli, tetapi sebagian dari kita mungkin berharap hal ini tidak diketahui orang lain. Banyak dari kita yang sebenarnya berniat \u201cmembohongi\u201d orang lain seolah-olah kita memiliki tas bermerek puluhan juta rupiah, padahal tidak.<\/p>\n<p>Mungkin sebagian besar dari kita menganggap perilaku membeli barang palsu ini sebagai sesuatu yang sudah lumrah karena begitu banyak yang melakukannya. Apalagi di Indonesia memiliki barang palsu terkesan tidak mendatangkan konsekuensi yang serius. Namun, menurut Ariely di dalam bukunya, perilaku ini mungkin mempunyai dampak buruk psikologis.<\/p>\n<p>Ariely menjelaskan, pilihan busana kita adalah bentuk <em>external signaling <\/em>kepada dunia luar. Pilihan merek busana kita adalah pernyataan secara nonverbal kepada dunia mengenai status sosial kita. Maraknya produk palsu membuat efektivitas <em>signaling <\/em>\u00a0ini melemah. Ketika seseorang terlihat mengenakan sebuah merek mahal, orang bisa curiga bahwa itu hanya barang KW. Inilah kenapa peritel dan pemilik <em>brand<\/em> dengan sengit melawan barang palsu.<\/p>\n<p>Bahkan, Ariely juga memikirkan apakah ada pengaruh antara apa yang kita kenakan dan citra kita <em>terhadap diri kita sendiri<\/em>. Inilah yang disebut konsep <em>self signalling. <\/em>Dalam bahasa awamnya, kita berusaha mengenali diri kita sendiri berdasarkan tindakan kita. Contoh, saat bederma, kita mengartikan tindakan ini sebagai bukti bahwa diri kita adalah seorang yang pemurah. Inilah <em>self-signalling<\/em>, kita memberi tahu diri sendiri tentang orang macam apakah kita.<\/p>\n<p>Apakah menenteng tas Prada asli membuat kita berpikir berbeda tentang diri sendiri dibandingkan jika menenteng tas Prada KW? Bisakah mengenakan barang palsu mempengaruhi citra diri kita di mata diri sendiri?<\/p>\n<p>Sebuah Eksperimen Menarik<\/p>\n<p>Melalui sebuah eksperimen, tiga kelompok subyek diberikan sebuah produk bermerek dengan tiga perlakuan berbeda. Kelompok pertama diberi tahu bahwa mereka mendapat produk asli. Kelompok kedua diberi tahu bahwa mereka mendapatkan produk palsu. Kelompok ketiga tidak diberi tahu apa-apa (dalam kenyataanya, semua produk di ketiga kelompok tersebut adalah asli). Ketiga diminta mengevaluasi produk tersebut dan sesudah selesai mereka diminta mengerjakan sebuah tes metematika. Tes inilah yang justru menjadi kunci eksperimen ini karena pelaksaan kuis ini didesain sehingga peserta memiliki godaan dan kesempatan untuk <em>berbuat curang, <\/em>walaupun tetap diketahui oleh para peneliti.<\/p>\n<p>Semakin banyak dari kita yang mengenakan produk palsu atau bajakan, bisa mendorong masyarakat menjadi lebih tidak jujur dan membuat kita lebih saling tidak percaya satu sama lain.<\/p>\n<p>Hasilnya? 30 persen dari mereka di dalam kelompok \u201cproduk asli\u201d melakukan kecurangan. Bagaimana dengan kelompok \u201cproduk palsu\u201d? Sebesar 74 persen melakukan kecurangan! Kelompok yang tidak diberi tahu apa-apa melakukan kecurangan sebesar 42 persen. Lebih mendekati kelompok \u201cproduk asli\u201d. Ariely melihat adanya indikasi bahwa menggunakan produk bermerek asli tidak membuat seseorang menjadi \u201clebih jujur\u201d, tetapi menyadari bahwa klita sedang mengenakan produk palsu bisa membuat kita melonggar nilai moral dan <em>mempermudah <\/em>kita untuk menjadi tidak jujur.<\/p>\n<p>Jadi, kalau pembaca, teman lembaca, atau pasangan pembaca mengenakan produk palsu, berhati-hatilah! \u201cMungkin dia lebih mudah untuk tidak jujur dalam hal lainnya,\u201d tukas Ariely.<\/p>\n<p>Eksperimen lain dengan pembagian kelompok yang sama seperti di atas menghasilkan temuan lain yang tidak kalah menariknya. Kelompok yang diberi tahu bahwa mereka mengenakan produk palsu juga lebih <em>meragukan kejujuran orang lain.<\/em> Mengenakan produk palsu dengan sadar tidak jujur, tetapi juga membuat kita mencurigai orang lain sebagai tidak jujur juga.<\/p>\n<p>Ariely menutup bagian ini dengan pesan bahwa maraknya peredaran produk bermerek yang palsu tidak hanya menrugikan para produsen dan penjual merek, tetapi juga masyarakat luas. Semakin banyak dari kita yang mengenakan produk palsu atau bajakan, bisa mendorong masyarakat menjadi lebih tidak jujur dan membuat kita lebih saling tidak percaya satu sama lain. Inilah yang dikatakan Ariely sebagai kerugian yang lebih besar dari sekadar kerugian ekonomi, tetapi juga kerugian moral (<em>moral currency)<\/em>.<\/p>\n<p>Jadi, masih mau memakai produk KW?<\/p>\n<p>Sumber : Kompas. Jumat, 27 Maret 2015<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada bab menarik di buku The (Honest) Truth About Dishonesty tulisan Dan Ariely yang mungkin relevan bagi banyak orang Indonesia, yaitu membeli barang bermerek (branded) yang palsu atau populer disebut \u201cbarang KW\u201d. Membeli barang KW bagaimana pun adalah sebuah bentuk ketidakjujuran, bahkan walaupun kita mengakuinya kepada teman terdekat. Misalnya, kita membeli sebuah tas Louis Vuitton&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8427,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-8426","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Apa Salahnya Membeli Barang Palsu? - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Apa Salahnya Membeli Barang Palsu? - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Ada bab menarik di buku The (Honest) Truth About Dishonesty tulisan Dan Ariely yang mungkin relevan bagi banyak orang Indonesia, yaitu membeli barang bermerek (branded) yang palsu atau populer disebut \u201cbarang KW\u201d. Membeli barang KW bagaimana pun adalah sebuah bentuk ketidakjujuran, bahkan walaupun kita mengakuinya kepada teman terdekat. Misalnya, kita membeli sebuah tas Louis Vuitton...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-07-17T04:56:10+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:33:15+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Apa-Salahnya-Membeli-Barang-Palsu.-Kompas.27-Maret-2015.Hal_.C-e1500267354849.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"996\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"677\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"3 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Apa Salahnya Membeli Barang Palsu?\",\"datePublished\":\"2017-07-17T04:56:10+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:33:15+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\\\/\"},\"wordCount\":661,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Apa-Salahnya-Membeli-Barang-Palsu.-Kompas.27-Maret-2015.Hal_.C-e1500267354849.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\\\/\",\"name\":\"Apa Salahnya Membeli Barang Palsu? - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Apa-Salahnya-Membeli-Barang-Palsu.-Kompas.27-Maret-2015.Hal_.C-e1500267354849.jpg\",\"datePublished\":\"2017-07-17T04:56:10+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:33:15+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Apa-Salahnya-Membeli-Barang-Palsu.-Kompas.27-Maret-2015.Hal_.C-e1500267354849.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Apa-Salahnya-Membeli-Barang-Palsu.-Kompas.27-Maret-2015.Hal_.C-e1500267354849.jpg\",\"width\":996,\"height\":677},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Apa Salahnya Membeli Barang Palsu?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Apa Salahnya Membeli Barang Palsu? - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Apa Salahnya Membeli Barang Palsu? - Library","og_description":"Ada bab menarik di buku The (Honest) Truth About Dishonesty tulisan Dan Ariely yang mungkin relevan bagi banyak orang Indonesia, yaitu membeli barang bermerek (branded) yang palsu atau populer disebut \u201cbarang KW\u201d. Membeli barang KW bagaimana pun adalah sebuah bentuk ketidakjujuran, bahkan walaupun kita mengakuinya kepada teman terdekat. Misalnya, kita membeli sebuah tas Louis Vuitton...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-07-17T04:56:10+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:33:15+00:00","og_image":[{"width":996,"height":677,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Apa-Salahnya-Membeli-Barang-Palsu.-Kompas.27-Maret-2015.Hal_.C-e1500267354849.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"3 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Apa Salahnya Membeli Barang Palsu?","datePublished":"2017-07-17T04:56:10+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:33:15+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/"},"wordCount":661,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Apa-Salahnya-Membeli-Barang-Palsu.-Kompas.27-Maret-2015.Hal_.C-e1500267354849.jpg","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/","name":"Apa Salahnya Membeli Barang Palsu? - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Apa-Salahnya-Membeli-Barang-Palsu.-Kompas.27-Maret-2015.Hal_.C-e1500267354849.jpg","datePublished":"2017-07-17T04:56:10+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:33:15+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Apa-Salahnya-Membeli-Barang-Palsu.-Kompas.27-Maret-2015.Hal_.C-e1500267354849.jpg","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Apa-Salahnya-Membeli-Barang-Palsu.-Kompas.27-Maret-2015.Hal_.C-e1500267354849.jpg","width":996,"height":677},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/apa-salahnya-membeli-barang-palsu\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Apa Salahnya Membeli Barang Palsu?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8426","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8426"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8426\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":9318,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8426\/revisions\/9318"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8427"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8426"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8426"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8426"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}