{"id":8820,"date":"2017-07-21T09:18:23","date_gmt":"2017-07-21T02:18:23","guid":{"rendered":"http:\/\/library.uc.ac.id\/?p=8820"},"modified":"2025-05-01T12:37:14","modified_gmt":"2025-05-01T05:37:14","slug":"penangkar-merak-hijau","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/","title":{"rendered":"Surat Wiyoto Penangkar Merak Hijau"},"content":{"rendered":"<p><a ref=\"magnificPopup\" href=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/07\/Penangkar-Merak-Hijau.-Kompas.16-Februari-2015.Hal_.16.jpg\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone wp-image-8821\" src=\"https:\/\/dieng.blob.core.windows.net\/library\/2017\/07\/Penangkar-Merak-Hijau.-Kompas.16-Februari-2015.Hal_.16.jpg\" alt=\"Penangkar Merak Hijau. Kompas.16 Februari 2015.Hal.16\" width=\"823\" height=\"710\" srcset=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Penangkar-Merak-Hijau.-Kompas.16-Februari-2015.Hal_.16.jpg 2034w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Penangkar-Merak-Hijau.-Kompas.16-Februari-2015.Hal_.16-300x259.jpg 300w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Penangkar-Merak-Hijau.-Kompas.16-Februari-2015.Hal_.16-1030x888.jpg 1030w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Penangkar-Merak-Hijau.-Kompas.16-Februari-2015.Hal_.16-1500x1294.jpg 1500w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Penangkar-Merak-Hijau.-Kompas.16-Februari-2015.Hal_.16-705x608.jpg 705w, https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Penangkar-Merak-Hijau.-Kompas.16-Februari-2015.Hal_.16-450x388.jpg 450w\" sizes=\"auto, (max-width: 823px) 100vw, 823px\" \/><\/a><\/p>\n<p><strong>Lepas dari kekurangan metodenya, keinginan Surat Wiyoto (58) memberikan umur lebih panjang bagi merak hijau (\u201cPavo muticus\u201d), membutuhkan dukungan. Di tangan petani yang sederhana ini, merak hijau bisa berkembang biak.<\/strong><\/p>\n<p>Penulis : Corneluis Helmy Herlambang<\/p>\n<p>Saat hendak diundang menjadi pembicara dalam sesi diskusi yang digelar Forum Konservasi Satwa Liar di Taman Safari Prigen, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, awal Febuari lalu, Surat mengajukan syarat. Warga Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, Jawa Timur, ini tidak mau menginap. Padahal, dibutuhkan waktu delapan jam dari rumahnya pergi pulang Pasuruan.<\/p>\n<p>\u201cKalau menginap, siapa yang memberi merak makan di rumah. Saya takut merak sakit kalau ditinggal terlalu lama,\u201d kata lulusan SD itu polos.<\/p>\n<p>Syarat itu dipenuhi dan Surat memenuhi janjinya tida hari kemudian. Ia datang bersama cucunya menggunakan mobil carteran panitia. Surat datang sekitar setengah jam sebelum tiba waktunya berbicara. Berangkat pukul 08.00 dari Madiun, ia datang di Pasuruan sekitar pukul 14.00.<\/p>\n<p>Wajah keriputnya terlihat kelelahan. Namun, hal itu tidak membuatnya kehilangan semangat di depan puluhan wartawan yang hadir di dalam diskusi itu. Sembari menggenggam foto merak hijau yang ada di rumahnya, Surat mencoba menjawab pertanyaan menggunakan bahasa Jawa bercampur bahasa Indonesia.<\/p>\n<p>\u201cReport tidak mengurus merak Mbah?\u201d satu dari sekian banyak pertanyaan terlontar.<\/p>\n<p>\u201cSama seperti pelihara ayam kampung. <em>Mung pas cilik senengane rayap<\/em> (Hanya waktu kecil, sukanya rayap). <em>Boten seneng liyane<\/em> (Tidak suka lainnya),\u201d jawab Surat lirih.<\/p>\n<p>\u201cAda berap ekor sekarang Mbah?\u201d tanya seorang peserta diskusi.<\/p>\n<p>\u201c20 ekor,\u201d kata Surat lagi.<\/p>\n<p>\u201cBerapa dan dari mana Mbak Surat dapat uang untuk memelihara merak?\u201d kata seorang wartawan.<\/p>\n<p>\u201cSebagai petani, pendapatan saya hanya Rp 1,5 juta per bulan. Sering kali Rp 900.000 di antaranya untuk merak. Sisanya untuk keluarga. Asalkan merak-merak itu sehat, saya tidak keberatan,\u201d kata Surat datar.<\/p>\n<p><strong>Bintang diskusi<\/strong><\/p>\n<p>Kesederhanaan Surat menjadikannya bintang dalam rangkaian diskusi itu. Tidak ada yang ditutupu dari metode pemeliharaannya. Dengan jujur, Surat memaparkan metodenya. Meskipun masih banyak kekurangan, setidaknya ia memberikan sedikit perhatian terhadap burung yang memilih Jawa Timur sebagai benteng pertahanan utama di Indonesia itu.<\/p>\n<p>Pertemuan Surat dengan seekor merak di Hutan Tawangrejo mengubah jalan hidup Surat, 16 tahun lalu. Suatu sore, Surat melihat sekelebat sosok hijau terbang di atasnya. Penasaran, ia mengejarnya ke tengah hutan. Bukan pertemuan kedia ia dapatkan. Namun, ia menemukan empat butir telur sebesar telur bebek. Belum pernah melihat telur seperti itu, ia membawanya pulang.<\/p>\n<p>\u201cKebetulan di rumah ayam betina sedang mengerami telurnya. Saya sisipkan di antara telur ayam,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Selang 10 hari, telur-telur itu menetas. Fisiknya dua kali lebih besar dibandingkan anak ayam. Bulu lebih lebat dan lebih panjang dibandingkan ayam kampung. Hingga deting itu, ia tidak tahu \u201cayam\u201d jenis apa yang ada di hadapannya.<\/p>\n<p>Hingga akhirnya, pertumbuhan \u201cayamnya\u201d terlihat lain. Dua ekor yang jantan tumbuh lebih besar. Buntutnya lebih panjang. Ada jambul di atas kepalanya. Dua ekor lainnya betina. Tubuhnya tidak terlalu besar dan tidak berbuntut panjang.<\/p>\n<p>\u201cSetelah tanya-tanya kepada orang desa, saya diberi tahu bahwa ini burung merak. Orang-orang bilang pelihara saja, itu burung bagus,\u201d katanya sembari meneguk air dingin dari botol minuman ringan.<\/p>\n<p>Seiring pertumbuhan meraknya, Surat lalu berinisiatif membuat kandang yang lebih besar. Di dalam bagian lain dari rumahnya, dibuatkan kandang 6 meter x 10 meter untuk tidak merak yang dipisahkan sekat. Ia juga membuat tempat bertengger di luar kandang untuk memuaskan keinginan merak hinggap di tempat bertengger di luar kandang untuk memuaskan keinginan merak hinggap di tempat yang lebih tinggi.<\/p>\n<p>Suatu ketika, dua merak bertelur. Seperti pengalaman sebelumnya di hutan, induknya enggan mengerami telur. Surat kembali \u201cmenitipkan yalur merak itu pada ayam peliharaannya.<\/p>\n<p>Ia kembali mendapat pelajaran baru sekitar 40 hari kemudian. Semua telurnya menetas. Begitu seterusnya. Dalam satu tahun, ia bisa menetaskan delapan telur baru dari dua betina miliknya.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Kemampuan memelihara merak mengundang banyak orang untuk datang mulai dari kelompok seni reog ponorogo yang ingin membeli bulu yang rontok hingga pejabet pemerintah yang hendak membeli satu atau dia ekor meraknya.<\/p>\n<p>Terdesak tingginya biaya pakan, Surat menjual beberapa merak. Seekor merak dihargai Rp 2 juta- Rp 3 juta. Saat itu, ia tahu merak adalah satwa yang dilindungi.<\/p>\n<p>Data dari International Union for Conservation of Natre menyebutkan, merak milik Surat adalah merak hijau\u00a0 (<em>Pavo muticus<\/em>). Selain di Jawa Timur, merak ini juga dapat hidup di Jawa timur, merak ini juga hidup di Kamboja, Tiongkok, Vietnam. Di seluruh dunia, poppulasinya diperkirakan antara 15.000-30.000 ekor. Tren populasinya menurun.<\/p>\n<p>Kondisi itu membuat International Union for Conservation of Nature (IUCN) menetapkan satwa ini terancam punah. Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITIES) memasukkannya dalam Appendix II yang berarti bisa diperdagangkan dengan aturan ketat.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>\u00a0Harapan <\/strong><\/p>\n<p>Pola pikir Surat berubah saat meraknya hendak disita negara pada 2011. Ia menolak dan ngotot agar bisa tetap memeliharanya. Surat setuju saat diminta membuat permohonan penangkaran. Konsekuensinya, ia harus melaporkan detail perkembangan merak-meraknya.<\/p>\n<p>Setiap kelahiran merah harus terdata, identitas berupa cip dipasang di setiap merak. Ia juga harus melaporkan pakan dan obat yang diberikan hingga hanya boleh menjual minimal Rp 20 juta per pasang. Setiap sakit dan kematian juga harus dibuatkan laporan.<\/p>\n<p>\u201cPaling berat waktu banyak merak mati. Saat itu sedang marak flu burung,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Akan tetappi, menurut Surat, bukan hanya flu burung yang membuat banyak meraknya mati. Ada banyak kematian yang ia tidak tahu penyebabnya. Banyak merak mudah terserang sakit. Ukuran meraknya pun semakin mengecil. Sepanjang periode 1999-2014, Surat mengatakan, menetaskan sekitar 70 telur. Namun, kini ia tinggal mengasuh 20 ekor.<\/p>\n<p>\u201cKalau bapak tahu penyebabnya, mungkin saya bisa dibantu,\u201d kata Surat saat bertemu Direktur Utama Taman Safari Indonesia (TSI) Tony Sumampau yang hadir dalam diskusi itu.<\/p>\n<p>Tony mengatakan, semangat Surat patut mendapat apresiasi. Surat punya peran meningkatkan populasi merak hijau di Indonesia. Akan tetapi, metode penangkaran ala Surat masih membutuhkan perbaikan. Salah satunya mencegah perkawinan sedarah antar merak.<\/p>\n<p>\u201cKarena induk meraknya hanya ada dua pasang, perkawinan sedarah pasti terjadi. Sebaiknya, tidak dilanjutkan karena akan membuat keturunannya menderita. Kalau dibiarkan, merak akan mandul atau mati lebih cepat,\u201d kata Tony.<\/p>\n<p>Mendengar penjelasan itu, Surat mengangguk mengerti. Ia seperti mendapat pelajaran baru.<\/p>\n<p>\u201cLalu apa yang harus saya lakukan?\u201d katanya.<\/p>\n<p>\u201cCoba nanti akan kami lihat apakah perkawinan antara merak bapak dengan merak di TSI bisa dilakukan. Tidak bisa sembarangan. Butuh penelitian lebih lanjur. Saya pribadi berharap niat baik itu akan berhasil,\u201d kata Tony.<\/p>\n<p>Saat bersamaan, salah seorang perawat merak hijau di TSI II Prigen menanyakan alamat rumah Surat.<\/p>\n<p>\u201cIya, Pak. Saya tidka ingin melihat merak-merak itu mati terlalu cepat. Saya ingin melihat merak itu sehat dan punya banyak. Mungkin kalau semakin banyak bisa dilepaskan di tempat yang tepat,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Hanya sekitar tiga jam di TSI II Prigen, Surat bersiap pulang. Hati Surat masih tidak tenang meninggalkan meraknya terlalu lama. Sebelum pulang, ia melempar ajakan untuk datang kerumahnya.<\/p>\n<p>\u201cMampir ke rumah kapan-kapan, lihat merak,\u201d kata Surat bersahaja.<\/p>\n<p>Di bawah guyuran hujan sore itu, Surat menyiramkan harapan. Dari tangan orang desa ini, merak hijau punya peluang hidup lebih lama.<\/p>\n<p>Sumber : Kompas 16 Febuari 2015<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lepas dari kekurangan metodenya, keinginan Surat Wiyoto (58) memberikan umur lebih panjang bagi merak hijau (\u201cPavo muticus\u201d), membutuhkan dukungan. Di tangan petani yang sederhana ini, merak hijau bisa berkembang biak. Penulis : Corneluis Helmy Herlambang Saat hendak diundang menjadi pembicara dalam sesi diskusi yang digelar Forum Konservasi Satwa Liar di Taman Safari Prigen, Kabupaten Pasuruan,&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":8822,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-8820","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.4 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Surat Wiyoto Penangkar Merak Hijau - Library<\/title>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"id_ID\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Surat Wiyoto Penangkar Merak Hijau - Library\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Lepas dari kekurangan metodenya, keinginan Surat Wiyoto (58) memberikan umur lebih panjang bagi merak hijau (\u201cPavo muticus\u201d), membutuhkan dukungan. Di tangan petani yang sederhana ini, merak hijau bisa berkembang biak. Penulis : Corneluis Helmy Herlambang Saat hendak diundang menjadi pembicara dalam sesi diskusi yang digelar Forum Konservasi Satwa Liar di Taman Safari Prigen, Kabupaten Pasuruan,...\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Library\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2017-07-21T02:18:23+00:00\" \/>\n<meta property=\"article:modified_time\" content=\"2025-05-01T05:37:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Untitled-12.png\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"578\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1051\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/png\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"admin_library\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Ditulis oleh\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"admin_library\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Estimasi waktu membaca\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"6 menit\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/penangkar-merak-hijau\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/penangkar-merak-hijau\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"admin_library\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"headline\":\"Surat Wiyoto Penangkar Merak Hijau\",\"datePublished\":\"2017-07-21T02:18:23+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:14+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/penangkar-merak-hijau\\\/\"},\"wordCount\":1111,\"commentCount\":0,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/penangkar-merak-hijau\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Untitled-12.png\",\"articleSection\":[\"Artikel Koran\"],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/penangkar-merak-hijau\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/penangkar-merak-hijau\\\/\",\"name\":\"Surat Wiyoto Penangkar Merak Hijau - Library\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/penangkar-merak-hijau\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/penangkar-merak-hijau\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Untitled-12.png\",\"datePublished\":\"2017-07-21T02:18:23+00:00\",\"dateModified\":\"2025-05-01T05:37:14+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\"},\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/penangkar-merak-hijau\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"id\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/penangkar-merak-hijau\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/penangkar-merak-hijau\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Untitled-12.png\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/wp-content\\\/uploads\\\/2017\\\/07\\\/Untitled-12.png\",\"width\":578,\"height\":1051},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/penangkar-merak-hijau\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Surat Wiyoto Penangkar Merak Hijau\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/\",\"name\":\"Library\",\"description\":\"UC\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"id\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/4cffc04a138a391647832a76dc126824\",\"name\":\"admin_library\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"id\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"admin_library\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/library\\\/author\\\/admin_library\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Surat Wiyoto Penangkar Merak Hijau - Library","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/","og_locale":"id_ID","og_type":"article","og_title":"Surat Wiyoto Penangkar Merak Hijau - Library","og_description":"Lepas dari kekurangan metodenya, keinginan Surat Wiyoto (58) memberikan umur lebih panjang bagi merak hijau (\u201cPavo muticus\u201d), membutuhkan dukungan. Di tangan petani yang sederhana ini, merak hijau bisa berkembang biak. Penulis : Corneluis Helmy Herlambang Saat hendak diundang menjadi pembicara dalam sesi diskusi yang digelar Forum Konservasi Satwa Liar di Taman Safari Prigen, Kabupaten Pasuruan,...","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/","og_site_name":"Library","article_published_time":"2017-07-21T02:18:23+00:00","article_modified_time":"2025-05-01T05:37:14+00:00","og_image":[{"width":578,"height":1051,"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Untitled-12.png","type":"image\/png"}],"author":"admin_library","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Ditulis oleh":"admin_library","Estimasi waktu membaca":"6 menit"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/"},"author":{"name":"admin_library","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"headline":"Surat Wiyoto Penangkar Merak Hijau","datePublished":"2017-07-21T02:18:23+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:14+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/"},"wordCount":1111,"commentCount":0,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Untitled-12.png","articleSection":["Artikel Koran"],"inLanguage":"id"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/","name":"Surat Wiyoto Penangkar Merak Hijau - Library","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Untitled-12.png","datePublished":"2017-07-21T02:18:23+00:00","dateModified":"2025-05-01T05:37:14+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824"},"breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/#breadcrumb"},"inLanguage":"id","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/#primaryimage","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Untitled-12.png","contentUrl":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-content\/uploads\/2017\/07\/Untitled-12.png","width":578,"height":1051},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/penangkar-merak-hijau\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Surat Wiyoto Penangkar Merak Hijau"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/","name":"Library","description":"UC","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"id"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/#\/schema\/person\/4cffc04a138a391647832a76dc126824","name":"admin_library","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"id","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/75781214a801ee0700a52770a6367c89fe1bf1dccd2c5f0a079ece6c531f4bae?s=96&d=mm&r=g","caption":"admin_library"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/author\/admin_library\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8820","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8820"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8820\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15584,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8820\/revisions\/15584"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8822"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8820"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8820"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/library\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8820"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}