Kasus Kanker Rongga Mulut Kerap Terlambat Terdeteksi, Universitas Ciputra Hadirkan Program Konsultasi Interaktif “Halo UC Dok”

Surabaya, 4 Maret 2026 — Luka di rongga mulut yang tidak kunjung sembuh sering kali dianggap sebagai sariawan biasa. Padahal, kondisi tersebut dapat menjadi indikasi awal kanker rongga mulut yang masih kerap terlambat terdiagnosis di Indonesia.

Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN), kanker bibir dan rongga mulut termasuk dalam kategori kasus kanker yang masih ditemukan di Indonesia. Sejumlah kajian klinis juga menunjukkan bahwa sebagian besar pasien baru melakukan pemeriksaan saat penyakit telah memasuki stadium lanjut, karena gejala awal sering dianggap ringan dan tidak mengganggu.

Menanggapi fenomena tersebut, Universitas Ciputra Surabaya meluncurkan program konsultasi kesehatan interaktif bertajuk “Halo UC Dok”. Program ini terbuka untuk masyarakat umum dan disiarkan secara langsung melalui TikTok Official Universitas Ciputra Surabaya sebagai bentuk adaptasi terhadap pola komunikasi digital masyarakat saat ini.

Program Halo UC Dok hadir secara rutin setiap minggu dengan jadwal sebagai berikut:

    • Rabu: Konsultasi kesehatan gigi dan mulut
    • Kamis: Konsultasi kesehatan umum

Dalam format siaran langsung selama satu jam, masyarakat dapat mengajukan pertanyaan secara real-time kepada dokter tanpa dipungut biaya. Pada edisi perdana konsultasi kesehatan gigi dan mulut, dua dokter spesialis penyakit mulut, drg. Karlina Puspasari dan drg. Nurfitri Amaliah, akan membahas tanda-tanda bahaya luka di rongga mulut yang sering diabaikan.

“Sariawan normal umumnya sembuh dalam 7–14 hari. Jika lebih dari dua minggu tidak membaik, terlebih disertai perubahan warna atau jaringan terasa mengeras, kondisi tersebut perlu segera diperiksakan,” jelas drg. Karlina.

Sementara itu, drg. Nurfitri menambahkan bahwa keterlambatan pemeriksaan kerap terjadi karena pada stadium awal, kanker rongga mulut sering tidak menimbulkan rasa nyeri.

“Karena tidak terasa sakit, banyak orang menunda pemeriksaan. Padahal, deteksi dini sangat menentukan keberhasilan penanganan. Edukasi publik menjadi kunci agar masyarakat lebih peka terhadap perubahan pada tubuhnya,” ungkapnya.

Michael Hery Tera, Vice Rector for Operations, Technology, and Resources Universitas Ciputra, menyampaikan bahwa melalui Halo UC Dok, Universitas Ciputra tidak hanya menghadirkan edukasi kesehatan, tetapi juga memperluas akses konsultasi yang lebih mudah, cepat, dan relevan dengan gaya hidup digital masyarakat.

Halo UC Dok merupakan wujud komitmen Universitas Ciputra dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat Indonesia. Kami berupaya tidak hanya berkontribusi melalui pendidikan formal, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi publik melalui akses konsultasi yang kredibel dan mudah dijangkau,” ujarnya.

Program ini diharapkan dapat menjadi jembatan antara tenaga medis dan masyarakat, sekaligus mendorong kesadaran deteksi dini sebagai bagian dari budaya hidup sehat yang berkelanjutan.

Dapatkan informasi lebih lanjut terkait program S2 Magister Manajemen dengan klik tombol dibawah.

Artikel lain