Mengapa Banyak Bisnis Gagal? Salah Urutan, Bukan Salah Produk (Konsep 70-20-10)

Banyak bisnis tutup bukan karena produknya buruk. Mereka gagal karena salah urutan.

Sebagian besar entrepreneur memulai usaha dengan asumsi sederhana: jika kualitas produk baik, pasar akan datang dengan sendirinya. Namun dalam praktiknya, pasar tidak bekerja berdasarkan kualitas semata. Pasar bergerak berdasarkan persepsi, keinginan, dan kepercayaan.

Di sinilah konsep 70-20-10 menjadi krusial.

Konsep ini bukan sekadar formula konten media sosial. Ia adalah kerangka berpikir strategis tentang bagaimana bisnis membangun komunikasi sebelum terjadi transaksi.

Konsep 70-20-10: Kerangka Strategis dalam Membangun Persepsi

Konsep 70-20-10 membagi komunikasi bisnis menjadi tiga tahap utama:

  • 70% Desire

Tahap pertama bukan menjual, tetapi menciptakan keinginan. Bisnis perlu membangun relevansi emosional melalui cerita, gaya hidup, masalah yang dialami audiens, serta gambaran masa depan yang ingin mereka capai. Fokusnya bukan pada fitur, melainkan pada makna.

Kesalahan umum pebisnis pemula adalah langsung mempromosikan produk, padahal audiens belum merasa membutuhkan.

  • 20% History
    Setelah muncul keinginan, konsumen akan bertanya: siapa Anda dan apakah Anda dapat dipercaya?

Di tahap ini, brand perlu membangun kredibilitas melalui cerita awal berdirinya usaha, proses di balik layar, nilai yang dipegang, serta bukti sosial seperti testimoni. Kepercayaan dibangun melalui konsistensi dan transparansi.

Orang tidak hanya membeli produk. Mereka membeli rasa aman.

  • 10% Sales
    Baru setelah desire dan trust terbentuk, penawaran dilakukan secara eksplisit. Produk, harga, dan ajakan bertindak disampaikan dengan jelas. Menariknya, jika dua tahap sebelumnya dilakukan dengan benar, proses penjualan menjadi lebih natural dan minim resistensi.

Masalahnya, banyak bisnis membalik urutan ini: 70% jualan, 20% promosi diskon, 10% cerita.

Kesalahan Mindset Entrepreneur: Fokus Transaksi, Bukan Strategi

Kesalahan mendasar bukan pada teknik pemasaran, tetapi pada cara berpikir.

Entrepreneur pemula sering kali memiliki pola pikir transaksional: bagaimana cepat menghasilkan penjualan. Padahal bisnis berkelanjutan dibangun melalui pola pikir strategis: bagaimana membangun persepsi jangka panjang.

Asumsi “produk bagus pasti laku” adalah simplifikasi yang berbahaya. Tanpa sequencing komunikasi yang tepat, bahkan produk terbaik pun sulit diterima pasar.

Pebisnis reaktif fokus pada aksi cepat.
Pebisnis strategis memahami proses sebelum hasil.

Konsep 70-20-10 mengajarkan disiplin berpikir: membangun keinginan terlebih dahulu, menumbuhkan kepercayaan, lalu melakukan penawaran.

Bagi para pebisnis pemula, pemahaman seperti ini mencerminkan pergeseran dari sekadar praktik menjadi analisis. Bisnis bukan hanya tentang menjual, tetapi tentang memahami perilaku konsumen, menyusun strategi komunikasi berbasis data, serta mengelola brand secara sistematis. Di tingkat pendidikan lanjutan, pendekatan ini dipelajari secara komprehensif: bagaimana mengintegrasikan psikologi konsumen, manajemen strategi, dan komunikasi brand dalam satu kerangka keputusan.

Sebelum membuka usaha, pertanyaannya bukan lagi “apa yang akan dijual?”
Tetapi “bagaimana urutan membangun persepsi pasar?”

Karena dalam bisnis modern, yang menentukan keberhasilan bukan hanya produk
melainkan cara Anda menyusunnya di dalam pikiran konsumen.

Dapatkan informasi lebih lanjut terkait program S2 Magister Manajemen dengan klik tombol dibawah.

Artikel lain