“Halo kaka, boleh spill skincare-nya?” Kalimat ini mungkin terlihat sederhana. Namun di balik itu, ada perubahan besar dalam cara brand membangun komunikasi dengan audiens.
Fenomena ini bukan sekadar tren viral. Ini adalah contoh nyata bagaimana brand seperti Vaseline memanfaatkan pendekatan social first marketing a.k.a sebuah strategi yang mengubah peran media sosial dari sekadar kanal distribusi menjadi sumber utama insight dan ide campaign.
Apa Itu Social First Marketing dan Mengapa Semakin Relevan?
Social first marketing adalah pendekatan di mana strategi pemasaran dimulai dari pemahaman terhadap percakapan, perilaku, dan budaya yang berkembang di media sosial.
Jika sebelumnya brand menentukan pesan terlebih dahulu, kini brand justru:
- mengamati apa yang sedang dibicarakan audiens
- memahami pola interaksi di platform seperti TikTok
- lalu merancang campaign yang terasa natural dalam ekosistem tersebut
Dengan kata lain, brand tidak lagi sekadar talk to people, tetapi mulai talk with people.
Pendekatan ini menjadi semakin penting karena audiens saat ini:
- lebih sensitif terhadap konten yang terasa “jualan”
- lebih percaya pada pengalaman nyata dibanding pesan iklan
- lebih terlibat dengan konten yang relatable dan spontan
Mengapa Konten Bisa Viral? Ini Strategi di Baliknya
Kesuksesan konten viral bukan kebetulan. Ada strategi yang terstruktur di baliknya.
Dalam kasus campaign bersama kreator skincare, terdapat beberapa faktor kunci:
1. Insight yang kuat dan relevan
Audiens memiliki kebutuhan untuk mendapatkan rekomendasi skincare dari pengalaman nyata, bukan sekadar klaim brand.
2. Format yang native dengan platform
Konsep “bertanya langsung” adalah perilaku yang sudah umum di media sosial, sehingga terasa alami dan tidak dibuat-buat.
3. Persona kreator yang autentik
Kehadiran kreator membuat pesan lebih dipercaya karena disampaikan dengan gaya personal, bukan corporate.
4. Eksekusi yang tidak terasa seperti iklan
Konten dirancang menyerupai interaksi sehari-hari, sehingga audiens tidak merasa sedang “dijuali”.
Dari Engagement ke Perubahan Perilaku Konsumen
Dampak dari social first marketing tidak berhenti di angka views atau likes.
Campaign seperti ini mampu:
- menghasilkan jutaan views organik
- meningkatkan brand mention secara signifikan
- mendorong penjualan, baik online maupun offline
Bahkan lebih jauh, strategi ini dapat menciptakan perubahan perilaku konsumen.
Contohnya, munculnya kebiasaan audiens menyebut produk dengan cara yang lebih personal, seperti:
“Lipstik-nya Ci Xxx”
Ini menunjukkan bahwa brand tidak hanya dikenal, tetapi juga menjadi bagian dari percakapan sehari-hari.
Tantangan Social First Marketing yang Perlu Dipahami
Meski terlihat menjanjikan, tidak semua brand bisa langsung berhasil dengan pendekatan ini.
Beberapa tantangan yang sering muncul:
- terlalu mengikuti tren hingga kehilangan identitas brand
- salah membaca insight sehingga konten terasa dipaksakan
- ketergantungan pada viralitas tanpa strategi jangka panjang
Artinya, social first marketing tetap membutuhkan keseimbangan antara relevansi dan konsistensi brand.
Peran Marketer di Era Social First
Perubahan ini juga mengubah peran seorang marketer.
Hari ini, marketer tidak cukup hanya:
- membuat campaign
- menyusun pesan
- mengejar reach
Namun juga harus mampu:
- membaca dinamika sosial dan budaya digital
- memahami perilaku audiens secara real-time
- membangun percakapan, bukan sekadar komunikasi satu arah
Pada akhirnya, social first marketer adalah:
cultural observer sekaligus conversation builder
Penutup
Social first marketing bukan sekadar tren sesaat, melainkan evolusi dari cara brand berinteraksi dengan audiens.
Di era di mana perhatian semakin terbatas dan kepercayaan semakin sulit didapat, brand yang mampu memahami percakapan sosial dan hadir secara relevan akan memiliki keunggulan yang signifikan.
Pertanyaannya bukan lagi:
“Apa yang ingin brand sampaikan?”
Melainkan:
“Apa yang sedang dibicarakan audiens dan bagaimana brand bisa menjadi bagian darinya?”
Perubahan ini juga menuntut marketer untuk terus berkembang, tidak hanya dalam eksekusi, tetapi juga dalam cara berpikir strategis, membaca tren, dan memahami perilaku konsumen secara lebih dalam. Bagi profesional yang ingin memperdalam pemahaman tersebut, program seperti Magister Manajemen di Universitas Ciputra menawarkan pendekatan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri saat ini, mulai dari digital marketing, consumer behavior, hingga strategi bisnis berbasis praktik.
Dengan kombinasi antara teori dan pengalaman nyata, pembelajaran tidak hanya berhenti di konsep, tetapi juga pada bagaimana strategi dapat diimplementasikan dalam konteks bisnis yang dinamis. Karena pada akhirnya, memahami marketing hari ini bukan hanya soal mengikuti tren, tetapi tentang kemampuan membaca arah perubahan dan mengambil keputusan yang tepat di dalamnya.





