{"id":8401,"date":"2025-05-26T08:33:14","date_gmt":"2025-05-26T01:33:14","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/?p=8401"},"modified":"2025-05-26T08:33:14","modified_gmt":"2025-05-26T01:33:14","slug":"bermain-di-era-digital","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/","title":{"rendered":"Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital"},"content":{"rendered":"<h1 style=\"text-align: center;\"><b>Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital<\/b><\/h1>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-8402\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-scaled.jpg\" alt=\"bermain game\" width=\"2560\" height=\"1703\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-scaled.jpg 2560w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-300x200.jpg 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-1024x681.jpg 1024w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-250x166.jpg 250w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-75x50.jpg 75w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-50x33.jpg 50w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-400x266.jpg 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 2560px) 100vw, 2560px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi anak-anak, bermain merupakan bagian alami dalam kehidupan mereka. Tak heran jika waktu bermain menjadi momen yang paling mereka tunggu-tunggu. Bermain bukan hanya sekedar hiburan bagi anak usia dini. Namun, melalui bermain, anak dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di era digital seperti sekarang, bentuk permainan anak pun ikut berubah. Perkembangan teknologi yang terjadi menjadikan anak-anak era ini sangat familiar dan sering menggunakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">handphone<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Handphone <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">memberikan akses yang mudah bagi anak-anak terhadap berbagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dengan tampilan yang tentu saja menarik dan interaktif. Tidak sedikit anak yang bisa menghabiskan waktu berjam-jam setiap harinya hanya untuk bermain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kondisi ini tentu saja menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua untuk dapat mengatur waktu anak dengan optimal.<\/span><\/p>\n<h6><b>Mengapa anak bisa betah bermain <\/b><b><i>game <\/i><\/b><b>berjam-jam?<\/b><\/h6>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Game <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">digital dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"><em>online<\/em> memang dirancang untuk membuat pemainnya ingin terus bermain. Misalnya dengan tantangan yang bertahap, visual yang menarik, suara yang memicu semangat, dan fitur sosial yang membuat anak merasa terhubung dengan teman-temannya. Kondisi ini menjadikan anak secara tidak sadar terus menerus berada pada pola bermain yang sama dan berulang.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap kali anak berhasil menyelesaikan tantangan dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, maka mereka akan mendapatkan <em>reward<\/em> langsung. Seperti naik level, mendapatkan poin, ataupun membuka karakter baru. Hal ini tentu saja menyenangkan untuk anak, sehingga ia ingin mengulangi pengalaman tersebut lagi dan lagi. Lama-lama, anak jadi terbiasa mencari rasa senang dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, bukan dari aktivitas lain.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Anak yang sering merasa bosan, kesepian, atau tidak nyaman dengan lingkungannya cenderung mencari pelarian ke dunia <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Game <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bisa menjadi cara cepat untuk &#8220;mengalihkan diri&#8221; dari rasa tidak enak itu. Jika tidak ada alternatif kegiatan yang menyenangkan di dunia nyata, maka <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">akan menjadi pilihan utama.<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<h6><b>Dampak bermain <\/b><b><i>game <\/i><\/b><b>tanpa pengawasan orang tua<\/b><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlalu lama bermain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dapat berdampak negatif pada anak. Oleh karena itu, orang tua perlu menyadari bahwa tidak semua <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">cocok untuk dimainkan oleh anak. Terutama jika tidak ada pengawasan dan batasan yang diberikan. Banyak <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang ada saat ini mengandung konten yang tidak sesuai dengan usia perkembangan anak, seperti menampilkan kekerasan atau perilaku agresif. Seringnya terpapar dengan adegan seperti ini di <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, membuat anak menjadi mudah marah, suka berkelahi, dan lainnya. Hal ini dikarenakan anak meniru tindakan dari dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Itulah mengapa peran orang tua sangat penting untuk membimbing dan mengawasi aktivitas digital anak.<\/span><\/p>\n<h6><b>Apa yang bisa dilakukan orang tua?<\/b><b><\/b><\/h6>\n<h6><strong>1.<\/strong> <b><\/b><b>Kenalkan Berbagai Jenis Permainan Non-Digital yang Tetap Seru dan Edukatif<\/b><\/h6>\n<p><b><span style=\"font-weight: 400;\">Anak-anak tidak selalu membutuhkan layar untuk bersenang-senang. Orang tua bisa mengenalkan permainan seperti:<\/span><br \/>\n<\/b><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Puzzle<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Membantu anak melatih logika dan konsentrasi.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Permainan peran (role-play)<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Misalnya bermain dokter-dokteran atau toko-tokoan yang melatih imajinasi dan empati.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Balok susun atau lego<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: Melatih kreativitas, kemampuan motorik halus, serta problem solving.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><b>Permainan tradisional<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> seperti congklak, petak umpet, atau lompat tali, yang juga melatih kerja sama dan fisik anak.<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain menyenangkan, permainan ini lebih aman dan bisa menjadi sarana belajar yang menyenangkan.<\/span><\/p>\n<h6><strong>2.<\/strong> <b><\/b><b>Buat Jadwal Harian yang Seimbang, termasuk Waktu Bermain, Belajar, dan Istirahat<\/b><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anak usia dini butuh struktur agar mereka merasa aman dan tahu apa yang diharapkan. Orang tua bisa membuat jadwal sederhana dengan gambar atau warna yang menunjukkan:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Jam makan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu belajar atau membaca buku<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu bermain bebas (termasuk jika ingin bermain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang sesuai usia)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu beristirahat atau tidur siang<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b>Contoh<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">: &#8220;Setelah makan siang, kita bermain puzzle 30 menit, lalu tidur siang ya. Nanti sore boleh main sepeda di luar.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan rutinitas yang konsisten, anak tidak akan merasa perlu &#8216;kabur&#8217; ke dunia <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">karena bosan atau tidak tahu harus ngapain.<\/span><\/p>\n<h6><strong>3.<\/strong> <b>Ajak Anak Bermain Bersama, Terutama Permainan yang Melibatkan Gerak Tubuh, Kreativitas, dan Interaksi Sosial Langsung<\/b><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu berkualitas bersama orang tua sangat berarti bagi anak. Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan bersama antara lain:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bermain bola atau bersepeda di halaman<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Membuat prakarya atau menggambar bersama<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Bermain drama kecil di rumah (misalnya pura-pura jadi astronot, guru, atau koki)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Membaca cerita sambil berdialog<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Aktivitas ini bukan hanya mempererat ikatan orang tua dan anak, tapi juga menyalurkan energi anak secara positif dan memperkaya pengalaman sosial mereka.<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><br \/>\n<\/span><\/p>\n<h6><strong>4. Berikan Perhatian dan Kasih Sayang, Karena Kebutuhan Emosional yang Tidak Terpenuhi Bisa Membuat Anak Mencari Pelarian ke G<i>ame<\/i><\/strong><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kadang anak bermain <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">game <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">berlebihan bukan karena bosan, tapi karena ingin diperhatikan. Orang tua bisa lebih peka dengan:<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menyempatkan waktu untuk mendengarkan cerita anak setiap hari<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Memberi pelukan, pujian, dan sentuhan fisik yang menenangkan<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400;\" aria-level=\"1\"><span style=\"font-weight: 400;\">Menunjukkan bahwa kehadiran anak dihargai dan dicintai apa adanya<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan terpenuhinya kebutuhan emosional, anak tidak merasa perlu mencari pelarian atau pengganti kasih sayang dari dunia maya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang tua, kita tentu ingin memberikan yang terbaik untuk tumbuh kembang anak, termasuk dalam hal mendampingi mereka bermain. Dunia digital memang tak bisa dihindari. Tetapi dengan pengawasan yang bijak, kita bisa membantu anak menikmati teknologi tanpa kehilangan esensi bermain yang sebenarnya\u2014yakni bermain yang membangun, mendekatkan, dan menumbuhkan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yuk, hadir lebih dekat dalam dunia anak dan jadikan momen bermain sebagai sarana untuk menguatkan ikatan, menumbuhkan keterampilan, dan membentuk karakter yang positif sejak dini.<\/span><\/i><\/p>\n<p><em>Ditulis oleh<span>\u00a0<\/span><span style=\"color: #0000ff;\"><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/dosen-dan-staf\/\">Meilani Sandjaja, S.Psi., M.Psi., Psikolog.<\/a><\/span><br \/>\nDosen<span>\u00a0<\/span><span style=\"color: #0000ff;\"><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/www.instagram.com\/uc_psy\/\">Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya<\/a><\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital Bagi anak-anak, bermain merupakan bagian alami dalam kehidupan mereka. Tak heran jika waktu bermain menjadi momen yang paling mereka tunggu-tunggu. Bermain bukan hanya sekedar hiburan bagi anak usia dini. Namun, melalui bermain, anak dapat mengembangkan kemampuan dan keterampilan yang dimiliki.\u00a0 Di era digital seperti sekarang, bentuk permainan anak&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":29,"featured_media":8402,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1532],"tags":[],"class_list":["post-8401","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital - Universitas Ciputra<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Perhatian anak melekat kepada ponsel mereka? Inilah alasan, bahaya, dan cara mengatasi tantangan era digital sebagai orang tua!\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital - Universitas Ciputra\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Perhatian anak melekat kepada ponsel mereka? Inilah alasan, bahaya, dan cara mengatasi tantangan era digital sebagai orang tua!\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Ciputra\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-05-26T01:33:14+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-scaled.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"2560\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"1703\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Mopheta Audiola Dorkas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Mopheta Audiola Dorkas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"5 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/bermain-di-era-digital\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/bermain-di-era-digital\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Mopheta Audiola Dorkas\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7\"},\"headline\":\"Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital\",\"datePublished\":\"2025-05-26T01:33:14+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/bermain-di-era-digital\\\/\"},\"wordCount\":825,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/bermain-di-era-digital\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/psy\\\/2025\\\/05\\\/medium-shot-kid-holding-tablet-scaled.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/bermain-di-era-digital\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/bermain-di-era-digital\\\/\",\"name\":\"Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital - Universitas Ciputra\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/bermain-di-era-digital\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/bermain-di-era-digital\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/psy\\\/2025\\\/05\\\/medium-shot-kid-holding-tablet-scaled.jpg\",\"datePublished\":\"2025-05-26T01:33:14+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7\"},\"description\":\"Perhatian anak melekat kepada ponsel mereka? Inilah alasan, bahaya, dan cara mengatasi tantangan era digital sebagai orang tua!\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/bermain-di-era-digital\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/bermain-di-era-digital\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/bermain-di-era-digital\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/psy\\\/2025\\\/05\\\/medium-shot-kid-holding-tablet-scaled.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/psy\\\/2025\\\/05\\\/medium-shot-kid-holding-tablet-scaled.jpg\",\"width\":2560,\"height\":1703,\"caption\":\"bermain game\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/bermain-di-era-digital\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/\",\"name\":\"Universitas Ciputra\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7\",\"name\":\"Mopheta Audiola Dorkas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Mopheta Audiola Dorkas\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/author\\\/mopheta-dorkas\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital - Universitas Ciputra","description":"Perhatian anak melekat kepada ponsel mereka? Inilah alasan, bahaya, dan cara mengatasi tantangan era digital sebagai orang tua!","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital - Universitas Ciputra","og_description":"Perhatian anak melekat kepada ponsel mereka? Inilah alasan, bahaya, dan cara mengatasi tantangan era digital sebagai orang tua!","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/","og_site_name":"Universitas Ciputra","article_published_time":"2025-05-26T01:33:14+00:00","og_image":[{"width":2560,"height":1703,"url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-scaled.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Mopheta Audiola Dorkas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Mopheta Audiola Dorkas","Est. reading time":"5 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/"},"author":{"name":"Mopheta Audiola Dorkas","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#\/schema\/person\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7"},"headline":"Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital","datePublished":"2025-05-26T01:33:14+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/"},"wordCount":825,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-scaled.jpg","articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/","name":"Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital - Universitas Ciputra","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-scaled.jpg","datePublished":"2025-05-26T01:33:14+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#\/schema\/person\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7"},"description":"Perhatian anak melekat kepada ponsel mereka? Inilah alasan, bahaya, dan cara mengatasi tantangan era digital sebagai orang tua!","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/#primaryimage","url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-scaled.jpg","contentUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/medium-shot-kid-holding-tablet-scaled.jpg","width":2560,"height":1703,"caption":"bermain game"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/bermain-di-era-digital\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Bermain: Dunia Anak dan Tantangan Era Digital"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/","name":"Universitas Ciputra","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#\/schema\/person\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7","name":"Mopheta Audiola Dorkas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g","caption":"Mopheta Audiola Dorkas"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/author\/mopheta-dorkas\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8401","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/users\/29"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8401"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8401\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8403,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8401\/revisions\/8403"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8402"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8401"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8401"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8401"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}