{"id":8480,"date":"2025-10-21T15:56:26","date_gmt":"2025-10-21T08:56:26","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/?p=8480"},"modified":"2025-10-21T15:56:26","modified_gmt":"2025-10-21T08:56:26","slug":"hustle-culture","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/","title":{"rendered":"Mengenal Fenomena Hustle Culture: Sukses atau Lelah?"},"content":{"rendered":"<h1 style=\"text-align: center;\"><b>Mengenal Fenomena <\/b><b><i>Hustle Culture<\/i><\/b><b>: Sukses atau Lelah?<\/b><\/h1>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-8481 aligncenter\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed.jpg\" alt=\"hustle culture\" width=\"845\" height=\"564\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed.jpg 612w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed-300x200.jpg 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed-250x167.jpg 250w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed-75x50.jpg 75w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed-50x33.jpg 50w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed-400x267.jpg 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 845px) 100vw, 845px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan di pagi hari Anda bangun, mengecek <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">email <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">sambil sarapan, lanjut mengerjakan proyek hingga dini hari, bekerja dari malam hingga malam, merasa sangat lelah namun jika beristirahat malah merasa bersalah karena tidak produktif. Apakah ini kehidupan yang Anda inginkan? Sayangnya, inilah realitas banyak Gen Z di Indonesia saat ini, terjebak dalam lingkaran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hustle culture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang seolah-olah menjadi standar kesuksesan.<\/span><\/p>\n<h6><b>Ketidakseimbangan antara Pendapatan dan Biaya Hidup<\/b><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di era modern ini, Gen Z di kota-kota besar Indonesia menghadapi dilema besar terhadap tingginya biaya hidup yang tidak sebanding dengan pendapatan. Dan juga tekanan untuk mempertahankan gaya hidup. Rata-rata upah minimum di wilayah JABODETABEK tercatat mencapai sekitar Rp5.000.000,-, sementara di Surabaya berada di kisaran Rp4.700.000,-. Namun jika dilihat berdasarkan data dari GoodStats tahun 2024, rata-rata pendapatan penghasilan Gen Z di Indonesia justru berada di bawah Rp2.500.000,- . Di lain sisi Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia, yakni Jakarta mencapai rata-rata pengeluaran Rp14,88 juta per bulan. Angka ini menunjukkan bahwa pendapatan yang diterima oleh sebagian besar Gen Z tidak cukup untuk menutup biaya hidup yang semakin meningkat di perkotaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ketidakseimbangan ini telah mempengaruhi cara pandang Gen Z terhadap pendapatan mereka yaitu munculnya rasa tidak puas yang terus menerus. Kondisi ini melahirkan fenomena yang disebut dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hustle culture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Fenomena ini membuat banyak anak muda merasa harus terus bekerja tanpa henti demi memenuhi kebutuhan dasar serta gaya hidup yang dianggap ideal. Sehingga berdampak kepada kesehatan fisik maupun mentalnya sehingga menjadi isu sosial yang mengundang keprihatinan.\u00a0<\/span><\/p>\n<h6><b>Faktor Media Sosial\u00a0<\/b><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam konteks <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hustle culture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, trend yang bermunculan di media sosial turut berkontribusi dalam membentuk skema Gen Z terhadap <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">lifestyle <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">atau pencapaian hidup yang berlebihan, salah satunya melalui <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">influencer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Penelitian mengungkapkan bahwa gaya hidup <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">influencer <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang dipamerkan kepada media sosial seperti <\/span><em><span style=\"font-weight: 400;\">Tiktok<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Instagram<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">LinkedIn<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Youtube. <\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">mempengaruhi cara Gen Z memandang dunia serta memilih keputusan. Selain itu, standar kesuksesan menjadi bergeser menjadi gaya hidup mewah seperti para <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">influencer<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Kondisi ini memperlebar jarak antara kenyataan dengan ideal sehingga <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hustle culture <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dianggap menjadi solusi.<\/span><\/p>\n<h6><b><i>Hustle Culture <\/i><\/b><b>: Membangun atau Merusak?<\/b><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kondisi ini bisa menjadi pedang bermata dua. Dimana individu merasa terus-menerus harus bekerja keras malah untuk sekedar bertahan, bukan untuk berkembang. Jadi, apakah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hustle culture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> benar-benar jalan terbaik menuju kesuksesan, atau justru jebakan yang merusak kesehatan mental dan fisik seseorang? Sebuah penelitian oleh Assariy, el al. (2024), menyatakan bahwa gangguan kesehatan mental sering ditemukan di era hustle culture ini. Gangguan kesehatan mental ini meliputi depresi, kecemasan, dan gangguan obsesif-kompulsif (OCD). Selain<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan demikian, normalisasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hustle culture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> di kalangan Gen Z dapat dipahami sebagai hasil dari skema sosial yang terbentuk dari kombinasi faktor ekonomi, tekanan sosial, dan ekspektasi budaya yang terus diperkuat oleh media dan lingkungan digital. Namun, penting untuk menyadari bagaimana skema sosial ini terbentuk agar kita tidak terjebak dalam arus <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">hustle culture<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang berlebihan. Dengan mengenali skema sosial yang ada, kita bisa menjadi lebih kritis dalam memahami bagaimana ekspektasi sosial dan media membentuk cara pandang kita terhadap kesuksesan. Tidak semua narasi yang dipromosikan di media sosial, seperti bekerja tanpa henti demi pencapaian, harus kita ikuti. Dengan kesadaran ini, diharapkan Gen Z dapat lebih bijak dalam menerapkan pola hidup minimalis dan manajemen keuangan yang baik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, kesuksesan tidak selalu diukur dari seberapa sibuk kita. Melainkan dari bagaimana kita bisa menjalani hidup dengan seimbang, bahagia, dan tetap memiliki pengelolaan finansial yang baik. Dengan memahami skema sosial yang membentuk hustle culture, serta membangun strategi keuangan yang cerdas, Gen Z bisa keluar dari jebakan kerja tanpa henti dan mulai merancang masa depan yang lebih berkelanjutan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Ditulis oleh:<br \/>\n<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Laurentia Tara Annika Roselani<br \/>\n<\/span>Cheris Nathalie<\/em><br \/>\n<em><span style=\"font-weight: 400;\">(Mahasiswa Fakultas Psikologi, Universitas Ciputra Surabaya)<\/span><\/em><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Dibimbing oleh:<br \/>\n<\/span><span style=\"color: #0000ff;\"><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/dosen-dan-staf\/\">Dr. Ersa Lanang Sanjaya, S.Psi., M.Si.<\/a><\/span><br \/>\nDosen\u00a0<span style=\"color: #0000ff;\"><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/www.instagram.com\/uc_psy\/\">Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya<\/a><\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengenal Fenomena Hustle Culture: Sukses atau Lelah? Bayangkan di pagi hari Anda bangun, mengecek email sambil sarapan, lanjut mengerjakan proyek hingga dini hari, bekerja dari malam hingga malam, merasa sangat lelah namun jika beristirahat malah merasa bersalah karena tidak produktif. Apakah ini kehidupan yang Anda inginkan? Sayangnya, inilah realitas banyak Gen Z di Indonesia saat&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":29,"featured_media":8481,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1532],"tags":[],"class_list":["post-8480","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v27.5 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Mengenal Fenomena Hustle Culture: Sukses atau Lelah? - Universitas Ciputra<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Fenomena hustle culture memicu kelelahan fisik dan mental Gen Z akibat tekanan hidup, media sosial, dan standar sukses yang tidak realistis.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Mengenal Fenomena Hustle Culture: Sukses atau Lelah? - Universitas Ciputra\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Fenomena hustle culture memicu kelelahan fisik dan mental Gen Z akibat tekanan hidup, media sosial, dan standar sukses yang tidak realistis.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Ciputra\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2025-10-21T08:56:26+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed.jpg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"612\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"408\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Mopheta Audiola Dorkas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Mopheta Audiola Dorkas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/hustle-culture\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/hustle-culture\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Mopheta Audiola Dorkas\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7\"},\"headline\":\"Mengenal Fenomena Hustle Culture: Sukses atau Lelah?\",\"datePublished\":\"2025-10-21T08:56:26+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/hustle-culture\\\/\"},\"wordCount\":626,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/hustle-culture\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/psy\\\/2025\\\/05\\\/stressed.jpg\",\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/hustle-culture\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/hustle-culture\\\/\",\"name\":\"Mengenal Fenomena Hustle Culture: Sukses atau Lelah? - Universitas Ciputra\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/hustle-culture\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/hustle-culture\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/psy\\\/2025\\\/05\\\/stressed.jpg\",\"datePublished\":\"2025-10-21T08:56:26+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7\"},\"description\":\"Fenomena hustle culture memicu kelelahan fisik dan mental Gen Z akibat tekanan hidup, media sosial, dan standar sukses yang tidak realistis.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/hustle-culture\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/hustle-culture\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/hustle-culture\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/psy\\\/2025\\\/05\\\/stressed.jpg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/psy\\\/2025\\\/05\\\/stressed.jpg\",\"width\":612,\"height\":408,\"caption\":\"hustle culture\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/hustle-culture\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Mengenal Fenomena Hustle Culture: Sukses atau Lelah?\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/\",\"name\":\"Universitas Ciputra\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7\",\"name\":\"Mopheta Audiola Dorkas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Mopheta Audiola Dorkas\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/author\\\/mopheta-dorkas\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Mengenal Fenomena Hustle Culture: Sukses atau Lelah? - Universitas Ciputra","description":"Fenomena hustle culture memicu kelelahan fisik dan mental Gen Z akibat tekanan hidup, media sosial, dan standar sukses yang tidak realistis.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Mengenal Fenomena Hustle Culture: Sukses atau Lelah? - Universitas Ciputra","og_description":"Fenomena hustle culture memicu kelelahan fisik dan mental Gen Z akibat tekanan hidup, media sosial, dan standar sukses yang tidak realistis.","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/","og_site_name":"Universitas Ciputra","article_published_time":"2025-10-21T08:56:26+00:00","og_image":[{"width":612,"height":408,"url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed.jpg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Mopheta Audiola Dorkas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Mopheta Audiola Dorkas","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/"},"author":{"name":"Mopheta Audiola Dorkas","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#\/schema\/person\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7"},"headline":"Mengenal Fenomena Hustle Culture: Sukses atau Lelah?","datePublished":"2025-10-21T08:56:26+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/"},"wordCount":626,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed.jpg","articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/","name":"Mengenal Fenomena Hustle Culture: Sukses atau Lelah? - Universitas Ciputra","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed.jpg","datePublished":"2025-10-21T08:56:26+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#\/schema\/person\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7"},"description":"Fenomena hustle culture memicu kelelahan fisik dan mental Gen Z akibat tekanan hidup, media sosial, dan standar sukses yang tidak realistis.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/#primaryimage","url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed.jpg","contentUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/stressed.jpg","width":612,"height":408,"caption":"hustle culture"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/hustle-culture\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Mengenal Fenomena Hustle Culture: Sukses atau Lelah?"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/","name":"Universitas Ciputra","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#\/schema\/person\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7","name":"Mopheta Audiola Dorkas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g","caption":"Mopheta Audiola Dorkas"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/author\/mopheta-dorkas\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8480","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/users\/29"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8480"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8480\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8482,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8480\/revisions\/8482"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8481"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8480"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8480"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8480"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}