{"id":8487,"date":"2026-07-22T08:28:37","date_gmt":"2026-07-22T01:28:37","guid":{"rendered":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/?p=8487"},"modified":"2026-07-22T08:28:37","modified_gmt":"2026-07-22T01:28:37","slug":"stigma-kesehatan-mental","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/","title":{"rendered":"Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat"},"content":{"rendered":"<h1 style=\"text-align: center;\"><b>Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat<\/b><\/h1>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-full wp-image-8488\" src=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo.jpeg\" alt=\"stigma kesehatan mental\" width=\"1224\" height=\"816\" srcset=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo.jpeg 1224w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo-300x200.jpeg 300w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo-1024x683.jpeg 1024w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo-250x167.jpeg 250w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo-75x50.jpeg 75w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo-50x33.jpeg 50w, https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo-400x267.jpeg 400w\" sizes=\"auto, (max-width: 1224px) 100vw, 1224px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stigma terhadap penyakit mental tetap menjadi isu serius di banyak masyarakat, termasuk di Indonesia. Individu dengan gangguan mental sering menghadapi diskriminasi, pengucilan, dan stereotip negatif yang berdampak pada kesejahteraan mereka. Kondisi ini tidak hanya memperburuk keadaan mental individu yang bersangkutan, tetapi juga menciptakan hambatan signifikan dalam mengakses layanan kesehatan mental.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pandangan masyarakat yang menganggap gangguan mental sebagai kelemahan atau ancaman semakin memperburuk rasa malu dan ketakutan individu untuk mencari bantuan. Akibatnya, banyak penderita gangguan mental\u00a0 enggan\u00a0 mengungkapkan\u00a0 kondisi mereka karena takut diberi label negatif seperti &#8220;gila&#8221; atau &#8220;tidak normal.&#8221;<\/span><\/p>\n<h6><b>Dampak Stigma Negatif\u00a0<\/b><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut data Kementerian Kesehatan Indonesia, sekitar 6% populasi berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan kesehatan mental. Meskipun angka ini menunjukkan bahwa gangguan mental adalah isu yang cukup umum, stigma yang melekat membuat banyak individu enggan mencari perawatan. Mereka khawatir akan konsekuensi sosial yang mungkin muncul, seperti dikucilkan dari lingkungan atau diperlakukan berbeda oleh orang-orang di sekitar mereka. Rendahnya tingkat pencarian bantuan medis ini memperburuk kondisi mental individu karena mereka tidak mendapatkan dukungan atau intervensi yang dibutuhkan. Akibatnya, banyak penderita gangguan mental mengalami penurunan kualitas hidup akibat ketidakmampuan mereka untuk mengakses layanan yang sesuai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengucilan sosial merupakan fenomena yang sering dialami oleh individu yang menghadapi stigma terkait kondisi kesehatan mental, penyakit kronis, atau penyakit menular tertentu. Stigma tidak hanya membentuk persepsi negatif terhadap individu yang terdampak, tetapi juga menimbulkan \u00a0 efek \u00a0 berantai \u00a0 yang mengisolasi mereka dari lingkungan sosial. Isolasi ini mengurangi peluang mereka untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, yang pada akhirnya dapat memperburuk kondisi psikologis dan emosional mereka. Individu yang mengalami pengucilan sosial sering kali merasa tidak diterima oleh masyarakat, yang dapat menurunkan harga diri dan meningkatkan risiko gangguan mental seperti depresi dan kecemasan (Rahmayanti, 2024).<\/span><\/p>\n<h6><b>Darimana Asalnya?<\/b><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Stigma berasal dari stereotip yang mengakar di masyarakat, seperti anggapan bahwa pasien dengan penyakit tertentu berbahaya atau tidak produktif. Sebagai contoh, pasien dengan gangguan kesehatan mental sering kali dianggap tidak mampu berkontribusi dalam pekerjaan atau hubungan sosial, sehingga mereka dihindari. Stigma ini juga mempengaruhi peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan, mengakses layanan kesehatan, dan berpartisipasi dalam kegiatan komunitas. Akibatnya, mereka terjebak dalam siklus yang sulit diputus, di mana isolasi sosial memperburuk kesehatan mental mereka, dan kesehatan mental yang menurun memperkuat stigma yang mereka alami (Chandra &amp; Loisa, 2024)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skema kognitif membentuk cara remaja memahami diri dan lingkungan sosial berdasarkan informasi yang mereka konsumsi. Standar kecantikan dan kesuksesan yang tidak realistis sering kali membuat remaja merasa tidak cukup baik dibandingkan dengan orang lain. Stigma ini juga diperparah oleh skema yang diperoleh dari media dan budaya populer yang sering menggambarkan individu dengan gangguan mental sebagai berbahaya atau tidak dapat dikendalikan. Selain itu, skema kognitif yang terbentuk sejak dini dapat mempengaruhi cara individu menafsirkan pengalaman sosial mereka di kemudian hari.<\/span><\/p>\n<h6><b>Skema Kognitif<\/b><\/h6>\n<h6><b><i>1. Self-Fulfilling Prophecy<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skema ini menjelaskan bagaimana ekspektasi negatif terhadap diri sendiri dapat mempengaruhi perilaku hingga ekspektasi tersebut menjadi kenyataan. Jika seorang remaja percaya bahwa dirinya tidak menarik atau tidak populer, ia cenderung menarik diri dari interaksi sosial. Akibatnya, ia semakin merasa terisolasi dan kurang percaya diri, yang pada akhirnya memperburuk kondisi mentalnya. Remaja yang memiliki mindset negatif tentang kemampuan sosial mereka lebih rentan mengalami kecemasan dan depresi. Hal ini menunjukkan bahwa ekspektasi sosial yang terbentuk melalui media sosial dapat berdampak nyata pada kesejahteraan psikologis remaja.<\/span><\/p>\n<h6><b><i>2. Automatic Thinking<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Skema ini membuat remaja memproses informasi secara cepat tanpa berpikir kritis. Sehingga mereka mudah terpengaruh oleh kehidupan sempurna yang ditampilkan di media sosial. Konten yang dikurasi dengan baik sering kali menciptakan ilusi bahwa orang lain lebih bahagia dan lebih sukses. Perbandingan sosial di media digital dapat meningkatkan perasaan rendah diri dan ketidakpuasan hidup. Oleh karena itu, tanpa pemikiran kritis, remaja bisa dengan mudah merasa tidak puas terhadap diri sendiri dan kehidupan mereka.<\/span><\/p>\n<h6><b>Kesimpulan<\/b><\/h6>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai kesimpulan, dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental remaja tidak hanya dipengaruhi oleh konten yang dikonsumsi, tetapi juga oleh mekanisme kognitif dalam memproses dan menginternalisasi informasi sosial. Oleh karena itu, penguatan keterampilan berpikir kritis menjadi krusial. Agar remaja mampu memilah informasi secara rasional dan tidak terjebak dalam konstruksi sosial yang tidak realistis. Dukungan dari lingkungan sosial, termasuk keluarga dan institusi pendidikan, berperan penting dalam membentuk pola penggunaan media sosial yang sehat dan adaptif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, regulasi dari pemerintah serta kebijakan platform digital harus lebih memperhatikan dampaknya terhadap kesejahteraan psikologis pengguna. Terutama remaja yang berada dalam tahap perkembangan identitas yang rentan. Dengan sinergi antara literasi digital, regulasi yang tepat, dan dukungan sosial yang memadai, remaja dapat memanfaatkan media sosial secara lebih bijaksana tanpa mengorbankan kesehatan mental mereka.<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Ditulis Oleh :<br \/>\n<\/span>Sheren Margaretta <\/em><br \/>\n<em>Gisra Elsharon Imanuela Saragih\u00a0<\/em><\/p>\n<p><em>Dibimbing oleh:<\/em><br \/>\n<em><span style=\"color: #0000ff;\"><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/dosen-dan-staf\/\">Dr. Ersa Lanang Sanjaya, S.Psi., M.Si.<\/a><\/span><br \/>\nDosen\u00a0<span style=\"color: #0000ff;\"><a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/www.instagram.com\/uc_psy\/\">Fakultas Psikologi Universitas Ciputra Surabaya<\/a><\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat Stigma terhadap penyakit mental tetap menjadi isu serius di banyak masyarakat, termasuk di Indonesia. Individu dengan gangguan mental sering menghadapi diskriminasi, pengucilan, dan stereotip negatif yang berdampak pada kesejahteraan mereka. Kondisi ini tidak hanya memperburuk keadaan mental individu yang bersangkutan, tetapi juga menciptakan hambatan signifikan dalam mengakses layanan&#8230;<\/p>\n","protected":false},"author":29,"featured_media":8488,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1532],"tags":[],"class_list":["post-8487","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"yoast_head":"<!-- This site is optimized with the Yoast SEO plugin v28.3 - https:\/\/yoast.com\/product\/yoast-seo-wordpress\/ -->\n<title>Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat - Universitas Ciputra<\/title>\n<meta name=\"description\" content=\"Stigma gangguan mental sebabkan diskriminasi, pengucilan, dan hambatan akses layanan kesehatan di masyarakat Indonesia.\" \/>\n<meta name=\"robots\" content=\"index, follow, max-snippet:-1, max-image-preview:large, max-video-preview:-1\" \/>\n<link rel=\"canonical\" href=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/\" \/>\n<meta property=\"og:locale\" content=\"en_US\" \/>\n<meta property=\"og:type\" content=\"article\" \/>\n<meta property=\"og:title\" content=\"Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat - Universitas Ciputra\" \/>\n<meta property=\"og:description\" content=\"Stigma gangguan mental sebabkan diskriminasi, pengucilan, dan hambatan akses layanan kesehatan di masyarakat Indonesia.\" \/>\n<meta property=\"og:url\" content=\"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/\" \/>\n<meta property=\"og:site_name\" content=\"Universitas Ciputra\" \/>\n<meta property=\"article:published_time\" content=\"2026-07-22T01:28:37+00:00\" \/>\n<meta property=\"og:image\" content=\"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo.jpeg\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:width\" content=\"1224\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:height\" content=\"816\" \/>\n\t<meta property=\"og:image:type\" content=\"image\/jpeg\" \/>\n<meta name=\"author\" content=\"Mopheta Audiola Dorkas\" \/>\n<meta name=\"twitter:card\" content=\"summary_large_image\" \/>\n<meta name=\"twitter:label1\" content=\"Written by\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data1\" content=\"Mopheta Audiola Dorkas\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:label2\" content=\"Est. reading time\" \/>\n\t<meta name=\"twitter:data2\" content=\"4 minutes\" \/>\n<script type=\"application\/ld+json\" class=\"yoast-schema-graph\">{\"@context\":\"https:\\\/\\\/schema.org\",\"@graph\":[{\"@type\":\"Article\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/stigma-kesehatan-mental\\\/#article\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/stigma-kesehatan-mental\\\/\"},\"author\":{\"name\":\"Mopheta Audiola Dorkas\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7\"},\"headline\":\"Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat\",\"datePublished\":\"2026-07-22T01:28:37+00:00\",\"mainEntityOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/stigma-kesehatan-mental\\\/\"},\"wordCount\":769,\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/stigma-kesehatan-mental\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/psy\\\/2025\\\/05\\\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo.jpeg\",\"articleSection\":[\"Artikel\"],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"WebPage\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/stigma-kesehatan-mental\\\/\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/stigma-kesehatan-mental\\\/\",\"name\":\"Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat - Universitas Ciputra\",\"isPartOf\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#website\"},\"primaryImageOfPage\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/stigma-kesehatan-mental\\\/#primaryimage\"},\"image\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/stigma-kesehatan-mental\\\/#primaryimage\"},\"thumbnailUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/psy\\\/2025\\\/05\\\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo.jpeg\",\"datePublished\":\"2026-07-22T01:28:37+00:00\",\"author\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7\"},\"description\":\"Stigma gangguan mental sebabkan diskriminasi, pengucilan, dan hambatan akses layanan kesehatan di masyarakat Indonesia.\",\"breadcrumb\":{\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/stigma-kesehatan-mental\\\/#breadcrumb\"},\"inLanguage\":\"en-US\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"ReadAction\",\"target\":[\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/stigma-kesehatan-mental\\\/\"]}]},{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/stigma-kesehatan-mental\\\/#primaryimage\",\"url\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/psy\\\/2025\\\/05\\\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo.jpeg\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/static.uc.ac.id\\\/psy\\\/2025\\\/05\\\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo.jpeg\",\"width\":1224,\"height\":816,\"caption\":\"stigma kesehatan mental\"},{\"@type\":\"BreadcrumbList\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/stigma-kesehatan-mental\\\/#breadcrumb\",\"itemListElement\":[{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":1,\"name\":\"Home\",\"item\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/\"},{\"@type\":\"ListItem\",\"position\":2,\"name\":\"Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat\"}]},{\"@type\":\"WebSite\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#website\",\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/\",\"name\":\"Universitas Ciputra\",\"description\":\"\",\"potentialAction\":[{\"@type\":\"SearchAction\",\"target\":{\"@type\":\"EntryPoint\",\"urlTemplate\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/?s={search_term_string}\"},\"query-input\":{\"@type\":\"PropertyValueSpecification\",\"valueRequired\":true,\"valueName\":\"search_term_string\"}}],\"inLanguage\":\"en-US\"},{\"@type\":\"Person\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/#\\\/schema\\\/person\\\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7\",\"name\":\"Mopheta Audiola Dorkas\",\"image\":{\"@type\":\"ImageObject\",\"inLanguage\":\"en-US\",\"@id\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g\",\"url\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g\",\"contentUrl\":\"https:\\\/\\\/secure.gravatar.com\\\/avatar\\\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g\",\"caption\":\"Mopheta Audiola Dorkas\"},\"url\":\"https:\\\/\\\/www.ciputra.ac.id\\\/psy\\\/author\\\/mopheta-dorkas\\\/\"}]}<\/script>\n<!-- \/ Yoast SEO plugin. -->","yoast_head_json":{"title":"Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat - Universitas Ciputra","description":"Stigma gangguan mental sebabkan diskriminasi, pengucilan, dan hambatan akses layanan kesehatan di masyarakat Indonesia.","robots":{"index":"index","follow":"follow","max-snippet":"max-snippet:-1","max-image-preview":"max-image-preview:large","max-video-preview":"max-video-preview:-1"},"canonical":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/","og_locale":"en_US","og_type":"article","og_title":"Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat - Universitas Ciputra","og_description":"Stigma gangguan mental sebabkan diskriminasi, pengucilan, dan hambatan akses layanan kesehatan di masyarakat Indonesia.","og_url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/","og_site_name":"Universitas Ciputra","article_published_time":"2026-07-22T01:28:37+00:00","og_image":[{"width":1224,"height":816,"url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo.jpeg","type":"image\/jpeg"}],"author":"Mopheta Audiola Dorkas","twitter_card":"summary_large_image","twitter_misc":{"Written by":"Mopheta Audiola Dorkas","Est. reading time":"4 minutes"},"schema":{"@context":"https:\/\/schema.org","@graph":[{"@type":"Article","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/#article","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/"},"author":{"name":"Mopheta Audiola Dorkas","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#\/schema\/person\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7"},"headline":"Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat","datePublished":"2026-07-22T01:28:37+00:00","mainEntityOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/"},"wordCount":769,"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo.jpeg","articleSection":["Artikel"],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"WebPage","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/","name":"Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat - Universitas Ciputra","isPartOf":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#website"},"primaryImageOfPage":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/#primaryimage"},"image":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/#primaryimage"},"thumbnailUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo.jpeg","datePublished":"2026-07-22T01:28:37+00:00","author":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#\/schema\/person\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7"},"description":"Stigma gangguan mental sebabkan diskriminasi, pengucilan, dan hambatan akses layanan kesehatan di masyarakat Indonesia.","breadcrumb":{"@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/#breadcrumb"},"inLanguage":"en-US","potentialAction":[{"@type":"ReadAction","target":["https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/"]}]},{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/#primaryimage","url":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo.jpeg","contentUrl":"https:\/\/static.uc.ac.id\/psy\/2025\/05\/istockphoto-862431374-612x612_Nero_AI_Image_Upscaler_Photo.jpeg","width":1224,"height":816,"caption":"stigma kesehatan mental"},{"@type":"BreadcrumbList","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/stigma-kesehatan-mental\/#breadcrumb","itemListElement":[{"@type":"ListItem","position":1,"name":"Home","item":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/"},{"@type":"ListItem","position":2,"name":"Stigma Kesehatan Mental: Gangguan Mental dan Masyarakat"}]},{"@type":"WebSite","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#website","url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/","name":"Universitas Ciputra","description":"","potentialAction":[{"@type":"SearchAction","target":{"@type":"EntryPoint","urlTemplate":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/?s={search_term_string}"},"query-input":{"@type":"PropertyValueSpecification","valueRequired":true,"valueName":"search_term_string"}}],"inLanguage":"en-US"},{"@type":"Person","@id":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/#\/schema\/person\/da25c55e76713c0baac9e81f902848b7","name":"Mopheta Audiola Dorkas","image":{"@type":"ImageObject","inLanguage":"en-US","@id":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g","url":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g","contentUrl":"https:\/\/secure.gravatar.com\/avatar\/683889fee85fcdcdebba46b93c5400ac4bc089b269a8bf85d47ad299cb29ff26?s=96&d=mm&r=g","caption":"Mopheta Audiola Dorkas"},"url":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/author\/mopheta-dorkas\/"}]}},"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8487","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/users\/29"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=8487"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8487\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8489,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/8487\/revisions\/8489"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/media\/8488"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=8487"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=8487"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.ciputra.ac.id\/psy\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=8487"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}