Stages of Grief: Kenapa Kehilangan Itu Berat Banget ?

Kehilangan merupakan pengalaman emosional yang sangat berat, terlebih bagi individu yang berada pada fase transisi usia remaja menuju dewasa muda. Pada rentang usia ini, bentuk kehilangan tidak selalu berkaitan dengan kematian. Kegagalan masuk universitas impian, berakhirnya sebuah hubungan asmara, hingga quarter-life crisis dapat memicu duka yang mendalam.
Dalam dunia psikologi, proses menghadapi rasa kehilangan ini dikenal dengan istilah Stages of Grief. Memahami tahapan ini sangat penting agar generasi muda dapat memproses emosi mereka dengan cara yang lebih sehat dan menyadari bahwa apa yang mereka rasakan adalah sebuah reaksi psikologis yang normal.
5 Fase Berduka Menurut Kübler-Ross
Konsep Stages of Grief pertama kali diperkenalkan oleh psikiater Elisabeth Kübler-Ross. Model ini menjelaskan lima tahapan emosional yang umumnya dilalui oleh manusia saat dihadapkan pada kehilangan yang signifikan. Berikut adalah penjelasan dari kelima fase tersebut:
1. Denial (Penyangkalan) Fase pertama ini sering kali menjadi mekanisme pertahanan awal otak untuk meredam rasa sakit yang datang secara tiba-tiba. Individu mungkin merasa mati rasa atau menolak untuk mempercayai kenyataan yang terjadi. Contohnya, seseorang yang baru saja mengalami putus cinta mungkin masih merasa bahwa perpisahan tersebut hanyalah sementara atau sebuah kesalahpahaman belaka yang akan kembali membaik padahal sebenarnya tidak.
2. Anger (Kemarahan) Ketika kesadaran akan realitas mulai muncul, rasa sakit yang tertahan perlahan berubah menjadi kemarahan. Rasa frustrasi ini bisa diarahkan kepada diri sendiri, orang lain, keadaan, atau bahkan entitas yang lebih tinggi. Mengingat emosi pada usia remaja dan dewasa muda sering kali masih fluktuatif, fase kemarahan ini merupakan reaksi yang sangat wajar terjadi saat merasa situasi tidak adil.
3. Bargaining (Tawar-menawar) Pada tahap ini, seseorang sering kali terjebak dalam pikiran “bagaimana jika” atau “seandainya”. Muncul keinginan kuat untuk kembali ke masa lalu dan mengubah keadaan agar kehilangan tersebut tidak terjadi. Terkadang, individu mulai membuat janji-janji tidak kasat mata dengan harapan situasi bisa kembali normal.
4. Depression (Kesedihan Mendalam) Ini adalah fase di mana realitas kehilangan terasa paling berat. Individu akan merasakan kesedihan yang mendalam, kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas sehari-hari, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Perlu dipahami bahwa fase ini bukanlah tanda kelemahan, melainkan respons alami tubuh dan pikiran yang sedang memproses kedalaman duka itu sendiri.
5. Acceptance (Penerimaan) Penerimaan bukan berarti individu tersebut langsung merasa bahagia atau melupakan kehilangan yang terjadi. Pada fase ini, seseorang mulai menyadari bahwa realitas telah berubah dan perlahan belajar untuk hidup berdampingan dengan kenyataan baru tersebut. Mereka mulai menata kembali kehidupan dan melangkah maju.
Proses Berduka Tidak Bersifat Linear
Satu hal yang sangat penting untuk dipahami mengenai Stages of Grief adalah bahwa prosesnya tidak bersifat linear atau berurutan.
Seseorang tidak harus melewati fase pertama hingga kelima secara berurutan. Sangat mungkin bagi seseorang untuk merasa sudah berada di tahap penerimaan (Acceptance), namun tiba-tiba kembali merasakan kemarahan (Anger) atau kesedihan (Depression) ketika dipicu oleh sebuah memori. Proses penyembuhan setiap orang memiliki waktu dan jalurnya masing-masing.
Menghadapi Duka dengan Cara yang Sehat
Bagi kalangan remaja dan dewasa muda yang sedang berjuang melewati fase berduka, memvalidasi perasaan sendiri adalah langkah pertama yang krusial. Tidak perlu memaksakan diri untuk terlihat kuat setiap saat. Mencari sistem dukungan dari orang-orang terdekat, membatasi paparan media sosial yang memicu kesedihan, atau berkonsultasi dengan tenaga profesional seperti psikolog dapat menjadi langkah yang tepat jika duka mulai mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari.
Klik tombol di bawah untuk tahu lebih banyak tentang beasiswa & promo pendaftaran terbaru.









